
Alika sudah berada di penginapan merekapun beristirahat di kamarnya masing - masing yang sudah di pesan mereka.
''kau tidak apa - apa Ana'' tanya Alex yang mengantarkannya ke kamar Ana dan menidurkannya di timpat tidur.
''tidak apa Alex, aku sudah tidak apa - apa, terimaskasih sudah mau mengantarkanku'' jawab Ana tersenyum ke arah Alex.
''sudah ku katakan bukan, kau tidak perlu sungkan padaku, aku senang melakukannya, istirahat lah nanti malam aku akan kemari lagi untuk mengajak mu makan malam bersama yang lain'' Ana mengangguk.
''kau juga, dan terimakasih sekali lagi'' lanjut Ana.
Alex haya tersenyum dan setelah itu dia langsung pergi ke kamarnya karna dia pun merasa lelah.
Di tempat Alika dia teringat dengan pria misterius itu, dia harus berhati - hati pada pria itu pikirnya jika ia menjadi musuh nya akan sagat berbahay untuknya dan yang lain karna pria itu mempunyai energi spiritual yang sangat tinggi mungkin sama dengan nya bahkan Alex yang di bilang paling tinggi untuk ukuran normal pada manusia biasa dia masih merasa tertekan.
Ukuran energi spirirual memang tidak bisa di ukur hanya saja mereka mempunyai energi yang besar dan bisa mnenggunkan sihir dengan mudah, maka orang itu di sebut memiliki energi yang tinggi, sedangkan yang memiliki energi spritual rendah mereka tidak bisa menggunakan sihirnya namun hanya bisa menggunakan fisiknya, walaupun begitu fisiknya akan bertambah kuat.
Malam pun tiba mereka berkumpul di meja makan, di rumah makan yang berada dekat dengan penginapan mereka, suasana cukup ramai walaupun berada di ujung kota tapi tempat itu tidak pernah sepi.
''hey kau dengar Putra Mahkota mengundang seorang wanita yang bukan dari sini, untuk datang ke acara ulang tahunya nanti''
''ya aku mendengarya dan katanya wanita itu sangat cantik melebihi Nona Rosaline''
''hey hati - hati kau bicara, ku tau kan kekuasaan ayah dari Nona Rosaline''
''aku tau dan mereka tidak mungkin mau berada di tempat seperti ini'' lanjutnya, kedua pria yang membicarakan Putra Mahkota terdengar oleh Alika dan yang lainnya, dan ia hanya tersnyum menanggapi obrolan kedua pria yang berada di samping mejanya.
''mereka membicarakanmu'' kata Ana.
__ADS_1
''biarkan saja, aku tidak peduli''
''kau akan datang'' tanya Alex.
''ya kita akan datang'' tanya Alika '' ada hal yang ingin ku bicarakan, kalian ingat dengan pria tadi siang yang datang dan pergi begitu saja'' mereka mengangguk serempak.
''kita harus hati - hati denganya, pria itu mungkin punya energi spiritual yang sama banyaknya denganku, tidak terbatas''
'benar, aku ingat ketika kau baru menguasai ennergi mu, dan tidak kau tahan, aku dan Ana sangat tertekan saat itu, dan energi pria itu hampir sama denganmu waktu saat kau keluarkan energimu '' Ana mengangguk setuju mendengar ucapan Alex.
Roger dan Vania menyimak dengan serius, walaupun mereka belum pernah merasakan energi Queenya, tapi mendengar cerita Alex, mereka yakin Queen nya sangat kuat, terlebih ketika mereka melihat kekuatan pedang katana yang Queennya miliki dan kekuatan regenersinya, itu saja sudah membuktikan Queen nya benar - benar orang yang sangat kuat.
''apa kita perlu menyelidiki Pria misterius itu'' tanya Roger.
''tidak perlu, malah mungkin saja dia yang mencari tahu tentang diriku'' Queen yang menyadari jika sejak tadi ada yang mengawasinya, namun ia hanya diam dan tidak mengatakan apapun ke pada teman - temannya srlagi dia orang yang mengawasi tidak membahayakan.
''benar, cih mereka benar - benar salah jika ingin berhadapan dengan kita'' kata Vania di angguki yang lainya.
