Persahabatan Atau Cinta?

Persahabatan Atau Cinta?
Jio marah


__ADS_3

"Be Tini kemana? Ngga ikut kesini?" Tanya ku ke Meli.


"Ngga tau, tadi katanya mau nyusul. Dia lagi deket sama seseorang. Vokalis band astana" jawab Meli.


"Kok aku ngga tau sih."


"Iya kenalannya waktu ketemu di acara borobudur fest. Dia lagi perform, kamu pas ngga ikut kan."


"Iya aku ngga ikut."


"Sabtu nanti ikut kan tapi?"


"Iya ikut, aku ngajak Jio."


Saat aku sama Meli lagi asik ngobrol, kak Danu memainkan gitar dan bernyanyi.


'Jauh di lubuk hatiku, masih terukir namamu, jauh didasar jiwaku engkau masih kekasihku...'


Pipi aku memanas mendengar dia menyanyikan lagu itu, bahkan mungkin sekarang udah kaya tomat.


"Be dengerin tuh, lagunya buat kamu." Bisik Meli.


" Apaan sih, belum tentu juga kali."


"Lihat tuh mata dia berkaca-kaca."


'Aku tak bisa luluhkan hatimu


Dan aku tak bisa menyentuh cintamu


Seiring jejak kakiku bergetar


Aku t'lah terpaut oleh cintamu


Menelusup hariku dengan harapan


Namun kau masih terdiam membisu


Sepenuhnya aku ingin memelukmu


Mendekap penuh harapan 'tuk mencintaimu


Setulusnya aku akan terus menunggu


Menanti sebuah jawaban 'tuk memilikimu


Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku


Semoga kau tahu isi hatiku


Dan seiring waktu yang terus berputar


Aku masih terhanyut dalam mimpiku'


Kak Danu menyanyikan lagu kedua, rasanya aku udah ngga kuat ada disini.


"Mel kita pulang aja yuk, takut kebawa perasaan aku." Bisik ku ke Meli.


"Bentar kita mau pulang naik apa? Kamu kan ga bawa motor, Tadi aku dibonceng kak Mario." Kata Meli.


"Oh iya aku kan tadi dianterin sama Jio."


"Lagunya ganti dong nanti ada yang baper loh." Ujar kak Damri sambil melirikku. Aku langsung menentukan kepala.


"Iya nih, tuh yang nyanyi juga matanya udah berkaca-kaca." Imbuh kak Satria.


"Ih apaan sih kak. Mau pulang jam berapa aku bareng ya." Tanyaku ke kak Damri mengalihkan pembicaraan.


"Bentar loh belum sore ini. Nanti aku anterin." Kata kak Damri.


"Yaudah."


Tiba-tiba ponselku bunyi ada pesan masuk.


~ada hubungan apa kamu sama Jio? Aku lihat semakin dekat aja kamu sama dia.~ chat dari kak Danu.


~memangnya kenapa kalau aku semakin dekat? Itu bukan urusanmu kan?~ balasku.


~memang bukan urusanku, cuma mau mengingatkan dia itu bukan laki-laki baik.~


~semua laki-laki yang dekat denganku kamu bilang mereka bukan laki-laki baik. Lantas yang baik cuma kamu, begitu?~


~bukan seperti itu, tapi dia tidak sebaik yang kamu pikir.~


~memangnya kamu tau pikiranku seperti apa? Sudahlah urusi dirimu sendiri saja, ngga usah pusingin hidup orang lain!~


~kamu bukan orang lain di hidupku. Aku masih menganggap kamu kekasihku.~


~gila kamu memang~


~terserah mau bilang aku gila atau apa lah. Aku akan tetap berjuang untukmu bagaimanapun caranya.~


~terserah!~


#


Hari-hari aku selalu memikirkan gimana caranya aku bisa cinta sama Jio. Aku harus bisa cinta sama Jio demi bisa menghapus kak Danu.

__ADS_1


~sayang besok jadi nonton?~ chat dari Jio.


~jadi dong, ada band faforit aku masa ga jadi.~ balasku.


~iya deh apa sih yang enggak buat kamu. Kita berangkat sama siapa aja?~ tanya Jio.


~belum tau, banyak kayanya yang berangkat bareng.~


~oh yaudah kamu istirahat sana biar besok ngga kecapean pas pergi.~


~iya sayang. Kamu juga istirahat.~


~iya sayang.~


#


Keesokan harinya. Aku Jio dan teman-teman berangkat nonton sepulang aku kerja karena acaranya hari sabtu malam minggu.


Aku berangkat bersama Jio, Meli sama dika gebetannya, dan Tini bersama iyan gebetannya juga. Teman-temanku yang lain sudah pada berangkat siang tadi.


