Persahabatan Atau Cinta?

Persahabatan Atau Cinta?
42


__ADS_3

Satu bulan menjelang pernikahan Tia dan Danu. Undangan sudah di cetak semua persiapan sudah delapan puluh persen. Hati Tia semakin tidak karuan, ingin rasanya Tia kabur dari rumah. Ingin memberontak tapi dia takut dengan bapaknya. Bapaknya sangat emosional.kalau marah pasti nekat berbuat apapun.


~Tia, nanti siang kita beli cincin tunangan ya.~ pesan dari Danu.


~harus sama aku?~ tanya Tia.


~iya kamu milih sendiri, aku juga kan ga tau ukuran jari kamu.~ balas Danu.


~ya sudah, jam berapa?~ tanya Tia.


~kamu bisanya jam berapa?~


~jam 10 aja.~


~ya udah, nanti aku jemput jam 10 ya.~


Tia tadinya akan bertemu dengan Ciko, tapi Danu mengajak dia ke toko mas untuk membeli cincin jadi dia akan bertemu Ciko sepulang dari toko mas.


~sayang kita ketemunya nanti sore aja ya, ini kak Danu ngajak aku pergi. Nggak papa kan yang?~ send Ke Ciko.


~jadi sekarang aku nomor dua ya?~ balas Ciko.


~bukan begitu sayang, kamu kok jadi sensitif begini sih.~


~enggak sayang, aku cuma bercanda. Iya kita ketemu sore aja nggak papa yang. Aku juga mau kerumah ibu aku dulu.~


~tumben kerumah ibu kamu, lagi akur to?~


Ciko memang ga pernah akur sama ibu kandungnya, entah masalah apa yang membuat hubungan mereka seperti orang asing. Tapi Tia yang kerap menasehati Ciko untuk berbakti kepada ibunya.


~enggak, cuma lagi ada kepentingan aja.~


~sering-sering ke rumah ibu yang, dia itu sayang sama aku. Jangankan sama kamu, sama aku aja dia sayang.~


ibunya Ciko memang sayang kepada Tia, dulu waktu kerja di bali, ibunya Ciko sering kirim baju atau celana untuk Tia. Sering telepon, tukar kabar juga.


~apaan sih, kamu itu ga tau ya seperti apa ibuku.~


~aku tau, bukannya dulu waktu aku masih kecil, aku sering diajak sama tanteku main sama ibu kamu. Jadi aku tau seperti apa ibu kamu dulu. Yang kamu permasalahkan kan masa lalu ibu kamu kan? Tapi dia sekarang sudah berubah. Semua orang itu pasti pernah punya salah yang. Emangnya kamu ga pernah punya salah apa? Kaya gitu banget sama ibu kandung!~


~iya-iya bawelku. Udah aku mau kasih makan kelinci aku dulu, sama mau nyiram tanaman aku.~


~kamu itu kalau di kasih tau pasti selalu mengalihkan pembicaraan. ~


~hehehe udah ya, lanjut nanti aja kalau ketemu.~


~iya.~


#


"Tia, kita berangkat sekarang yuk. Kamu udah siap kan?" Tanya Danu, dia sudah ada di rumah Tia.


"Iya, tapi nanti kalau udah beli langsung pulang ya." Jawab Tia.


"Iya Tia. "


Mereka berdua berangkat , di perjalanan mereka saling diam. Sampai di toko pun mereka masih diam.


"Maaf mas, mbak. Mau cari apa ya?" Tanya karyawan toko.


"Kami mau cari cincin tunangan mbak." Jawab Danu.


"Mau cari yang seperti apa mas?" Tanya karyawan itu lagi.


"Bentar mbak, Tia kamu mau yang seperti apa?" Tanya Danu.


"Mm aku mau yang simpel polos aja mbak." Jawab Tia.


"Oh sebelah sini mbak." Ucap karyawan tersebut ke sebuah tempat khusus cincin.


"Oh iya mbak, aku mau lihat yang ini mbak." Tunjuk Tia sebuah cincin emas yang polos dan simpel.


"Oh iya, ini ya mbak. " Karyawan mengambilkan cincin yang ditunjuk Tia.


