
Tia dan Danu di jemput oleh ambulans di rumah Danu untuk di antarkan ke rumah singgah khusus untuk penderita corona.
Di tengah perjalanan, ibu Tia Videocall. Tia mengangkatnya.
"Hallo bu." Ucap Tia dengan mata berkaca-kaca menahan sedih.
Bukan menjawab, ibu Tia malah menangis. Membuat Tia juga ikut menangis.
"Bu nanti kalau sudah sampai aku telepon ya, sekarang aku matikan dulu." Ucap Tia tak kuasa menahan sedih.
Akhirnya Tia mematikan teleponnya, Danu yang melihat Tia menangis langsung menggenggam tangan Tia dengan erat untuk memberi energi positif agar sedihnya berkurang.
Sesampainya di rumah singgah Tia dan Danu langsung di arahkan menuju kamar yang sudah di sediakan dan di beri selembar kertas yang berisi peraturan dan kegiatan apa saja yang harus di lakukan selama berada di rumah singgah.
"Sayang kamu istirahat dulu ya, biar aku yan beresin barang-barang kita." Ujar Danu.
"Kita beresin sama-sama dulu aja kak, baru nanti kita istirahat bareng." Jawab Tia.
Danu hanya tersenyum dan mengangguk.
***
Di rumah Ciko sedang ada acara pembentukan panitia pernikahan dan pembagian tugas. Dua minggu lagi Ciko akan menikah.
"Ciko kenapa melamun terus? Akhir-akhir ini juga jadi pendiam kamu." Ucap Jefri, tetangga Ciko.
"Ah enggak, siapa yang melamun. Orang aku lagi dengerin musik ini kok." Ucap Ciko mengelak.
"Itu lo di luar acara pembentukan panitia sudah mau di mulai. Ayo keluar kok malah di kamar mulu sih. Mau menikah bukannya semangat malah sedih-sedih gitu." Ucap Jefri.
"Siapa yang sedih. Ya udah ayo keluar." Ucap Ciko seraya keluar dari kamar.
Acara pun berjalan dengan lancar, tapi hati Ciko semakin sedih karena dia belum sepenuhnya yakin akan pilihannya.
Keesokan harinya, Ciko pergi ke suatu tempat dimana dulu dia sering pergi bersama Tia ke tempat itu. Ciko rindu dengan Tia, dia ingin mengenang saat-saat bersama dengan Tia.
'Tia apa kamu bahagia dengan kehidupan kamu sekarang?' batin Ciko bertanya.
'Tia maafkan aku yang nggak perjuangin kamu, sekarang aku menyesal.' batin Ciko.
"Ciko." Tiba-tiba ada yang berteriak memanggil Ciko.
Ciko menoleh, ternyata Handi yang memanggil.
"Hey." Jawab Ciko.
Handi pun menghampiri Ciko.
"Ngapain kamu, kesini sama siapa?" Tanya Handi.
"Sendiri aku, kamu sama siapa?"
"Itu sama pacar hehe, lagi duduk di sana pacar aku. Aku habis dari toilet eh lihat kamu disini. Kayaknya lagi sedih kamu, kenapa?" Tanya Handi.
"Enggak kok, nggak papa." Jawab Ciko tersenyum masam.
"Jangan bohong lah, oh iya aku mau minta maaf yang bilang soal kamu sama Tia ke Danu itu aku. Waktu itu Danu desak aku buat jujur." Ucap Ciko grogi.
"Iya nggak papa, sekarang udah selesai kok."
"Terus sekarang kamu kenapa?" Kamu mau nikah kok malah murung begitu muka kamu." Ucap Handi.
"Nggak tau, akhir-akhir ini aku kepikiran Tia terus." Jawab Ciko.
"Mm Tia sekarang lagi di karantina, katanya positif corona." Jawab Handi.
Ciko kaget mendengar Tia positif corona.
"Terus keadaan Tia gimana?" Tanya Ciko berkaca-kaca.
"Belum tau rencananya mau jenguk dia, tapi nggak tau boleh apa enggak dia di jenguk."
"Aku kangen sama Tia, semoga dia baik-baik saja." Ucap Ciko.
"Kamu masih cinta sama Tia?" Tanya Handi.
Ciko terdiam, dia takut jujur kalau sebenarnya dia masih sangat mencintai Tia.
