RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Dia Adalah Istriku


__ADS_3

Hari Kamis pagi, Edmond berangkat lebih pagi dari biasanya. Katanya ada rapat penting dan ia juga harus melihat bagaimana persiapan acara untuk sore nanti.


Edmond akan meminta sopir perusahaan untuk menjemput Mahira dan bibi Juminten pada pukul dua siang.


Kemarin Mahira sudah membeli sebuah gaun berwarna putih seperti yang Edmond inginkan. Untungnya setelah ia dan Alika keliling beberapa mall, mereka menemukan sebuah gaun yang sangat cantik.


Jam 1 Mahira sudah mandi dan berdandan dengan make up tipis saja. Rambutnya yang panjang disanggulnya dengan memakai jepit rambut yang berbentuk bulan sabit. Ia mengenakan sepatu tali berwarna putih juga yang tingginya tak sampai 5cm.


Tak lupa ia memakai kalung yang dihadiahkan oleh ibu mertuanya. Saat ia keluar kamar, Juminten juga sudah siap dan sopir yang akan menjemput mereka sudah ada.


Perjalanan dari rumah menuju ke perusahaan dan pabrik tempat Edmond bekerja ternyata cukup menyenangkan. Jalannya tak banyak berkelok dan sepanjang jalan, Mahira menikmati pemandangan yang indah.


Saat mobil memasuki area perkebunan sawit, Mahira pun tahu bahwa mereka akan segera tiba.


Tak lama kemudian nampak beberapa rumah penduduk yang jaraknya memang agak saling berjauhan. Lalu Mahira melihat sebuah pagar besar yang mengelilingi sebuah area. Ada gedung bertingkat yang besar dan ada beberapa rumah yang letaknya tak jauh dari gedung itu, kemudian ada gedung besar berupa rumah tingkat. Mungkin itulah tempat tinggal para pekerja.


Di depan salah satu rumah, Mahira melihat ada sebuah tenda yang besar, ada sebuah panggung kecil yang dihiasi bunga-bunga yang dominan warna putih. Di sanalah mobil yang membawa Mahira dan Juminten berhenti. Sebelum Mahira turun, ia melihat Edmond yang keluar dari rumah itu dengan sedikit berlari. Ia mengenakan celana hitam dan kemeja putih. Terlihat tampan seperti biasanya.


"Sayang....!" itu yang Edmond sebutkan saat ia membuka pintu mobil.


Mahira turun dengan sedikit salah tingkah karena sudah cukup banyak orang yang duduk dalam tenda itu.


"Kamu cantik. Jangan jadi minder karena tatapan mereka." bisik Edmond saat ia merasakan kalau tangan Mahira yang digenggamnya agak dingin.


"Terima kasih, Ed."


"Panggil aku sayang."


Mahira merasa kaku namun ia menurut juga. "Terima kasih, sayang."


"Itu baru istriku." Edmond dengan manisnya menautkan jari mereka lalu mengajak Mahira untuk menemui sekelompok orang yang nampaknya para petinggi perusahaan. Mahira ingin tahu siapa diantara mereka yang bernama Monalisa. Sebab beberapa perempuan itu nampak masih muda.


"Sayang perkenalkan ini sahabatku. Namanya Lerry Alend. Dia asalnya dari Asutralia. Kami sama-sama kuliah di US." Edmond memperkenalkan seorang bule yang usianya mungkin lebih tua sedikit dari Ed.


"Hallo!" Mahira menjabat tangan Lerry.


"Apa kabar nyonya Mahira Moreno. Ternyata kau lebih cantik dibandingkan dengan fotonya."


"Lerry ada presiden direktur perusahaan ini. Dan wanita cantik di sebelahnya adalah Sofia. Sofia asalnya dari Surabaya. Sofia yang membuat Lerry mau ikut membangun usaha di tempat ini. Sofia sebagai manager pemasaran di perusahaan ini."


Sofia nampak memaksakan sebuah senyum. Ia menjabat tangan Mahira sekilas saja.


"Yang ini adalah Angel. Dia adalah sekretaris ku."


Angel tersenyum ke arah Mahira. Senyumnya terlihat lebih tulus dibandingkan dengan senyuman Sofia. Namun tetap saja, Mahira merasa ada sesuatu yang aneh dibalik tatapan Angel.


Setelah itu, Edmond memperkenalkan Mahira kepada para petinggi perusahaan lainnya.


Ternyata perusahaan kelapa sawit ini adalah yang terbesar di seluruh Kalimantan. Demikian juga dengan pabrik minyak goreng yang sudah terkenal bahkan sampai ke luar negeri.


