
Tia masih saja merenung, dia saat ini benar-benar ragu dengan Ciko. Walaupun Tia belum cinta sama Danu, tapi sebenarnya Danu lebih baik daripada Ciko. Apapun Danu rela berikan kepada Tia, tapi Ciko terkadang saat pergi bersama dan saat makan pasti selalu Tia yang membayar. Sebenarnya Ciko itu orangnya pelit. Nggak mau keluar uang. Tapi saat ini Tia masih dibutakan cinta.
Setiap Ciko ulang tahun Tia selalu memberi kado dan membeli kue untuk Ciko. Tapi saat Tia ulang tahun Ciko hanya mengucapkan selamat dan mengajak jalan keluar, itupun yang mengeluarkan uang tetap Tia.
Ciko itu orangnya selalu cari amannya sendiri, jarang dia mau mengakui kesalahannya.
Suatu hari Danu berkumpul dengan teman-temannya. Disitu Danu mabuk, dia memang masih suka mabuk tapi nggak sesering saat belum menikah dengan Tia.
"Gimana kamu sama Tia Nu?" Tanya Handi.
"Gimana apanya? Ya nggak gimana-gimana dong." Ucap Danu santai.
"Tia masih suka hubungan sama Ciko nggak?" Ucap Handi keceplosan.
"Hah Ciko?" Tanya Danu kaget, semua yang ada disitu juga kaget.
"Eh enggak deng bercanda aku." Ucap Handi gelagapan.
"Enggak enggak, sepertinya memang ada yang aku nggak tau ya. Kamu tau sesuatu Han? Atau yang lain? Ada yang tau?" Tanya Danu mulai sedikit gusar.
"Nggak ada, udah sini minum lagi aja. Aku cuma bercanda Nu." Ucap Handi.
"Kamu mau minum yang banyak lagi nggak ? Atau mau uang ini buat beli apa kek buat kamu." Ucap Danu.
Handi memang gampang di sogok, dia bakal tutup mulut kalau di iming-iming apa yang membuat dia senang.
"Mm eh mm gimana ya." Ucap Handi sambil garuk-garuk kepala.
"Bilang aja, aku nggak akan bilang-bilang kalau kamu yang bilang." Ucap Danu.
"Mm tapi janji ya jangan bilang sama Tia dan Ciko." Ucap Handi kemudian.
"Iya aku janji."
"Mereka itu sebenarnya ada hubungan sejak sebelum kalian nikah mereka pacaran. Tia minta Ciko buat lamar dia waktu kamu melamar Tia, tapi Ciko bilang belum siap dan akhirnya Ciko minta Tia menerima lamaran kamu." Ucap Handi.
"Kenapa Tia nggak jujur sama aku, kenapa dia tega. Ciko itu udah aku anggap adik aku sendiri." Ucap Danu meneteskan air mata.
"Terus waktu Tia pamit ke pantai, itu dia pergi sama aku sama Ciko sama Fino juga. Dan belum lama ini Ciko sama Tia pergi ke gedong songo juga, aku tau dari Fino."
"Cukup Han, makasih ya udah mau jujur. Ini uangnya, aku mau pulang dulu."
Perasaan Danu sangat hancur, dia malu marah, dia merasa di injak-injak harga dirinya oleh istri dan adiknya sendiri.
Saat ini yang dia cari adalah Fino dan Ciko, dia ingin mengumpulkan kebenaran dan meminta Tia mempertanggung jawabkan kesalahannya.
Setelah berkeliling, akhirnya dia bertemu dengan Fino.
"Fino, ada yang mau aku omongin. Penting , bisa ikut aku?" Tanya Danu serius.
"Ada apa kok serius banget muka kamu." Tanya Fino.
"Ikut dulu aja, nanti aku ceritain." Ucap Danu.
Fino mengikuti Danu dari belakang, dia membawa motor sendiri.
Danu mengajak fino ke rumahnya, dirumahnya tidak ada siapa-siapa. Jadi Danu bisa leluasa berbicara dengan Fino.
"Duduk dulu Fin, mau minum apa?" Tanya Danu.
"Mm aku kopi aja." Ucap Fino.
Danu membuat kopi untuk dirinya sendiri dan untuk Fino.
"Ini di minum kopinya." Ucap Danu sembari duduk.
"Kamu mau ngomong apa, kok aku jadi ngeri gini." Ucap Fino.
"Tapi kamu jawab yang jujur ya." Ucap Danu.
"Iya, insya Allah aku jujur."
"Apa kamu tau sesuatu soal Tia dan Ciko? Aku mohon jawab dengan jujur." Ucap Danu.
