
"Sayang aku langsung pulang aja ya, kamu kan ada penting sama Meli." Ucap Jio ketika sudah sampai di depan rumahku.
"Mm mampir aja dulu." Jawabku basa basi.
"Ngga usah sayang, besok ketemu lagi aja ya." Ucapnya dengan tersenyum.
"Yaudah iya, hati-hati pulangnya." Ucapku.
"Iya sayang."
Melihat aku didepan rumah Meli langsung menghampiriku.
"Bisa dijelaskan?" Ucap Meli dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Apanya?" Tanyaku dengan tergelak.
"Malah ketawa, ya tadi kenapa nyuruh aku bohong."
"Biarin aku masuk dulu istirahat kek, main introgasi aja kamu ini."
"Hish aku penasaran Tia." Meli cemberut.
"Iya iya, ayo masuk rumah dulu."
Aku dan Meli masuk rumah, Meli langsung masuk kamar aku, dia udah biasa keluar masuk kamar aku.
"Aku ke kamar mandi dulu ya mel."
"Ih mau ngapain?"
"Mau makan!" Ucapku asal.
"Yee ditanyak baik baik loh."
"Ya habis kamu ini,, mau ke kamar mandi kok mau ngapain."
"Iya iya, cepetan ya. Udah ga sabar aku."
Setelah dari kamar mandi aku langsung mauk kamar menemui Meli.
"Jadi gimana?"
"Sabar dulu kek. Jadi aku itu bosan disana, pengen cepet pulang gitu."
"Emangnya kamu diajak kemana?"
"Ke air terjun mm apa ya namanya lupa aku. Pokoknya air terjun gitu."
"Bagus dong tempatnya."
"Iya bagus, tapi ini bukan masalah tempatnya be. Ini masalah perasaan aku."
"Emang perasaan kamu gimana? Kamu udah terima dia kan ?"
"Iya udah, aku terima dia. Tapi aku malah merasa bersalah sama dia."
"Kenapa begitu?"
"Aku belum cinta sama dia."
"Iya aku tau, jalanin aja dulu. Kali aja nanti suatu saat bisa cinta sama dia. Dia kan baik, ganteng, perhatian lagi sama kamu."
"Iya sih, semoga saja."
Semoga saja aku bisa cinta sama Jio, kasian Jio kalau cuma jadi pelampiasan aku aja.
"Eh Tia kak Danu gimana?" Tanya Meli.
"Gimana apanya?" Tanyaku balik.
"Ya gimana, masih hubungi kamu enggak. Kalau dipikir-pikir kasian juga dia Tia, udah dapat balasannya gitu." Ucap Tia.
"Iya kasian, tapi aku ga mau rasa sayang yang masih aku punya sedikit untuk dia berkembang jadi besar lagi."
"Kenapa sih kamu belum bisa lupain dia?" Tanya Meli.
"Ya gimana, dia pacar pertama aku. Dulu aku sayang banget sama dia, terus cinta yang tulus itu kan ngga akan mudah luntur dalam hitungan hari atau bulan, malah bisa juga bertahun-tahun." Ucapku panjang lebar.
"Iya sih, tapi kalau aku beda hehe."
"Iya, maka dari itu aku masih berusaha untuk hapus cinta aku yang masih tersisa untuk dia, karena kalau untuk kembali aku udah ngga mau. Kamu mah ga pernah pakai hati haha."
"Pakai hati lah, tapi dikit, takut kaya kamu jadi ga bisa lupain kak Danu gitu. Tapi kamu tetap semangat ya aku doain semoga bisa cepat lupain si Danu."
"Makasih ya be, kamu emang sayangnya aku." Ucapku sambil peluk Meli.
"Iya iya. Eh tapi aku minta traktiran ya. Kam kamu baru jadian." Meli membalas pelukan aku.
"Iya aku traktir, kita kerumah Tini dulu ajak dia." Ucapku.
"Oke, aku ambil jaket dulu ya."
\#
Aku, Meli, dan Tini makan di kedai bakso.
"Tadi kamu kemana be, aku kerumah kamu, kamu ngga ada?" Tanya Tini ke aku.
"Mm lagi pergi sama Jio be." Jawabku.
"Cie ada berita baik apa ini, kamu terima Jio?" Tanya Tini lagi.
"Iya Tia terima Jio, makanya ini kita ditraktir bakso sama dia." Jawab Meli.
"Allhamdulillah, ada yang udah move on nih." Ucap Tini girang.
"Doain ya, mungkin sebentar lagi." Ucapku.
__ADS_1
"Loh kok sebentar lagi, jadi kamu belum move on?"
"Aku belum cinta sama Jio. Doain aja akubisa cinta sama Jio dan lupain kak Danu ya."
"Oh, iya aku doain yang terbaik buat kamu."
"Makasih be."ucapku.
"Eh tadi aku juga ketemu Iman loh, dia nanyain kabar kamu." Kata Tini.
"Oya? Terus kamu bilang apa?" Tanyaku.
