RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Edmond yang Manis


__ADS_3

"Sayang, hari ini aku sudah buat janji dengan dokter kandungan. Jam 7 malam kita akan periksakan kandungan mu." ujar Edmond saat ia sementara mengenakan kemejanya.


Mahira yang sedang membereskan tempat tidur menghentikan kegiatannya sebentar. "Malam ini? Bukankah kemarin malam kamu bilang nggak pulang hari ini karena malamnya ada rapat pemegang saham?"


"Rapat pemegang sahamnya ditarik jam dua siang. Jadi aku pikir kita bisa ke dokter."


"Kenapa tak ditunda saja? Cari saja hari dimana kamu nggak sibuk."


Edmond yang sudah selesai mengenakan dasinya mendekati Mahira. "Lusa, aku akan ke Jakarta. Kamu ingat kan dengan ijin perusahaan yang aku bilang waktu itu? Pihak kementerian memanggil kami. Aku dan Lerry yang akan pergi. Dan sebelum pergi, aku ingin tahu keadaan anak kita yang sedang tumbuh dalam kandungan mu." Edmond memegang perut Mahira. Mengusapnya perlahan. "Kayaknya, perutmu mulai keras ya?"


"Iya."


"Tapi kok belum kentara ya?"


"Aku juga nggak tahu."


"Kamu kan sudah nggak muntah-muntah lagi? Makanannya gimana?"


"Aku belum terlalu suka makan nasi. Pinginnya makan sayur saja."


"Harus makan nasi, sayang. Makan juga buah dan jangan lupa susunya."


"Baik tuan Moreno."


Edmond terkekeh. Ia suka mendengar Mahira yang memanggilnya dengan nama besar keluarganya. "Nyonya Moreno, jangan lupa tidur siang ya?"


"Siap."


"Ah, aku jadi makin cinta sama kamu, istriku." Edmond menarik tubuh Mahira dalam pelukannya. Ia menenggelamkan wajahnya di rambut indah Mahira, menyesap harumnya sambil memejamkan matanya. Mahira merasakan hatinya menjadi hangat setiap kali Edmond memeluknya dan membisikkan kata-kata manis.


"Ed, nanti kamu terlambat ke perusahaan."


Edmond melepaskan pelukannya. Di tatapnya wajah Mahira dengan intens membuat Mahira menjadi sedikit malu.


"Apaan sih, Ed?" Mahira hendak membuang pandangannya ke lain tempat namun satu tangan Edmond memegang dagunya lembut dan memaksanya untuk terus menatapnya.


"Sayang, kapan kau akan membuka hatimu untukku? Kapan kau akan mengatakan kalau kau juga mencintaiku? Kita sudah 3 bulan menikah. Namun aku belum melihat matamu berbinar menatap aku dengan penuh cinta. Aku memang sudah memiliki tubuhmu. Kau selalu memberikan aku kepuasaan setiap kali kita selesai bercinta. Namun aku menginginkan hatimu juga."


"Ed, aku ...." Mahira tak tahu harus mengatakan apa. Jauh di lubuk hatinya, ia terkadang masih mengingat Teddy. Terlalu sulit bagi Mahira untuk membenci sosok pria yang 4 tahun pernah mengisi hari-hari kehidupannya. Kalau membenci adalah sesuatu yang tak mungkin, maka melupakan adalah jalan terbaik. Dan melupakan itu membutuhkan proses yang agak lama.


"Ed, bersamamu aku merasa bahagia. Bersamamu aku merasa sangat dicintai. Aku tak mungkin menyia-nyiakan semua rasa cinta yang kau berikan padaku. Aku yakin kalau aku bisa mencintaimu, Ed. Aku akan membuka hatiku dan mengisinya dengan cintamu. Hanya, berikan aku sedikit waktu. Karena membuang semua kenangan ku bersama Teddy selama 4 tahun itu, bukankah perkara yang muda. Tapi bukan berarti tak mungkin." Mahira akhirnya dapat mengeluarkan isi hatinya.


Edmond tersenyum bahagia. "Akan ku menangkan hatimu sayang. Jika itu harus dimulai dari memenangkan tubuhmu, akan ku lakukan segalanya agar tubuhmu hanya bergetar oleh sentuhan ku." Edmond menunduk dan mencium bibir Mahira dengan lembut. Menyesapnya perlahan. Menikmati semua rasa manis yang bisa didapatkannya dari ciuman yang mendapatkan balasan dari Mahira.

__ADS_1


"Ed, kamu akan terlambat...."


"Rapat pemegang sahamnya nanti jam 2. Aku bisa berangkat jam 11 dari sini." kata Edmond dengan suara bergetar, tak mau menyembunyikan hasrat yang tiba-tiba saja muncul dari dirinya. Di bukannya jas yang sudah menempel di tubuhnya. Di matikan nya ponselnya. Lalu tangannya membuka gaun Mahira dengan tak sabar.


"Ayo kita bercinta sayang." Bisik Edmond dengan sensual di telinga istrinya lalu mengangkat tubuh Mahira dan melangkah menuju ke ranjang mereka yang baru saja dirapikan oleh Mahira.


**********


Juminten menatap pasangan itu yang baru saja keluar dari kamar sambil bergandengan tangan. Rambut keduanya terlihat basah, pada hal tadi saat Mahira ke dapur untuk membantunya menyiapkan sarapan, ia mengatakan bahwa Edmond sementara mandi.


"Kopinya sudah dingin. Aku akan membuat lagi yang baru." ujar Mahira saat Edmond sudah duduk di meja makan.


