RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Pacaran Yuk!


__ADS_3

'Kamu keterlaluan, Ed! Kayak anak kecil saja tingkah mu. Sungguh memalukan!" Mahira memukul lengan Edmond untuk meluapkan rasa kesalnya atas apa yang sudah Edmond lakukan saat mereka makan siang tadi.


Edmond meringis, menahan sakit di lengannya. Ia mengusap lengannya dengan sebelah tangannya. "Sakit, sayang! Selama kita menikah baru kali ini kamu memukul aku."


Mahira yang pada dasarnya berhati lembut, melirik ke arah Edmond. Apakah aku sudah terlalu kuat memukul lengannya?


"Tapi aku suka menahan sakit ini karena kita bisa berduaan." lanjut Edmond membuat Mahira ingin memukulnya lagi namun dengan cepat Edmond meraih tangan Mahira dan menciumnya lembut.


"Dasar mesum!" Mahira menarik tangannya dengan wajah yang merah. Hanya ciuman di tangan saja namun seluruh permukaan kulitnya bagaikan disetrum listrik tegangan tinggi.


Edmond tertawa. Mobil mereka berhenti karena lampu merah. Edmond menatap istrinya yang nampak cemberut. Mahira membuang pandangannya ke luar jendela.


"Dulu kita menikah tanpa pacaran. Sekarang kita pacaran saja, yuk! Menunggu 2 minggu waktu yang hakim berikan."


"Aku nggak mau."


Edmond tersenyum. "Berikan aku waktu selama 2 minggu untuk kencan denganmu. Kalau ternyata aku tak bisa memenangkan hatimu lagi, aku dengan sukarela akan menandatangani surat perceraian itu."


"Tanpa ada drama?" Mahira mengangkat jari kelingkingnya.


Edmond mengaitkan jari kelingking mereka. "Tanpa ada drama, asalkan kau memberi waktu luang mu untuk bersamaku dan juga bersama Wina."


Mahira berpikir sejenak. Dua minggu pasti akan berlalu dengan cepat. Ia kemudian mengangguk. "Baiklah. Aku setuju."


Edmond tersenyum senang. "Dua Minggu mulai esok hari. Aku akan mulai dengan menjemputmu saat pergi dan pulang kerja."


"Baiklah. Sekarang antar aku kembali ke tempat kerja karena jam istirahat makan siang ku sudah habis."


"Dengan senang hati, sayang." Edmond nampak bahagia. Ia yakin, 2 minggu ini akan berhasil memenangkan hati Mahira. Setelah ia mengantarkan istrinya itu kembali ke kantor, ia pun segera menuju ke perusahaan milik keluarganya. Edmond ada zoom meeting dengan Lerry dan beberapa pegawai jam 2 siang ini.


***********


Edewina menemukan sebuah foto di laci nakas dalam kamar. Foto yang berisi gambar dirinya bersama Mahira dan Edmond. Di foto itu Edewina nampak sedang duduk di pangkuan Edmond sedangkan Mahira duduk di samping Edmond sambil membaringkan kepalanya di bahu Edmond.


Kepala Edewina tiba-tiba merasa sakit. Ia seperti mengingat sesuatu. Ada suara tawa, sepertinya ia sedang berenang di kolam. Ia juga melihat Edmond ada di sana.


"Wina.....!" terdengar suara Melly yang memanggilnya. Pintu kamar terbuka. "Wina sayang....!"


Edewina menoleh ke arah pintu. "Tante Melly. Mengapa foto om Edmond ada di sini. Mengapa aku terlihat bahagia di peluk om Edmond? Sebenarnya om Edmond ini siapa?"


Melly bingung mau menjawab apa. Ia tahu kalau ingatan Wina mulai terbuka. Namun buka haknya untuk mengatakan siapa Edmond.


"Di luar ada om Edmond, kenapa Wina tak menanyakan sendiri saja?"


"Om Edmond datang?" Edewina langsung berlari keluar kamar. Ia melihat Edmond sudah duduk di ruang tamu dan di atas meja ada sebuah kantong belanja.


"Hallo Wina sayang....!" Edmond tersenyum melihat Edewina.


"Hallo om!" sapa Wina lalu mendekat. Ia menunjukan foto yang dipegangnya. "Ini om Edmond kan?"