__ADS_1
Fino menunduk, dia binging mau jawab apa.
"Mm aku nggak berhak cerita sama kamu. Ini prifasi mereka berdua aku cuma bisa menengahi antara kamu dan mereka. Karena kalian sahabatku. Aku sebenarnya sudah mengingatkan Tia dan Ciko, tapi untuk lebih jelas biar Ciko sendiri yang menjelaskan."ucap Fino.
"Ya sudah aku boleh minta tolong telepon Ciko minta dia datang kesini, tapi kamu jangan pulang dulu. Kamu jadi saksi antara kami bertiga." Ucap Danu.
"Iya, ya sudah aku telepon dulu."
"Hallo Ciko, kamu dimana?" Fino me loudspeaker panggilannya.
"Di hutan, sini nyusul." Jawab Ciko.
"Mm kamu bisa ke rumah Danu sebentar? Ada hal penting. Nanti kita ke hutan sama-sama." Ucap Fino.
"Mm ada apa?" Tanya Ciko.
"Sebentar aja, Danu mau ngomong sesuatu."
"Ya sudah aku kesana."
Fino akhirnya mematikan telepon. Suasana sepi Danu hanya diam saja Fino canggung mau bicara apa. Sampai Ciko datang mereka berdua hanya diam-diam saja.
"Assalamualaikum." Ucap Ciko.
"Wa'alaikum salam." Ucap Fino dan Danu berbarengan.
"Ada apa ini, kok serius banget mukanya." Ciko belum tau kalau Danu sudah tau rahasianya.
"Begini ko, Danu sudah tau hubungan kamu dan Tia. Jadi Danu ngomong sama kamu."
Ciko melongo dia kaget, sangat kaget. Ciko juga takut. Ciko hanya diam.
"Kamu mencintai istriku?" Tanya Danu berkaca-kaca.
"Maaf kak, aku memang mencintai Tia." jawab Ciko.
"Kenapa kamu nggak mau menikahi Tia?" Tanya Danu lagi.
"Aku belum siap kak."
"Tenang Danu jangan emosi, kita selesaikan dengan kepala dingin."ucap Fino.
"Aku udah mau tinggalin Tia, dan mutusin Tia. Tapi dia nggak mau. Dia itu cintanya sama aku." Ucap Ciko.
"Ya sudah, aku mundur kalau memang kalian saling cinta. Sekarang ayo aku antarkan kamu kerumah Tia, lamar Tia di depan aku dan orang tuanya. Jangan jadi pengecut yang bisanya main di belakangku. Tia juga sering minta pisah sama aku, tidak jarang kita bertengkar. Jadi ini alasan Tia selama ini."
"Aku belum siap menikah." Ucap Ciko.
"Kalau belum siap menikah ya tinggalin Tia, jangan melakukan dosa yang lebih lagi." Ucap Danu. "Sekarang aku mau jemput Tia dulu dirumahnya, kalian berdua tunggu sini." Ucap Danu lagi.
Tidak ada jawaban dari Ciko dan Fino. Danu langsung saja pergi.
Sampai dirumah Tia Danu langsung mencari Tia, ternyata Tia ada dikamar.
"Tia aku mau ngomong." Ucap Danu tegas.
"Mau ngomong apa, tinggal ngomong aja." Jawab Tia.
"Kamu ada hubungan apa dengan Ciko?" Tanya Danu.
Deg!
'kok kak Danu bisa tau.' batin Tia.
"Kenapa cuma diam saja, jawab pertanyaan aku. Kamu ada hubungan apa dengan Ciko." Tanya Danu lagi.
"Hu-hubungan apa kak, aku ga ada hubungan apa-apa sama Ciko. " Jawab Tia terbata-bata.
"Jawab dengan jujur Tia! Aku tau semuanya. Aku tau kamu masih sering jalan sama Ciko kan. Itu sama saja kamu melempar kotoran ke muka aku Tia. Kamu istri aku jalan sama laki-laki lain. Apa kata orang yang melihat Tia, pasti mereka menertawakan aku. Kamu dan Ciko pasti juga menertawakan aku, kalian bepikkr kalau aku bodoh begitu kan Tia" ucap Danu dengan menangis.
Tia hanya diam dan menangis.
"Jawab Tia, jawab." Ucap Danu kemudian.
__ADS_1
"Aku memang mencintai Ciko kak jauh sebelum aku nikah sama kamu aku sudah ada hubungan sama Ciko."
"Terus kenapa kamu nggak jujur sama aku? Malah menerima lamaran aku." Ucap Danu.