Kami menempuh jarak kurang lebih satu jam, setelah sampai tujuan, kami memutuskan untuk mencari makan lebih dulu.


"Kita cari makan dulu yuk, mau makan apa?" Tanya Jio ke aku.


"Bentar aku tanya yang lain dulu mau makan apa. Mel, Tin kita cari makan dulu yuk, mau makan apa?"


"Mm gimana kalau bakso aja." Usul Tini. Dia ini penggemar bakso, dimana-mana yang dicari pasti bakso.


"Mm oke deh, itu ada kedai bakso. Kita kesana aja yuk." Kata Meli.


Kami berjalan menuju kedai bakso.


Setelah selesai makan, kami langsung ke tempat acara berlangsung. Suasananya sangat ramai. Ada teman-temanku dari berbagai kota juga yang menyukai musik keras. Kalau aku sebenarnya sih cuma suka kumpulnya sama teman-teman aja kalau musiknya suka tapi ga terlalu.


Aku duduk di tribun di samping kiri ku ada Tini dan Meli Jio duduk di belakangku, di samping kananku kosong karena buat orang-orang jalan naik turun tribun.


"Eh kalian udah sampai toh, udah lama?" Tanya kak Wahyu.


"Enggak, baru aja kok." Jawabku.


"Yaudah aku kesana dulu ya. Tuh anak-anak pada kumpul disana." Kata kak Wahyu.


"Oh iya nanti kita susul kesana."


Saat kami sedang menikmati musik tiba-tiba ada mencium pipiku dari samping kanan. Sontak aku menoleh kanan karena kaget. Ternyata yang mencium aku adalah kak Danu. Dia langsung pergi begitu saja.


Aku menoleh ke arah Jio, raut mukanya berubah, menunjukkan kalau dia cemburu. Aku sangat kesal sama kak Danu berani sekali dia mencium aku.


Meli sama Tini yang melihat dia hanya diam tidak berani komentar.


"Sayang." Kataku lirih ke Jio.


"Be gimana ini, Jio kayanya marah. Dia kemana ya." Aku bertanya sama Tini dan Meli.


"Coba telepon dia." Kata Meli.


"Sudah, tapi nomornya ga aktif be." Jawabku mulai gusar.


"Mm kita kesana yuk mungkin Jio nyamperin temen-temen disana." Kata Tini.


"Iya ayo."


Kita bertiga langsung berjalan kearah teman-temanku pada kumpul.


"Ada yang tau Jio?" Tanyaku.


"Dia ga kesini, emangnya ga bilang mau kemana?" Tanya kak Mario.


"Enggak, tadi dia pergi gitu aja."


"Dia marah apa gimana?" Tanya kak Mario.


"Kayaknya sih marah." Kataku.


"Kenapa?" Tanya kak Mario lagi.


"Nanti aja ceritanya, aku cari dulu ya." Kata aku.


"Mau nyari kemana, disini ramai banget banyak stand, acaranya juga banyak bukan cuma acara konser ini doang." Kata kak Wahyu.


Disini memang banyak acara di berbagai titik. Ada pentas wayang kulit, ada Jathilan, ada campur sari, dan masih banyak lagi, Dan tempatnya juga sangat luas. Aku bingung mau cari kemana.


"Nah loh Tia bener kata kak Wahyu, kita tunggu disini sebentar aja. Kali aja dia lagi ke toilet." Kata Tini.


"Iya." Jawabku singkat karena khawatir.


Akhirnya aku mutusin nunggu di sini sebentar, kalau dia ngga balik-balik aku mau ke parkiran kali aja dia balik ke parkiran.


"Ada kemungkinan dia ninggalin kamu pulang duluan ngga ya Tia." Ucap Meli.


"Kamu jangan nakut-nakuti aku dong be." Kataku semakin gusar.


"Ya kan mungkin dia marah. Terus pulang duluan."


"Tapi kayaknya enggak deh." Jawabku.


"Ya semoga saja." Ucap Meli.

__ADS_1


Sampai hampir pukul dua belas malam, acara hampir selesai Jio belum balik kesini. Aku mutusin balik ke parkiran. Aku juga kirim pesan ke Jio.


~sayang kamu dimana?~


~sayang kamu marah ya?~


~sayang, balas dong jangan kaya gini.~


Ngga ada satupun balasan dari Jio.


Sampai diparkiran, ternyata bener dia ada di pintu masuk parkiran. Dia menatap aku dingin dan tanpa bicara apapun. Jarak dari tempat acara ke parkiran setengah jam lebih, karena memang sangat luas dan ada banyak panggung acara disini.


