Persahabatan Atau Cinta?

Persahabatan Atau Cinta?
ungkapan hati Jio


__ADS_3

Aku dan Jio sore ini janjian ketemu di kafe Banyoe, aku dari pabrik langsung menuju kafe, di sana sudah ada Jio yang menunggu aku.


"Maaf baru dateng aku. Udah lama nunggu ya?" Tanyaku ke Jio.


"Enggak kok baru lima menitan."


"Oh iya, tadi agak macet jalannya jadi lama."


"Gapapa kamu mau makan apa?" Tanya Jio.


"Mm samain aja sama kamu." Jawabku.


Jio pesan nasi goreng sama lemon tea buat aku dan juga dia. Dia diem aja kalau aku ga duluan ngomong. Ini yang aku ga suka dari dia. Kalau aku tanya juga jawabnya sedikit-sedikit kan aku jadi bingung mau ngomong apa lagi.


"Jio kamu ga keluar kota lagi?" Tanyaku.


"Enggak."


"Oh." Aku juga cuma ber oh ria.


Sampai selesai makan pun dia masih diam, entah apa yang ada dipikirannya. Kalau kaya gini mending makan sendiri. Daripada makan berdua tapi kaya makan sendiri.


"Jio aku langsung pulang aja ya, makasih traktirannya. Sering-sering ya traktir aku hehe." Ucapku basa basi.


"Eh Tia kok buru-buru. Sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu." Ucap Jio kemudian.


"Ngomong apa, dari tadi duduk berdua juga kamu cuma diem kalau aku ga ngomong duluan." Ucapku sedikit sebal.


"Maaf, aku gugup Tia."


"Kenapa harus gugup, kaya baru kenal aku aja."


"Tia aku boleh tanya sesuatu?"


"Iya tanya apa?"


"Kamu masih sayang sama Danu?"


Aku diam, aku juga ga tau perasaan apa yang aku rasain ke kak Danu.


"Tia kok malah diam."


Aku masih diam.


"Hey Tia." Tangan Jio melambai-lambai di depan muka aku. "Yaudah kalau ga mau jawab Tia."


"Emm eh tadi tanya apa?" Tanyaku sedikit gugup.


"Kamu masih sayang sama Danu ya?"


"Mm enggak, dia kan mantan aku. Kenapa emang?"


"Beneran ga sayang?" Tanya nya dengan mata berbinar.


"Iya memangnya kenapa sih?" Tanyaku bingung.


"Sebenarnya aku udah lama suka sama kamu Tia, aku di luar kota selalu mikirin kamu. Kamu mau ga jadi pacar aku?"


Aku melongo kaget.


"Kok malah melongo gitu, gimana mau ga?"


"Aku ga tau."


"Kamu ga perlu jawab sekarang kok. Hari minggu kita jalan yuk. kamu jawabnya nya pas kita jalan." Ucapnya.


"Iya nanti aku kabarin lagi ya." Jawabku.

__ADS_1


"Mm yaudah." Raut mukanya berubah sedih mendengar jawabanku.


"Kamu udah selesai belum ngomongnya? Aku boleh pulang?" Tanyaku.


"Udah kok, kamu ga betah ya lama-lama sama aku?" Tanyanya.


"Eh mm ngga gitu, ini kan udah mau malam. Aku juga capek mau istirahat."


"Iya, aku anterin kamu pulang ya."


"Gausah kan aku bawa motor sendiri."


"Gapapa, aku ikutin kamu dari belakang."


"Yaudah ayo." Aku ga enak mau nolak.


Di jalan aku papasan dengan kak Danu. Dia menatap aku dan Jio dengan tatapan tajam, ada gurat kemarahan diwajahnya.


Sampai dirumah aku Jio langsung pulang.


"Aku langsung pulang ya Tia." Ucap Jio.


"Ga mampir dulu Jio?"


"Enggak, kamu istirahat aja."


"Yaudah makasih ya udah anterin. Pulangnya hati-hati."


"Iya, eh tadi tadi ketemu Danu kok dia ga nyapa kita ya Tia."


"Ga tau, dia ga lihat kita kali." Jawabku asa. Padahal dengan jelas dia melihat aku dan Jio.


"Mm iya mungkin, yaudah aku langsung pulang ya."


"Iya."


Setelah Jio pulang aku langsung masuk rumah, mandi sholat, terus rebahan sambil main hp.


Angkat ngga ya, aku malas. Lagian kenapa dia telepon aku kan dia udah bilang ga akan ganggu aku lagi.


Akhirnya aku ga angkat telepon kak Danu, tadi dia langsung kiri pesan.