Acara pun dimulai. Yang hadir di acara syukuran pernikahan ini adalah seluruh pegawai yang bekerja di kantor. Beberapa mandor dan orang-orang dari tambang batubara. Kalau mau dihitung mungkin ada sekitar 200 lebih yang hadir.

__ADS_1


"Terima kasih semua atas kedatangannya. Perkenalkan ini Mahira Amalia Moreno. Kami menikah hampir 3 bulan yang lalu dan bersyukur karena istri saya kini sedang hamil." Edmond memegang perut Mahira dan mengusapnya dengan lembut. "Mungkin kalian bertanya, mengapa aku menikah secara tiba-tiba? Itu karena oma Mahira sakit. Di samping itu aku juga takut kehilangan Mahira lagi. Karena Mahira adalah gadis yang sejak 6 tahun lalu ku sukai. Kami satu kampus. Namun waktu itu dia selalu menolak ku." Edmond melirik Mahira dan para undangan tertawa mendengar perkataan Edmond. Mantan mungkin pria setampan Edmond ditolak oleh perempuan?


"Saat bertemu lagi dengannya, dan Mahira dalam keadaan jomblo, aku langsung melamarnya. Aku nggak mau melepaskannya. Bersyukur dia akhirnya mau." Edmond menggenggam tangan Mahira. "Sayang, kau tak ingin mengatakan sesuatu?"


Mahira terbelalak. Wajahnya menjadi merah. Sedikit ragu ia menatap para undangan yang nampaknya sedang menunggu. Mahira berusaha tersenyum. "Terima kasih sudah mencintaiku sedalam ini. Aku bahagia bersamamu."


Edmond langsung menarik Mahira ke dalam pelukannya. Ia mencium dahi Mahira dan para undangan pun tersenyum.


Lerry menatap pasangan itu sambil menyimpan senyum penuh misteri.


"Sayang, aku tak mengerti dengan Ed. Bagaimana bisa ia menikah dengan...."


"Jangan mencampuri urusan orang, sayang." Lerry memotong ucapan kekasihnya. "Kita memang bersahabat dengan Edmond. Namun kehidupan pribadinya bukan urusan kita." kata Lerry lalu menyesap anggur yang ada di gelas yang digenggamnya.


Sofia nampak kesal.


Lerry melirik pacarnya itu. "Jangan cemberut, sayang."


Sofia pun membuang tatapannya ke lain tempat. Ia tak tahan melihat bagaimana manisnya sikap Edmond kepada istrinya itu. Apalagi sekarang perempuan itu hamil. Sofia mengakui kalau Mahira gadis yang manis. Namun dia tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Monalisa.


**************


Saat acara syukuran pernikahan itu selesai, Edmond pun segera mengajak Mahira untuk pulang.


"Ed, kenapa kita tak menginap di mess saja?" tanya Mahira saat mendengar Edmond mengajaknya pulang.


"Sayang, Mess nya kecil."


"Kamu ingin tinggal di sini?"


"Sesekali kita menginap di sini kan bagus juga."


Edmond meraih tangan Mahira. "Aku renovasi dulu kamarnya ya? Setelah selesai, kita boleh sesekali menginap di sini."


"Asyik!" Mahira menunjukan ekspresi bahagia. Pada hal tujuan ia ingin tinggal di sini supaya semakin dekat dengan yang namanya Monalisa. Tadi memang saat Ed memperkenalkan seluruh tamu yang ada, Mahira tak mendengar kalau ada yang bernama Monalisa.


************


Saat mereka tiba kembali di rumah, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.


"Apakah ada sesuatu yang anda butuhkan, nyonya?" tanya Juminten.


Mahira menggeleng.


"Kalau begitu aku akan istirahat."


"Selamat malam, bi." Mahira pun segera ke kamar. Ia ingin membersihkan dirinya dan beristirahat juga. Saat ia masuk ke kamar, ia tak melihat kalau Edmond ada. Mahira mengira kalau Edmond sedang mandi. Namun kamar mandi juga kosong.


Mahira melihat kalau pintu kaca yang menuju ke kolam renang yang memang ada tepat di depan kamar mereka terbuka sedikit. Mahira akhirnya menemukan Edmond sedang berdiri di dekat kolam sambil menelepon. Entah apa yang dibicarakannya. Mahira tak mengerti karena Edmond menggunakan bahasa Spanyol. Edmond terlihat sedikit emosi bahkan nada suaranya terdengar tajam dan agak keras.