Mata Juminten menatap tanda merah yang ada di leher Mahira. Kelihatan masih baru. Berbeda dengan yang ia lihat beberapa hari yang lalu. Kini ia mengerti, apa yang dilakukan oleh pasangan itu sehingga baru keluar kamar saat jam sudah menunjukan pukul 10 pagi. Karena biasanya tuan Edmond akan berangkat jam 7 pagi.


"Nyonya, apakah sup nya saya panaskan lagi?" tanya Juminten.


"Tak perlu, bi. Nasi nya kan panas." Ujar Mahira yang sudah selesai membuatkan kopi. Edmond nampak masih serius dengan hp nya.


"Sayang, makan dulu." ujar Mahira lalu duduk di sebelah Edmond dan menuangkan nasi ke atas piringnya.


"Tambahkan sedikit nasinya, honey. Aku agak lapar pagi ini." kata Edmond. "Maklumlah baru selesai olahraga." Edmond memelankan kalimatnya yang terakhir membuat Mahira melotot ke arahnya. Untungnya saat Mahira menengok ke belakang, bibi Juminten sudah tak ada..


"Ternyata, bercinta di pagi hari dapat meningkatkan imun untuk bekerja. Aku merasa bahagia pagi ini. Aku yakin rapat sebentar dapat dilalui dengan sukses. Apakah mungkin setiap pagi kita bercinta dulu sebelum aku berangkat ke tempat kerja?" tanya Edmond sambil menatap Mahira yang duduk di sampingnya.


Edmond terkekeh. "Aku suka wajahmu yang tersipu ini, sayang."


"Ed.....!" Mahira semakin malu dibuatnya. Tak tahan Edmond mengecup pipi Mahira lalu ia menikmati sarapannya dengan lahap.


Sementara makan, Mahira memikirkan sesuatu. Kalau hari ini adalah rapat pemegang saham, bukankah Monalisa seharusnya ada? Bukankah kata bi Juminten kalau Monalisa adalah salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan itu?


"Ed, bagaimana dengan mess nya? Sudah selesai direnovasi?" tanya Mahira.


"Hampir selesai sayang. Mungkin minggu depan semuanya rampung."


"Apanya yang harus direnovasi? Waktu aku masuk ke sana kelihatannya bagus. Kan mess itu masih baru kelihatannya.


"Iya. Bangunan itu baru 2 tahun aku tempati. Aku merenovasi kamar utamanya agar menjadi lebih besar dan nyaman untuk kau tinggali."


"Aku boleh nggak ikut denganmu hari ini?"


Edmond yang sudah menyelesaikan sarapannya menatap Mahira. "Sayang, aku berangkatnya sudah mau jam 11. Sampainya di sana paling mau jam 1. Nggak lama lagi rapatnya akan dimulai. Rapat ini dilaksanakan setiap 3 bulan sekali. Biasanya agak lama. Selesainya mungkin sekitar jam 5 sore. Dan kita harus bergegas pulang karena jadwal ketemu dengan dokter jam 7. Kamu pasti akan kecapean."


"Baiklah."

__ADS_1


"Jangan cemberut gitu, ah. Nanti kalau mess nya sudah selesai direnovasi, kau boleh ikut."


Mahira mengangguk. Ia tersenyum walaupun sebenarnya hatinya sangat penasaran dengan sosok Monalisa.


*********


Sebelum jam 7 malam, Edmond sudah pulang. Mereka pun ke tempat praktek dokter kandungan yang telah dipilih oleh Edmond. Seorang dokter perempuan yang bernama dokter Nana.


"Semuanya kelihatan bagus, detak jantungnya juga bagus. Hanya saja janinnya terlalu kecil. Nyonya harus makan banyak dan minum susu serta vitamin yang akan aku resepkan. Masih mual atau muntah?" tanya dokter Nana sambil membersihkan bekas gel yang ada di perut Mahira.


"Muntah sih nggak, dok. Hanya terkadang sering mual jika mencium makanan yang aku nggak suka. Susu juga selalu ku minum." jawab Mahira lalu perlahan bangun dan turun dari atas tempat tidur.


Dokter Nana menuliskan resep lalu menyerahkan kepada Mahira. Sedangkan Edmond nampak masih terpaku pada foto hasil USG yang kini ada di tangannya.


"Sayang, ayo pulang!" ajak Mahira.


Edmond mengucapkan terima kasih pada dokter lalu menggandeng tangan Mahira untuk keluar dari ruangan praktek dokter Nana.


"Ada apa, Ed?" tanya Mahira saat keduanya sudah ada di dalam mobil.


"Aku rasanya mau menangis melihat foto ini. Apakah menjadi seorang ayah bisa menjadi sesensitif ini?"


Mahira menjadi sangat terharu. Ini bukan darah daging Edmond, namun pria itu sudah merasa bahwa ini benar-benar adalah anaknya. "Ed, anak ini pasti sangat bangga memiliki ayah sepertimu." Kata Mahira dan langsung mencium pipi Edmond dengan rasa bahagia.


Edmond terkejut menerima ciuman itu. Ia menatap Mahira. "Kau mencium ku?"


"Mau tambah lagi?"


"Tentu saja." jawab Ed dengan antusias.


Mahira kembali bermaksud mencium pipi Edmond namun pria itu dengan cepat memalingkan wajahnya sehingga ciuman itu dengan tepat mendarat di bibirnya.


"Ed....!" Mahira mencubit pinggang Edmond. Namun pria itu hanya tertawa. Lalu menjalankan mobilnya untuk meninggalkan tempat praktek itu.


*************


Selamat pagi.....


Manis kan Edmond sebagai seorang suami?


Apakah sikap manisnya bisa meluluhkan hati Mahira? Kita lihat saja di episode berikutnya.


Kamis manis memang harus disungguhkan sesuatu yang manis pula.

__ADS_1


Jangan lupa dukung emak ya?


__ADS_2