"Aku nggak tau, tapi aku menyesal nggak perjuangin Tia." Ucap Ciko.
"Terus kenapa kamu melamar Juarti kalau kamu masih cinta sama Tia."
__ADS_1
"Aku kesel sama Tia. Tia putusin aku."
"Jadi Juarti itu pelampiasan kamu aja?" Tanya Handi.
Ciko hanya mengangguk.
"Gila, kamu ini gila ko, nikah itu bukan main-main."
"Iya aku tau, tapi saat itu aku nggak bisa mikir, aku cuma kesal sama Tia terus pengen bikin dia mikir kalau aku bisa hidup tanpa dia. " Jawab Ciko.
"Ya udah lah ini kan udah terlanjur, jangan di sesali lagi. Sekarang kamu fokus sama pernikahan kamu aja ko."
"Iya han." Ucap Ciko singkat.
"Ya sudah aku kesana dulu ya, pacar aku udah aku tinggal lama soalnya." Ucap Handi
"Iya makasih ya Han." Jawab Ciko.
***
Di rumah singgah , Tia dan Danu kegiatannya hanya makan sama tiduran. Harusnya ada kegiatan senam rutin bersama setiap sore, tapi mereka ga pernah ikut.
Orang-orang juga sering kumpul bersama di halaman, tapi Tia nggak pernah ikut juga.
"Yang aku dengar di berita-berita kalau lagi di karantina kan nggak boleh interaksi sama orang-orang ya, harus di dalam terus. Nggak boleh keluar. La kok ini malah pada kumpul di luar, bikin rujak bareng makan bareng. Fiks ini cuma corona bohongan." Ucap Tia.
"Iya, hasil swab aku juga negatif tapi aku boleh satu kamar sama kamu. Boleh tidur sama kamu." Ucap Ciko.
"Semoga yang bikin kaya gini dapat balasannya." Ucap Tia.
"Iya."
"Kak Danu kamu harusnya tetap makan dong, biar kamu nggak sakit. Aku juga ngerasa gimana gitu kalau harus buang-buang makanan. Kalau mau aku makan juga udah kenyang banget aku. " Ucap Tia.
Danu memang jarang sekali makan, dia murung nggak mau makan. Padahal makanannya juga enak-enak. Ada nasi padang rendang, ayam bakar, pecel lele, dan masih banyak lagi macam-macam. Tia suka membuang makanan dengan keadaan utuh.
"Kalau aku makan itu langsung pengen muntah, walaupun makanannya enak tapi pikiran aku yang nggak enak." Ucap Danu.
"Ya udah kak, beberapa hari lagi kita udah pulang kok."
"Tapi rasanya lama banget Tia."
"Iya kak, aku tau. Tapi sikap kamu jangan kaya gini dong sama aku. Selama di sini kakak selalu dingin sama aku, aku kan jadi merasa bersalah. Ya udah kakak minta pulang sekarang aja sana biar aku disini sendiri nggak papa." Ucap Tia menangis.
Selama di rumah singgah sikap Danu memang berubah, tapi itu karena memang dia marah dengan keadaan bukan karena berubah sama Tia.
**
Tiba saatnya Danu dan Tia pulang kerumah, mereka di jemput sama bapak ibunya Tia.
"Kak aku senang banget, akhirnya kita pulang. " Ucap Tia bahagia.
"Iya sayang, kemarin lama banget ya waktunya." Ucap Ciko.
"Iya kak, makasih ya kak udah temenin aku dalam keadaan aku ini."
"Iya sayang itu udah kewajiban aku sayang." Jawab Ciko.
Setelah sampai dirumah tiga hari kemudian Tia melahirkan.
"Kak perut aku sakit banget kaya pengen BAB mules banget kak." Tia membangunkan Danu tengah malam.
"Aku antar ke kamar mandi yuk."
Sampai di kamar mandi Tia duduk di closed pas Tia tengok kebawah Tia melihat darah, Tia langsung berdiri.
"Kak aku keluar darah, sakitnya juga kerasa semakin bertambah." Ucap Tia dengan merintih kesakitan.
"Kita ke rumah sakit ya sayang, aku pinjam mobil ke pak de dulu. Kamu tunggu ya sayang bertahan sebentar." Ucap Danu.
Danu sangat gemetar takut Tia kenapa-kenapa. Danu buru-buru pinjam mobil dan segera ke rumah sakit.