"Aku bilang, Tia baik, dia sekarang juga udah bahagia sama pacarnya. Aku bilang gitu." Ucap Tini.
"Terus bilang apa lagi?" Tanyaku lagi.
"Dia bilang nyesel ninggalin kamu, sekarang dia di tinggal tunangan sama mantannya."
"Masa sih kasian ya si Iman."
"Ngapain kasian sih kan udah nyakitin kamu be." Ucap Meli.
"Aku kan ngga sakit-sakit banget waktu itu. Sakitbsih ada tapi yaudahlah mungkin ini memang jalan hidupku kan. Aku juga udah maafin dia kok."
"Iya deh iya, si berhati lembut." Ledek Tini sambil mengelus dagu aku.
"Hish apan sih."
"Eh ini kak Damri sms aku, dia bilang lagi dirumah Mario." Kata Meli.
"Kita susul kesana yok." Usul Tini.
"Banyak, ada Jio juga."
"Eh jangan kesana. Nanti ketauan kalau tadi aku bohong."
"Ya enggak lah, nanti bilang aja tadi emang ada urusan tapi sekarang udah selesai." Kata Meli.
"Bohong apa maksudnya" tanya Tini bingung.
"Ini loh Tia tadi minta di telpon aku pas dia pergi sama Jio, dia suruh aku bohong bilang kalau Tia harus pulang cepet."
"Emang kenapa Tia kamu bohong kaya gitu." Tanya Tini.
"Ga tau kenapa aku bosen aja tadi pergi sama Jio."
"Baru jadian masa bosen, biasanya nih ya kalau habis jadian orang tuh malah pengen berduaan terus, la ini kok aneh banget kamu." Kata Tini.
"Iya aneh dia emang." Kata Meli.
"Yaudah ayo kalau mau kerumah kak Mario." Ajakku sebelum pembahasan tambah melebar.
Dirumah kak Mario ada banyak orang, ada Iman juga.
"Hallo semuanya, tumben ga pada main di hutan hahaha." Ucap Meli tertawa.
"Yee di hutan emangnya monyet main di hutan." Balas kak Mario.
"Ya kali aja, bukan aku loh yang bilang monyet." Meli tergelak. Semua juga ikut tertawa
__ADS_1
"Duduk sini Tia." Jio menunjukan kursi disebelahnya.
"E cie.. ada yang baru jadian nih." Kata kak Damri semua langsung menatap aku dan Jio.
"Apaan sih kalian." Jawabku dengan pipi memerah.
"Jio PJ (pajak jadian) nya mana." Kata kak Mario.
"Iya kalian mau beli apa, mau makan apa atau mau apa?"
"Makan-makan aja yuk. Laper nih." Kata kak Damri.
"Yaudah ayo mau makan apa?" Kata Jio.
Jio sepertinya bahagia banget, Ya Allah jahat banget aku sama dia. Semoga aku bisa balas Cinta Jio.
"Yah lagi kenyang ini baru di traktir sama Tia." Kata Meli.
"Makan lagi kan gapapa Mel." Kata Tini.
"Udah penuh ni perut aku. Emangnya kamu perutnya bisa muat banyak."
" Yee biarin, yang penting badan aku tetap langsing week." Tini lidahnya melet.
"Udah-udah gausah debat, kita berangkat aja semua. Kemana kita Ji." Tanya kak Damri
"Terserah kalian, bebas pilih." Ucap Jio.
"Eh mm aku ga ikut, aku mau ada acara, aku duluan ya semua." Kata Iman.
"Loh ayo ikut aja gapapa, emangnya acara apa kok mendadak." Kata Jio, dia ngga tau kalau Iman mantan aku.
"Maaf ga bisa." Ucap Iman sedikit ketus langsung pergi.
"Yaudah biarin aja, kita berangkat aja ayo." Kata aku.
Aku dan teman-teman ku pergi ke sebuah kafe dekat dari desa aku.
"Tadi ada urusan apa yang sama Meli." Tanya Jio saat diperjalanan aku diboncengnya.
"Eh e rahasia dong, urusan cewek hehe." Jawabku bohong.
"Yee pake rahasia-rahasia segala."
"Hehe gapapa dong."
Aku sebenarnya ga tega sama Jio, tapi aku udah terlanjur terima dia. Dan dia sepertinya sangat bahagia. maafin aku ya Jio. aku ga bermaksud bohongin kamu. Semoga suatu saat jika kamu tau perasaanku yang sebenarnya, kamu bisa mengerti.
"Besok aku anterin kamu ya."
"Eh ngga usah, jauh lo."
"Gapapa biar kamu ga capek, pokoknya mulai besok aku anterin kamu."
"Mm yaudah terserah kamu aja "
"Eh iya tadi Iman kok kaya marah sama aku kenapa ya."
"Nggak tau, perasaan kamu aja kali. Ga usah dipikirin." kata aku.
"Mm iya perasaan aku aja kali ya."
__ADS_1
Setelah selesai makan aku langsung pulang karena udah malam.