RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Usaha Edmond (part 4)


__ADS_3

"Aku tak ingin bercerai. Apapun yang terjadi aku akan tetap mempertahankan rumah tanggaku. Aku akan memperbaiki semua kesalahan yang pernah ku buat di masa yang lalu. Apalagi sekarang istriku sedang hamil. Aku tak mungkin menceraikan dia kan? Mana bisa perceraian ini terjadi jika istrinya hamil? Aku tak pernah melaksanakan KDRT. Kesalahanku hanyalah aku tak jujur pada istriku tentang masa lalu diriku. Itulah yang menyebabkan ketidaknyamanan dalam hubungan kami."


Mahira terkejut mendengar perkataan Edmond di depan hakim dan seorang konselor yang melaksanakan mediasi kepada mereka di sidang pertama ini.


"Nyonya Moreno. Apakah anda hamil?" tanya hakim.


"Iya." Mahira tak bisa berbohong lagi.


Hakim memberikan beberapa nasehat begitu juga sang konselor. Semua nasehat itu mengarahkan agar mereka memikirkan kembali perceraian mereka dan menyarankan agar mereka kembali berbaikan demi buah hati yang sementara dikandung oleh Mahira.


Sidang pertama pun selesai dan dijadwalkan 2 minggu lagi untuk mendengarkan pengakuan pasangan itu.


Setelah Mahira berbincang dengan pengacara nya, ia bermaksud akan kembali ke kantor namun Edmond menghalanginya.


"Ra.....!"


"Mau kamu apa sih, Ed? Mengapa membicarakan tentang masalah kehamilanku segala? Bukankah kamu mandul? Jadi anak ini bukan anak mu!"


Edmond menahan tangan Mahira saat istrinya itu akan meninggalkan halaman parkir.


"Apa lagi, Ed? Aku lelah dengan semua ini. Aku trauma dengan semua masa lalu mu tentang mafia dan segalanya. Aku ingin hidup damai dengan anak-anakku."


"Aku tahu kalau kau hamil anakku. Menjelang kematiannya, Monalisa bilang kalau dia yang memanipulasi hasil lab ku agar aku tahu kalau aku mandul dan tak memaksakan kehamilannya lagi karena mommy begitu menginginkan cucu. Maafkan aku yang telah menyangka kalau kehamilan keduamu waktu itu adalah anak Teddy. Aku begitu dibutakan oleh rasa cemburuku dan tak berusaha mencari kebenarannya."


Lagi-lagi Mahira terkejut mendengar pengakuan Edmond tentang Monalisa yang pernah menipu Edmond dengan hasil pemeriksaannya.


"Ijinkan aku bersamamu, Ra. Ijinkan aku memperbaiki semuanya. Kalau pertama aku menikahi denganmu karena ingin memberikan cucu pada mommy namun sekarang aku ingin mempertahankan semua ini karena aku mencintaimu dan Wina. Aku tak bisa meninggalkan kalian berdua apalagi saat tahu kalau kau hamil anakku." Wajah Edmond memelas.


Mahira merasa bingung. Ia menarik tangannya yang dipegang Edmond saat melihat taxi online pesanannya telah datang.


"Aku harus kembali ke kantor, Ed." Mahira pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Edmond yang nampak begitu kecewa karena Mahira tak menanggapi apapun yang ia katakan. Namun Edmond tak akan putus asa. Ia berjanji akan berjuang untuk kembali mendapatkan istrinya itu.


***********


Sepanjang hari Mahira hampir tak bisa berkonsentrasi bekerja. Ia pun terpaksa harus lembur karena besok hari Sabtu dan kantor biasanya tutup.

__ADS_1


Satu persatu pegawai sudah pulang tanpa Mahira sadari kalau ia tinggal sendiri di dalam ruangannya.


Saat ia sampai di lobby kantor, hari sudah malam. Waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan malam. Mahira pun melangkah melewati halaman kantor untuk naik angkot saja. Namun sebuah mobil memasuki halaman kantor dan menghentikan langkah Mahira.


Saat sang pengendara turun, Mahira langsung membungkuk hormat. "Selamat malam bos Jun!"


Jun, lelaki berwajah oriental itu tersenyum. "Selamat malam Mahira. Mau pulang?"


"Iya."


"Ayo aku antar!"


"Nggak usah bos Jun, aku.....!" Mahira menjadi tak enak saat Jun sudah membuka pintu mobilnya dan gerakan tangannya mempersilahkan Mahira untuk masuk ke dalam mobilnya.


Mahira pun masuk ke dalam mobil Jun walaupun hatinya tak merasa tenang.


"Kamu jangan sering lembur. Itu nggak baik buat kesehatan janin mu. Ibu hamil itu harus memiliki waktu istirahat yang cukup." ujar Jun saat sudah menjalankan mobilnya.


"Iya, bos Jun."


"Baiklah."


"Apa kabar putrimu? Aku melihat fotonya yang ada di meja kerjamu. Dia sangat mirip dengan kamu ya?"


"Iya."


