
Tia pagi ini sedang berjemur mencari vitamin D untuk anaknya di depan rumah sambil menikmati teh hangat dan roti tawar isi coklat kesukaannya. Meli keluar dari rumahnya dan melihat Tia langsung saja ikut duduk di samping Tia.
"Baru bangun ya kamu?" Tanya Tia kepada Meli.
"Iya hehe, tadi habis sholat langsung tidur lagi habis lembur tadi malam jadi tadi ngantuk banget." Jawab Meli.
"Kamu ini libur di rumah juga masih aja lembut-lembur. Badan kamu ini di jaga jangan capek-capek." Ucap Tia.
"Ya gimana, butuh duit aku hehe." Jawab Meli.
"Dasar belum juga nikah nyari duitnya udah kaya ngurus anak lima aja." Ledek Tia.
"Biarin dong. Eh iya kata Totok istrinya Ciko udah hamil loh. Cepet banget ya, perasaan belum ada satu bulan loh nikahnya."
"Masa sih. Kabar burung kali." Ucap Tia.
"Eh beneran terus katanya udah satu bulan lebih usia kandungannya." Ucap Meli.
"Ah nggak mungkin lah, aku tau Ciko dia nggak mungkin ngelakuin sebelum menikah." Ucap Tia.
"Ya kan nggak tau, jarak tunangannya sama nikahnya aja satu tahunan masak iya dia hamil sama orang lain, kan udah terikat tunangan sama Ciko." Ucap Meli.
"Kalau hamilnya sama Ciko sih nggak masalah ya, tapi kok aku nggak yakin Ciko mau melakukan hal itu sebelum menikah. Soalnya aku tau Ciko banget. Tapi kalau hamil sama orang lain ya kasian Ciko."
"Ya nggak tau, kamu juga kan udah nggak pernah tau kabar Ciko kan, dia berubah sifatnya juga nggak akan tau kamu. Mungkin aja setelah putus dari kamu jadi frustasi dia." Ucap Meli.
"Mm iya juga sih, tapi nggak tau lah biarin aja urusan dia ini. Kamu ini pagi-pagi udah ngajakin nge gosip aja." Ucap Tia.
"Hehe la kamu mau aku ajakin nge gosip kok. Sini dedek biar sama aku aja." Ucap Meli.
"Ini, kamu mau teh ngga? Biar aku buatin, sekalian mau ambil roti lagi aku." Ucap Tia.
"Mm kopi aja aku." Jawab Meli.
"Yee aku nawarinya teh dia minta nya kopi." Ucap Tia sambil berjalan masuk rumah. Meli pun tertawa.
Tia masih kepikiran soal Ciko, bukan dia masih cinta tapi lebih ke kasian sama Ciko kalau dugaannya benar istrinya hamil anak orang lain. Ciko itu orang baik, walaupun kekanak-kanakan tapi dia sangat baik sama Tia.
'semoga apa yang aku pikirkan salah, semoga walaupun istri Ciko hamil duluan dia mengandung anak kandungnya Ciko.' batin Tia.
"Sayang mau bikin apa itu." Tanya Danu.
Tia tidak menjawab, dia masih melamun memikirkan nasib Ciko.
"Sayang di tanya diam aja. " Ucap Danu lagi.
Tia masih belum menjawab.
"Sayang." Ucap Danu dengan menggoyangkan pundak Tia dari belakang.
"Eh iya kenapa kak?" Tanya Tia.
__ADS_1
"Lagi melamun apa sih sayang serius amat."
"Enggak kok, cuma lagi mikir nanti kalau gendhis udah boleh makan mau bikin mpasi apa gitu hehe." Ucap Tia asal.
"Yee masih lima bulan sayang, udah dipikirin aja." Ucap Danu tertawa.
"Ya nggak papa dong." Ucap Tia
"Iya iya terserah kamu aja deh, kamu mau bikin kopi ya? Buat aku?" Tanya Danu.
"Iya, buat Meli. Kakak mau minum kopi?" Tanya Tia.
"Teh aja sayang, aku udah bikin kopi sendiri tadi pas kamu mandikan adek." Jawab Danu.
"Oh iya aku buatin ya kak."
