
Setelah beberapa hari sakit akhirnya Tia sembuh, dan Tia akan segera menemui Ciko untuk memperjelas hubungan mereka.
"Kak Danu hari ini aku mau nemuin Ciko ya." Ucap Tia dengan memperhatikan Danu yang sedang mencuci pakaian mereka.
"Iya sayang hati-hati ya, udah kuat naik motor sendiri?" Tanya Danu.
"Kuat lah kak, kak Danu beneran nggak mau ikut?" Tanya Tia.
"Enggak sayang, aku tungguin di rumah aja ya." Ucap Danu.
Sebenarnya Danu ingin sekali ikut Tia, tapi dia malas melihat Ciko, dan dia juga ingin memberi kesempatan Tia berbicara dengan Ciko. Agar Tia leluasa, dan Danu takut kalau malah jadi nggak nyaman kalau ada dia.
"Ya sudah kak aku sendiri aja, mm aku mau mandi ya kak, udah lengket badan aku beberapa hari nggak mandi." Ucap Tia.
"Iya sayang, aku siapin air anget dulu ya. Kamu tunggu aja di depan tv sayang."
"Nggak usah kak, aku mandi pake air dingin aja biar segar."
"Jangan kak kamu baru sembuh, udah kamu tunggu dulu ya aku masakin air dulu." Ucap Danu.
"Ya sudah kak, makasih ya." Balas Tia.
"Iya sayang." Ucap Danu dengan mengecup kening Tia.
Setelah selesai mandi dan siap untuk pergi, Tia segera pamit dengan Danu dan langsung pergi.
"Kak Danu aku pergi dulu ya." Ucap Tia.
"Iya, jangan lama-lama ya." Ucap Danu.
"Iya kak. Assalamualaikum." Ucap Tia sembari mencium punggung tangan Danu.
"Waalaikum salam, hati-hati ya sayang. "
" Iya kak."
***
"Assalamualaikum." Ucap Tia sembari mengetuk pintu rumah Ciko.
"Waalaikum salam." Ucap seseorang dari dalam rumah dan membukakan pintu.
"Ciko ada mbah ?" Tanya Tia.
"Ciko ada nduk, masuk dulu. Kamu kemana aja kok udah lama nggak main kesini. Duduk dulu, mbah panggilkan Ciko sama bikin minum dulu." Ucap mbah Ani.
Mbah Ani adalah embahnya Ciko, Ciko tinggal berdua saja dengan mbah nya. Tia sangat dekat dengan mbah Ani, mbah Ani sangat baik dengan Tia.
"Iya mbah, nggak usah repot-repot bikin minum mbah, saya habis minum tadi."
"Enggak repot cuma minum aja kok." Ucap mbah Ani sembari berjalan masuk.
__ADS_1
"Kenapa kamu kesini." Ucap Ciko yang baru keluar.
"Aku mau bicara." Ucap Tia.
"Langsung aja mau ngomong apa, nggak usah basa basi." Ucap Ciko sinis.
"Aku mau mengakhiri hubungan kita. Sebelumnya aku minta maaf, aku cuma ragu aja sama jawaban kamu kemarin. Belum tentu juga kan kalau aku pisah dengan kak Danu terus jawaban kamu mau nikah sama aku. Sekarang aja kamu punya pacar lain. " Ucap Tia.
"Aku kan juga bisa putus sama pacar aku. Kamu ini kok plinplan sekali sih jadi orang."
"Aku bukan plinplan, aku sekarang nyaman aja sama kak Danu, dia itu baik sekali sama aku. Kemarin aku sakit hampir satu minggu apa kamu tau? Pasti nggak tau kan? Pasti pikiran kamu selalu negatif kan sama aku."
"Nyaman? Bilang aja kamu cinta sama dia, aku nggak tau dan nggak akan mau tau."
"Aku belum cinta sama kak Danu, dan akan belajar mencintai dia. Iya kamu memang nggak pernah mau tau kan tentang aku, perjuangan aku juga kamu nggak ngerti kan?" Ucap Tia kesal.
"Terserah kamu aja Tia." Ucap Danu.
"Oke aku pulang dulu mulai sekarang kita nggak ada hubungan apa-apa. Tapi kamu jangan hanya nyalahin aku aja ya, kamu juga harus introspeksi diri juga."
"Emangnya aku kenapa kok harus introspeksi diri. Jelas aku bertahan jadi pacar kamu juga kamu yang minta kan, sekarang kamu yang ninggalin aku. Dasar wanita, udah kemakan sama rayuan Danu ya." Ucap Ciko.
