
Sore hari Tia baru saja selesai memandikan anaknya lalu dia memberikan Asi kepada anaknya yang mulai tambah gembul. Tiba-tiba Meli datang.
"Be, Gendhis udah belum minumnya? Aku kangen." Meli yang masuk ke kamar Tia langsung mengecup pipi gembul Gendhis.
"Baru sebentar be. Tunggu ya." Tia mengelus puncak kepala Gendhis dan tersenyum ke arah Meli.
"Iya, eh be kamu udah denger kabar belum?" Tanya Meli.
"Kabar apa?" Tia ngerutkan dahinya.
"Itu tuh mantan kamu, istrinya melahirkan." Meli menatap Tia dengan kedua alisnya di naik turunkan menggoda Tia.
"Apaan sih alisnya gitu-gitu. Ya syukurlah kalau sudah melahirkan semoga sehat semua." Tia tersenyum geli melihat alis Meli yang naik turun.
"Eh tapi katanya dioprasi terus bayinya dirawat intensife."
"Memang bayinya kenapa?" Tanya Tia penasaran.
"Nggak tau hehe. Dapat infonya cuma segitu aja." Meli nyengir sambil menggaruk kepalanya yang nggak gatal.
"Huuu dasar, nanti kalau udah pulang dari rumah sakit kita jenguk yuk. Kalau masih di rumah sakit kasian Gendhis." Tia menatap Gendhis penuh kasih sayang.
"Iya. Udah sini aku mau gendong Gendhis, kangen berat ini." Meli mengulurkan tangannya untuk mengambil Gendhis.
"Iya-iya, aku mau kirim pesan ke ibunya Ciko dulu mau tanya keadaan Juarti sama bayinya." Tia meraih ponselnya di atas nakas.
"Ciieee yang dekat sama mantan calon mertua, sama yang udah jadi mertua malah nggak dekat." Ledek Meli.
"Apaan sih Mel, sssttt awas kalau kak Danu dengar loh. Nanti dia cemburu." Jari telunjuk Tia di tempelkan ke arah mulut Meli.
"Iya iya. Gimana kabar kamu sama ibu mertua be?" Tanya Meli.
"Nanti aku ceritain. Diem dulu kamu lagi serius nih." Tia menatap layar handphone dan mengetik sesuatu.
"Bu, Juarti lahiran ya? Bagaimana keadaannya bu? Sehat semua kan? Kalau sudah pulang dari rumah sakit kabarin ya bu, pengen nengokin Ciko junior." Send.
Tia mengirim pesan tidak menunggu lama pesan tersebut langsung di balas oleh ibunya Ciko.
Ting.
"Iya sayang, keadaannya sudah sedikit membaik. Doain cepet pulih dan sehat ya biar cepet si bawa pulang ke rumah. Nanti Ibu kabarin kalau udah di rumah. Kamu gimana sayang kabarnya? Baik kan?" Isi pesan ibunya Ciko.
"Iya bu, Tia doain yang terbaik buat semuanya. Tia baik bu, ibu gimana, sehat?" Send
"Serius amat sih neng." Ucap Meli melirik sahabatnya yang sedang berbalas pesan dengan ibunya Ciko.
"Hehe. Biarin dong." Tia cengengesan.
Ting.
__ADS_1
Pensan masuk
"Ibu sehat sayang. Makasih ya doanya. Ibu kangen sama kamu. Udah lama nggak main kerumah ibu." Tia senyum-senyum sendiri membaca pesan dari ibunya Ciko.
"Seandainya dia ibu mertuaku" batin Tia.
"Astagfirullah." Ucap Tia sadar dari lamunannya.
"Ada apa be?" Tanya Meli kaget.
"Enggak nggak ada apa-apa. Habis ini aku tinggal mandi dulu ya." Ucap Tia mengalihkan pembicaraan.
Sebelum beranjak Tia membalas pesan terlebih dulu.
"Tia juga kangen sama ibu. Nanti kapan-kapan Tia main kerumah ibu." Send.
**
**
Di rumah sakit
Ciko sedang berada di ruangan dokter menanyakan keadaan istri dan anaknya.
"Jadi gimana keadaan istri dan anak saya dok? Apa sudah boleh di bawa pulang?" Tanya Ciko memperhatikan dokter yang menangani istrinya.
