Persahabatan Atau Cinta?

Persahabatan Atau Cinta?
58


__ADS_3

Acara syukuran kelahiran bayi Tia akan segera di mulai, banyak tamu dari luar desa yang datang dan semuanya teman ibu mertuanya Tia. Karena memang ibu mertua Tia yang mengundang mereka untuk datang.


"Selamat ya bu punya cucu baru." Ucap seseorang. Tia mendengarkan percakapan mereka dari dalam kamar.


"Iya, makasih ya sudah datang. Maaf ya acaranya seadanya jadi makanannya cuma seadanya begini." Ucap ibu mertua Tia.


'seadanya ibu bilang? Padahal menurut aku ini udah sangat mewah.' batin Tia.


"Kalau ini mah bukan seadanya lagi bu. Makanan banyak begini enak-enak pula." Sahut ibu satunya lagi.


"Halah ini semua kalau saya yang beli, menangu sama besan saya itu pelit." Bisik mertua Tia, tapi Tia masih bisa mendengarnya dari dalam kamar.


"Masa sih bu, yang sabar ya bu punya menantu sama besan yang begitu."


"Iya bu, saya mah cuek. Sebenarnya saya juga kurang suka sama menangu saya itu. "


'aku disini juga bukan karena ke inginanku. Kenapa sekarang ibu seperti itu sama aku.' batin Tia lagi.


Tia pengen nangis, dan pengen langsung pergi dari rumah itu. Tapi Tia nggak enak karena masih banyak orang di luar. Tia hanya bisa sabar.


Tiba-tiba Danu masuk rumah dan menyalami semua tamu.


"Silakan di minum bu sama di makan ini cemilannya. Saya mau ke kamar dulu ya bu." Ucap Danu setelah selesai menyalami semuanya Danu langsung masuk ke dalam kamar.


"Sayang kamu kenapa kok kaya habis menangis?" Tanya Danu.


"Enggak kok ini tadi nyobain eyeliner terus kecolok." Ucap Tia bohong.


"Oh, hati-hati dong sayang."


"Iya kak."


"Kamu udah makan belum?" Tanya Danu.


"Mm aku makan nanti aja kak, ini belum lapar." Jawab Tia.


"Memangnya kamu kapan makan kok sekarang belum lapar." Tanya Danu.


"Tadi pagi kak."


"Tadi pagi? Dan sekarang kamu bilang belum lapar? Bohong banget. Aku ambilin makan dulu ya." Ucap Danu seraya keluar kamar.


"Danu mau kemana." Tanya ibunya Danu.


"Mau ambil makan bu, buat Tia. Kasian dia belum makan." Ucap Danu.


"Ambil sendiri memangnya tidak bisa?" Ucap ibunya Danu.


"Kan dia lagi mangku gendhis bu. Takut ke bangun."


"Halah di tidurkan di kasur dulu kan bisa. Dasar bilang aja males ambil makan sendiri."


"Ibu kok bilang seperti itu sih sama Tia."

__ADS_1


"Memang kenyataannya dia pemalas kan."


"Terserah ibu saja lah, malas aku meladeni ibu." Ucap Danu lalu masuk ke dalam kamar lagi.


Saat ini Tia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.


"Sayang maafin kata-kata ibu ya." Ucap Danu.


Tia hanya diam, dia sakit hati sama ibu mertuanya.


Lalu Danu memeluk Tia, dia sangat mengerti perasaan Tia saat ini.


"Ibu kamu keterlaluan, dulu yang minta aku siapa? Yang dekatin aku siapa? Kenapa sekarang malah sikapnya begini sama aku." Ucap Tia.


"Maafin ibu Tia, maafin aku juga. Nanti biar aku naehatin ibu. Ini sekarang kamu makan dulu ya. Nggak usah pikirin omongan ibu." Ucap Danu.


"Taroh aja makanannya di situ, sekarang aku lagi nggak nafsu makan."


"Kamu harus makan sayang. Kasian Gendhis kalau kamu lapar kan asi nya nggak keluar."


"Iya nanti aku makan."


"Iya nanti aku makan."


"Sekarang aja, aku suapin ya sayang." Ucap Danu.


Tia pun menurut, dia makan dengan keadaan hati yang sakit.


