Persahabatan Atau Cinta?

Persahabatan Atau Cinta?
59


__ADS_3

"Sayang aku mau ke kamar mandi dulu ya titip dedek." Ucap Tia.


Tia sebenarnya nggak nyaman kalau ke kamar mandi, karna setiap Tia habis dari kamar mandi, ibu mertua Tia langsung membersihkan dan menyikat kamar mandi. Seolah kamar mandinya selalu kotor kalau habis di pakai oleh Tia.


"Iya sayang, nanti sekalian tolong bawakan teh ke sini ya."


"Iya. Mm tapi ibu lagi keluar kan?" Tanya Tia.


Dia mencari kesempatan saat ibu mertuanya pergi jika ingin ke kamar mandi.


"Tadi bilang sih katanya mau ke pasar sayang, memangnya kenapa?" Tanya Danu.


"Mm nggak papa kok, ya sudah aku tinggal dulu ya."


Tia nggak pernah menceritakan tentang sikap ibu mertuanya kepada Danu. Taku Danu salah paham, dan Tia juga nggak mau hubungan Danu dan ibunya jadi rusak kalau Tia menceritakan.


Setelah dari kamar mandi Tia langsung pergi ke kamar.


"Sayang nanti kamu aku tinggal keluar sebentar nggak papa kan? Aku mau ke kios dulu siram tanaman." Ucap Danu.


"Iya sayang, aku mau tidur sebentar ya kalau kamu keluar. Aku ngantuk banget dedek tadi malam ke bangun terus rewel terus." Ucap Tia.


"Iya sayang kamu istirahat dulu ya. Ya udah aku pergi sekarang aja ya."


"Iya kamu hati-hati ya sayang."


Setelah Danu pergi Tia pun tertidur karena anaknya juga sedang tidur.


Setelah kurang lebih tiga puluh menit Tia tidur terdengar ada orang sedang berbicara.


"Biasalah kerjaannya kan tidur. Tia itu nggak bisa apa-apa, nggak pernah ngerjain apapun di sini.


'sepertinya ibu sudah pulang, dia sedang berbicara dengan siapa ya. Kok kayaknya sedang ngomongin aku.' batin Tia.


"Masa sih bu, mm kalau gitu dia jahat sekali sama ibu tega biarin ibu melakukan pekerjaan rumah sendiri. "


'kok seperti suara Nita ya, mantan pacar kak Danu.' batin Tia.


" Iya Nita harusnya dulu yang menikah sama Danu itu kamu saja, jangan si Tia itu." Ucap ibu Danu.


"Udahlah bu dulu ibu kan nggak suka sama aku."


"Iya ibu menyesal."


Tia nggak tahan sama omongan ibu mertuanya dan Nita. Tia akhirnya memutuskan untuk keluar kamar.


"Ibu menyesal punya menantu seperti aku? Yang dulu minta aku siapa? Aku sama kak Danu itu ga ada hubungan apa-apa sebelum menikah. Aku juga sudah menolaknya beberapa kali. Tapi kak Danu tetap kekeh melamar aku bu. Ibu juga bilang kan sama aku kalau ibu nggak suka sama Nita ini karena dia ini matre bisanya cuma morotin kak Danu." Ucap Tia dengan nada gemetar menahan tangis.

__ADS_1


"Benar ibu bilang seperti itu?" Tanya Nita.


Ibu Danu hanya menunduk.


"Kamu Nita, kenapa kamu kesini? Ada urusan apa? Ada urusan sama siapa?" Tanya Tia.


"Aku, mm aku cuma mau nengok bayi kamu kok." Jawab Nita gelagapan.


"Bayi aku nggak perlu di tengok sama kamu. Dan kamu nggak usah pakai acara kirim pesan sama suamiku lewat facebook. Aku tau karena aku yang buka, aku juga yang membalas pesan kamu. Kamu ini kan udah punya suami udah punya anak masih saja ke gatelan sama suami orang." Ucap Tia.


"Ibu, ibu nggak tau kan seperti apa aslinya si Nita ini. Jadi ibu nggak usah banding-bandingkan aku sama dia. Satu lagi bu, kalau ibu menyesal punya menantu seperti aku dan ibu nggak suka sama aku, silahkan ibu bilang sama kak Danu. Apa aku yang akan bilang sendiri sama kak Danu bu. Biar nanti kak Danu mau bagaimana, mau pisah sama aku atau bagaimana nanti keputusan aku serahkan sama kak Danu."


"Jangan Tia, nanti Danu akan marah Tia." Ucap ibu Danu.


"Aku selama ini sudah diam ya bu ibu ngomongin aku di belakang itu aku tau bu. Bukan cuma ngomongin aku tapi keluarga aku juga ibu omongin kan menjelek-jelekan keluarga aku."


Ibu Danu hanya diam dia ketakutan, dia tidak menyangka Tia bisa seberani ini.


"Kamu ngapain masih di sini Nita? Mau kepo urusan keluarga aku. Cepat pergi sana, eh awas ya nanti kalau aku dengar kamu ngomongin soal kejadian ini ke orang lain aku pelintir lidah kamu!" Ucap Tia tegas.