"Kalau istri bapak besok sudah boleh di bawa pulang, tapi kalau anak bapak coba tanyakan kepada dokter anak yang menangani anak bapak." Jawab dokter tersebut.
Setelah mencari-cari, Ciko menemukan pintu bertuliskan dr. Spesialis anak. Ciko segera mengetuknya.
Tok.. tok.. tok..
"Silahkan maduk."ucap seseorang dari dalam.
Ciko pun membuka pintu.
"Permisi dok." Ucap Ciko.
"Iya, silakan duduk." Ucap seorang dokter.
"Terima kasih dok. Tujuan saya kemari ingin menanyakan keadaan anak saya m, bayi yang berada di ruangan nicu." Ucap Ciko tanpa basa basi.
"Nana ibunya siapa." Ucap dokter sembari mengecek data.
"Juarti dok."
"Oh bayi ini perkembangannya bagus, besok pagi saya periksa lagi. Kalau sudah memungkinkan bisa dibawa pulang pak." Ucap dokter.
"Baik dok. Terima kasih ya dok. Saya permisi dulu, maaf sudah mengganggu waktu anda dok." Ucap Ciko.
__ADS_1
"Sama-sama, sebabg bisa membantu anda." Dokter tersebut tersenyum ramah.
Ciko pun kembali ke ruangan Juarti dengan hati yang bahagia karena besok Juarti sudah di bolehkan untuk pulang.
Saat sudah sampai di ruangan, Ciko mendudukan dirinya di kursi di samping ranjang.
"Sayang kamu besok sudah boleh pulang." Ciko menggenggam tangan Juarti.
"Alhamdulillah. Terus bayi kita juga boleh pulang?" Tanya Juarti.
"Belum tau, besok pagi di periksa dulu. Kalau memungkinkan untuk di bawa pulang, boleh di bawa pulang." Ciko tersenyum.
"Semoga saja boleh di bawa pulang ya mas."
"Aamiin."
"Bagaimana biayanya mas?" Tanya Juarti.
"Kamu tenang aja, itu urusan aku. Kamu fokus supaya cepat pulih dulu ya. Berdoa semoga anak kita cepat sehat dan tumbuh jadi anak pintar." Ciko menatap Juarti lekat.
"Terima kasih atas semuanya mas, aku nggak tau lagi harus dengan cara apa berterimakasih sama kamu mas."
"Kamu cukup jadi istriku aku sudah bahagia." Ciko tersenyum penuh arti.
Juarti tersipu malu. Tidak menyangka Ciko akan secepat ini mencintainya. Setelah apa yang dia lakukan kepada Ciko.
Juarti merasa beruntung mempunyai Ciko. Ciko mau menerima dia dan anaknya dengan iklas. Padahal sebelumnya dia sangat di benci oleh Ciko.
"Iya mas, semoga keluarga kecil kita selalu bahagia dijauhkan dari segala nasalah."
"Aamiin, ngomong-ngomong ibu sama bapak kamu kok nggak datang jenguk kamu ya." Ciko penasaran dari kemarin ingin menanyakan hal ini tapi takut menyinggung Juarti.
"Ngga tau mas, aku juga sudah kirim pesan sana adek aku. Tapi belum dibalas dari kemarin-kemarin." Juarti merasa bersalah kepada Ciko, karena orang tuanya belum ada yang datang.
"Semoga aja nggak terjadi apa-apa, semoga semuanya sehat."
"Aamiin."
"Oh iya anak kita mau di namain siapa?" Tanya Ciko.
"Aku belum kepikiran mas, masih bingung." Juarti menggaruk dahinya yang tak gatal.
"Nanti aku boleh kasih nama nggak?" Tanya Ciko.
"Boleh dong mas, yang bagus ya. Nanti aku juga pikirin nama buat anak kita." Juarti tersenyum.
"Iya, aku pakai nama jawa. Semiga kamu suka ya."
"Aku pasti suka mas. Aku pengen kebelakang mas."
__ADS_1
"Aku bantuin ya. Pelan-pelan aja. Apa mau aku gendong aja?" Tanya Ciko.
"Enggak mas aku bisa jalan sendiri." Pipi Juarti bersemu merah mendengar kata gendong.