
73
Pagi telah datang mentari kian berangsur naik ke permukaan. Tia terbangun dari tidurnya, Tia semalaman susah tidur dia tidur setelah menunsikan ibadah sholat subuh dan bangun diwaktu mentari sudah menampakan dirinya.
Meskipun mata Tia sudah terbuka sempurna, tapi Tia enggan untuk keluar dari kamarnya. Mertua Tia sedang menyapu dengan sesekali memukul-mukulkaan sapunya ke tembok agar Tia mendengarnya. Meskipun Tia mendengarnya tapi Tia mencoba tak menghiraukannya.
Semua perkataan-perkataan ibu mertuanya masih berputar-putar di kepalanya. Semua perkataan yang menyakitkan diterimanya. Tia tidak membencinya dan tidak menyimpan dendam sama sekali, tapi jika teringat perkataan yang menyakitkan yang terlontar dari mertuanya dada Tia seakan sesak seketika air matanya nemaksa untuk keluar dari pelupuk matanya.
Seketika Danu terbangun karena mendengar suara keras akibat meja dan kursi di geser. Danu menegok ke arah Tia yang, dengan mata sembab Tia mencoba tersenyum ke arah Danu.
"Sayang kamu udah bangun ya, mata kamu sembab." Lirih Danu dengan nada kawatir.
"Nggak papa kak, kak Danu keluar dulu aja ya. Kayaknya aku nggak enak badan ini." Sepertinya Tia berbohong.
Tia sebenarnya baik-baik saja, hanya saja dia malas melihat mertuanya sepagi ini. Dia memilih di dalam kamar sampai mertuanya pergi bekerja.
"Iya sayang, kamu mau minum apa aku buatin dulu." Ucap Danu dengan sangat lembut.
"Nanti aja kak, aku buat sendiri." Jawab Tia.
"Ya sudah. Aku keluar dulu ya sayang." Danu mengecup singkat pipi Tia.
Setelah Danu keluar, Tia mendengar Danu
Berbicara lirih kepada ibunya.
"Bu mau di bawa kemana lagi sih meja sama kursinya."
"Diam saja nggak usah komentar, udah siang baru bangun mau banyak komentar sama yang ibu kakukan kamu?" Ucap ibu Danu sengan nada tinggi.
"Ibu ini kenapa sih Danu kan cuma tanya aja bukan mau komentar. Terserah ibu saja lah." Danu kesal lalu kembali masuk kamar lagi.
Danu memang ga pernah cocok dengan ibunya dalam hal apapun. Danu dan ibunya mempunyai sifat yang sama-sama keras kepala.
"Nanti kita kerumah ibu kamu dulu ya, setelahnya aku pikirkan cara buat kita punya rumah sendiri ataupun mengontrak." Danu mencoba menahan emosi sebisa mungkin.
Tia tersenyum karena memang itu yang ia harapkan. Tia ingin tinggal terpisah dari keluarganya juga ibu mertuanya. Meskipun untuk sementara mengontrak dulu tidak masalah untuk Tia.
"Iya kak, aku doain kamu sehat terus, rejekinya lancar supaya impian kita tercapai." Tia tersenyum bahagia.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit berlalu, ibu mertua Tia pergi untuk bekerja. Tia pun keluar kamar untuk membuatkan kopi untuk Danu.
"Kak kopinya aku taro di meja depan ya." Ucap Tia seraya duduk di kursi depan teras.
"Iya sayang, makasih ya." Danu yang masih di kamar segera beranjak keluar dengan menggendong Gendhis.
__ADS_1
"Kamu kok ga minum sayang." Tabya Danu melihat hanya ada kopi satu cangir di atas meja berbagah rotan tersebut.
"Aku nanti aja." Tia memang enggan makan dan minum meskipun hanya sekedar minum air putih di rumah mertuanya.
"Oh yaudah kamu siap-siap aja habis ini kita kerumah ibu aja" ucap Danu yang mengerti suasana hati Tia saat ini.
"Iya." Tia beranjak dari duduknya menuju ke kamar dan membereskan peralatan anaknya dan memasukan kedalam tas.
**
**
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai di rumah ibunya Tia karena hanya beda RT saja.
"Sayang kamu baik-baik ya di sini, aku berangkat kerja dulu. Kamu jangan sedih terus jaga kesehatan kamu dan anak kita. Karena kalau kamu sedih pasti anak kita juga merasakannya dia kan masih menyusu kamu." Danu berbicara dengan lembut dan penuh perhatian saat di depan rumahibunya Tia.