"Kamu dari mana tadi kak.?" Tanya Tia.


"Oh."


Ibunya Danu memang suka merokok, dan dia tidak tau tempat. Dimanapun dia selalu menyalakan rokok semaunya.


Satu minggu setelah acara syukuran Gendhis, bapak Danu datang kerumah Danu. Bukan untuk menengok cucunya tapi..


"Danu bapak mau pinjam uang, kamu pasti punya kan?" Ucap bapak Danu tanpa basa basi.


"Berapa pak?" Tanya Danu.


"Lima ratus ribu rupiah. Kamu pasti ada kan." Ucap bapak Danu seperti mendesak.


"Sebentar pak saya tanya istri saya dulu." Uca Danu kemudian masuk kamar untuk menemui Tia.


"Tia, bapak mau pinjam uang. Bagaimana?" Tanya Danu.


"Kita kan lagi ngumpulin uang buat aqiqah anak kita kak. Ya terserah kakak sih, aku ngikut aja." Ucap Tia.


"Ya sudah kita pinjamin ya Tia."


"Iya terserah." Ucap Tia.


Danu kemudian keluar dengan membawa uang untuk di pinjamkan ke bapak nya.

__ADS_1


Tia sebenarnya kurang suka dengan bapaknya Danu, karena dia tidak pernah peduli dengan Danu sejak Danu kecil hingga sekarang. Setiap kakaknya Danu pulang selalu di kasih uang, dikasih makanan, dikasih segalanya, kakaknya Danu juga di kasih tanah dan akan di bangunkan rumah. Tapi berbeda jika dengan kak Danu dia sama sekali tidak peduli.


Sekarang Danu punya anak saja dia tidak menengok malah datang untuk pinjam uang.


"Ini pak ada lima ratus ribu kan?" Ucap Danu.


"Iya makasih ya, bapak pulang dulu." Ucap bapak Danu langsung berpamitan.


"Pak cucu bapak sudah lahir, bapak nggak mau nengok kekamar dulu?" Tanya Danu.


"Kapan-kapan saja ya, bapak buru-buru. Ada urusan penting." Ucap bapak Danu kemudian pergi.


Danu hanya duduk termenung melihat kepergian bapaknya.


'kenapa sikap bapak seperti itu, bapak nggak pernah peduli sama aku. Apa salah aku.' batin Danu.


"Kak Danu, aku mau mandi dulu ya tolong tungguin Gendhis sebentar. Takut kebangun terus nangis." Ucap Tia membuyarkan lamunan Danu.


"Iya sayang, tinggal aja nggak papa biar aku jagain sayang. Aku siapin air panas dulu ya." Ucap Danu.


"Iya kak." Ucap Tia.


Tia sebenarnya kasian dengan Danu, sebenarnya Danu itu orangnya pemikir, apa-apa di pikirkan.


"Sayang udah selesai belum?" Gendhis nangis nih." Ucap Danu di depan kamar mandi.


"Iya sebentar, ini udah selesai kok." Teriak Tia.


"Aku tunggu di kamar ya." Ucap Danu langsung kembali ke kamar.


"Iya kak."


Danu tidak bisa mendiamkan anaknya yang menangis, dia panik.


"Sini kak, biar aku susu in dulu." Ucap Tia.


"Iya sayang, jadi gerah aku dari tadi nggak diem diem sayang." Ucap Danu.


"Iya diem nya kalau udah nyusu ini kak." Ucap Tia.


"Mm sayang, maaf ya. Bapak malah minjam uang ke kita. Padahal kita juga lagi butuh uang kan." Ucap Danu.


"Nggak papa kak, nggak usah di pikirkan. Kamu kan anaknya memang sudah sepantasnya seorang anak membantu irang tua kan." Ucap Tia.


"Makasih ya sayang, aku beruntung punya istri seperti kamu." Ucap Danu.


"Sama-sama kak, aku juga beruntung jadi suami kakak."


"Sayang jangan panggil aku kak terus dong." Ucap Danu.


"Terus aku harus panggil apa dong kak." Tanya Tia polos.


"Sayang gitu atau panggil ayah, kita kan udah punya anak." Ucap Danu

__ADS_1


"Hehe iya deh ayah."


"Gitu dong."


__ADS_2