~Tia kenapa ga angkat teleponku? Masih sama Jio ya?~


~gapapa lagi males ngomong, ada apa telepon?~


~males ngomong sama aku? Tega banget kamu Tia.~


~aku kan cuma bilang males ngomong, bukan males ngomong sama kamu!~


~iya Tia maaf, kamu dari mana sama Jio?~


~dari makan bareng terus dia anterin aku pulang.~


~sok romantis banget dia, anterin pulang segala. Aku juga bisa cuma nganterin pulang doang.~


~apaan sih, ga jelas banget.~


~Tia kamu tau ga, aku cemburu kamu dekat sama Jio, aku sakit hati.~


~terus apa urusannya sama aku?~


~Tia aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu. Tolong kasih aku kesempatan terahir Tia. Aku benar-benar janji sama kamu Tia ga akan nyakitin kamu lagi.~


~harus berapa kali aku bilang kak, aku ga bisa. Kamu juga udah bilang ga akan ganggu aku lagi kan. Jadi biarin aku tenang, jika aku punya pacar jangan ganggu aku! Aku ga mau kejadian aku sama Awan terjadi lagi.~


~Tia maaf, aku ga rela kamu sam orang lain. Aku ga ikhlas.~

__ADS_1


~kenapa kamu bilang gitu. Dulu aja kamu selingkuh sekarang kamu kaya gini sama aku, ini ga adil buat aku.~


Aku benar-benar ga habis pikir sama jalan pikiran kak Danu, dulu dia tega buang aku, sekarang giniin aku. Aku gatau harus apa.


~Tia bukannya kamu sudah memaafkan kesalahan aku? Kenapa kamu bahas lagi kesalahan aku yang dulu.~


Beradu argumen dengan kak Danu sama sekali ga ada ujungnya. Aku memilih tidak membalas pesannya lagi.


Kali ini aku tertuju sama nomor Jio yang mengirimiku pesan.


~udah tidur belum calon pacar aku? Aku kangen.~


~calon pacar? Jangan terlalu berharap takutnya nanti jawaban aku membuat kamu kecewa.~


~gapapa, aku tau kok kamu juga suka sama aku kan hehe.~


~percaya diri banget sih kamu Jio.~


~ya harus dong, doaku selama ini ya cuma pengen jadi orang yang penting buat kamu Tia.~


~orang penting? Jadi sahabat aku itu juga orang penting lo buat aku.~


~pengennya lebih Tia.~


~berdoa aja semoga tuhan mengabulkan keinginan kamu.~


~dari aku baru ngerasain suka sama kamu sampai saat ini doaku juga cuma satu itu Tia hehe.~


~ah dasar kamu ini Jio. Eh kamu kalau pas ketemu diem aja kalau aku ga ngomong duluan kamu ga mau ngomong. Tapi kalau chat gini kok ada aja yang kamu omongin.~


~kalau chat kan aku bisa mikir dulu, kalau pas ketemu aku gugup. Bingung mau ngomong apa hehe.~


#


Keesokan harinya, sore hari sepulang kerja aku ketemu teman-teman nongkrong.


Tiba-tiba kak Danu menarik tangan aku, dia membawa aku menjauh dari teman-teman.


"Tia kenapa dari kemarin kamu ga balas pesan aku? Aku harus apa biar kamu ngasih kesempatan lagi Tia."


"Aku ga bisa kak, aku udah berkali kali ngasih kesempatan buat kakak kan, tapi kecewa yang aku dapat dari kakak!"


Aku menangis gatau kenapa, aku sangat sedih.


"Tia kok kamu nangis, maaf Tia kalau aku nyakitin kamu. Aku ga bermaksud buat nyakitin kamu Tia, aku sayang sama kamu. Aku mohon Tia."


"Kak tolong lepasin aku, aku juga ingin bahagia. Tolong telain aku sama orang lain. Dulu kamu minta doa restu sama aku buat nikah sama kak Handa, aku juga restuin. Aku dukung, sampai kalau ada masalah sama dia, kakak suruh aku bujuk kak Handa. Apa kakak pernah mikirin perasaanku gimana saat itu. Sakit kak sangat sakit, tapi aku coba iklas. Aku sayang sama kakak makannya aku rela kakak bahagia bersama orang yang kakak cintai."


"Aku memang bodoh Tia , maafkan aku Tia" kak Danu menunduk.


"Yasudah aku minta kak Danu jangan ganggu aku lagi, kalau mau berteman ya ayo, tapi kalau lebih aku ga bisa kak."


"Iya Tia makasih ya, masih mau temenan sama aku."


"Aku ke sana dulu kak." Ucapku seraya berjalan ke teman-temanku.


Udah setengah jam kak Danu belum juga beranjak dari tempat dimana tadi ngobrol sama aku.


"Danu ngomong apa Tia sama kamu, kok di ga balik kesini lagi." Tanya kak Damri


"Emm biasa kak, ngajak aku balikan."


"Terus kamu gimana Tia."


"Aku bilang ga bisa, tapi kalau mau temenan ya ayo." Jawabku.


"Iya Tia kamu bener, udah cukup sakit hati yang dia buat." Ujar kak Satria.

__ADS_1


"Tapi dia kayanya bener-bener udah berubah loh Tia." Kata kak Damri.


Aku hanya diam, hati kecil aku juga bilang kalau sepertinya kak Danu memang sudah berubah. Tapi aku sudah lelah sama dia.


__ADS_2