RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Pertengkaran Pertama


__ADS_3

Baby Wina akhirnya tertidur setelah menghabiskan susunya. Edmond menarunya di dalam box bayi. Tadi Edmond menelepon pihak hotel dan ternyata mereka menyiapkan fasilitas tempat tidur bayi. Setelah melihat Wina sudah ada di posisi yang nyaman, ia mengambil botol susu Edewina, mengambil sikat botol dan mencucinya di wastafel.


Mahira baru saja menghabiskan makan malam yang sudah dipesan oleh Edmond. Sebenarnya Mahira tak merasa lapar sama sekali. Namun ia tak mau makanan itu dibuang. Bagaimana pun ia sudah melewati bagaimana susahnya dahulu mencari makan ketika sang Tante sering menyembunyikan makanan saat Mahira pulang sekolah.


"Kita sudah boleh bicara?" tanya Edmond lalu duduk di samping Mahira.


"Apa yang harus kita bicarakan? Semuanya sudah jelas kan? Aku seharusnya tak datang ke sini."


"Jadi kamu menuduh aku ada sesuatu dengan Monalisa?" tanya Edmond berusaha menekan suaranya. Ia tak mau menganggu tidurnya Wina.


Mahira tak menjawab. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, bergeser sedikit duduknya dari Edmond lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Ia membuang pandangannya ke tempat lain.


"Ra.....!" Edmond menyentuh tangan Mahira namun perempuan itu menepis tangan Edmond.


"Kemarin saat aku masuk ke kamar 5002, Monalisa sudah ada di sana. Dia memang baru datang karena tugasnya baru akan dimulai hari ini. Angel mendaftarkan kamar 5002 dan 5012 atas nama Monalisa tanpa mengatakan yang mana kamar Monalisa. Aku sudah memintanya untuk pindah ke kamar ini, namun Monalisa tak mau. Alasannya, ia suka pemandangan dari kamar itu karena menghadap ke laut. Aku mengalah karena aku tahu Monalisa tak akan pernah pindah kamar. Masa sih aku harus satu kamar dengannya? Makanya aku yang mengalah karena aku tahu Monalisa keras kepala." Edmond berhenti sejenak. Ia kemudian melanjutkan bicaranya. "Bagaimana aku dan Monalisa bisa mandi diwaktu yang bersamaan? Ya karena kegiatannya baru saja selesai. Kami makan malam dengan tim yang lain lalu kembali ke kamar masing-masing. Dari jam 9 kegiatan kami ini dimulai dan selesai jam 7.30 malam. Wajarlah jika merasa gerah dan ingin mandi." Edmond menggeser tubuhnya agar kembali dekat dengan Mahira.


"Sayang, jangan curiga kalau aku dan Monalisa masih ada hubungan. Aku senang kalau kamu cemburu, itu berarti kamu beneran sayang padaku, namun aku tak ingin kamu cemburu buta."


Mahira berdiri. Ia kemudian menatap Edmond. "Siapa yang tak akan cemburu, Ed? Aku buta dengan masa lalumu. Aku selalu bertanya bagaimana hidupmu sebelum Putri menelepon mu dan mengatakan tentang keadaanku? Aku memang cemburu karena takut kalau hubungan kalian bisa saja berlangsung kembali di belakangku. Kalian teman sekerja. Setiap hari kalian pasti bertemu."


Edmond ikut berdiri. "Sayang, kalau kamu mau aku berhenti bekerja agar tak bertemu dengan Monalisa setiap hari, aku mau. Ayo kita pulang ke Manado dan aku akan mengurus usaha keluargaku."


Mahira menatap Edmond dengan kaget. "Berhenti?"


"Ya. Walaupun sebenarnya aku pasti akan sangat menyesal karena harus meninggalkan perusahaan yang kami bangun bersama dari nol. Namun, agar kau merasa nyaman, aku rela untuk berhenti."


Mahira menjadi tak enak. Edmond akan berhenti? Duh, bagaimana ini?


Edmond meraih kedua tangan Mahira. "Ayo ikut aku!"


"Kemana, Ed?" tanya Mahira berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Edmond.


"Ke kamar Monalisa untuk menunjukan padamu kalau aku dan dia tak ada hubungan apa-apa lagi."


"Lepaskan, Ed!" Mahira menarik tangannya dengan kasar. "Aku tak akan pernah menghadap mantanmu itu hanya untuk klarifikasi soal kamar yang tertukar ini."


"Kalau begitu ayo kita ke pihak manajemen hotel, meminta rekaman CCTV ballroom mereka agar kau tahu kalau aku selama acara berlangsung tak pernah terlihat mesra bersama Monalisa."

__ADS_1


"Cukup, Ed!"


Edmond mengusap wajahnya kasar. "Jadi apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya padaku?"


Mahira menjadi ragu. Haruskah ia percaya pada Edmond? Semua penjelasannya nampak masuk akal. Apakah Mahira yang terlalu cemburu?


"Setelah kegiatan ini selesai, aku akan resigh dari perusahaan. Aku akan menjual saham ku pada Lerry."


"Jangan!"


"Kenapa? Percuma aku kerja kalau kamu tak percaya dengan aku."


Mahira menunduk. "Maaf!"


Edmond langsung menarik Mahira dan memeluknya erat. "Jangan bersikap seperti ini, Ra. Aku bisa gila. Tadi aku begitu senang saat melihat mu datang bersama Edewina. Namun tak sampai 5 menit, aku langsung berhadapan dengan sikap dingin mu itu." Edmond melepaskan pelukannya. Ia memandang wajah istrinya dengan seksama. "Kamu harus yakin bahwa aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Ed. Itulah sebabnya aku takut kau mengkhianati ku."


