
72
Danu memasuki kamarnya bersama Tia. Danu melihat Tia sedang terisak di jendela ujung ruangan dengan menggendong Gendhis yang sedang terlelap. Tia menatap ke arah luar dengan penuh kesedihan dan luka. Danu tak tau harus bagaimana, dia malu atas perkataan ibunya yang dia sendiri juga sakit hati.
Danu mendekati Tia, dia mengelus punggung Tia dari belakang. Melihat air mata Tia yang cukup deras Danu juga merasakan perih di hatinya.
"Sayang.." Danu sulit melanjutkan kata-katanya.
Danu menarik nafas dalam-dalam seolah mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Tia. Danu takut salah bicara dan semakin menyakiti hati Tia.
"Sayang maafkan perkataan ibu ya. Mungkin.." ketika akan melanjutkan bicaranya Tia motongnya.
"Mungkin dari awal memang bukan aku yang diingin kan ibu kamu. Aku dulu sudah menolakmu kenapa masih ngejar-ngejar aku. Apa salahku? Apa salahku sama kamu sama ibu kamu kak? Coba kasih tau aku!" Tia meluapkan isi hatinya dengan suara terbata-bata.
"Maafkan aku, aku sangat mencintaimu sayang. Nanti aku coba bicara dengan ibu baik-baik ya sayang. Kamu tenang dulu." Danu mencoba menenangkan Tia.
"Kamu tau, ini yang selalu membuatku berat jika kamu ajak kerumah ini. Aku coba terima kesalahanmu yang dulu dan coba lupakan semuanya. Kenapa seolah disini aku yang paling memaksamu buat jadi suami aku. Sifat ibu kamu memang tidak berubah sejak dulu." Dengan penuh emosi dan sakit hati Tia meluapkan segalanya.
"Maaf sayang." Danu hanya bisa meminta maaf. Karena percuma dia berbicara jika Tia sedang emosi.
Danu menggenggam tangan Tia, kemudian memeluknya. Tanpa ada penolakan dari Tia.
"Aku mau kita cari rumah sendiri meskipun harus mengontrak meskipun rumahnya tidak bagus nggak papa. Itu akan lebih baik daripada tinggal disini ataupun dirumah ibu sama bapak."
"Iya sayang aku usahain ya. Doain supaya rejeki kita lancar dan tabungan kita cepat terkumpul ya." Ucap Danu memegang kedua pipi Tia yang basah karena air mata yang terus mengalir.
"Ya udah sana kalau mau makan. Aku mau di kamar aja." Tia merapikan tempat tidur untuk dia rebahan.
"Aku temenin kamu di kamar aja sayang. Nanti aja makannya, belum lapar kok." Danu duduk di ranjang di samping anaknya yang sudah dibtidurkan di ranjang oleh Tia.
Tia hanya menganggukan kepalanya. Tia duduk termenung di pinggir ranjang. Menantu mana yang nggak sakit hati jika sang mertua berkata dengan kata-kata yang menyakitkan.
Tia mencoba iklas, tapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa sakit hatinya. Air matanya terus keluar kalau ingat kata-kata mertuanya yang menyakitkan.
__ADS_1
Di rumah sakit
"Ciko bagaimana keadaan istri dan bayi kamu?" Ucap ibunya Ciko saat baru sampai di ruang perawatan Juarti.
"Juarti baik-baik saja bu, tapi bayinya berat badannya kurang harus di rawat secara intensif. Ibu Ciko mau minta tolong sama ibu." Ragu-ragu Ciko berkata karena dia malu.
"Tolong apa ko?" Ibu Ciko bertanya.
"Ciko mau pinjam uang bu, tabungan Ciko nggak cukup untuk biaya rumah sakit. Ditambah bayinya harus dirawat lumayan lama di sini."
"Ibu juga nggak punya uang ko, nanti ibu bantu pikirkan. Nanti ibu tanya tante sama om kamu. Kali aja mereka punya uang simpanan." Juarti yang ternyata sudah sadar mendengar obrolan ibu mertua dan suaminya.
