
(Pov Juarti)
Aku saat itu bahagia karena mas Ciko akan melamar aku, dan aku menjadikan aku sebagai istrinya. Tapi ternyata aku hanya dijadikan pelampiasan mas Ciko saja, dia masih cinta dengan mantannya yang bernama Tia. Saat itu aku coba menghubungi Tia dan meminta dia menjauhi Ciko.
"Mbak, tolong mbak lupain mas Ciko. Mbak Tia kan udah punya suami kenapa masih saja berhubungan dengan mas Ciko, mas Ciko itu pacar saya dan dia akan segera melamar saya."
Tapi Tia tidak membalas pesan ku. Akhirnya aku menelponnya.
"Hallo?" Jawab Tia.
"Hallo, ini mbak Tia?" Tanya Juarti.
"Iya, ada apa?" Tanya Tia.
"Mbak jujur saja, mbak masih berhubungan dengan mas Ciko kan? Tolong jauhi dia mbak, kami akan segera bertunangan mbak." Ucap Juarti.
"Aku udah nggak ada hubungan sama Ciko. Tanya aja sama Ciko sendiri. Aku udah bahagia sama suami aku. Kalau nggak ada yang mau diomongin lagi aku matikan teleponnya. Saya masih banyak urusan lebih penting dari pada ngurusin urusan kalian." Ucap mbak Tia dan mematikan teleponku.
Sombong sekali dia langsung mematikan teleponku begitu saja.
Mbak Tia bilang sudah nggak ada hubungan dengan mas Ciko, tapi kenapa mas Ciko selalu saja membahas soal mbak Tia dan selalu membeda-bedakan aku dengan mbak Tia.
Mas Ciko bilang aku terlalu agresif sama lelaki, beda dengan mbak Tia yang cuek walaupun semua temannya mayoritas laki-laki.
"Kamu ini agresif banget sih ke gatelan, Tia nggak pernah loh kayak kamu ini ngomong sama laki-laki kok pake nempel-nempel." Ucap mas Ciko.
Padahal aku hanya ingin mencoba akrab dengan teman-teman mas Ciko. Tapi penilaian mas Ciko salah kepada aku.
***
Aku dan mas Ciko beberapa bulan lagi akan melangsungkan pernikahan, tapi sikap mas Ciko terkesan semakin cuek sama aku. Aku nggak tahan sama sikap mas Ciko yang seperti ini.
Sampai pada akhirnya saat aku sedang di perjalanan saat pulang kerja, aku bertemu dengan seseorang. Dia adalah Dika, dia temanku dulu waktu smp. Dika adalah cinta pertamaku, tapi dulu cintaku bertepuk sebelah tangan.
"Hey Juarti apa kabar lama banget ngga ketemu ya?" Ucap Dika menyapaku.
"Iya, baik. Kamu apa kabar?" Tanyaku.
"Baik juga, mau ngobrol sebentar nggak?" Tanya Dika.
Sebenarnya aku udah ada janji dengan Ciko mau fitting baju pernikahan. Tapi aku juga ingin mengobrol dengan Dika.
"Mm gimana ya, sebenarnya aku ada janji sama temanku." Ucapku.
"Sebentar aja kok." Ucap Dika dengan senyum manis. Senyum yang pernah membuat aku jatuh cinta sama dia.
"Mm yaudah mau ngobrol dimana?" Tanyaku.
"Di taman itu yuk." Ajak Dika.
"Iya ayok, tapi sebentar aja ya." Ucapku.
"Iya."
Aku dan Dika duduk di bangku taman dekat tempat kerja ku.
"Kamu udah punya pacar?" Tanya Dika.
Aku bingung mau menjawab jujur atau tidak, aku masih ingin dekat dengan Dika tapi bagaimana dengan Ciko, tapi Ciko sikapnya sangat menyakiti aku. Ah coba dekat ajalah paling enggak sampai hari pernikahanku dengan mas Ciko.
"Hey kok malah bengong sih." Tanya Dika.
" Eh hehe maaf, tadi tanya apa?" Kataku.
"Mm kamu udah punya pacar?" Tanya Dika lagi.
"Mm aku.. mm.." belum selesai menjawab Dika sudah memotong pembicaraan aku.
"Sebenarnya setelah lulus smp aku mencari kamu. Aku datang kerumahmu tapi kata tetanggamu, kamu udah pindah dan nggak tau pindah kemana. Maaf ya aku dulu menolak cinta kamu demi mengejar cinta yang tak pasti."
"I.. iya nggak papa kok. Lupain aja. Aku udah maafin kamu. " Ucapku.
"Mm aku boleh minta nomor kamu?" Tanya Dika.
"Boleh ini." Aku menyodorkan hp aku dan Dika menyalin nomorku ke hpnya.
Tiba-tiba ada telepon dari mas Ciko, aku segera mengangkatnya.
"Ha..hallo mas?" Jawabku.
"Kamu ini dimana?" Aku dari tadi udah nunggu kamu dirumah kamu. Jadi pergi tidak, kalau nggak jadi biar aku pulang." Ucap mas Ciko dengan nada Tinggi penuh amarah.
__ADS_1
"Iya mas ini lagi di jalan, sebentar lagi sampai." Ucapku berbohong
"Terserah lah." Ucap mas Ciko seraya mematikan telepon sepihak.
Aku gemetar takut mas Ciko marah.
