
(Pov Handa)
Aku memang suka sama Danu, tapi semakin kesini, aku semakin dihantui rasa bersalah kepada sahabatku Tia. Disini memang aku yang bersalah. Aku menerima Danu untuk menjadi pacarku, sedangkan sahabatku terluka.
Aku sudah berusaha menjauhi Danu aku juga sudah berjanji dengan Tia kalau aku akan menjauhi Danu, tapi dia selalu datang dan datang lagi. Entah apa pemikiran Tia terhadapku nanti, jika tau aku sudah kembali lagi kepada Danu.
"Kamu kenapa resign?" Tanyaku ke Danu.
"Karena kamu mau ninggalin aku, dan aku gamau, kamu tau kan perasaanku gimana sama kamu?" Jawab Danu.
"Iya aku tau tapi aku ga bisa bahagia diatas penderitaan Tia. Dia itu sahabatku, dan kita udah salah mengkhianati dia."
"Dia kan udah iklas, sekarang apa masalahnya?"
"Iklas dimulut saja, aku tau dia masih sangat mencintai kamu."
"Terus sekarang kita gimana? Aku gamau kalo harus pisah sama kamu." Danu masih saja ngeyel.
"Aku juga gatau, aku sayang sama kamu tapi aku gamau nyakitin Tia lebih dalam lagi."
"Aku tau dia kuat, dia lambat laun juga akan lupain aku kok."
"Yasudah, aku ikut kamu aja." Jawabku pasrah.
"Kita kerumah aku yok, nanti aku anterin pulang." Ajak Danu.
"Aku takut Tia liat aku disana." Jawabku cemas.
"Ga akan, dia tadi lagi pergi sama anak-anak."
"Kok kamu tau? "
"Iya tadi ketemu dijalan."
"Mm yaudah ayo."
Aku pun kerumah Danu. Disana aku selalu disambut hangat oleh ibunya. Tapi ibunya sering menjelekkan Tia ke aku. Apa kalo sama Tia juga jelekin aku ya, entahlah biarin aja.
Waktu aku lagi di depan rumahnya Danu, tiba-tiba Tia dan rombongannya lewat. Aku jadi ga enak sendiri, andai ajakan Danu tadi aku tolak. Mereka hanya berhenti sebentar dan pulang.
Aku sering nginep di rumah Danu. Orang tuaku gatau. Karena aku bilang dikost, dan mereka percaya aja.
Gatau kenapa aku selalu ga bisa nolak permintaan Danu. Aku pernah melakukan hubungan intim sama dia. Bukan pernah sih tapi sering kalau dia pulang dari jakarta. Setiap kali nginep dirumahnya aku juga rutin.
"Sayang nginep sini aja ya , aku lagi pengen." Pintanya.
"Jangan keseringan, nanti kalo aku hamil gimana?"
"Aku ada pengaman sayang. Mau ya, please." Rengekannya.
"Yaudah iya" jawabku dengan senyuman manis.
"Aku sayang sama kamu. Jangan tinggalin aku ya."
__ADS_1
"Iya aku juga sayang sama kamu." Balasku sambil kupeluk lengannya.
"Udah malem , masuk yuk diluar dingin." Ajaknya.
"Tidur sini aja nda." Kata ibunya Danu.
"Iya bu." Jawabku malu-malu.
"Yaudah ibu tidur dulu ya. Jangan malem-malem tidurnya."
"Yaudah kita masuk kamar yuk yang." Ajak Danu.
"Iya ayo."
Kami pu melakukan ritual sebelum tidur. Dia mengecup bibirku lalu ******* dalam-dalam aku pun membalasnya. Tangannya meraba bagian sensitif milikku. Daannnn gausah aku jelaskan ya , yang udah nikah pasti tau.
"Sayang makasih ya malam ini, kamu paling bisa buat aku bahagia." Ujarnya dengan mata berbinar.
"Iya sayang, kamu juga buat aku bahagia kok." Balasku.
"Kamu lapar tidak ? Aku masakin mau ?"
"Enggak, aku mau tidur aja ngantuk." Aku menguap.
"Yaudah sini aku peluk tidurnya."
