Persahabatan Atau Cinta?

Persahabatan Atau Cinta?
60


__ADS_3

"Sayang kamu jangan ambil hati ya perkataan ibu." Ucap Danu.


"Kak, kita ngontrak aja ya." Ucap Tia.


"Sayang kalau kita ngontrak nggak enak sama omongan tetangga kan."


"Kak, aku nggak peduli sama omongan tetangga. Kakak mau kalau aku tetap tinggal disini tapi setiap hari makan ati terus." Jawab Tia.


"Sayang, kita kan belum punya cukup uang kalau ngontrak."


"Ya sudah, kita ke rumah ibu bapak aku dulu aja kak. Gimana nanti kita pikirkan lagi."


"Aku malu kalau kita disana sayang, tapi kalau kamu lebih nyaman di rumah bapak ibu kamu nggak papa sayang." Ucap Danu


"Terima kasih ya kak, kak Danu selalu pengertian dengan aku. Mm aku nggak marah sama ibu kak Danu, aku hanya sedikit sakit hati tapi aku udah maafin ibu kak Danu kok. Semoga rejeki kita lancar, supaya kita bisa nabung terus punya rumah sendiri kak."


"Aamiin, makasih ya sayang udah maafin ibu aku. Ya sudah, kita mau berangkat sekarang atau kapan sayang? Tapi aku udah ngomong sama ibu kamu?" Tanya Danu.


"Udah kak, aku udah bilang sama ibu. Tadinya ibu kurang setuju karena nggak baik kalau di lihat orang tapi aku ngeyel kak akhirnya ibu nge bolehin."


"Alhamdulillah kalau gitu sayang, oiya kamu jangan banyak pikiran ya sayang nanti badan kamu jadi kurus terus kasian adek bayi jadi nggak seger asi nya."


"Iya kak, kita besok pagi aja ke rumah ibu kak. Ini udah sore juga."


"Iya sayang, kamu udah makan?" Tanya Danu.


"Belum, nanti aja aku belum lapar."


"Ya sudah kalau gitu aku tinggal mandi dulu ya sayang."


"Iya kak."


Saat Danu pergi mandi ibunya Danu masuk ke kamar menemui Tia. Tia sedang beres-beres baju di masukan ke dalam tas.


"Kamu mau kemana Tia." Tanya Ibu Danu.


"Mau ke rumah ibu sama bapak." Jawab Tia.


"Kenapa kesana? Mau bikin saya malu?" Ucap ibu Danu ketus.


"Kenapa harus malu bu, lagian rumahnya juga dekat tinggal nyebrang jalan aja." Ucap Tia.


"Tia ibu minta maaf, jangan ke sana. Di sini aja, kalau mau kesana ya main aja tapi tetap tinggal di sini ya."


"Maaf bu, ibu ajak Nita aja tidur disini. Ibu kan lebih suka sama Nita di banding dengan Tia kan."


"Tadi ibu nggak serius bilang seperti itu Tia."

__ADS_1


"Oh nggak serius ya bu, tapi itu nggak lucu bu."


"Ya sudah terserah kamu saja Tia, dasar keras kepala." Ucap ibu Danu kemudian keluar dari kamar.


Tia melihat kepergian ibu Danu dengan geleng-geleng kepala.


Di tempat lain Ciko sedang merenung. Ciko memikirkan nasibnya.


'Tia apakah kamu bahagia? Maafkan aku Tia, sekarang aku menyesal Tia. Ayo Tia kita kawin lari sekarang aku mau Tia.' Ciko berbicara sendiri.


Tiba-tiba Juarti datang.


"Mas badan aku rasanya nggak enak, perut aku mual. Apa mungkin aku hamil ya." Ucap Juarti.


Ciko kaget mendengar kata hamil. Dia taku kalau benar istrinya hamil. Ciko belum siap punya anak dari orang yang Ciko sendiri sebenarnya nggak cinta.


"Masa hamil, nggak mungkin lah." Ucap Ciko.


"Kok nggak mungkin, ya mungkin aja dong kan kita melakukannya."


"Belum tentu, paling juga masuk angin. Nggak usah manja deh." Ucap Ciko.


"Ya sudah nanti aku mau tes urin. Kalau beber aku hamil, kamu harus lupain mantan kamu ya. Awas kalau masih mikirin dia."