Tak ingin menganggu percakapan mereka, Mahira pun memilih untuk kembali masuk dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Hatinya bertanya. Ed menelepon siapa? Namun ia tak mau terlihat sebagai istri yang kepo. Ah, Mahira menjadi bingung.

__ADS_1


Ketika ia keluar dari kamar mandi, Edmond sudah kembali berada di kamar. Ia tersenyum melihat Mahira yang sudah menggunakan piyama tidurnya.


"Aku mau mandi juga." Kata Edmond sambil membuka kancing kemejanya satu persatu.


"Aku akan siapkan bajumu." Mahira segera melangkah menuju ke lemari. Entah mengapa, walaupun sudah sering melihat Edmond tanpa busana, namun Mahira masih saja malu jika Edmond membuka baju di hadapannya. Mahira juga malu jika harus berpakaian di hadapan Edmond. Itulah sebabnya Mahira selalu membawa baju ganti ke kamar mandi.


Saat Edmond mandi, Mahira ke dapur untuk membuatkan susu hamil baginya. Ia kemudian duduk depan meja makan untuk menikmati susunya sambil memikirkan apa yang terjadi tadi di acara syukuran.


Hanya Lerry yang menatapnya bersahabat. Sofia pacarnya Lerry terlihat tak menyukainya walaupun ia tersenyum. Angel sang sekretaris pun begitu. Angel terlihat seksi dengan rok mini dan kemeja ketat yang membungkus tubuh rampingnya. Sebenarnya Mahira tidak terlalu menyukai dandanan gadis yang pasti selalu dekat dengan Edmond itu. Apakah aku cemburu? Ah, aku bukan cemburu. Mana pernah aku mengusik dandanan orang? Tapi mengapa hatiku merasa tak menyukainya? Apakah hamil membuat seseorang menjadi posesif?


"Sedang melamun kan apa?" tanya Edmond yang sudah berdiri di belakang Mahira dan mengecup puncak kepalanya.


"Tidak!"


Edmond menarik kursi yang ada di samping Mahira dan duduk menyamping agar bisa melihat istrinya. "Kamu melamun, sayang. Ada apa?" tanya Edmond sambil membelai wajah Mahira dengan punggung tangannya.


"Tidak. Hanya saja....." Mahira menggantungkan kalimatnya. Ia menatap Edmond dengan keraguan.


"Katakan sayang. Katakan semua isi hatimu. Sejak kita pulang tadi, aku memang merasakan kalau ada yang aneh dengan dirimu."


"Ed...."


"Panggil sayang."


"Ed....!"


"Sayang."


Mahira tersenyum malu. "Sayang...."


"Nah, gitu dong. Lama-lama kamu akan terbiasa memanggilku seperti itu. Sekarang, katakan apa yang membuatmu tak tenang."


"Kenapa ya, aku merasa bahwa Sofia dan Angel nampaknya tak menyukaiku. Aku juga melihat beberapa undangan menatapku dengan aneh. Mereka saling berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bicarakan."


Edmond mengambil kedua tangan Mahira dan disatukannya dalam genggamannya. "Sofia memang begitu orangnya. Sedikit judes pada perempuan yang baru dikenalnya. Namun ia orangnya baik. Mungkin kita harus selalu bertemu agar kau mengenal Sofia. Angel juga begitu. Orang-orang yang menatapmu di sana, mereka pasti begitu penasaran. Siapa wanita yang akhirnya mengubah hidupku. Siapa.wanita yang mampu membuatku menjadi pria sebahagia ini." Edmond mencium tangan Mahira yang ada dalam genggamnya. "Aku bahagia karena tadi bisa memperkenalkan mu pada semua orang. Kau adalah istriku dan aku bahagia juga menikah denganmu."


Mahira merasa hatinya lega. Masihkah ia meragukan Edmond lagi?


"Ada apa?" tanya Edmond.


Mahira tersenyum. Ia memberanikan diri mencium pipi Edmond. Mata Edmond terbelalak. Tak menyangka kalau Mahira akan menciumnya.


"Ayo kita tidur, sayang. Aku mengantuk." ujar Mahira sambil berdiri.


"Ayo." Edmond melingkarkan tangannya di pinggang Mahira. Keduanya melangkah bersama meninggalkan ruang makan.


Juminten akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Tadi ia sebenarnya ingin minum namun tak jadi karena melihat Edmond yang mendekati istrinya. Kasihan nona Monalisa. Kata hati Juminten.


************


Selamat pagi.....

__ADS_1


dukung emak terus ya guys


__ADS_2