"Kita pulang yuk." Aku berbicara sedikit takut.


"Udah selesai?" Jawabnya sedikit ketus.


"Belum, tapi bentar lagi selesai paling. Kita pulang aja. Tini sama Meli juga ngajakin pulang kok." Ucapku.


"Oh." Jawab Jio seraya berjalan kearah motor.


Aku mengikuti di belakangnya.


"Be tuh kan dia marah." Bisik ku ke Meli dan Tini.


"Nanti kamu rayu dia biar ga marah" ucap Tini.


"Iya."


Kita semua akhirnya pulang tepat pukul satu dini hari karena acaranya memang sudah mau selesai. Teman-temanku yang tadi berangkat duluan juga ikut pulang, tapi mereka berangkat dengan menggunakan mini bus sewaan. Ada dua mini bus yang mereka sewa.


Kami berjalan beriringan mini bus dan juga temen-temen yang bawa motor.


Diperjalanan Jio hanya diam, tidak berbicara apapun, aku juga takut mau berbicara. Aku memutuskan hanya diam.


Aku jadi semakin benci sama kak Danu, dia seperti merendahkan aku. Mencium tanpa seijin aku, sama saja melecehkan aku. Dimana sih pikiran kak Danu. Tega sekali dia seperti ini.


Di tengah perjalanan Tini dan Iyan berhenti di pinggir jalan.


"Kenapa berhenti?" Tanyaku.


"Ban ku bocor." Jawab Iyan.


"Yah gimana dong, udah malem gini masih ada bengkel tambal ban yang buka ga ya." Ucap Meli.


"Mm Jio kamu bonceng bertiga mau ga, titip Tini aku mau dorong motor sampai bengkel tambal ban, kali aja di depan masih ada bengkel yang buka." Ucap Iyan.


Karena motor Jio motor gede jadi Tini bonceng aku sama Jio.


"Iya gapapa, biar Tini sama aku." Jawab Jio.


Yang tadi Jio duduknya mepet-mepet ke depan ala-ala orang lagi marah biar ga tersentuh sama aku biar ada jarak di tengah, sekarang bonceng bertiga, ga bisa lagi dia jauh-jauh duduknya.


Kami lanjut jalan sekitar 200 meter masih ada bengkel tambal ban yang buka.


"Allhamdulillah itu ada bengkel yang masih buka." Kata Tini.


"Iya, allhamdulillah."


Setelah selesai di tambal, kami semua lanjut pulang.


Kami sampai dirumah hampir pukul tiga dini hari, karena insiden ban bocor Tini bukan cuma sekali setelah di tambal bocor lagi sampai 2 kali.


Aku tidur di rumah Meli karena takut pulang, sudah pasti dimarahin sama bapak aku. Aku termasuk anak paling nakal diantara adik-adik aku. Walaupun nakal tapi aku tau batasan-batasannya.


Saat mau tidur Meli bertanya.


"Tadi gimana be udah jelasin sama Jio?"


"Jelasin apanya kan bukan salah aku, besok aku suruh kak Danu jelasin sama Jio. Terus tadi di perjalanan aku sama Jio juga diam aja."


"Kok diam aja, kamu g ngajak ngomong dia? Eh tapi setelah kak Danu nyium kamu kok dia langsung ga keliatan lagi ya, kemana dia ya." Tanya Meli lagi.


"Aku tanya sama dia juga ga di jawab kok. Aku juga ga tau kak Danu kemana." Jawabku.


"Ih marah beneran loh dia." Ucap Meli.


"Iya marah." Jawabku santai.


"Kamu ini pacarnya marah kok santai begitu." Ucap Meli.


"Ya aku harus gimana dong, tadi aku sempat takut dia marah pas masih di tempat tadi. Tapi sekarang perasaanku biasa aja."


"Ya di bujuk dong biar dia ga marah."


"Besok aja lah, aku ngantuk mau tidur."


"Ih dasar kamu ini, pacar biadab." Ucap Meli dengan tawa.


"Biarin lah." Aku langsung narik selimut.


Tiba-tiba handphone aku berbunyi. Tenyata ada pesan dari Jio.


~kamu seneng ya dapat ciuman dari mantan tercinta kamu.~


Aku langsung membalasnya.


~maksudnya apa? Aku ga tau dia tiba-tiba cium aku. Aku juga ga tau ada dia disana.~

__ADS_1


~tapi kamu seneng kan, jujur aja sama aku.~


~seneng? Kamu bilang aku seneng? Aku makah merasa direndahkan sama dia asal kamu tau! Bisa-bisanya kamu bilang kalau aku seneng.!~


__ADS_2