RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Ponsel Baru


__ADS_3

Sambil bergandengan tangan, Edmond dan Mahira menemui keluarga mereka yang sudah menunggu di restoran hotel untuk sarapan bersama.


"Cie....cie...., pengantin baru bangunnya terlambat." goda Edina lalu mengambil ponselnya dan memotret mereka.


Edmond tersenyum manis sedangkan Mahira agak tersipu malu.


"Ih, kesal aku sama Mahira. Dia akhirnya bisa menikmati tubuh Edmond yang seksi itu."Bisik Maya pada Merry.


"Dia bahkan akan menikmati kekayaan keluarga Moreno. Ih, lihat saja tanda merah di lehernya. Entah berapa ronde Edmond bersama dia semalam." sambung Merry sambil menatap Mahira dengan tatapan iri.


Rambut Mahira yang masih basah memang dibiarkannya tergerai. Sekaligus juga menutupi tanda merah yang dibuat Edmond di lehernya yang ada dua. Namun, karena tempat mereka makan ini di bagian belakang restoran yang memang berdekatan dengan pantai, maka tiupan angin pantai pun sering menyibakkan rambut Mahira sehingga bekas merah itu, yang walaupun sudah berusaha ditutupi dengan foundation tetap saja masih kentara.


"Selesai sarapan, Daddy dan mommy serta Edina akan pulang ke rumah. Katanya kamu sudah merenovasi kamarmu?" tanya Rahel.


"Iya, mom. Harus dibuat bedalah kamar anak bujang dan kamar yang sudah menikah." Ujar Edmond lalu menyentuh tangan Mahira yang ada di atas meja. Perempuan yang sudah menjadi istrinya itu hanya tersipu.


Mereka pun makan pagi dengan penuh kehangatan walaupun tetap saja Wulan dan kedua putrinya nampak kurang nyaman karena Mahira akhirnya bisa memiliki kekayaan yang lebih besar dari mereka.


Selesai sarapan, Oma Yohana pun pamit pulang bersama dengan keluarga pamannya. Mahira berjanji akan menjemput omanya saat bulan madunya dengan Edmond sudah selesai. Karena selesai makan siang nanti, Edmond akan mengajak Mahira berlibur selama dua hari ke pulang Bunaken.


"Putri ke mana ya? Kok nggak ikut sarapan sih?" tanya Mahira setelah Oma dan yang lain pergi. Keduanya masih ada di lobby hotel.


"Tadi saat kamu mandi, Putri telepon kalau dia sudah dijemput oleh pacarnya. Katanya ia akan menghadiri acara keluarga pacarnya."


Mahira mengangguk. "Iya. Hari ini mamanya Benny ulang tahun."


"Oh nama pacarnya Benny?"


"Iya."


"Ayo kita ke kamar!" Edmond menggandeng tangan Mahira dan mereka langsung menuju ke lift.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat gelisah?" tanya Edmond saat keduanya sudah berada di kamar.


"Anu, hp ku disimpan oleh Putri. Apakah dia lupa sampai tak mengembalikan padaku?"


Edmond tersenyum. Ia menuju ke kamar tidur dan kembali dengan sebuah kotak berisi baru dengan merk apel di gigit sebagian. "Ini hp barumu. Gunakan ini!. Aku sudah mengganti nomornya."


"Mana hp ku yang lama?"


"Aku sudah membuangnya."


"Tapi....!" Mahira terkejut.

__ADS_1


"Semua nomor temanmu sudah dimasukan ke hp yang baru ini. Grup WA kantor dan teman angkatan mu. Semua foto mu bersama teman-teman dan keluargamu juga masih ada. Yang aku hilangkan hanyalah foto tentang Teddy, nomor Teddy. Kau sudah memiliki akun baru untuk FB dan IG mu."


"Aku....." Mahira sedikit kecewa karena Edmond tak bertanya padanya dan sudah mengganti nomor dan ponselnya. Ponsel itu memang pemberian Teddy padanya saat ia berhari ulang tahun 3 bulan yang lalu.


"Sayang.....!" Edmond meraih tangan Mahira dan mengajak istrinya itu untuk duduk. "Salah satu cara agar kau cepat move on dari masa lalu mu adalah membuang semua yang berhubungan dengan masa lalu itu. Maaf jika aku tak meminta ijin mu dan mengganti ponsel dan nomormu." Edmond memegang wajah Mahira. "Aku tak ingin hanya memiliki tubuhmu. Namun aku juga ingin memiliki hatimu."