Hati Edmond bergetar melihat foto itu. "Iya."


"Kok Wina dipeluk oleh om bukan mami."


"Kerena dulu Wina sangat dekat dengan om."


"Kok Wina nggak ingat?"


Edmond mengusap kepala Wina. "Suatu saat nanti Edewina akan ingat. Karena kita punya nama yang sama. Edewina Moreno dan Edmond Moreno."


Wina mengerutkan dahinya. "Kok bisa sama?"


"Karena om adalah papinya Wina."


"Papi?"


"Iya. Papi. Temannya mami."

__ADS_1


"Kayak papa? Temanku ke sekolah selalu diantar oleh papanya."


Edmond mengangguk.


Wina diam sejenak. Lalu ia memegang kepalanya. Edmond jadi panik. Ia tahu kalau Wina tak boleh terlalu banyak berpikir. Dokter mengatakan bahwa biar ingatan Edewina kembali secara alami. Jangan terlalu dipaksa.


"Ada apa, nak?"


"Kepala Wina sakit."


Edmond langsung meraih tubuh Wina dan mendudukan di pangkuannya. Ia membelai pipi Wina. "Mau dengar cerita lucu nggak?" tanya Edmond berusaha mengalihkan perhatian Wina.


"Boleh."


Dan Edmond pun mulai bercerita. Wina awalnya tertawa namun lama-kelamaan gadis itu sudah bersandar di dada Edmond. Gadis itu sepertinya tertidur.


"Wina memang tak tidur siang hari ini. Aku pikir ia merasa tak enak badan." Ujar Melly saat ia datang ke ruang tamu dan melihat Edewina sudah tertidur di pangkuan Edmond.


"Badannya memang agak hangat. Apakah dia demam?"


Melly memegang dahi Wina. "Sepertinya Wina memang agak demam. Aku telepon Mahira saja."


"Jangan! Aku tahu menangani kalau Wina demam. Dulu jika Wina sakit, dia hanya mau bersamaku."


Melly mengangguk.


Edmond pun membawa Wina ke kamar. Secara perlahan ia membaringkan Wina di atas tempat tidur. Saat Edmond akan beranjak dari ranjang, ia mendengar suara Wina yang memanggilnya.


"Papi....papi......, papi di mana?"


Edmond tahu kalau Edewina mengigau. Ia pun membelai rambut putrinya itu. "Papi di sini sayang. Papi tak akan meninggalkanmu."


Setelah Edewina tertidur kembali, Edmond segera keluar. Ia membuatkan ramuan untuk Edewina minum. Ramuan yang biasa dibuatkan olehnya ketika Edewina sakit.


Setelah itu, ia pun menyiapkan makan malam. Biasanya kalau sakit, Edewina paling malas makan nasi. Ia akan makan sup yang Mahira siapkan dan Edmond sudah belajar membuat sup itu. Melly membantu Edmond menyiapkan bahan-bahan nya.


"Namanya juga anak-anak. Siapa sih yang tak pernah mandi hujan?" ujar Edmond sambil tersenyum. Ia tahu kalau Melly sudah tulus menjaga anaknya dan ia tak mau perempuan itu merasa bersalah.


Tak lama kemudian, Mahira pulang. Melly pun pamit pulang ke rumahnya. Ia dengan sengaja ingin membiarkan mereka bertiga saja.


Mahira yang mendengar kalau Wina demam tak merasa cemas. Ia tahu Edmond sangat cekatan dalam merawat Wina. Ia pun segera mandi dan berganti pakaian. Ia menggunakan sebuah daster rumahan yang membuat perutnya mulai kelihatan.


Saat Edmond melihat ke perut Mahira, ingin rasanya ia membelai perut itu..Seperti dulu ketika Mahira hamil Edewina.


"Wina masih tidur?" tanya Edmond.


"Iya."


"Aku sudah membuatkan susu hamil untukmu. Minumlah. Aku akan membangunkan Wina supaya ia bisa memakan sup nya saat masih hangat." Edmond segera ke kamar. Dan ia tersenyum melihat Wina yang sudah bergerak.


"Wina sayang, makan dulu yuk!" ajak Edmond sambil duduk di pinggir tempat tidur.


