Persahabatan Atau Cinta?

Persahabatan Atau Cinta?
62


__ADS_3

"Oh ya? Terus kamu sapa dia nggak kak?" Tanya Tia.


"Iya aku sapa, aku juga bilang maaf nggak bisa datang ke nikahannya dia." Jawab Danu.


"Terus dia jawab apa kak?" Tanya Tia.


"Dia bilang nggak papa, tapi sedikit ketus. Mungkin dia masih marah ya."


"Ya iya lah bilang nggak papa kan kita memang nggak diundang sendiri ke nikahannya. Terus kalau dia masih marah ya udah lah kak biarin aja. Urusan dia ini. Kita fokus sama keluarga kecil kita aja kak."


"Iya sayang, kita tidur yuk sayang besok kita ke rumah ibu sama bapak pagi ya soalnya besok kakak ada kerjaan." Ucap Danu.


"Iya kak, aku juga pengennya pagi kok."


Keesokan paginya Danu dan Tia berpamitan kepada ibu Danu untuk berangkat ke rumah ibunya Tia. Tapi ibu Danu tidak mau keluar kamar.


"Bu Danu mau kerumah ibunya Tia dulu ya." Ucap Danu sambil mengetuk pintu kamar ibunya.


"Iya sana pergi." Ucap ibunya Danu.


"Buka sebentar dulu bu." Ucap Danu.


"Nggak usah di buka, udah kalau mau pergi, ya pergi aja sana."


"Ya sudah, assalamualaikum ya bu." Ucap Danu.


"Ya." Ibunya Tidak menjawab salam.


Danu dan Tia pun segera pergi. Danu takut kalau Tia tetap dirumahnya nanti malah Tia memendam sakit hati dan marah kepada ibunya.


Danu dan Tia berangkat menggunakan sepeda motor, walaupun jarak rumahnya dekat tapi jika ditempuh dengan berjalan kaki akan membuat Tia capek, apalagi sambil menggendong bayi.


Sampai dirumah Tia, mereka disambut ramah oleh bapak ibunya Tia dan juga budenya Tia, ibunya Meli.


"Sini mbah gendong nduk." Ucap ibunya Meli kepada anaknya Tia.


"Iya mbah." Ucap Tia dengan gaya anak kecil seolah anaknya yang menjawab.


"Makan dulu sana Tia mumpung anak kamu anteng." Ucap Ibunya Tia.


"Iya bu, ibu masak apa bu?" Tanya Tia.


"Itu tadi ibu rebusin saun pepaya buat kamu biar asi kamu lancar, sama ada telur balado sama sambal tempe. Danu sekalian ikut sarapan sna." Ucap Ibunya Tia.


"Danu nanti aja bu ini mau pergi dulu. Mau mencari media tanam lumut pinus bu." Ucap Danu.


"Yee ya kalau mau kerja ya harus sarapan dulu, jangan biarin perut kamu kosong. Ayo Tia diajak makan dulu suami kamu." Ucap ibunya Tia.


"Iya kalau mau kerja ya harus makan dulu." Ucap ibunya Meli.

__ADS_1


"Ayo kak kita makan dulu." Ajak Tia.


"Iya sayang." Ucap Danu kemudian mengikuti Tia berjalan menuju dapur.


"Aku ambilin nasinya ya kak, mau seberapa nasinya kak." Tanya Tia.


"Sedeng aja sayang jangan kebanyakan, nanti susah manjat pohonnya kalau kekenyangan. " Ucap Danu.


"Iya kak."


Setelah selesai makan Danu berpamitan untuk segera berangkat kerja.


"Sayang aku berangkat dulu ya." Ucap Danu.


"Iya kak hati-hati ya." Jawab Tia.


"Iya sayang, ibu saya berangkat dulu ya. Bude saya berangkat dulu." Ucap Danu dwngan menyalami ibu Tia dan juga bude Tia.


"Hati-hati ya, kalau hujan terus pulang jangan dipaksain manjat pohon ya." Ucap ibunya Danu.


Ditempat lain Ciko sedang marah-marah karena ternyata kehamilan Juarti sudah menginjak usia dua bulan sedangkan mereka menikah belum ada satu bulan.


"Kenapa kamu nggak jujur sama aku dari awal kalau kamu sudah hamil?" Tanya Ciko dengan nada Tinggi.


