Pindah Dimensi Alika

Pindah Dimensi Alika
BAB 42


__ADS_3

''Nona boleh ku tahu namamu?'' tanya ayah dari Brian Gibson.


''Alika'' jawabnya singkat.


Mereka mengguk'' boleh aku tahu mengapa nona menjadi buronan Kerajaan Matahari''


''aku hanya memberikan hukuman pada seorang pangeran agar tidak semena - mena pada wanita dan nyawa seseorang''


Mereka mengangguk mengerti ''nona apa nona memafkan anak saya?''


Alika kemudian memandang Brian dwngan tatapan datarnya.


''mungkin, jika ia mau berubah''


''baik nona terimaksih aku akan memastikan jika aaak saya tidak akan melakukan hal sepeeti itu lagi, nona terima kasih banyak sekali lagi''


''terimaksih kau telah memberikan kesempatam aku akan merubah diriku, terimaksih banyak'' Brian tidak menyangka jika dirinya akan di ampuni begitu saja, jika itu orang lain bukan Alika mungkin dia tidak akan di maafkan dengan mudah, Alika dia memang sosok yang sangat baik untuk orang baik dan juga bisa menjadi sosok yang menyeramkan bagi orang yang mengusiknya.


Alika ia hanya berdeheum dan tidak mengatakan apapun.


''baiklah aku pergi''


''ah ya silahkan nona'' mereka berdua bergegas berdiri d n mengantatkan Alika keluar rumah makan tersebut, diluar mereka kembli mengatakan termaksih sambil membungkukkan badannya.


.


.


Alika yang sudah lelah memteleport dirinya untuk segera sampai ke penginapan di susul oleh Vania yang menbawa Ana.


''aku ingin istirhlahat''ucapnya pada Ana dan Vania, mereka pun mengangguk.


. . .


Sore hari Ana dan Alex mereka bertemu tanpa sengaja,ex yang baru tiba di penginapan bertemu Ana yang sedang menyendiri di luar penginapan dan ia pun menghampirinya.


''sesang apa ?''


''oh kau, tidak ada hanya ingin jalan - jalandi sekitat sini''


Alex melihat wajah murung Ana seperti ada yang ia sembunyikan ''jangan di pendam ceritakanlah padaku''


Ana memandang Alex ia pun menganggukkan kepalanya, mereka pun melangkah ke rumah makan yang berada di dekat sana.


Alex memamndang wajah Ana dengan serialus ia penansaran apa yang membuat Ana terlihat murung.


"Alex apa aku bisa menggunakam sihir"


,


"sihir, apa karna ini kau terlihat murung"


"benar, kau tau Queen dia orang yang sangat baik terhadapku, meski dia sangat kuat, namun akupun ingin menjadi kuat untuk bisa melindunginya dan tidak selalu merepotkan kalian"


Alex tersenyum menanggapi apa yang di ucapkan Ana.


"kita coba, nanti aku akan membantumu. agar kau bisa menggunkan sihir"


Ana memandang Alex tersenyum" apa orang sepertiku akan bisa menggunakan sihir, sedangkan aku bahkan tidak punya energo spiritual" lanjut Ana.


"sebenarnya semua orang mempunyai energi spiritualnya masing - masing ada yang bisa langsung mengusainya dan ada juga yang tidak bisa, energi spiritual di dalam tubuh manusia sudah ada sejak ia lahir, tinggal bagaimana kita menggunakan dan mengeluarkannya"

__ADS_1


"benarkah seperti itu, tapi kebanyakan orang sangat susah menggunakan energi spiritualnya agar bisa menggunakan sihir"


"benar, mereka telah salah. seharusnya ketika mereka bisa menggunakan energi spiritualnya, mereka seharusnya terus mengembagkan energinya hingga sampai puncak, namun mereka jarang ada yang melakukannya karna memang sangat sulit untuk di lakukan"


"bagaimana melakukannya"


"nanti saja akan aku jelaskan jika kau mulai berlatih agar kau bisa langsung mempraktekannya"


Ana mengangguk mengerti"terimaksih sebelumnya"ucap Ana tersenyum.