Aku tau dia sayang sama aku, dia mau nikahin aku. Tapi kami belum dapat restu dari orang tuaku. Setiap kali aku pergi sama Danu kalau bapak aku tau pasti dia marah, pernah suatu hari aku pulang main sama Danu dan sampai rumah motorku ditendang dan dihancurin sama bapak. Aku gatau alasannya ga setuju itu apa.
"Eng eh enggak, aku cuma lagi mikir, kenapa orangtuaku ngga merestui kita ya."
"Aku juga gatau, kita berdoa aja ya biar kita cepet dapat restu."
"Iya."
Aku juga ga yakin bisa nikah sama Danu, selain ngga dapat restu, aku juga ngga mau nyakitin Tia. Tia itu sayang banget sama Danu. Aku secepatnya udah harus bisa tinggalin Danu. Ngga mau sampai terlambat dan menyesal.
Keesokan paginya subuh aku diantar Danu ke kosanku, kosanku yang baru ya. Aku udah ngga satu kos sama Tia.
"Yang nanti pulang jam berapa?" Tanya Danu.
"Belum tau, kenapa ?" Balasku.
"Aku mau nginep kosmu."
"Jangan, ngga enak sama penghuni kos yang lain."
"Yaah aku masih kangen, kamu sih kemarin lama banget diemin aku." Jawabnya dengan bibir cemberut.
"Besok-besok kan bisa ketemu."
"Yaudah deh, aku pulang dulu ya. Sama mau nyari kerjaan baru."
"Iya, hati-hati ya."
__ADS_1
"Iya sayang."
#
(Pov Tia)
Aku sudah berteman lagi sama kak Handa, tapi bukan bersahabat ya. Dia masih bersama kak Danu dan perasaanku udah biasa aja, ngga sesakit dulu.
Seperti biasa kalo ada masalah dengan kak Handa , kak Danu selalu datang ke aku. Emang benar kata ora aku itu bodoh. Kenapa aku selalu menanggapi setiap kali kak Danu datang ke aku, ya karena aku masih sayang. Tapi udah ga kaya dulu ya. Aku juga ngga berharap buat miliki dia kok.
Kak Danu juga datang cuma pas ada masalah sama kak Handa kok. Jadinya ya begitu aku cuma jadi pelampiasannya saja.
"Tia mau kemana?" Tanya kak Danu.
"Lagi mau kerumah Tini. Kenapa?" Kebetulan pas aku mau kerumah Tini jalan kaki dijalan aku ketemu kak Danu.
"Sini sebentar, mau ikut aku ngga? Aku mau cerita sebentar." Pinta kak Danu
"Ikut kemana ? Disini aja kan bisa ceritanya." Jawabku.
"Ngga enak disini."
"Yaudah kapan-kapan aja, aku mau kerumah Tini dulu, udah janji soalnya."
"Sebentar aja Tia." Rengekannya.
"Yaudah nanti kalo abis dari rumah Tini, kita ketemu." Jawabku.
"Yaudah." Singkat dengan nada kecewa.
Dirumah Tini, aku selalu betah dan lupa waktu. Kita suka ngobrol sana-sini ghibahin orang. Ada chat dari kak Danu minta ketemu tapi aku abaikan, rasanya udah capek aku dijadikan pelampiasan aja.
"Kamu masih hubungan sama kak Danu?" Tanya Tini memicingkan matanya.
"Enggak sih, cuma dia kalo lagi ada masalah sama kak Handa mesti selalu datang ke aku." Jawabku.
"Ih gatau diri banget sih, udah hianatin sekarang jadiin kamu pelampiasannya aja." Ucap Tini geram.
"Sudahlah biarin aja, aku juga jarang merespon dia kok." Jawabku malas memperpanjang pembahasan ini.
"Eh denger-denger kamu lagi deket sama seseorang ya, siapa sih. Gitu ya sekarang pake rahasia-rahasia segala.
"Ih kata siapa, engga ya." Jawabku mengelak.
"Halah gausah ngelak lah, aku tau dari Mario."
"Halah Mario dipercaya."
"Ya percayalah kali aja bener." Jawab Tini dengan tertawa lebar.
Mario dia teman sekaligus saudara aku juga Tini. Dia itu baik kalo aku suruh nganterin kemana aja dia pasti mau.
"Hilih sama siapa coba aku dekatnya? Orang ga ada kok."
__ADS_1