"Siapa juga yang mau ngomongin kamu pd banget kamu Tia, dasar sok cantik sok hebat." Ucap Nita dengan wajah songong.


"Biarin daripada kamu punya suami kok gatel sama suami orang dih jijik aku nggak pernah di sentuh suami kamu ya? Makannya gatel sama suami orang."


" Diam kamu Tia, aku bilangin ke Danu kelakuan kamu ini yang sudah menghina aku." Ucap Nita.


"Bilang sana bilang, dasar nggak tau diri."


"Ibu, ibu itu sudah aku anggap ibu kandung aku sendiri, kenapa tega begini. Kalau ibu nggak suka aku ada disini biar aku pulang kerumah ibu aku. Nggak usah begini tenang aja aku akan pergi dari sini."


"Jangan Tia, nanti Danu marah."


"Ibu hanya takut kak Danu marah kan? Tenang aja kak Danu kalau marah nggak akan lama."


Tia kembali ke kamarnya, dia bingung. Jika Tia kembali kerumah ibu kandungnya pasti akan banyak pertanyaan kenapa. Tapi kalau dia nggak pergi dari rumah mertuanya dia setiap hari akan makan hati. Tia terus berpikir, tanpa sadar Tia meneteskan air mata.


"Sayang kenapa kamu menangis?" Tanya Danu yang tiba-tiba datang.


Tia cepat-cepat menghapus air matanya


.


"Nggak papa kak, mata aku perih terus berair kayaknya karena kurang tidur deh kak." Ucap Tia.


"Sayang, kamu nggak bisa bohongin aku. Aku ini suami kamu, aku sayang sama kamu tulus. Aku tau kapan kamu bohong dan kapan kamu jujur. Sekarang bilang sama aku, kamu kenapa menangis sayang."


Tia tidak menjawab air matanya semakin deras, Tia tidak bisa menahannya lagi."

__ADS_1


"Sayang." Ucap Danu sedih dan memeluk Tia.


"Kamu tanya saja sama ibu, tadi Nita mantan kamu juga kesini." Ucap Tia.


"Ibu? Kenapa sama ibu sayang, dan Nita ngapain kesini. " Tanya Danu.


Tia hanya menggeleng. Danu segera keluar kamar dan menemui ibunya. Ibu ya sedang berpura-pura tidur karena dia takut Danu akan marah besar jika tau yang sebenarnya.


"Ibu ada apa dengan Tia bu, kenapa dia menangis?" Ucap Danu.


Tidak ada jawaban sama sekali dari ibunya, ibunya masih tetap pura-pura tidur.


"Ibu, Danu tau kalau ibu itu nggak tidur. Ibu dengar Danu kan bu?" Tanya Danu dengan menggoyangkan badan ibunya.


Akhirnya ibunya pun bangun dari tidur pura-pura nya.


"Maafin ibu Danu, ibu nggak akan mengulangi kesalahan ibu." Ucap ibu Danu dengan gemetar karena takut.


"Mengulangi kesalahan apa bu? Memangnya ibu salah apa?" Tanya Danu.


"Ibu tadi mengajak Nita kesini, ibu pikir Tia sedang tidur ternyata dia mendengar percakapan ibu dengan Nita, dan Tia marah sama ibu." Ucap ibu Danu.


"Memangnya ibu bicara apa sama Nita kok Tia bisa sampai marah."


"Ibu.." ibu Danu tidak meneruskan ucapannya.


"Ibu bicara apa bu." Danu mengulangi pertanyaannya.


"Ibu hanya bicara kalau Tia kerjaannya hanya tidur itu aja." Ucap ibunya.


"Benar ibu bilang begitu? dan ibu hanya bicara seperti itu?" Tanya Danu.


Ibu Danu hanya menunduk dia takut Danu marah kepadanya.


Tiba-tiba Tia keluar dari kamar.


"Sudah lah kak, nggak usah di tanya terus. Aku udah nggak papa kok. Besok kita cari kontrakan aja ya kak." Ucap Tia.


"Jangan Tia, kamu disini saja." Ucap ibunya Danu.


"Ibu kan bilang menyesal punya menantu aku, kak Danu sekarang kak Danu mau bersama aku pergi dari sini atau akan tetap tinggal di sini bersama ibu kak Danu." Ucap Tia.


"Benar ibu bilang menyesal punya menantu Tia? Dan Tia sayang kamu jangan mengambil keputusan saat sedang emosi begini ya. Kita nenangin pikiran kita dulu ya sayang." Ucap Danu.


"Enggak kak, aku akan tetap pergi dengan atau tanpa kak Danu." Lalu Tia pergi ke kamar.


"Ibu, kenapa ibu tega bilang seperti itu? Ibu sendiri kan dulu yang menyuruh aku menikahi Tia. Kenapa sekarang ibu begini. Dan satu lagi, ibu nggak usah bergaul sama Nita, dia itu bahaya bu."

__ADS_1


"Iya nak ibu tau ibu salah, maafkan ibu nak." Ucap Ibu Danu.


Danu tidak menjawab apapun dan langsung pergi menyusul Tia.


__ADS_2