"Ciko nggak mau aku jujur, terus soal menerima lamaran, sekarang kamu pikir aja kak kamu sering datang kerumah yang kamu dekati orang tua aku, keliarga aku. Semuanya mendesak aku harus terima kamu, termasuk Ciko juga minta aku terima lamaran kamu. Terus aku harus bagaimana."
"Tapi setidaknya kamu harus jujur kan sama aku, biar aku yang mundur. Sekarang kamu ikut aku temui Ciko." Ucap Danu sembari menarik tangan Tia.
"Aku nggak mau kak." Ucap Tia berusaha melepaskan pegangan tangan Danu.
"Kenapa kamu nggak mau? Kamu harus pilih aku atau Ciko didepan kami berdua." Ucap Danu.
"Aku nggak mau, jangan paksa aku." Ucap Tia.
Tia takut orang tuanya tau, dia takut sama bapaknya.
"Ikut dulu aku nggak akan nyakitin kamu."
Akhirnya Tia mau ikut dengan Danu. Sampai dirumah Danu Tia kaget karena disana udah ada Ciko dan Fino. Pikiran Tia melayang, dia bingung harus bagaimana setelah ini.
"Tia kamu duduk." Ucap Danu.
"Tia disini sudah ada Ciko dan Fino. Biarkan Fino menjadi saksi antara kita bertiga. Sekarang kamu lebih baik jujur, kamu mau tetap bersama aku atau Ciko?" Tanya Danu.
Tia terus saja diam, dia menatap tajam kearah Danu, tatapannya begitu penuh dengan amarah. Entah apa yang dirasakan Tia saat ini.
"Kenapa kamu diam dan menatapku seperti itu? Kamu marah, karena aku bertanya seperti ini Tia?" Tanya Danu.
Dengan penuh pertimbangan Tia akhirnya menjawab. Meskipun Tia masih ragu dengan jawabannya.
"Aku pilih Ciko kak, aku mencintainya." Ucap Tia.
Danu berusaha legowo dengan pilihan Tia, meskipun dia sangat sakit.
"Oke, Ciko sekarang Tia sudah pilih kamu. Kamu sendiri bagaimana dengan Tia." Tanya Danu.
"Aku nggak tau, aku akan jawab jika memang kalian sudah berpisah."
"Nggak bisa ini harus selesai malam ini. Kita sekarang kerumah Tia bilang sama orang tua Tia kalau kamu mau menikahi Tia."
Tia kecewa sama jawaban yang di berikan Ciko. Kenapa dia tidak tegas menjawab kalau dia juga mencintai Tia.
"Ciko, kamu mau menikahi aku kan?" Tanya Tia.
"Aku sudah bilang, aku akan menjawab jika kalian memang sudah pisah."
Tia hanya geleng kepala mendengar jawaban Ciko.
"Itu jawab Ciko Tia, gimana menurut kamu?" Ucap Danu.
Tia hanya diam.
"Ya sudah Tia sekarang aku antar kamu pulang bilang sama bapak ibu kalau kamu mau pisah dari aku." Ucap Danu seraya berdiri menuntun Tia.
Tia pun mengikuti Danu, dan Ciko dan Fino segera pergi.
Sampai dirumah Tia dan Danu langsung menuju kamar. Mereka adu mulut.
"Ayo Tia bilang sama bapak ibu kalau kamu udah nggak mau sama aku."
"Kenapa harus aku yang bilang? Bukan kamu aja!" Jawab Tia sebenarnya Tia takut dengan bapaknya.
"Kan kamu yang mau pisah kenapa harus aku?"
Tia takut kalau ibunya tau ini akan terjadi sesuatu yang buruk, entah ibunya sakit atau hal buruk lain. Tia juga memikirkan perkataan Ciko, dia takut kalau sudah pisah Ciko malah ninggalin dia.
Akhirnya dia memilih tetap bersama Danu, saat Danu akan keluar Tia memeluk Danu dari belakang.
"Kak maafin aku, aku nggak mau pisah dengan kak Danu. Maafin aku kak, jangan tinggalin aku." Ucap Tia dengan menangis tergugu.
"Tia kan kamu sendiri tadi yang bilang mau pisah, tatapan kamu tadi juga penuh kebencian sama aku." Ucap Danu lembut
"Maafin aku kak, aku nggak mau pisah dari kak Danu."
__ADS_1
"Tia, aku nggak bisa lupain kejadian tadi, aku sakit hati saat kamu pilih Ciko. Sedangkan kamu tau sendiri kan jawaban Ciko. Menggantung."
Tia hanya mengangguk.