Tia langsung suka cincin yang dia pilih


"Kak Danu gimana sama yang ini?" Tanya Tia.


"Iya itu bagus, simpel. Nggak terlalu mencolok modelnya. " Jawab Danu.


"Mm jadi yang ini aja?" Tanya Tia.


" Iya kalau kamu suka aku juga suka." Jawab Danu.


"Mbak yang ini aja, tapi ini kegedean di jari saya mbak." Ucap Tia.

__ADS_1


"Oh, coba mbak size jari mbak berapa." Ucap karyawan seraya mengukur jari Tia menggunakan alat ukur cincin.


"Sebentar mbak saya ambilkan cincin yang size ini, oh iya kalau jari masnya size berapa ya silahkan diukur sekalian." Ujar karyawan tersebut.


"Maaf ya Tia kita belinya yang kecil, uang aku cuma cukup beli yang segini. " Ucap Danu.


"Iya, nggak papa kak. " Jawab Tia.


"Ini mbak cincinnya silakan di coba dulu, sama ini punya mas nya juga silahkan dicoba mas." Ucap karyawan seraya memberikan sepasang cincin kepada Tia dan Danu.


"Ini udah pas mbak, kak Danu gimana, pas?" Tanya Tia.


"Udah, ini jadi totalnya berapa mbak. "


"Totalnya satu juta tiga ratus lima puluh ribu mas." Ucap karyawan tersebut.


"Ini mbak, pas ya. " Ucap Danu seraya memberikan uang ke karyawan tersebut.


"Baik mas, saya bungkus dulu ya cincinnya. " Ucap karyawan.


"Iya mbak. "


"Tia mau makan dulu nggak?" Tanya Danu.


"Mm enggak kak, aku masih kenyang." Jawab Tia.


"Oh, kamu mau kemana gitu ga setelah ini. Biar aku antar." Tawar Danu.


"Enggak kak, aku mau langsung pulang aja."


"Oh ya udah."


"Ini mas cincinnya, terima kasih sudah berbelanja di toko kami. Semoga puas dengan pelayanan kami." Ucap karyawan tersebut.


"Iya mbak sama-sama. Permisi ya mbak." Jawab Danu.


"Tia, cincinnya kamu yang simpan ya." Ucap Danu.


"Iya kak." Jawab Tia singkat.


Danu sebenarnya masih ingin pergi bersama Tia, dia pengen ngajak Tia makan atau main kemana gitu. Tapi Tia pengen buru-buru pulang.


Tia dan Danu sudah sampai dirumah Tia.


"Iya kak. Eh kak ngga usah ada acara tunangan-tunangan ya, cincinnya langsung dipakai sendiri-sendiri aja." Ucap Tia.


"Oh gitu ya? Emang gapapa Tia ?" Tanya Danu.


"Nggak papa, lagian nikahnya juga kan sebentar lagi." Ucap Tia.


"Oh yaudah kalau nggak papa aku ngikut aja." Jawab Danu.


"Ini cincin kak Danu, ini aku biar aku pakai sendiri ya. " Ucap Tia.


Tia bingung, semakin dekat di hari pernikahannya Tia semakin cemas. Dia ingin jujur sama Danu sama bapaknya kalau dia ga ingin melanjutkan pernikahan ini.


#


Sore harinya Tia bertemu dengan Ciko. Dia mau ngomong soal keinginannya.


"Sayang, aku mau jujur sama kak Danu dan bapak aku aja ya kalau aku ga bisa lanjut nikah sama dia." Ucap Tia.


"Kenapa?" Tanya Ciko.


"Kok kenapa sih, ya kan aku ga cinta sama kak Danu. Aku kan cintanya sama kamu. Gimana sih!" Ucap Tia dengan nada sedikit meninggi.


"Sayang tenang dulu, kamu jangan mutusin sesuatu selagi emosi."


"Hati aku itu sakit sayang, aku tertekan dengan keputusan ini. " Ucap Tia.


"Iya aku tau sayang, hati aku juga sakit kalau ingat kamu bakal jadi milik orang lain."


"Ya itu kan gara-gara kamu yang nyuruh aku terima lamaran kak Danu. "


"Iya sayang, aku juga menyesal." Ucap Ciko lirih.