"bagaimana tadi siang apa ada yang mengganggu kalian"


Ana menggeleng "tidak ada, eummp mungkin hnya wanita angkuh yang ada di toko baju"


"wanita angkuh" Alex mengangkat kedua halisnya tidak mengerti.


Ana pun menceritkan kejadian tadi siang dan di sambung dengan Brian Gibson yang meminta maaf pada Alika.


"cik mungkin dia takut di bunuh oleh Queen"


"benar Alex, tapi Queen sangat mudah memaafkannya beda jika orang dengan orang lain, mungkin saja saat itu dia sudah mati"


Alex mengangguk "Queen orang yang baik, aku senang jadi bagian dari kehidupannya, menjadi pengawal dan sebagai teman"


"kita beruntung mendapatkan jungjungan seperti Queen"


*****


Di Istana Megah Kerajaan Dominik telihat orang - orang yang sedang sibuk berlalu - lalang untuk mempersiapkan pesta perayaan ulang tahun Putra Mahkota.


Di sebuah ruangan di istana, terlihat seorang pria paruh baya dengan jubah kebesarannya, duduk di meja dwngan banyaknya gulungan kertas di hadapannya, dia adalah Raja Kerajaan Dominik, ia memandang kosong ke depan, ia teringat akan cerita anaknya. Putra Mahkota yang bertemu dengan Alika yang bersama kesatrianya.


Sebelumnya ..


"benar. ayah pun mersakanya, siapa dia, setau ayah jika mereka bisa melihat energi kita, berati ia mempunyai energi sangat besar"


"Alika namanya, kau tau ayah ia bersama beberapa kesatria yang selalu bersama, aku ingat dengan cerita ayah tentang kerajaan cahaya. jika hanya mereka yang mempunyai kesatria yang sangat kuat"


"benar, namun Kerajaan Cahaya sudah menghilang" lanjutnya dengan wajah sendu.


" benar ayah aku sempat berpikir jika mereka berasal dari Kerajaan Cahaya, karna mereka berasal dari benua timur dan salah satu kesatria yang memperkenalkan dirinya menyebutkan namanya Alexis, nama yang persis sama dengan nama kesatria yang pernah ayah ceritakan "


Deg ..


"Alexis, kau yakin"


Putra Mahkota mengangguk" dan bahkan ia meminta jika aku tidak memanggil Alika dengan namanya saja, namun dengan sebutan Queen, namun Alika tidak marah dan ia tidak memaksa, jadi aku berpikir jika Alika mempunyai identitas yang tidak biasa, dan aku mengundang mereka ke acaraku"


"kau mengundangnya" Putra Mahkota menganggukan kepalanya.


Setelah perbincangan itu sang raja mempunyai banyak pertanyaan di benaknya apakah mereka benar dari kerajaan cahaya, apa kerajaan cahaya sudah kembali berdiri, bagimana bisa, pikirnya ?


. . . .


"Queen apa kau akan memberikan hadiah untuk Putra Mahkota" tanya Ana.


"hadiah, aku tidak terpikir akan memberikan hadiah, namun akan tidak sopan jika kita tidak memberikan hadiah kepadanya bukan ?"


Ana mengangguk "lalu apa kau sudah tau akan memberikan hadiah Putra Mahkota apa"


Vania, Alex dan Roger sejak tadi hanya menyimak percakapan Queenya dengan Ana, mereka mendongkakkan kepalanya penasaran dengan hadiah apa yang akan Queen nya berikan, mereka berbincang sambil menikmati sore hari dengan secangkir teh hangat, mereka tidak kemana - mana hari ini karna sejak pagi cuaca sedang turun hujan.

__ADS_1


"entahlah aku tidak yakin"


Jawaban Queen yang membuat mereka bertambah penasaran, namun mereka tidak bisa memaksa Queen untuk mengatakannya.


. . .


Di suatu tempat, di sebuah penginapan yang berbeda, pria tampan yang di tutupi sebuah topeng berbincang dengan pengawalnya.


