Pindah Dimensi Alika

Pindah Dimensi Alika
BAB 9


__ADS_3

Alika dia ingat, dia adalah wanita yang melabraknya ketika saat jamuan makan malam, kini wanita itu pun berada di hadapannya.


''nona Margharet ?'' Ucap Alika.


''kau mengingatku '' sinisnya sambil melirik ke arah Ana dan berkata.


''kau memang pantas bergaul dengan pelayan karna kau memang wanita rendahan dan sangat tidak pantas bersanding dengan yang mulia Raja, kasta mu sangat jauh di bawahku, aku heran mengapa mereka mengijinkamu makan di tempat ini, maka tempat ini telah tercemar dengan kuman rendahan seperti kalian '' ucap margharet lantang dia berniat mmepermalukan Alika dan Ana di depan semua orang.


Orang - orang yang berada disana hanya menyimak tanpa ingin ikut campur urusan kedua wanita ini, terlebih pada Margharet yang selalu membuat ulah karna kesombongannya.


''aku membayar tempat ini lalu apa salahnya bukankah siapapun dia, jika sanggup membayar tidak masalah bukan '' ucap Alika sambil melirik ke arah pelayan yang ketakutan, yang berada tidak jauh dari meja Alika dan Ana.


Pelayan tersebut yang awalnya ingin melerai dan memberitahu untuk tidak ribut di rumah makan ini, namun ketika melihat siapa yang sedang adu mmulut dia urungkan karna dia takut akan kekuasaan ayah dari Margharet yang selalu semena mena terhadap siapapun.


''dan apa maksudmu, hanya kau yang pantas menjadi Ratu kerajaan ini'' ucap Alika dan berbalik menatap nya sinis.


Margharet membusungkan dadanya bangga. ''ya benar, hanya aku yang pantas menjadi Ratu kerajaan ini, bukan kau ataupun wanita lainya '' sarkasnya.


Alika tersenyum sinis ''tapi bagiku kau tidaklah pantas ''


''kau dasar brengsek apa maksudmu aku tidak pantas '' Margharet sangat emosi mendengar apa yang di katakan Alika.


''ya kau tidak pantas, bagiku seseorang yang akan menjadi ratu adalah seseorang yang mempunyai budi yang baik, tidak selalu menyombongkan harta dan kekuasaan apa lagi merendahkan seseorang, tapi kau sangat berbeda jauh dari apa yang aku tau'' Alika tersenyum sinis ke arah Margharet, Alika berbalik mempermalukan Margharet di depan orang - orang.


Orang- orang yang berada disana tanpa sadar mengangguk setuju dengan apa yang dia dengat tentang pendapat Alika mengenai seseorang yang akan menjadi Ratu dan di sadari oleh Margharet, wajahnya memerah marah dan malu yang ia rasakan, Margharet mengepalkan tangan emosi dan melayangkan tanganya ke arah wajah Alika berniat menamparnya namun dengan mudah Alika menahannya dan dengan tatapn remeh yang Alika berikan pada Margharet.


''kurang ajar kau, beraninya kau melawanku, apa kau tidak takut aku adukan kepada ayahku ''

__ADS_1


''aku tidak pernah takut pada siapapun ''


''kau, akan ku pastikan kau mulai hari ini hidupmu tidak akan pernah tenang, kau telah mengibarkan bendera perang dengan ku, nona ku pastikan hidup mu tidak akan lama lagi '' lanjut Margharet.


Setelah mengatakan itu dia pun dengan segera meninggalkan rumah makan dengan penuh emosi dan perasaan malu.


Alika mengangkat kedua halisnya mendengar penuturan Margharet, dan menghela nafas lelah.


takdir macam apa ini datang ke dimensi ini dan sudah mempunyai musuh batin Alika


Alika melihat ka arah Ana yang sejak tadi menundukan kepalanya dan melihat orang - orang disana yang masih memperhatikannya.


Helaan nafas kembali terdengar lalu Alika mengajak Ana untuk keluar dari sana dan pulang ke istana.


"cepatlah habiskan makananmu, lalu kita segera oergi dari sini" ucap nya pada Ana.