Di perjalanan Tia menangis kesakitan Danu menyetir mobil sambil tangan kirinya menggenggam tangan Tia terus.
Sampai di rumah sakit pukul dua dini hari Tia langsung di bawa ke UGD. Ternyata Tia sudah pembukaan delapan dan sebentar lagi akan melahirkan.
"Suster ini sepertinya ada yang baru keluar, sakit banget sus." Ucap Tia.
Di UGD air ketuban Tia pecah pertanda bayi akan segera keluar dari jalan lahir.
"Oh ini air ketuban bu, sebentar lagi kita ke ruang bersalin ya bu. "
__ADS_1
Tia terus menerus dan tak hentinya mengucap istighfar. Sakitnya tidak terkira.
Sampai di ruang bersalin ternyata ada banyak ibu hamil yang akan melahirkan ada yang sudah lima jam menahan sakit di ruangan ini tapi belum juga lahir bayinya.
"Nanti kalau rambut bayinya sudah kelihatan segera panggil saya ya pak." Ucap salah satu suster.
"Iya sus." Jawab Danu.
Suter segera keluar dari ruangan.
"Kak sakit banget kak punggung aku, coba dielus. " Ucap Tia merintih.
"Sabar ya sayang istighfar." Ucap Danu dengan mengelus punggung Tia.
"Udah kak udah jangan di pegang punggung aku malah tambah kerasa sakitnya." Ucap Tia.
Danu serba salah jadinya, dari tadi Tia marah-marah terus sama Danu.
Beberapa saat kemudian punggung dan perut Tia semakin sakit.
"Kak sakit banget liatin kak udah kelihatan belum rambutnya, cepetan aku udah ga tahan kak." Ucap Tia.
Danu segera melihat dan benar saja sudah kelihatan rambutnya, dan Danu segera berlari mencari susternya.
" Suster sudah kelihatan rambutnya. " Ucap Danu panik.
"Iya pak, sudah mau lahir ayo kita semua kesana. " Ucap suster mengajak teman-temannya.
Setelah sekitar sepuluh menit Tia mengejan akhirnya bayi perempuan Tia lahir dengan selamat.
"Alhamdulillah sayang anak kita lahir." Ucap Danu dengan mengecup kening Tia dan menangis haru.
"Selamat ya bu bayinya perempuan. Bapak siapkan baju untuk bayinya ya. Saya mau jahit dulu ini." Ucap suster menunjuk jalan lahir bayi.
Tia harus di jahit banyak karena tadi suster merobeknya.
"Sus sakit, kok nggak selesai selesai sih di jahit berapa memangnya."
Tia terus mengomel karena saat menjahit tidak dikasih bius.
"Sebentar lagi ya bu ini robeknya lebar sekali. Jangan tanya berapa ini banyak di jahitnya. " Ucap suster dengan tersenyum.
Akhirnya Tia dan Danu mempunyai anak setelah hampir dua tahun menunggu.
***
Di rumah Juarti sedang mempersiapkan pernikahan Ciko dan juarti.
Hari pernikahan Ciko dan hari lahir anak Tia sama. Entah kebetulan atau bagaimana hanya Tuhan yang tau.
"Ciko senyum, jangan cemberut begitu." Ucap Totok.
Totok menemani Ciko yang akan ijab qabul.
"Iya mas " ucap Ciko dengan senyum yang sedikit di paksakan.
"Ciko siap ya, sebentar lagi akan di mulai ijab Qabulnya." Ucap seseorang.
Ciko sudah duduk di depan penghulu disusul dengan juarti.
" Calon mempelai pria sudah siap?" Tanya penghulu.
"Siap pak." Jawab Ciko singkat.
"Calon mempelai wanita siap." Tanya penghulu lagi.
"Siap pak." Jawab Juarti.
"Baik kita langsung mulai saja ya. Calon mempelai pria silahkan menjabat tangan bapak dari calon mempelai wanita."
"Silahkan bapak baca tulisan ini yang sudah saya siapkan." Ucap penghulu lagi.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Ciko bin slamet dengan anak saya yang bernama Juarti dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat sholat, tunai."
" Saya terima nikahnya dan kawinnya Juarti binti Tukiman dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai."
"Bagaimana saksi, sah?" Ucap penghulu.
"Sah."
"Sah."
__ADS_1
"Alhamdulillah." Penghulu lalu membaca doa.