" kau yakin dengan informasimu?"


Pengawal itu mengangguk.


"Kerajaan Cahaya, Queen" Pria itu menyungingkan senyumannya, wanita yang menarik pikirnya.


"dan informasi yang ku dapatkan jika mereka pun di undang di acara nanti malam yang mulia"


Pria itu menoleh ke arah pengawalnya kemudian ia kembali menatap lurus dan tersenyum, "kita akan bertemu lagi nona" ia tersenyum sambil menikmati sore hari dengan di iringi rintikan hujan.


Pengawal itu mencari tau Alika hingga ke benua timur dan saat ia berada di sana ia tidak sengaja dengan mendengar dua orang pria yang menyebutkan kerajaan cahaya dan Queen Alika.


Mereka adalah dua kesatria yang di berikan tugas untuk mencari orang - orang pintar untuk mengisi jabatan yang kosong di kerajaannya, kedua kesatria itu tidak sadar jika dirinya di ikuti.


.


.


.


Hari pun mulai gelap dan hujan pun mulai reda, Queen dan yang lainya tengah bersiap untuk mengahadiri perayaan ulang tahun Putra Mahkota.


Queen, Ana, dan Vania sedang berada di penginapan Queen, karna Queen meminta untuk membantunya mengenakan pakainya.


"aku dengar jika perayaan ulang tahun Putra Mahkota ini pun bertujuan untuknya mencari seorang permaisuri" kata Vania.


"kau tertarik" tanya kembali Queen .


"cik, Queen dia memang tampan tapi aku tidak tertarik dengan menikahi seorang Putra Mahkota yang mungkin saja dia akan membuat sebuah harem, aku sama denganmu tidak suka berbagi" lanjut Vania.


Queen mengangguk "tapi jika kau tertarik boleh saja, aku tidak akan melarang dan jika kau sudah menjadi Permasuri, bukankah akan mudah bagimu untuk menyingkirkan mereka para wanita yang menginginkan disisinya"


"Queen aku bukan orang yang jahat dengan mudah menyingkirkan orang dengan alasan konyol seperti itu, cik, pria di benua ini masih banyak aku tidak tertarik dengan tahta, aku lebih tertarik hidup sederhana tanpa harus berebut pria yang di inginkan banyak wanita" jawaban Vania membuat Alika dan Ana tersenyum.


Tok tok tok ..


Terdengar pintu di ketuk di dari arah luar.


"cik mereka para pria memang tidak sabaran"


"sudahlah biarkan mereka masuk kita akan teleport dari sini ke dekat istana" Vania tidak menjawab tapi ia langsung berjalan ke arah pintu lalu membukanya dan menyuruh mereka masuk.


Alex dan Roger melihat mereka bertiga dengan gaunnya, penampilan yang sangat berbeda di hari biasanya mereka sangat cantik terlebih Queenya yang kecantikannya yang sangat menonjol di antara mereka berdua, Alex yang mengahampiri Ana dan membisikan kalimat yang membuatnya tersipu.


"kau cantik"


Mereka bertiga melihat tingkah Alex dan Ana yang tersipu tersenyum geli terlebih Queennya yang senang dengan kedekatan Ana dan Alex.


"apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Queen mencairkan susanana.


Mereka pun mengangguk serempak.


"awalnya aku ingin menggunakan mobilku agar cepat sampai dan dengan keadaan jalanan yang becek, namun jika ku pikir itu akan menghebohkan banyak orang, maka kita akan teleport dari sini, Alex kau tau tempat di dekat istana yang tidak terlalu ramai"

__ADS_1


Alex mengangguk dan mengerti apa yang di inginkan Queenya, mereka pun kemudian berpegangan tangan dengan berbentuk lingkaran, karna hanya Alex yang mengetahui tempat yang di tuju, mereka saling memberikan energinya agar tidak menguras energi milik Alex, dan tak lama mereka pun menghilang dari penginapan menuju Istana.


__ADS_2