"Siapa yang menelpon? Kenapa kamu ketakutan seperti itu?" Tanya Dika.
"Mm kakak ku, aku pulang dulu ya." Ucapku.
"Mm ya sudah, lain kali kita ketemu lagi ya. Nanti aku telepon kamu ya." Ucap Dika.
"Iya." Ucapku seraya pergi meninggalkan Dika.
Aku mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, aku harus segera sampai di rumah sebelum mas Ciko tambah marah denganku.
Setelah sampai di rumah, tidak ada motor vespa milik mas Ciko.
'kok nggak ada motor mas Ciko, dia kesini naik apa ya.' batinku.
"Assalamualaikum." Ucapku seraya membuka pintu.
"Waalaikum salam. Baru pulang nak?" Ucap bapak.
"Iya pak, mas Ciko kesini pak?" Tanya ku kepada bapak.
"Iya tadi dia kesini sekitar hampir satu jam dia disini, terus dia pamit pulang." Ucap Bapak.
"Oh ya sudah, Juarti ke kamar dulu pak." Ucapku.
"Enggak pak, memangnya kenapa? Ucapku tersenyum
"Ya sudah sana mandi terus istirahat." Ucap Bapak.
"Iya pak" ucapku.
Sampai di kamar aku merebahkan tubuhku di kasur, rasanya capek sekali badan ini. Aku mengirim pesan kepada mas Ciko.
"Mas, kok udah pulang? Padahal tadi aku udah ngebut-ngebut eh sampe rumah mas Ciko udah pulang. Maaf ya kalau telat mas."
Tapi mas Ciko tidak membalas. Tiba-tiba ada yang menelepon aku nomor baru.
"Hallo" jawabku.
"Hallo aku Dika, Juarti sudah sampai rumah kah?" Tanya Dika.
"Oh, udah kok baru aja ini lagi istirahat." Jawabku.
__ADS_1
"Juarti kapan libur? Kita main yuk." Tanya Dika.
"Mm ya nanti aku kabarin kalau pas libur." Ucapku.
"Ya sudah ini nomorku di save ya, sana mandi dulu kamu. Bauk sampai sini loh." Ucap Dika meledekku.
"Yee wangi gini di bilang bauk." Ucapku.
"Hehe enggak, bercanda kok. Aku tutup dulu ya, mau lanjutin kerjaan dulu." Ucap Dika.
"Iya Dika." Ucapku.
"Dadah calon pacar." Ucap Dika seraya mematikan telepon.
Aku kaget mendengar ucapan Dika yang terahir. Tapi kok aku senang ya hehe.
Semenjak ketemu Dika hidup aku jadi lebih berwarna, dia selalu semangati aku. Aku sama Dika jadi sering ketemu. Sering jalan bareng.Aku sudah bercerita dengan Dika kalau aku mau menikah dan aku menceritakan sikap mas Ciko kepada aku. Tapi Dika tetap mau berhubungan dengan aku walaupun aku akan menikah.
Sampai suatu saat, aku dan Dika melakukan khilaf. Aku sangat menyesal sudah melakukan ke khilaf an ini dengan Dika.
Saat itu aku dan Dika sedang pergi jalan-jalan. Kami kemalaman dan saat itu sangat hujan deras disertai angin. Kami memutuskan mencari penginapan. Tapi di penginapan tersebut hanya ada kamar kosong satu, terpaksa kami mengambil kamar itu karena sudah basah kuyup, dan tidak memungkinkan untuk mencari penginapan lain.
Akhirnya aku dan Dika tidur di satu kamar, Dika di sofa dan aku di ranjang. Saat Dika terlihat sudah terlelap, aku menghampirinya untuk menyelimutinya. Saat aku menyelimutinya tiba-tiba mata Dika terbuka. Dia segera menarik tanganku ikut masuk ke dalam selimut nya dan memelukku sangat erat.
"Dika kita nggak boleh seperti ini takut ada setan lewat loh." Ucapku.
"Juarti bisakah kamu membatalkan pernikahan mu dan menikah denganku?" Ucap Dika.
"Aku nggak bisa, aku mencintai Ciko." Ucapku.
"Tapi Ciko jahat sama kamu." Ucap Dia.
"Tapi aku mencintai nya. Aku yakin nanti dia akan beru.." belum sempat aku menyelesaikan ucapanku tiba-tiba Dika mencium bibirku dan melum4tnya.
Dia memelukku sangat erat. Tangannya mencoba menggerayangi d\*da ku aku melayang dibuatnya. Tangannya membuka satu persatu kencing bajuku. Hingga memperlihatkan buah mulus yang menempel di d\*da ku. Mulutnya yang tadi \*\*\*\*\*4\* bibirku sekarang berpindah \*\*\*\*\*4\* d4daku. Sampai pada akhirnya aku melakukan dosa termanis yang membuat aku tak bisa melupakan hubungan ini. Aku akui aku menyukai hubungn ini.
Flash back off
Aku menyesali hubunganku dulu dengan Dika sehingga aku saat ini mengandung anak Dika, dan sekarang mas Ciko mengetahui setelah aku dan mas Ciko resmi menikah dan belum genap satu bulan.
__ADS_1
Aku takut mas Ciko akan mengembalikan ku dengan orang tuaku. Aku takut kalau orang tuaku tau kalau aku hamil bukan dengan suamiku.