"Iya kak, hati-hati ya kerjanya. Kalau capek istirahat. Pulang sebelum zuhur ya, biar bisa sholat bareng." Ucap Tia tersenyum sangat manis.
"Iya sayang."
Danu mengulurkan tangan kanannya untuk salim dan Tia meraihnya kemudian mencium punggung tangan suaminya.
Setelah Danu pergi Tia langsung masuk ke dalam rumah. Ibunya Tia sedang duduk dan menyiapkan bahan masakan.
"Udah dipikir bener-bener? Kalau kamu ngontrak apa kata tetangga? Ibunya Danu tinggal sendiri dan kalau mau di sini juga nggak masalah. Kalau kamu ngontak nanti akan jadi bahan omongan tetangga Tia, uangnya juga sayang. Mending di tabung siapa tau suatu saat bisa punya rumah sendiri." Ucap Ibu Tia panjang lebar.
"Iya bu nanti aku pikirkan lagi, senentara aku di sini dulu ya bu."
"Iya Tia, kalau mau melakukan sesuatu harus dipikir benar-benar dulu ya jangan sampai salah langkah." Nasehat ibu Tia
"Iya bu, ya udah Tia bantuin masak bu."
"Nggak usah mending kamu mandiin anak kamu dulu." Ucap Ibu Tia.
Akhirnya Tia memandikan anaknya dan memberinya Asi.
**
Di rumah sakit..
Ciko sedang membersihkan badan istrinya dengan tlaten karena belum boleh mandi oleh dokter.
Setelah selesai membersihkan badan istrinya, Ciko menyuapi Juarti dengan tulus dan penuh kadih sayang. Ya walaupun belum sepenuhnya mencintai istrinya tapi Ciko akan terus berusaha.
"Makasih ya mas." Netra Juarti menatap lekat Ciko.
__ADS_1
"Sudah diam, ini sudah menjadi kewajibanku. Aku ingin menghapus masa lalu dan memulai lembaran baru lagi bersama kamu dan anak kita." Ciko meraih tangan Juarti dan mengecup jari-jarinya.
"Aku nggak tau lagi mau ngomong apa. Aku sangat bahagia mas." Juarti menangis haru.
Tok..
Tok..
Tok..
Pintu terbuka dan ternyata ibu Danu yang datang.
"Gimana keadaan kamu Ati?" Tanya Ibu Danu saat berdiri di samping ranjang Juarti.
"Sudah mendingan bu." Ucap Juarti dengan tersenyum tipis.
"Syukurlah. Ciko ini dipinjami sama bulek kamu 7 juta rupiah." Ibu Ciko menyodorkan amplop coklat kepada Ciko.
"Terima kasih bu, waktunya berapa lalamu buat ngembalikanya." Tanya Ciko.
"Terserah kamu ko tapi dia bilang jangan lama-lama ko."
"Iya bu, terima kasih ya bu."
"Iya, anak kamu udah ada perkembangannya belum ko." Tanya ibu Ciko sembari duduk di kursi.
"Belum bu, Asi nya Ati juga belum keluar." Ujar Ciko.
"Kamu jangan banyak pikiran ya biar bisa cepat keluar Asinya." Ujar ibu kepada Juarti.
"Iya bu, tadi dokter juga udah ngasih Vitamin biar Asinya cepat keluar bu." Ucap Juarti dengan suara lemah.
"Ibu lihat bayi kalian dulu ya, eh tapi ngomong-ngomong kok nggak ada mirip sama sekali ya ko sama kamu ko." Ucap Ibu Ciko mengerutkan dahinya.
Seketika wajah Juarti pucat pasi.
"Masih bayi kan masih berubah-ubah bu wajahnya." Ucap Ciko sesantai mungkin padahal dalam hati Ciko sangat gugup.
"Iya juga ya ko. Ya ydah ibu lihat kesana dulu ya." Ibu Ciko keluar dari kamar menuju ke ruanganbayi di rawat.
Ciko melihat Juarti yang pucat kemudian menggenggap tangannya mentransfer energi positif untuk Juarti.
"Kamu tenang aja. Aku akan menutup rapat masa lalu kamu dan juga masa laluku." Ciko tersenyum ke arah Juarti.
"Iya mas, makasih ya." Juarti tersenyum.
__ADS_1