"Iya, adek dimana sayang?" Tanya Danu.
"Itu di depan lagi berjemur sama bude Meli. " Jawab Tia.
"Oh kita ke depan yuk." Ajak Danu.
"Iya ini tehnya sama kopinya tolong dibawain kak, aku bawa rotinya." Ucap Tia.
"Iya sayang."
Sampai di depan rumah, Danu langsung duduk dan memakan roti buatan Tia.
"Eh Mel gemes amat sama Gendhis, pengen ya punya dedek bayi?" Ucap Danu meledek Meli.
"Yee itu anakku." Ucap Tia.
"Nggak papa kamu bikin lagi aja be." Ucap Meli.
"Yee kalau ngomong suka asal, perih abis ngelahirin aja masih kerasa banget udah disuruh bikin lagi." Ucap Tia.
Semuanya tertawa. Tia hanya meringis.
"Gimana sama pacar kamu itu Mel?" Tanya Danu.
"Pacar? Emangnya punya be?" Tanya Tia.
"Enggak, mana ada pacar?" Ucap Meli.
"Itu yang pernah di ajak nonton waktu Tini sama pacarnya bannya bocor terus itu." Ucap Danu.
"Oh itu, udah enggak. Malah aku sama dia, kaya pacaran sama patung tau nggak cuma diem aja. Kalau aku nggak ngajakin ngomong duluan ya dia nggak ngomong."
Tia tertawa.
"Malu kali ." Ucap Tia.
__ADS_1
"Bukan malu tapi emang begitu orangnya. Aku jadi ilfil sama dia." Ucap Meli.
"Eh jangan gitu, kalau dia jodoh kamu gimana?" Ucap Tia.
"Enggak ah aku nggak mau nikah sama dia." Ucap Meli.
"Nggak mau tapi kalau Allah takdirkan dia jodoh kamu, mau kamu nolak seperti apa ya tetep jodoh kamu lah." Ucap Danu.
"Iya jangan ngomong gitu dulu be, dia juga kan baik sholatnya juga rajin, beda sama yang lain nggak pernah neko-neko kan." Ucap Tia.
"Iya-iya be, bawel banget sih kalian." Ucap Meli tertawa.
"Yee di bilangin malah ngatain bawel." Ucap Tia
"Iya enggak -enggak. Nanti aku pikirkan masukan kalian."
"Iya gitu dong. Ya udah aku mau mandikan dedek dulu ya udah mau siang." Ucap Tia.
"Aku bantuin ya " ucap Meli.
"Oke."
"Eh tapi Mel jangan cuma di pikirkan lo tapi di renungkan juga"
"Iya deh. Udah ah mau bantuin Tia mandikan Gendhis dulu." Ucap Meli.
Meli langsung berjalan mengikuti Tia, dia sebenarnya enggan membahas masalah pacar atau percintaan. Karena dia sendiri tidak yakin dengan perasaannya sendiri.
Tia dan Meli bersama-sama memandikan anak Tia. Meli sangat sayang sama Gendhis, dia juga suka menggendong Gendhis.
"Be Gendhis udah semakin gede aja ya, tambah gemes aku. " Ucap Meli.
"Hehe iya dong, minum terus kadang aku sampe lapar terus." Ucap Tia.
"Iya kamu sampe kurus begitu, makan yang banyak be." Ucap Meli.
"Iya Tia itu makan nya sedikit-sedikit Mel." Ucap Danu.
"Ya emang porsi aku segitu kok." Jawab Tia.
"Ya kan kamu lagi menyusui jadi harus makan yang banyak sayang." Ucap Danu.
"Iya be kamu ini harus makan yang banyak. Biar sehat Gendhis juga minum asi nya seger." Ucap Meli.
"Iya, nanti aku makan yang banyak."
Setelah memandikan Gendhis, Meli pamit pulang.
"Aku pulang dulu ah, kerjaan aku tadi belum beres." Ucap Meli.
"Istirahat be, jangan kecapean. " Ucap Tia.
__ADS_1
"Iya be iya. Nanti siang beli bakso yuk lagi pengen nih." Ucap Meli.
"Iya ayok." Ucap Tia.