"Itu tak mungkin terjadi, sayang. Namun aku ingin tahu, siapa Chris?"


"Temanmu yang mana? Setahu aku temanmu hanya Putri." Edmond terlihat cemburu.


"Chris memang mahasiswa pindahan dari Surabaya. Saat dia masuk ke kampus kita, kamu sudah kuliah di Amerika."


"Telepon dia kembali dan batalkan tiketnya."


"Tapi, Ed, mungkin sebaiknya aku dan Wina pulang saja."


Edmond menggeleng. "Kamu nggak sayang dengan Wina? Masa baru tiba malam ini besok harus pergi lagi. Wina nanti capek dan bisa sakit."


Mahira menatap Putrinya yang terlelap di atas ranjang. Walaupun tadi anaknya itu tak rewel namun ia bisa saja kelelahan jika harus dipaksa pulang besok.


"Kita jalan-jalan di Jakarta. Ini adalah liburan pertama kita kan? Ini juga adalah pertengkaran pertama kita setelah menikah. Dengan kejadian ini kita akan semakin mengerti sifat dan pribadi masing-masing." Edmond membelai wajah Mahira dengan punggung tangannya. "Aku bisa gila jika kau pulang besok. Aku sangat merindukan kalian berdua dan kalian sudah di sini, masa sih harus pergi lagi?"


"Baiklah." Mahira mengambil ponselnya dan segera menelepon Chris untuk membatalkan tiketnya.


"Aku kangen padamu." Edmond langsung memeluk Mahira dari belakang. Tangannya langsung menyusul masuk ke balik kaos yang Mahira pakai sambil ciuman-ciuman lembut ia berikan di leher Mahira.

__ADS_1


"Ed.....!" Mahira memejamkan matanya. Ia ingin menolak godaan Edmond namun rasanya lututnya sudah gak kuat menopang tubuhnya. Edmond tahu dengan benar bagaimana harus menaklukan istrinya itu.


"Sayang, tidur Wina nanti terganggu." ujar Mahira masih berusaha melepaskan diri dari rayuan suaminya.


Edmond tersenyum menggoda. "Kita bisa melakukannya tanpa banyak suara. Di sudut ruangan itu saja. Kita tak perlu tempat tidur saat ini." Katanya lalu segera membalikan tubuh Mahira dan mencium bibirnya dengan keras dan penuh tuntutan gairah yang mendalam.


****************


Di kamar 5002, Monalisa baru saja membanting gelas yang ada di tangannya. Botol minuman yang ada di hadapannya pun sudah hampir habis.


Mahira brengsek! Untuk apa dia datang ke sini? Dia hanya mengambil waktuku untuk bersama Edmond malam ini. Ah, ingin rasanya aku membunuh perempuan itu! Ingin ku culik anaknya juga. Aku benci.....!


Monalisa berdiri dan menatap tubuhnya di depan cermin. Ia menggunakan lingre hitam yang sangat seksi. Tubuhnya yang nyaris sempurna itu nampak menggoda dengan tonjolan di dada nya yang besar.


"Ed, aku sudah siapkan lingre hitam ini untuk percintaan kita malam ini. Aku tahu kau sangat memuja tubuhku. Hanya aku, Ed. Hanya aku yang bisa membuatmu mencapai puncak kenikmatan itu. Ah, Ed, apakah sekarang kamu sedang bercinta dengan perempuan mungil itu? Apa sih yang kamu sukai darinya? Apa yang kamu puja darinya? Ah......!" Monalisa menangis. Tubuhnya lunglai dan jatuh ke atas lantai.


"Aku mau mati rasanya, Ed." Tangis Monalisa semakin dalam. Ia menangis cukup lama sampai akhirnya ia berdiri. Mengambil tissue dan membersihkan sisa air mata yang masih ada di wajahnya. "Tidak! Aku tak boleh seperti ini. Edmond tak suka perempuan cengeng! Aku akan mencuri kesempatan untuk bersama Edmond besok."


Sementara itu, dikamar 5012, Edmond dan Mahira baru saja menyelesaikan ronde kedua percintaan di atas ranjang. Peluh membasahi tubuh keduanya. Edmond mengambil kaosnya yang ada di lantai, lalu ia menyeka keringat yang ada di tubuh Mahira, kemudian menyeka keringatnya sendiri. Ia lalu menarik selimut tebal yang hampir jatuh dari ranjang untuk menutupi tubuh mereka yang polos. Dinginnya AC mulai terasa saat napas mereka perlahan menjadi normal.


Edmond dan Mahira tidur sambil berhadapan. Mahira sudah memejamkan matanya.


"Kau sudah mengantuk, sayang?" tanya Edmond lalu melingkarkan tangannya di punggung Mahira dan membelai lembut di sana.


"Iya. Sangat mengantuk." Mahira lebih merapatkan wajahnya ke dada Edmond. Ia lelah karena perjalanan dari Samarinda ke Jakarta. Ia juga lelah karena percintaan mereka malam ini. Tak berapa lama, Mahira pun jatuh ke alam mimpi.


Edmond sebenarnya juga ingin tidur. Namun, ia mendengar hp nya berbunyi. Edmond mengambilnya dan terkejut kalau Monalisa mengirim pesan untuknya dengan foto dirinya yang tanpa busana.


Aku tunggu sekarang di kamar, Ed. Jika kau tak datang, aku yang akan pergi ke sana. Aku tak takut dengan istri mungil mu itu.


*********


Selamat pagi, selamat beraktifitas


Salam sehat untuk semua


jangan lupa dukung emak ya????

__ADS_1


__ADS_2