RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
3-1


__ADS_3

Saat jam makan siang, Mahira terkejut melihat ada makanan yang sudah disiapkan untuknya.


"Siapa yang mengirimnya?" tanya Mahira pada pelayan yang mengenakan pakaian dengan cap restoran yang terkenal di Manado ini.


"Tuan Edmond Moreno."


"Terima kasih."


Mahira menatap makanan yang jumlahnya lumayan banyak itu. Ponselnya berbunyi. Ternyata panggilan dari Edmond.


"Hallo sayang....!" sapa Edmond.


"Ada apa, Ed?" Suara Mahira berusaha dibuatnya sedatar mungkin agar Edmond tak tahu bahwa ia bergetar mendengar panggilan sayang itu.


"Makan siangnya sudah diterima?"


"Porsinya kebanyakan"


"Kan untuk bertiga."


"Bertiga?"


"Hai....sayang...!"


Mahira menoleh ke arah pintu. Edmond sedang berdiri di sana sambil tersenyum manis. Ia melangkah masuk sambil menyimpan hp di kantong celananya.


"Aku tahu kalau hari ini kamu sibuk. Makanya aku pesan makan siang untukmu, untuk anak kita dan juga untuk aku."


Mahira mencibir. "Sok perhatian!"


"Memangnya salah kalau suami memberikan perhatian pada istri dan calon anaknya?" tanya Edmond lalu mulai membuka satu persatu penutup makanan yang ada.


"Nggak sih."


Edmond mendekat dan tanpa diduga, ia mencium puncak kepala Mahira.


"Ed..., nanti dilihat teman-temwn sekantorku." Mahira melotot tapi Edmond hanya tertawa.


"Gemes aku sama kamu. Aku sampai susah tidur semalam karena gagal."


"Jangan bicara mesum di sini."


"Terus di mana?" tanya Edmond dengan wajah polosnya.


"Tahu ah....!" Mahira jadi kesal sendiri. Ia langsung menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Lalu segera duduk di depan meja. Edmond pun mencuci tangannya juga.


"Wah, sedang makan siang? Pada hal aku baru akan mengajak makan siang." Jun tiba-tiba saja muncul membuat Edmond yang baru akan memasukan makanan ke dalam mulutnya jadi berhenti.


"Jun, ayo makan!" ajak Mahira tak memperdulikan wajah protes Edmond yang sebenarnya ingin berdua dengan istrinya itu.


"Beneran nih? Aku memang sudah sangat lapar. Tadi pagi nggak sempat sarapan." Jun pun masuk dan langsung duduk di hadapan Edmond dan Mahira.


"Pak Edmond Moreno, anda tak keberatan kan jika aku ikut gabung makan siang?" tanya Jun.


"Tentu saja tidak. Kita wajib berbagi pada orang yang memang berkekurangan." kata Edmond sedikit menyindir membuat Jun mengumpat dalam hati namun tak ditunjukannya.

__ADS_1


"Sayang, tambah lagi sayurnya. Sayur kan bagus untuk ibu hamil." Edmond berusaha menunjukan pada Jun bahwa ia lebih berhak bersama Mahira.


Mahira hanya tersenyum walaupun sebenarnya ia tak terlalu suka dengan sayur bayam.


"Mahira, bagaimana apakah sudah membaca fail yang aku kirimkan di email mu?" tanya Jun sambil mulai menikmati makanannya.


"Sudah. Besok pasti sudah selesai. Terima kasih atas kepercayaanmu memasukan aku ke tim kerja ini." ujar Mahira dengan wajah gembira.


"Kamu memang pintar Mahira." puji Jun membuat Edmond mulai cemburu. Ia berusaha menyela percakapan mereka namun Jun dengan cepat menguasai percakapan.


Hal romantis yang Edmond harapkan tercipta saat mereka menikmati makan siang akhirnya jadi berantakan karena kedatangan Jun.


Jarum jam sudah menunjukan pukul setengah dua siang. Ponsel sekretaris Edmond melakukan panggilan dan meminta dia kembali ke perusahaan karena ada tamu dari Singapura. Dengan terpaksa Edmond harus pergi.


"Sayang, aku pergi dulu ya. Nanti sore aku jemput ya?" ujar Edmond lalu segera pergi. Jun pun pamit kembali ke ruangannya, di depan lobby ia mendekati Edmond.