"Aku takut kamu akan meninggalkan aku kalau kamu tau yang sebenarnya. Karena ayah dari anak dalam kandungan aku nggak mau bertanggung jawab. Aku juga takut keluarga aku tau kalau aku hamil."


"Aku mohon jangan tinggalkan aku mas. "


"Kamu punya otak nggak sih, aku bukan bapaknya. Kamu tega sekali berbuat seperti ini. "


"Tega? Bukannya kamu juga tega. Sebenarnya aku tau kalau kamu menikah dengan aku hanya karena ingin menjadikan aku sebagai pelampiasan kamu aja kan? Kamu sakit hati sama mantan kamu dan masih cinta kan sama dia?"


"Itu bukan urusan kamu. Sekarang aku akan anterin kamu pulang kerumah kamu."


"Aku nggak mau pulang, aku mau disini sama kamu."


"Tapi aku nggak mau mengakui anak kamu sebagai anak aku." Ucap Ciko.


"Iya nggak papa tapi jangan tinggalin aku, aku akan urus bayi ini sendiri aku mohon sama kamu." Ucap Juarti.


"Nggak tau lah, untuk saat ini oke kamu di sini nggak papa. Tapi aku nggak tau kedepannya mau bagaimana." Ucap Ciko.


"Sekali lagi maafkan aku Ciko." Ucap Juarti.


Ciko tidak menjawab, dia langsung pergi ke kamar. Juarti segera pergi ke dapur menyiapkan makanan untuk Ciko.


'apa ini karma buat aku karena sudah mengabaikan Tia, sehingga aku menikahi seseorang yang sudah hamil. Dalam lubuk hati aku masih sangat mencintai Tia.' batin Ciko.


Juarti memasak dengan perasaan campur aduk, dia sedih karena Ciko mengetahui dia hamil sebelum menikah tapi dia juga senang karena Ciko tidak menceraikannya.

__ADS_1


Setelah selesai memasak Juarti menghampiri Ciko di kamarnya.


"Mas mau makan sekarang apa nanti? Makanannya sudah siap." Tanya Juarti.


"Nanti." Jawab Ciko singkat.


"Atau aku bawain ke sini aja ya. Mas kan belum makan dari tadi. " Ucap Juarti.


"Kalau aku bilang nanti ya nanti, nggak usah banyak tanya. Sana keluar, kamu tidur di kamar sebelah ya." Ucap Ciko.


"Mas aku kan istri kamu, masak tidur di kamar sebelah." Ucap Juarti.


"Istri? Istri tapi hamil anak orang lain." Ucap Ciko.


"Mas tolong jangan seperti ini, aku juga nggak mau seperti ini. Ini semua juga bukan keinginanku." Ucap Juarti.


"Terus keinginan siapa?" Tanya Ciko.


Juarti hanya diam tidak bisa menjawab.


"Nggak bisa jawab kan kamu? Udah sana pergi ke kamar sebelah." Ucap Ciko.


"Oke aku akan ke kamar sebelah."


"Mulai malam ini dan seterusnya kamu tidur di kamar sebelah, jangan pernah masuk kamar ini lagi." Ucap Ciko.


"Tapi barang-barang aku masih ada di sini semua mas." Ucap Juarti.


"Ya sudah ambil semua sekarang, jangan ada yang tersisa jadi nggak ada lagi alasan kamu buat masuk kamar ini lagi." Ucap Ciko.


"Segitu bencinya kamu sama aku mas." Ucap Juarti mengiba.


"Terus aku harus apa? Kamu udah bohongin aku harus bersikap seperti apa?"


"Setidaknya jangan seperti ini mas sama aku. Aku cuma manusia yang pernah khilaf."


"Terserah, tolong mengerti aku untuk saat ini." Ucap Ciko tegas.


"iya mas, semoga suatu saat kita bisa saling sayang dan dijauhkan dari semua masalah. aamiin." ucap Juarti.


"jangan berharap terlalu tinggi."


"aku hanya berdoa." ucap Juarti.


"aku berdoa semoga kamu kembali kepada bapak dari anak yang kamu kandung." ucap Ciko.


"nggak akan mas, aku cintanya sama kamu."


"terserah, aku nggak cinta sama kamu."

__ADS_1


__ADS_2