RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Istri Wakil Direktur


__ADS_3

Selesai makan siang bersama, Edmond dan Lerry kembali ke perusahaan sedangkan Mahira memilih untuk ada di rumah dan menemani Wina untuk tidur siang. Edmond tak membawa mobilnya lagi dan memilih naik mobil Lerry untuk kembali ke perusahaan.


Mahira sengaja tak pergi karena ia akan menyelidiki Edmond.


"Bi, tolong jaga Wina sebentar ya? Aku mau ke minimarket yang ada di ujung jalan masuk. Ada sesuatu yang aku mau beli."


"Baik, nyonya. Tapi nyonya mau naik apa?"


"Naik mobil."


"Saya panggil sopir?"


"Nggak perlu. Aku bisa bawa mobil sendiri."


Mahira mengambil kunci mobil Edmond yang digantung di dekat pintu kamar. Setelah itu ia mengganti pakaiannya dengan celana jeans dan kaos polos berwarna biru. Perlahan ia pun meninggalkan kompleks mess. Mahira sengaja ikut jalan keluar yang tidak melewati kantor perusahaan agar Edmond tak melihatnya. Ia yakin kalau Edmond dan Monalisa pasti janjian.


Saat melewati perkebunan kelapa sawit, Mahira ingat kalau ada jalan setapak. Ia pun membelokan mobil ke jalan setapak itu dan menunggu di sana.


Hampir setengah jam menunggu, Mahira melihat mobil Honda Civic milik Monalisa melewati jalan itu. Karena kaca mobil itu agak terang, Mahira bisa melihat kalau di dalam mobil itu Monalisa hanya sendiri. Namun, baru saja Mahira akan menjalankan mobilnya, ia melihat kalau mobil Lerry juga lewat. Namun Edmond yang membawa mobil itu dan bukan Lerry karena kaca mobilnya terbuka. Setelah merasa mobil itu sudah agak jauh, Mahira pun keluar dari tempat persembunyiannya dan mengikuti mobil Lerry dari jarak aman.


Mobil itu melewati minimarket yang ada di persimpangan jalan. Mahira semakin penasaran, kemana Edmond akan pergi. Ternyata mobil itu belok ke sebuah rumah yang ada di pinggir jalan. Sebuah rumah yang lumayan besar. Dan jantung Mahira langsung berdetak sangat cepat saat ia melihat mobil merah milik Monalisa sudah ada di sana.


Edmond nampak keluar dari mobil. Ia kemudian masuk ke dalam rumah itu.


Mahira menghubungi ponsel Edmond. Ia pikir tak aktif atau Edmond tak akan mengangkatnya namun ternyata Edmond mengangkatnya. Memang sudah dua tahun Mahira dan Edmond memakai nomor selular yang lain agar bisa digunakan di daerah sekitar perusahaan.


"Hallo sayang....!" Sapa Edmond. Manis seperti biasanya.


"Ed, kamu masih di perusahaan?"


"Nggak. Aku keluar sebentar."


"Nggak bawa mobil?"


"Aku bawa mobil Lerry."


"Oh, kemana?"


"Ada penduduk yang mau menjual ladang mereka. Makanya aku datang mengeceknya."


"Oh...., sendiri?"


"Iya."


Mahira menahan sakit di dadanya. Edmond bohong.


"Ya, sudah. Semoga sukses ya?"


"Iya. I love you baby."


"I love you too!" balas Mahira walaupun ia merasa jijik saat mengucapakan kalimat itu. Edmond brengsek! Apa yang akan ia lakukan bersama Monalisa di rumah itu?


Mahira akan perlahan meninggalkan tempat itu. Hatinya hancur. Namun ia tak mau merasa terpuruk. Ia menghapus air matanya. Mobil ia belokan ke minimarket. Ia harus membeli sesuatu agar Juminten dan Tika tak curiga.

__ADS_1


Namun sementara ia memilih barang apa yang harus di belinya, ia terkejut saat sebuah tangan melingkar di bahunya.


"Sayang....!"


Mahira menoleh dengan kaget saat melihat Edmond berdiri di belakangnya.


"Ada apa? Mengapa wajahmu seperti itu? Seperti aku adalah hantu saja." Edmond menatapnya heran.


"Aku....., aku....., bukankah tadi kamu bilang kalau sedang keluar?"


Edmond tersenyum. "Kan hanya cek lokasi jadi nggak lama. Aku lewat dan melihat mobil kita ada di depan."


"Oh gitu ya?" Mengapa Edmond bisa menyusul aku ke sini? Apakah urusan nya dengan Monalisa sudah selesai? Rasanya belum setengah jam aku meninggalkan tempat itu.


"Ada apa sayang? Kau memikirkan sesuatu?"


Mahira menggeleng. "Aku mau belanja dulu."


"Aku akan menemanimu."


"Nggak masalah aku sendiri, Ed. Lagi pula kamu harus kembali ke kantor kan?"


Edmond melingkarkan tangannya di bahu Mahira. "Bagaimana mungkin aku meninggalkan istriku sendiri? Kamu tahu kalau aku pria yang posesif kan?"


Posesif tapi kamu baru saja bertemu dengan Monalisa. Aku harus menyelidiki tentang rumah itu.


Edmond menemani Mahira sampai istrinya itu selesai belanja. Saat mereka keluar dari minimarket itu, seorang sopir perusahaan sudah menunggu mereka.