"Mahira, kamu pasti sudah tahu perasaanku padamu, kan? Jika urusan perceraian mu dengan suami mu sudah selesai, maukah kamu memberikan aku kesempatan untuk mengisi hatimu?"


"Aku ini bukan wanita yang tepat untukmu, Jun. Aku akan menjadi janda dengan status beranak dua. Di luar sana, banyak wanita yang masih lajang dan memiliki kepribadian yang baik. Jangan bersamaku."


"Memang benar di luar sana banyak wanita lajang. Namun entah kenapa hatiku memilih kamu. Aku jatuh cinta sejak pertama kali melihatmu. Saat aku tahu semua kehidupanmu, itu tak menyurutkan gelora cinta yang tumbuh di hatiku. Apalagi saat tahu kalau kamu sedang dalam proses perceraian, harapanku menjadi bertambah besar." Ujar Jun membuat Mahira semakin merasa tak enak.


Mobil Jun pun berhenti di depan rumah Mahira. Di sana ada juga mobil Edmond.


"Ra, jangan dulu menolak aku. Ijinkan aku berteman denganmu. Ok?"

__ADS_1


Mahira mengangguk. Jun pun membuka pintu mobil bagi Mahira. Tepat di saat itu, Edmond sedang melihat dari balik jendela. Darahnya langsung mendidih melihat seorang pria tampan yang membukakan pintu bagi Mahira. Tangan Edmond terkepal, namun ia berusaha menguasai perasaannya. Apalagi ada Wina di belakangnya.


"Terima kasih, Jun!" ujar Mahira lalu segera membuka pintu pagar dan masuk. Ia melambaikan tangannya sampai mobil Jun menghilang. Saat ia membuka pintu depan, Wina langsung menyongsongnya.


"Mami....., Om Ed membelikan Wina boneka baru. Jadi sekarang boneka Wina sudah 10." Edewina mengangkat semua jarinya.


"Bagus ya, Wina sudah tahu berhitung." Mahira melirik sekilas ke arah Edmond. Ia dapat melihat kalau Edmond sedang menahan sesuatu. Rahang Edmond yang nampak mengeras cukup membuat Mahira yakin kalau Edmond menahan marah.


"Terima kasih sudah menemani Wina." ujar Mahira secara halus dengan maksud mempersilahkan Edmond pulang.


Edmond dapat mengerti dengan apa yang Mahira maksudkan. Ia pun meraih kunci mobilnya di atas meja dan bermaksud akan pergi namun Wina menahan tangan Edmond. "Om Ed, jangan dulu pergi. Katanya tadi mau menemani Wina tidur bersama para boneka."


"Sayang, om Ed kan ada pekerjaan." Mahira mencoba meyakinkan anaknya untuk membiarkan Edmond pulang. Namun anaknya itu ingin bersama Edmod.


Akhirnya Edmond pun menuruti keinginan Wina. Ia menyuapi Wina makan lalu membantunya mengganti piyama kemudian meminta Ed menemaninya di kamar yang adalah juga kamar Mahira.


Edmond merasa sangat senang. Ia bisa mencium harum minyak wangi Mahira dibantal tempat ia berbaring, membacakan dongeng untuk Wina sampai akhirnya anak itu tertidur dengan nyenyak. Tangannya yang satu memeluk dua boneka sedangkan tangannya yang lain memegang tangan Edmond. Persis seperti dulu. Sebelum peristiwa penembakan itu terjadi.


Mahira pun masuk ke kamar. Melihat Edmond yang tertidur bersama Wina membuat Mahira menjadi gelisah. Ia tak tahu bagaimana harus bersikap nanti setelah 2 minggu waktu yang diberikan oleh hakim.


Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Mahira membangunkan Edmond. Edmond tiba-tiba saja menarik tubuh Mahira dengan mata yang masih tertutup lalu mendekap tubuh Mahira setelah mencium punggung istrinya itu.


Jantung Mahira bagaikan berhenti berdetak saat tangan Edmond melingkar dipeluknya. Mahira berusaha melepaskan diri dari pelukan Edmond namun tangan pria itu terlalu kuat untuk dilepaskannya. Sampai akhirnya Mahira tertidur karena memang sangat mengantuk.


**************


Esok paginya Mahira bangun tanpa melihat Edmond di kamar. Mobil Edmond pun sudah tak Adam Entah jam berapa lelaki itu pergi namun saat Mahira mandi dan mencuci wajahnya di wastafel, ia hampir menjerit melihat ada satu tanda merah di lehernya. Untung saja hanya satu. Mahira pun yang terbiasa ke kantor dengan menggulung rambutnya, hari ini terpaksa harus mengurainya.


Begitu tiba di kantor, ia kembali dikejutkan dengan 2 paket bunga satu dari Jun yang bertuliskan : Semangat untukmu di hari ini


Dan satunya lagi dari Edmond yang bertuliskan Selamat pagi cintaku dan nafasku. Ed


*******


Dan perang antara Jun dan Edmond pun dimulai

__ADS_1


__ADS_2