Keesokan harinya Alika, Ana dan Vania pergi menuju pusat perbelanjaan di kota Kerajaan Dominik, untuk mencari gaun yang cocok untuk mereka kenakan ke acara esok malam untuk menghadiri perayaan ulang tahun Putra Mahkota,
Alika memang beberapa hari ini sudah menggunakan pakaian di zaman ini, namun tidak dengan pakaian wanita pada umumnya, tapi ia mengenakan pakaian ala petulang yang menurutnya unik maka Ana dan Vania pun mengikuti Queenya yang menggunakan pakaian petualang, begitu pun Alex dan Roger karna jika di pikir mereka memperkenalkan diri sebagai petualang, maka mereka pun kompak menggunakan pakaian ala petualang.
Saat di perjalanan, Alika padanganya terfokus pada seorang kakek tua renta dengan terduduk dan memohon pada seorang pria paruh baya, namun pria paruh baya itu seperti tidak ingin membantu kakek itu, meski ia sudah memohon dan bersujud di kakinya, Alika pun menghampirinya karna kesal dan marah mengapa seorang kakek tua renta, di perlakukan seperti itu, sungguh biadab pikirnya.
''kakek, kau tidak apa'' tanya Alika karna ia melihat sang kakek yang di tendang oleh pria paruh baya tersebut, dan sang kake hanya menggelang lemah sambil menangis dan badan yang bergetar.
Alika memandang tajam pada pria paruh baya tersebut ''apa masalahmu, mengapa kau memperlakukannya seperti ini'' Alika masih mengendalikan amarahnya ia berdiri dan bertnya pada pria paruh baya itu, sedangkn Ana dam Vania membantu kakek itu untuk duduk di kursi yang berada disana dan memberikannya air minum yang selalu di bawa oleh Ana.
__ADS_1
'' kakek tua itu sangat mengangguku, kau bawa saja kakek tua miskin itu, sudah tau tidak punya uang tapi memaksaku untuk mengobati istrinya''
''mengobati, kau seorang tabib''
''benar''jawabnya dengan bangga.
''beginikah sikap seorang tabib jika seseorang meminta tolong, kau menjadi seorang tabib untuk mencari uang atau untuk menyembuhkan orang, apa seorang tabib disini mengatakan sumpah sebelum ia di angkat menjadi tabib''
''setauku sebelum ia mendapatkan gelarnya sebagai tabib dia akan di sumpah terlebih dahulu'' jawab Vania dan di angguki oleh Ana.
''kau tau sumpahnya'' Pria paruh baya itu mengangguk, ''maka apa sikap seperti ini yang mencerminkan seorang tabib''
Pria paruh baya itu bungkam tidak bisa membantah perkataan Alika ia melihat sekeliling dan orang - orang mencibir dengan kelakuan tabib tersebut, lalu ia beranjak pergi dari sana tanpa sepatah katapun.
''cik, pengecut begitu saja dia pergi'' kata Vania dan Ana hanya tersenyum.
Alika menghampiri kakek tersebut yangvlbmasih menundudukan kepalanya'' kakek siapa yang sangkit'' tanya Alika dengan lembut.
''istriku, ia tidak sadarkan diri sejak dini hari, kake sudah mencari dan menemui tabib - tabib untuk meminta pertolangan , namun mereka menolak karna kakek tidak punya punya uang untuk membayarnya'' ucap sang kakek sambil menangis.
Alika, Ana dan Vania merasa iba pada kakek tersebut dan marah pada para tabib disini yang tidak mengutamakan keselematan pasien lebih dulu, malah merka lebih mengutamakan uang.
''dimana istri kakek, aku akn mencoba untuk menyembuhkannya semampuku'' tanya Alika lagi.
''kau seorang tabib nak'' tanya kakek pada Alika.
''bisa di katakan seperti itu, apa kakek percaya padaku?'' Alika tidak pernah berani mengatakan dengan tegas jika ia seorang tabib, ia hanya mempunyai kemampuan kedokteran, namun tidak pernah mengmbil sumpah untuk menjadi dokter, ilmu ke dokterannya ia perlukan jika ia sewaktu - waktu di butuhkan, jika ia sedang menjalankan misinya, namun jika ia mengucap sumpah ia akan terfokus menjadi dokter dan pekerjaannya sebagai agen kepolisian akan terhenti, maka ia tidak memilih sebagai seorang dokter, meski begitu ia suka membantu atau merawat orang sakit dengan kemampuannya.
__ADS_1