Setelah selesai mereka pun kembali ke istana dengan Ana yg masih terlihat murung, yang membuat Alika sangat tidak mengerti dengan situasi seperti ini, menurutnya Ana terlalu di ambil hati mengingat apa yang di katakan oleh Margharet.


Setelah sampai di istana dan menuju paviliunnya Alika menyuruh Ana duduk di tempat yang biasa iaa tempati.


''ada apa denganmu, kau marah ?'' tanya Alika.


Ana menggeleng ''tidak Alika aku sudah biasa di hina seperti itu,namun aku khawatir padamu ''


''padaku ? apa yang kau khawatirkan ?'' heran Alika.


''nona Margharet dia pasti akan mencelakaimu aku takut terjadi sesuatu padamu '' ucap nua sendu.

__ADS_1


Alika menghela nafasnya ternyata Ana sebegitu nya mengkhawatirkan dirinya, kemudian Alika tersenyum dan menatap Ana.


''Ana lihat aku, kau percaya padaku, kau tidak perlu mengkhawatirkan ku, aku akan baik baik saja percayalah, aku bisa menjaga diriku sendiri, aku bukan orang yang lemah yang bisa di tindas begitu saja, kau mengerti''


''tapi Alika.. ''


Ana dia sangat khawatir karna Margharet adalah orang yang sangat nekat untuk melakukan apapun, dan dengan bantuan darj ayah nya, namun Ana pun belum tau tentang Alika seorang wanita yang tidak mudah di lawan.


''sstt ... sudahlah tidak usah di bahas lagi, lupakan tentang dia, saat ini bukankah kita akan mengunjungi ibu suri ?'' kata Alika yang mengalihkan pembicaraan agar Ana tidak terlalu khawatir padanya.


Ana mengangguk '' baiklah apa kau ingin bersiap dahulu dan astaga apa kau mempunyai hadiah untuk ibu suri?'' Ana lupa mengatakan karna biasanya mereka yang di undang ibu suri selalu membawa hadiah untuknya.


Alika menautkan keningnya bingung ''apa yang perlu bersiap, aku sudah siap dan apa hadiah, apa dia berulang tahun?'' tanya Alika heran.


''Alika kau tidak ingin membersihkan diri dahulu dan berdandan, dan hadiah, beliau tidak sedang berulang tahun namun itu yang biasa di lakukan mereka yang di undang ibu suri untuk manyenangkanya, atau lebih tepatnya menarik perhatian ibu suri dan berharap ibu suri bisa mendekatkan dirinya kepada yang mulia Raja '' ucao Ana dengan sedikit bersemangat.


Mendengat apa yang di katakan Ana, Alika, ia sangat jengah dengan kehidupan disini, kehidupan kerajaan yang sangat aneh menurutnya.


''Ana dengar, aku tidak peduli dan bahkan aku tidak tertarik sedikitpun pada Rajamu itu, dan bukan gayaku menyogok sesuatu hal untuk mendapatkan apa yang kita mau kau mengerti Ana ?'' Ana mengangguk namun sedikit bingun dengan sikap atau sifat Alika yang sangat berbeda jauh dengan para wanita di zaman ini.


''sudahlah kita berangkat Ana '' lanjutnya lagi.


Ana hanya mengangguk pasrah dia pikir Alika memang benar - benar wanita yang berbeda, di saat semua wanita berlomba - lomba manarik perhatian yang mulia Raja dan ibu suri, tapi Alika sedikitpun sama sekali tidak tertarik akan hal itu.


Ana dia benar - benar mengagumi sosok Alika, nona nya dan sekarang menjadi temannya, Alika wanita yang sangat baik bahkan dia memintanya untuk di jadikan teman, Ana sangat bersyukur akan hal ini bisa mengenal sosok Alika.


Ana berharap dia akan terus bersama dengan Alika, dan berjanji akan terus berada di sampingya, menjadi temannya, pelayannya atau apapun, yang terpenting untuk nya ia bisa terus bersama dengan Alika.

__ADS_1


__ADS_2