"Wina nggak mau. Leher Wina sakit kalau mau menelan makanan."


"Wina akan makan sup."


"Wina nggak mau sup!"


Edmond mengangkat tubuh Wina dan menggendongnya. "Wina coba dulu. Kalau nggak suka jangan di makan. Kalau Wina makan banyak, besok kita bisa beli es cream."


"Benarkah?" Mata Wina berbinar.


"Iya, sayang." Keduanya pun keluar kamar.


Mahira melihat bagaimana Edmond menyuapi Wina sambil menggendongnya.


"Enak. Wina suka." kata Edewina membuat Edmond tersenyum.

__ADS_1


"Habiskan ya?"


Edewina mengangguk.


Hati Mahira menjadi tersentuh. Sekalipun Wina belum mengingat siapapun selain dirinya namun Wina terlihat mulai lengket kembali dengan Edmond. Ia bahkan tak menolak meminum ramuan obat yang Edmond buatkan. Setelah itu Edmond dan Wina duduk di ruang tamu.


"Mami.....!" panggil Wina


Mahira yang baru selesai mencuci peralatan makan yang Wina gunakan segera ke ruang tamu.


"Ada apa, sayang?"


"Om Edmond jangan pulang, ya? Om Edmond bobo di sini saja."


"Sayang, om Edmond nggak bawa baju ganti." Edmond terkejut mendengar permintaan Wina. Begitu juga Mahira.


"Sayang, nanti besok om Edmond kembali lagi ke sini." bujuk Mahira.


"Nggak mau! Wina mau bobo bersama om Edmond dan mami." tegas Wina sambil memasang wajah cemberut.


Dalam hati Edmond tersenyum. Tidur di kamar yang sama? Wah, kebetulan sekali.


"Tapi sayang, mami pasti nggak akan suka jika om Ed tidur di sini." Edmond melirik ke arah Mahira yang nampak melotot ke arah Edmond.


"Mami akan suka. Wina mau om Edmond di sini. Wina nggak mau om Edmond pulang." Wina semakin cemberut.


Mahira memberikan kode agar Edmond menolak. Namun Edmond pura-pura tak memperhatikan.


"Om Ed akan telepon asisten om Ed dulu untuk membawakan baju ganti." ujar Edmond membuat Wina bersorak gembira.


2 jam kemudian......


Edewina sudah tertidur lelap. Tangan kirinya memegang tangan maminya dan tangan kanannya memegang tangan Edmond.


"Kamu sengaja meminta Wina untuk tidur di sini kan?" ujar Mahira sambil menatap Edmond sinis saat dirasakannya kalau Wina sudah terlelap.


"Nggak. Aku kaget juga saat Wina ingin aku tinggal. Walaupun memang aku senang juga." Edmond mengedipkan sebelah matanya. "Aku kangen tidur bertiga seperti ini, sayang."


"Cih!" Mahira mengerucutkan bibirnya.


"Jadi pingin cium kamu."


"Coba saja kalau berani!"


"Sejak kapan aku takut?" Edmond melepaskan tangan Wina secara perlahan. Ia bermaksud akan pergi ke sisi Mahira namun perempuan itu buru-buru bangun.


"Kamu jangan gila, Ed!"


"Aku memang tergila-gila padamu, sayang? Kita kan sedang kencan. Apa salahnya jika saling berciuman."


"Edmond!" Mahira langsung turun dari te.oat tidur. Ia sungguh melihat mata Edmond yang berkabut gairah itu.


Edmond ikut turun dari tempat tidur. Ia mendekati Mahira yang akan keluar kamar namun dengan cepat Edmond berhasil menghadang langkahnya. Keduanya saling bertatapan. Napas keduanya naik turun.


"Kamu mau apa?" Mahira jadi takut.


"Aku ingin bercinta!"


"Orang yang kencan tidak bercinta."


Edmond melingkarkan tangannya di pinggang Mahira, sedangkan tangan yang lain membelai wajah Mahira. "Kalau di posisi kita. berdua, bercinta saat berkencan tak dilarang."


************


Edmond sudah sangat ingin menyentuh Mahira. Kira-kira berhasil nggak ya???


selamat membaca

__ADS_1


__ADS_2