Juarti merasa bersalah, seharusnya yang bertanggung jawab adalah bapak kandung dari bayi tersebut bukan Ciko. Tapi Juarti tak bisa berkata apa-apa.
"Terimakasih bu. Semoga saja tante punya uang simpanan dan mau meminjamkan untuk aku." Ucap Ciko penuh harap.
"Iya ko semoga saja. Ya sudah ibu mau ke ruangan anak kamu dulu sembari nunggu Juarti sadar." Ucap Ibu Ciko seraya keluar dari ruang perawatan.
Ciko hanya mengangguk. Dia pusing memikirkan biaya rumah sakit.
"Iya, kamu sudah sadar? mau minum atau makan?" Ciko dengan sigap mengampiri Juarti.
"Mau minum air putih mas." Ucap Juarti dengan suara lemah.
Ciko mengambilkan air mineral yang berada di atas nakas dan membantu Juarti untuk minum, dan meletakan botol air meniral tersebut ke atas nakas.
"Maafin aku ya mas, karena aku kamu jadi repot" Juarti menatap Ciko lekat.
"Untuk apa?" Ciko mengerutkan dahinya.
"Karena aku kamu daji susah, harusnya yang membiayai biaya persalinan dan perawatan adalah ayah kandung anakku. Tapi sekarang malah kamu yang membayar, nanti kalau aku udah pulih aku akan bekerja lalu mengganti semuanya mas." Ucap Juarti dengan mata berembun.
"Kamu ini ngomong apa sih, aku ini suamimu. Kamu jangan pernah bilang kalau dia bukan anakku, karena aku akan menganggap dia anakku sendiri." Ciko menggenggam tangan Juarti.
__ADS_1
"Makasih mas, aku jadi semakin merasa bersalah sama kamu." Juarti sedih karena mengingat kesalahan masa lalunya.
"Sekarang jangan bahas itu lagi ya. Pikirkan saja kesehatanmu."
Di ruangan lain
Seorang ibu berdiri di dekat inkubator memandangi bayi mungil dengan jenis kelamin laki-lagi yang hanya memakai diaper tanpa mengenakan baju.
Bayi tersebut terlihat kurus. Dengan berbagai selang yang menancap di dadanya membuat siapa saja yang melihat bayi tersebut merasa tidak tega.
"Mirip siapa ya bayi ini. Kok anggota tubuhnya ga ada yang mirip dengan Ciko sama sekali." Batin ibu itu.
Setelah beberapa menit ibu tersebut memilih kembali ke ruang perawatan Juarti.
"Juarti kamu sudah sadar, mau makan apa?" Tanya ibu Ciko.
"Sudah bu, mm nanti saja bu Juarti belum lapar." Juarti tersenyum.
"Ciko kamu sudah makan?" Tanya Ibu Ciko menatap Ciko.
"Belum bu, Ciko belum sempat makan." Ciko duduk di bangku samping ranjang.
"Ya sudah sana kamu cari makan dulu di kantin atau di depan rumah sakit ini ada banyak makanan. Biar Juarti sama ibu dulu, nanti kalau kamu sudah makan ibu mau segera pulang mau ke rumah tante kamu."
"Iya bu Ciko mau cari makan dulu, nanti Ciko bungkus aja makan di sini biar cepet. Kamu mau makan apa Ti? Biar sekalian aku carikan."
"Sop ayam aja mas sama nasi putih." Jawab Juarti.
"Iya tunggu sebentar ya." Ciko meninggalkan kamar rawat inap tersebut.
"Gimana keadanman kamu nak?"tanya ibu Ciko kepada Juarti saat hanya tersisa mereka berdua dmsaja di kamar.
"Sudah lebih baik bu, maafin Ati ya bu sudah merepotkan ibu. Ibu sama bapak Ati belum bisa dihubungi bu. Karena yang punya handphon cuma adik saya, dan adik saya lagi bekerja." Ucap Juarti canggung.
__ADS_1
Juarti memang nggak terlalu dekat dengan ibu mertuanya, ibu mertua Juarti lebih dekat dengan Tia bahkan sampai saat ini masih sering berhubungan dengan Tia. Walaupun begitu tapi Ibunya Ciko tetap baik kepada Juarti.