Mahira menatap wajah Edmond dengan perasaan yang bingung. Wajah tampan itu tersenyum. Mahira mencoba mengerti bahwa semua yang Edmond lakukan untuknya adalah demi kebaikan rumah tangga mereka.


"Terima kasih untuk hp barunya." Kata Mahira tanpa mau memperpanjang persoalan diantara mereka. Edmond tersenyum lega. Ia langsung menarik Mahira ke dalam pelukannya.


"Aku mencintai mu, istriku." ujar Edmond. Setelah ia melepaskan pelukannya, ia langsung mencium bibir Mahira dengan lembut namun penuh hasrat yang menggoda Mahira untuk juga menyambut ciuman itu, apalagi saat tangan Edmond sudah menyusup masuk ke balik gaun Mahira dan membelai pahanya dengan sensual.


**************


"Put, kok kamu memberikan hp ku pada Edmond, sih?" Mahira langsung menumpahkan kekesalannya saat Putri menelponnya sore itu. Mahira baru saja bangun tidur. Tadi, selesai mereka makan siang, Edmond langsung mengajaknya ke pulau Bunaken. Mereka akan menikmati bulan madu selama 2 hari di sini. Edmond sendiri sedang melakukan diving saat Mahira memilih tidur. Mungkin juga karena kondisi kehamilannya dan akibat percintaan mereka tadi, membuat tubuh Mahira terasa lelah.


"Maaf, Ra. Aku harus melakukan itu karena Edmond akan menjadi suamimu. Kau tak boleh lagi memegang semua yang berhubungan dengan masa lalu mu. Aku tahu kalau hp itu pemberian Teddy padamu. Kau akan terus mengingatnya jika benda itu tetap ada padamu." Suara Putri terdengar menyesal.


"Lalu kenapa kau bisa tahu nomorku yang baru ini?"


"Kan nomor ini sudah masuk ke wa grup kantor kita. Terus, gimana bulan madunya?"


Mahira diam sejenak. Ia dan Putri memang terbiasa berbagi berbagai hal. "Ya, begitulah. Aku sudah menyerahkan tubuhku padanya di malam pengantin kami. Aku juga sudah melakukan test. Aku positif hamil."


"Ia mencium perutku dan mengatakan kalau anak itu adalah anaknya. Dia kelihatan sangat senang dengan kehamilanku."


"Sudah ku katakan kalau dia sangat mencintaimu."


"Ya sudah. Aku tutup dulu ya. Mau mandi."


"Ok, deh. Selamat menikmati bulan madunya ya? Bye"


Mahira meletakan ponsel tersebut di nakas. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah lima sore. Rupanya ia tidur hampir 2 jam. Dan Edmond belum kembali juga dari acara menyelamnya. Mahira memang tadi sedikit merasa mual saat naik perahu menuju ke pulau ini. Mungkin karena pembawaan hamilnya. Karena biasa nya juga Mahira tak pernah mabuk laut.


Ia pun memutuskan mandi dan ganti pakaian. Setelah itu ia keluar dari cottage.


Nampak banyak orang ada di pinggir pantai dan Edmond pun ada di sana. Ia terlihat sedang menerima telepon dan tak menyadari Mahira sudah mendekati nya.


Mahira tak mengerti apa yang Edmond bicarakan karena ia menggunakan bahasa Spanyol. Ia hanya berdiri dan terus memandang punggung Edmond yang masih menggunakan pakaian menyelamnya.


Ketika Edmond selesai berbicara di ponsel, ia membalikan badannya dan langsung tersenyum melihat istrinya.


"Sayang, sudah bangun? Ah, kau ternyata sudah selesai mandi juga" Edmond menjawab pertanyaannya sendiri. Ia mendekati Mahira dan mencium pipi istrinya membuat Mahira terkejut karena banyak orang yang ada di pantai karena sekarang hari minggu.

__ADS_1


"Biar saja mereka melihat kita dengan iri. Kita kan sedang berbahagia." kata Edmond sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Aku mandi dulu ya? Ayo masuk!" ajak Edmond.