************


Sofia melangkahkan kakinya memasuki kantor. Ia terkejut saat merasakan ada yang berbeda. 2 hari memang ia tak masuk kerja karena kurang sehat dan ia terkejut melihat penampilan kantor yang baru.


"Ada acara apa di kantor? Mengapa semuanya terlihat berbeda?" tanya Sofia kepada Dewi.


"Tak ada acara apa-apa, nona. Hanya saja nyonya Moreno memerintahkan agar kantor ini ada perubahan. Makanya ada banyak bunga di sini. Tirai jendelanya juga diganti dan kami pegawai mendapatkan seragam yang akan mulai kami pakai setiap Senin dan Kamis. Para pegawai nampak senang karena mendapatkan baju baru."


"Baju seragam?"


"Iya."


Sofia nampak kesal. Lagi-lagi ada pengeluaran semacam itu dan ia tak tahu sebagai orang yang terlibat dalam pengeluaran perusahaan. Ia pun menuju ke ruangan Lerry. Saat ia akan masuk ke lift, ia mencium aroma kopi yang menenangkan. Matanya tertuju pada sebuah benda berbentuk segi empat yang panjangnya sampai ke pinggang orang dewasa. Pasti dari benda itu bau kopi itu tercium.


Ia tak memperdulikan semua perubahan itu dan masuk ke dalam lift sambil menekan tombol dengan kasar dan kesal.


Saat ia keluar dari lift dan menuju ke ruangan Lerry, dari jauh ia sudah mendengar tawa Lerry dan seorang wanita.


"Siapa?" tanya Sofia pada Angel.


"Biasa. Nyonya wakil direktur. Ia bertindak seolah-olah adalah penguasa kantor ini sehingga isi laptopku pun harus diperiksa olehnya." kata Angel dengan nada tak suka.


"Apa? Sungguh kantor ini sudah gila karena kehadiran perempuan itu." Sofia langsung ke ruangan Lerry. Pintu ruangan sang direktur tak dikunci. Dan ia menemukan Lerry sedang duduk santai, berdua dengan Mahira sambil menikmati secangkir kopi.


"Hallo, sayang. Apakah aku menganggu?" tanya Sofia saat masuk.

__ADS_1


"Tidak. Aku dan Mahira hanya menikmati kopi sambil menunggu Edmond yang sedang ke toilet. Ada apa?" tanya Lerry tanpa berdiri dan menyambut Sofia dengan ciuman dan pelukan seperti biasanya.


"Aku mau tanya menyangkut perubahan yang ada di kantor ini."


"Bagus kan? Aku suka dengan nuansa yang Mahira ciptakan. Kantor menjadi lebih sejuk dan segar."


Sofia tak suka dengan ekspresi wajah Lerry. Kekasihnya sudah beberapa kali memuji Mahira.


"Tapi kan aku berhak tahu pengeluaran apa yang terjadi termasuk juga dengan pemberian seragam."


Edmond masuk. Ia mendengar keluhan Sofia.


"Aku dan Lerry yang menanggung semua pengeluaran ini. Tak mengambil keuangan perusahaan." ujar Edmond lalu mendekati istrinya.


"Tapi kan....." Sofia menjadi malu saat tahu kalau pengeluaran itu tak diambil dari uang perusahaan.


"Sudahlah, Sofia. Sekalipun itu diambil dari uang perusahaan, aku tak keberatan. Ide Mahira sungguh cemerlang sehingga menimbulkan suasana berbeda di kantor ini." ujar Lerry lalu kembali ke meja kerjanya.


"Sayang, ayo ke ruangan ku!" ajak Edmond sambil menggenggam tangan istrinya.


"Baiklah." Mahira tersenyum penuh kemenangan. Ia melirik ke arah Sofia yang nampak masih kesal.


Ketika Edmond dan Mahira keluar, Sofia mendekati meja kerja Lerry.


"Kenapa perempuan itu nampak sangat berkuasa di kantor ini?" tanya Sofia.


"Wajarlah. Dia adalah istri salah satu pimpinan di sini. Istri wakil direktur. Lagi pula apa yang dibuatnya sangat baik." jawab Lerry sambil mulai menyalakan laptopnya.


"Sayang, aku merasa kau menyukai perempuan itu."


"Namanya Mahira. Jangan kau berbicara seolah-olah dia perempuan yang tak kau kenal. Sekarang aku ingin kerja."


"Lerry!"


"Please, sayang. Jangan ganggu aku ya?"


Sofia meninggalkan ruangan Lerry dengan kesal. Ia segera menghubungi Monalisa.


"Jalankan rencana kita, Ica. Mahira harus disingkirkan. Aku bahkan merasakan kalau Lerry pun menyukainya. Segera tunjukan bukti bahwa Edmond masih milikmu!" ujar Sofia. Lalu menuju ke ruangannya.


Perempuan itu melangkah tanpa tahu kalau dibelakangnya ada Mahira yang baru saja keluar dari toilet. Mahira menemukan fakta yang baru. Edmond dan Monalisa masih bersama. Sabar Mahira. Sesakit apapun kenyataan itu, kau harus siap menerimanya. Mahira bergumam dalam hati. Ia pun kembali ke ruangan Edmond. Ia siap mencari lebih banyak bukti lagi.


************


Selamat pagi


selamat beraktifitas


Selamat berpuasa


Jangan lupa dukung emak ya guys


Episode berikut, Mahira akan menemukan Edmond berdua bersama Monalisa...

__ADS_1


__ADS_2