"Eh awas-awas memangnya kenapa? Kamu nggak punya hak ya ngatur-ngatur pikiran aku."


"Terserah lah, jangan sampai kamu menyesal untuk kedua kalinya ya." Juarti pun pergi.


Setelah pulang dari apotek, juarti segera menuju toilet untuk mengetes urinnya. Seketika Juarti meneteskan bulir bening di pipinya, dia terharu karena hasilnya positif. Walaupun dia tau, dia hanya di jadikan pelampiasan saja. Tapi dia akan tetap berusaha membuat Ciko benar-benar jatuh cinta kepadanya.


Juarti segera menemui Ciko.


"Nih lihat mas, hasilnya positif kan. Aku benar-benar hamil mas. Kamu harus lupain mantan kamu. Aku nggak mau jika anak kita sudah lahir masih ada bayang-bayang mantan kamu itu ya."


"Ini pasti palsu kan? Kok bisa secepat ini kamu hamil. Atau kamu sudah hamil sama orang lain?" Ciko masih belum percaya.


"Aku nggak serendah itu ya mas, tega kamu bicara seperti itu mas." Ucap Juarti.


Juarti menangis, dia sangat sedih Ciko bilang seperti itu.


"Aku mau pergi dulu. Kalau ngantuk tidur aja nggak usah nungguin aku." Ucap Ciko.


Ciko pergi, dia mencari teman untuk curhat dan untuk diajak minum. Dia pergi ke rumah Fino.


"Eh ada pengantin baru, masuk sini ko. Kenapa kusut begitu mukanya. Habis tempur ya? Pasti rasanya lagi manis-manisnya kan." Ucap Fino tertawa.


"Apaan sih, keluar yuk." Ucap Ciko tidak menanggapi perkataan Fino.

__ADS_1


"Kemana?" Tanya Fino.


"Biasa ke hutan."


Akhirnya mereka berdua pergi cari amunisi terus langsung menuju ke hutan tempat biasa mereka berkumpul.


"Ada apa ko?" Tanya Fino.


"Juarti hamil."


Fino kaget mereka menikah baru hitungan hari tapi Juarti sudah hamil.


"Masa sih, kan baru beberapa hari. Kalaupun hamil mungkin satu bulan baru bisa terlihat. Tapi ini baru beberapa hari loh ko."


"Iya aku juga kaget, aku juga melakukannya baru beberapa kali itupun seminggu setelah menikah baru melakukannya." Ucap Ciko.


"Mm bukannya aku mau memperkeruh suasana ya, tapi kayaknya ada yang nggak beres ko." Ucap Fino.


"Iya aku juga merasa seperti itu. Ah nggak tau lah pusing aku."


"Kamu selidiki aja dulu. Kali aja itu test nya bohong cuma biar kamu nggak pergi. Secara dia kan tau kamu masih cinta sama Tia, iya kan?" Ucap Fino.


"Iya, tapi kalau benar dia hamil bagaimana."


"Kalau benar dia hamil terus anak kamu ya udah akui aja terus kamu harus move on ya dari Tia."


"Nggak tau aku masih sayang sama Tia."


"Tia udah bahagia, dia udah punya anak." ucap Fino.


"tapi kita kan nggak tau ke adaan Tia yang sebenarnya. " ucap Ciko.


"Danu itu sangat menyayangi Tia, dia nggak mungkin nyakitin Tia. sekarang kamu fokus sama keluarga kecil kamu saja." ucap Fino.


"aku kangen sama Tia, anak Tia cewek atau cowok." tanya Ciko.


"Anak Tia dan Danu cewek, sangat cantik. namanya Gendhis, lahirnya sama kayak hari pernikahan kamu."


"Kok bisa sama ya."


"hanya kebetulan, sudah lah sekarang kamu pikirkan Juarti saja semoga kalau hamil itu beneran anak kamu." ucap Fino.


"aku nggak yakin." ucap Ciko.


"jangan begitu, selidiki aja dulu."


"Iya nanti aku selidiki. aku kayaknya nggak pulang dulu hari ini."

__ADS_1


"Ya sudah nginap di rumah aku aja dulu." ucap Fino.


"Makasih ya."


__ADS_2