"Aku mau melihat pemandangan."


"Dari teras cottage saja. Aku takut ada yang akan melihatmu dan tertarik. Di sini kan banyak bule. Dan para pria boleh suka gadis yang manis dan menarik sepertimu." Ujar Edmond tanpa menyembunyikan rasa kekhawatirannya.


Mahira jadi tertawa melihat sikap Edmond yang posesif itu. Namun ia mengikuti juga langkah Edmond untuk masuk ke dalam cottage.


Saat Edmond mandi, Mahira menyiapkan 2 gelas kopi dan membawanya ke teras. Ia juga memesan pisang goreng dari sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari mereka.


"Wah, enaknya sudah disiapkan kopi dan pisang goreng. Benar kata teman-temanku. Jika kita menikah, maka terasa seperti menjadi raja jika dilayani oleh istri." puji Edmond lalu mengecup puncak kepala Mahira dan duduk di samping istrinya itu. Ia menyesap kopi yang Mahira buat. "Kopinya juga sangat pas di lidahku."


Mahira tertegun. Ia ingat dengan Teddy yang juga sangat suka dengan kopi buatannya karena takarannya sangat pas. Mahira yakin kalau Teddy dan Edmond memiliki kesamaan dalam hal menikmati kopi.


"Ada apa sayang? Kok melamun?" tanya Edmond.


"Nggak." Mahira buru-buru menggeleng. Ia pun mengambil pisang goreng dan menikmatinya dengan sambal roa yang sangat nikmat itu.


Keduanya pun menikmati kopi dan pisang goreng itu secara bersama sambil menikmati sunset dari teras depan cottage tempat mereka menginap.


"Bagaimana hp nya? Kau suka dengan semua aplikasi yang aku masukan?" tanya Edmond.


"Iya. Aku tadi baru memeriksanya sebagian. Kau tahu dari mana kalau aku suka novel online?"


Edmond tersenyum. Ia menatap Mahira dengan senyum manisnya yang selalu menggoda. "Aku lihat di ponselmu yang lama ada aplikasi novel online juga. Jadi aku masukan saja." Edmond meraih tangan Mahira dan menggenggamnya erat. "Aku ingin banyak tahu tentang dirimu, sayang. Kau juga harus tahu siapa diriku. Agar kita dapat saling mengasihi dan saling mengerti. Aku suka makanan yang pedas. Aku nggak bisa makan tanpa adanya sayur. aku juga suka minum kopi hitam, nggak suka minum teh, kecuali teh hijau tanpa gula. Aku suka berenang dan menyelam. Apalagi ya..., aku suka mendengarkan musik. Musik apa saja. Dan aku orang yang kalau kerja suka lupa waktu. Bahkan mungkin aku akan lupa menelepon mu."


Mahira hanya tertawa mendengar kalimat Edmond yang terakhir.


"Ceritakan tentang dirimu!" Pinta Edmond sambil menatap Mahira dengan intens membuat Mahira sedikit jengah dan menengok ke arah lain.


"Aku...., aku hanya biasa saja. Sama sepertimu, aku juga suka makanan yang pedas. Aku juga suka mendengarkan musik dan membaca novel. Aku suka makan kue apa saja. Aku suka masak dan suka minum kopi."


Edmond mengangguk. "Jika kau sudah melahirkan, aku akan menyiapkan waktu khusus untuk kita pergi bulan madu lagi dengan waktu yang lebih panjang. Kita akan pergi kemana saja. Kamu yang menentukan tempatnya dan aku yang menyiapkan dananya." Kata Edmond lalu membawa Mahira ke dalam pelukannya. Hati Mahira menjadi hangat mendengar perkataan Edmond. Seharusnya memang aku membuka hati untuk Edmond. Aku harus melupakan semua kenangan indah ku bersama Teddy. Walaupun selama 4 tahun kami berpacaran, Teddy sama sekali tak pernah menyakitiku, namun apa yang dilakukannya terakhir ini sangat menyakitiku.


Entah mengapa, Mahira mulai merasa nyaman dengan pelukan Edmond. Apalagi saat Edmond mengusap perutnya yang masih rata, ada getaran kecil yang membuat Mahira merasa senang.


*************


Hallo semua....


semoga suka dengan part ini ya???

__ADS_1


__ADS_2