"Yaudah aku mau bilang ke bapak aja ya. " Ucap Tia.


"Jangan sayang, aku ga mau kamu kenapa-kenapa."


"Ga akan kenapa-kenapa."


"Terserah kamu sayang." Ucap Ciko.


"Bener ya, terserah aku."

__ADS_1


"Iya"


#


Malam harinya Tia ngomong soal yang dia rasakan kepada ibunya.


"Bu aku mau mundur dari pernikahan ini bu." Ucap Tia sedikit gemetar karena takut.


"Apa? Kamu jangan bercanda Tia." Jawab ibu Tia kaget.


"Tia serius bu, Tia rasanya nggak sanggup buat nerusin pernikahan ini. "


"Kamu bilang sendiri sama bapak kamu Tia!" Ucap ibu Tia ketus , ibu Tia menangis.


"Ibu Tia ngga berani bilang sama bapak." Ucap Tia.


"Terserah Tia, ibu ga mau ikut campur. " Ibu Tia berlalu pergi memanggil bapaknya Tia.


"Bapak Tia mau bicara. " Ucap Ibu.


"Mau bicara apa?" Tanya bapak.


"Ayo kita ke kamar Tia. "


Bapak dan Ibu berjalan ke kamar Tia.


"Tia ini bapak kamu, silakan bicara Tia. " Ucap ibu Tia.


Tia menoleh dengan berurai air mata.


"Ada apa Tia, kenapa kamu menangis. " Tanya bapak Tia.


"Pak maaf Tia ga bisa nerusin pernikahan Tia dengan kak Danu. "


"Apa kamu bilang Tia? Siapa yang sudah pengaruhi kamu seperti ini Tia. "


"Ga ad yang pengaruhi Tia pak, ini dari hati Tia sendiri pak.''


"Jangan bikin bapak malu Tia, kalau kamu ga mau nerusin ini, kamu bilang sendiri ke rumah Danu. " Bapak Tia sangat marah


"Tapi pak Tia nggak berani pak." Ucap Tia.


"Kalau ga berani ya sudah terima saja ini semua, dari awal juga sudah menerima kok."


"Tapi dia itu pernah nyakitin Tia pak. Sampai sekarang Tia masih merasakan sakit itu pak. "


"Itu kan dulu, sekarang dia sudah berubah. Kamu lihat ini Tia, ini undangan kamu udah jadi tinggal disebar saja Tia. Sekarang kamu berubah pikiran. Siapa yang bikin kamu seperti ini Tia. " Ucap bapak Tia.


"Tapi Tia masih sakit pak. Maafin Tia pak, tapi tidak ada yang memengaruhi Tia pak. "


"Ya sudah bapak buang saja ini undangan." Bapak Tia berjalan keluar membawa kertas undangan tersebut lalu ia sebar diluar rumah.


Tia hanya bisa menangis.


"Terserah Tia, sekarang kamu panggil Danu kesini bapak mau bicara."


"Iya pak. "


~kak Danu disuruh nemuin bapak sekarang dirumah.~ send.


~ada apa?~


Tia tidan membalas pesan Danu, tapi Danu segera ke rumah Tia.


"Assalamualaikum." Ucap Danu saat sampai rumah Tia.


"Waalaikum salam, masuk nak." Jawab ibu Tia.


"Danu duduk." Ucap bapak Tia tegas.


Danu lalu segera duduk, perasaan Danu tidak enak.


"Ada apa ya bapak memanggil saya."


"Danu kamu lagi ada masalah apa sama Tia? Kok sampai Tia ga mau nerusin pernikahan kalian. "


"Danu tidak ada masalah apa-apa pak." Danu berbicara menunduk.


"Danu kamu janji akan berubah, ga akan nyakitin Tia seperti dulu lagi kan ?" Tanya bapak Tia.


"Iya pak Danu janji. "


"Tia dengar dia sudah berjanji."


Tia hanya diam tidak menjawab, sebenarnya Tia sangat ingin bilang kalau dia pacaran sama Ciko, tapi Tia takut nanti Ciko diapa-apain sama bapak Tia. Bapak Tia termasuk orang yang nekat kalau sudah emosi dia akan berbuat apa saja.

__ADS_1


__ADS_2