Tia nggak nyangka Ciko bakal bilang seperti itu, Tia langsung pergi begitu saja.
"Tia mau kemana, ini minum dulu udah mbah buatin minum loh." Teriak mbah Ani yang melihat Tia udah di atas motor.
"Maaf mbah saya buru-buru." Ucap Tia.
"Biarin aja kenapa sih mbah, bagus kalau dia pergi jangan balik kesini lagi." Ucap Ciko ketus.
"Mm biar saya minum mbah." Ucap Tia dengan mengambil minuman yang masih di tangan mbah Ani, dia langsung meneguk habis minumannya karena nggak terlalu panas.
"Pelan-pelan nduk minum nya, besok main kesini lagi ya. Ibunya Ciko mau kesini, dia pasti senang kalau ada kamu." Ucap mbah Ani.
"Iya mbah insya Allah, tapi nggak janji soalnya saya udah masuk bekerja." Ucap Tia.
"Pulang kerjanya to nduk, ajak tantemu juga."
" Nggih mbah. Saya pamit pulang dulu ya mbah, Assalamualaikum."
"Iya nduk hati-hati ya, waalaikum salam." Jawab mbah Ani.
"Iya mbah."
Tia akhirnya lega sudah mengakhiri hubungannya dengan Ciko. Sampai di rumah dia langsung bercerita dengan Danu.
"Kak Danu lagi ngapain?" Tanya Tia.
"Eh sayang, kok udah pulang. Ini lagi browsing cara memasak nasi goreng yang enak hehe." Ucap Danu.
"Iya, udah kan aku bilang cuma sebentar kak. Oh mau masak nasi goreng to?" Tanya Tia.
__ADS_1
"Terus gimana Ciko sayang? Iya kamu mau nggak? Atau kamu pengen makan apa gitu?" Tanya Danu.
"Nanya nya mbok ya satu-satu kak. Ciko ya begitu, dia marah. Mm aku belum pengen maan apa-apa kak." Ucap Tia.
"Hehe, ya sudah nggak papa. Kapan-kapan biar aku temuin si Ciko. " Ucap Danu.
"Mau ngapain?" Tanya Tia.
"Ya kan biar nggak renggang silaturahminya sayang. Nanti kalau mau makan bilang ya, kalau pengen apa-apa."
"Oh ya udah, aku mau ke kamar dulu ya." Ucap Tia.
"Iya sayang." Jawab Danu.
Tia merasa beruntung memiliki Danu, Danu sangat baik sekali sama Tia. Walaupun sudah disakiti oleh Tia, dia tetap tidak berubah.
***
"Ciko muka kamu kenapa kusut begitu." Tanya Fino.
"Nggak papa, ke hutan yuk kita beli air dulu." Ucap Ciko.
"Mm iya deh, kayaknya ada yang lagi galau nih ngajak minum-minum segala." Ucap Fino.
"Apaan sih, ayo buruan." Ucap Ciko.
"Hehe iya-iya." Fino langsung naik motor.
Setelah membeli amunisi, Fino dan Ciko ke hutan pinus tempat mereka biasa berkumpul.
"Sebenarnya kamu kenapa? Kalau ada masalah cerita." Ucap Fino.
"Mm Tia putusin aku. Padahal dia kemarin udah pilih aku daripada Danu. " Ucap Ciko.
"Kan aku sudah bilang, jawaban kamu kemarin itu meragukan."
"Ya kan apa salahnya sih aku bilang mau kasih jawaban kalau mereka udah putus. Tia nya aja yang plinplan." Ucap Ciko
Fino hanya geleng-geleng kepala.
"Kayanya aku mau nikahin pacar aku aja deh biar tau rasa Tia. Salah sendiri dia tinggalin aku kaya gini. " Ucap Ciko lagi.
"Kata ya kamu belum siap menikah, makanya kemari kamu ga mau lamar Tia. Kok sekarang malah mau nikahin pacar kamu. Yang plinplan itu sebenarnya kamu." Ucap Fino.
"Biarin aja, biar Tia panas tau aku mau nikah." Ucap Ciko.
"Terserah kamu saja lah. Paling Tia cuma mikir kalau kemarin kamu memang nggak serius cinta sama dia."
"Aku cinta sama Tia, tapi sekarang aku sakit hati." Ucap Ciko
"Ya sudah semoga pilihan kamu terbaik." Ucap Fino malas meladeni Ciko.
__ADS_1
"Makasih." Ucap Ciko.