"Satu sama." ujarnya lalu berbelok ke ruangan sebelah kiri.


Edmond awalnya tak mengerti namun ia akhirnya tahu kalau Jun sengaja membalas perlakuan Edmond yang menganggu acara makan siang dirinya bersama Putri dan Mahira saat pria itu berhari ulang tahun.


************


Edmond dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Waktu sudah menunjukan pukul 4 lewat 20 menit dan jam pulang kantor Mahira adalah setengah lima sore.


Sambil tersenyum Edmond menuju ke tempat parkir. Namun alangkah terkejutnya ia saat melihat kalau semua ban mobilnya kempes.


"Sial....! Kenapa bisa kempes empat bannya?" Edmond jadi heran. Saat ia mengeluarkan hp nya, benda pipih itu ternyata kehabisan baterai. Ia pun memanggil satpam.


"Tolong pesan taxi untukku. Aku harus mengejar waktu. Ban mobilku kempes semuanya. Aku akan tinggalkan kuncinya dan kamu segera hubungi bagian tambal ban." Edmond menyerahkan kunci dan mengeluarkan uang pecahan seratus ribu sebanyak 3 lembar.


"Anggaplah rejeki mu."


Satpam itu tersenyum senang dan langsung memesan taxi untuk bosnya.


Di tempat kerja Mahira.....


"Mau pulang?" tanya Jun yang melihat Mahira masih berdiri di depan lobby.


"Iya."


"Ayo aku antar pulang!" Jun turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil bagi Mahira.


"Aku...."


"Sebentar lagi hujan."


Mahira menatap jam tangannya. Sudah hampir jam setengah enam. Ia sudah menelepon Edmond namun ponsel Edmond tak aktif. Tadi Melly menelepon dan meminta Mahira untuk cepat pulang karena Edewina mengeluh sakit kepala lagi.


"Baiklah." Mahira pun akhirnya masuk ke dalam mobil Jun.


Saat mobil Jun meninggalkan halaman parkir kantor Mahira, taxi yang membawa Edmond memasuki gerbang.


"Selamat sore. Ibu Mahira masih ada?" tanya Edmond pada satpam saat melihat kantor yang sudah sepi.


"Ibu Mahira baru saja pergi dengan tuan Jun."

__ADS_1


Perkataan sang satpam membuat Edmond langsung terbakar cemburu. Ia masuk kembali ke dalam taxi dan meminta sang sopir untuk mengantarnya ke rumah Mahira.


Begitu Edmond tiba, ia melihat kalau mobil Jun masih ada di sana. Dan saat Edmond memasuki halaman rumah, Jun pun keluar ditemani Mahira.


"Terima kasih atas kopinya, ya. Sampai jumpa besok di kantor. Selamat sore." pamit Jun.


"Selamat sore." Mahira membalas Salam dari Jun. Edmond dan Jun pun saling berpapasan di halaman.


"Tiga-satu." bisik Jun saat melewati Edmond. Pria tampan itu segera masuk ke dalam mobilnya, dan hujan pun turun.


"Om Edmond....!" Edewina langsung berlari dan memeluk Edmond saat melihat pria itu masuk bersama maminya.


Mahira sendiri segera menunju ke kamar karena ia ingin mandi. Mahira tahu kalau Edmond dalam mode cemburu dan dia tak ingin menanggapi nya karena salah Edmond sendiri yang tak memberi kabar padanya.


Selesai mandi dan ganti pakaian, Mahira ke dapur dan terkejut melihat Edmond yang sedang menyuapi Edewina.


"Mami, Wina sudah lapar dan om Edmond membuat telur dadar untuk Wina. Om Edmond juga pinjam cargernya mami karena hp om Edmond kehabisan baterai." Wina menunjukkan hp Edmond yang ada di atas meja pantry.


Apakah hp Edmond tak bisa dihubungi karena kehabisan baterai? Salahnya sendiri. Kenapa nggak menggunakan ponselnya yang lain? Dia kan suka punya ponsel rahasia.


Mahira mencoba menghilangkan rasa bersalah dalam hatinya karena pulang dengan Jun. Ia menggulung rambutnya dan memakai appron, lalu mulai menyiapkan makan malam. Untungnya Melly sudah menyiapkan semua bahannya sehingga Mahira tinggal masak saja.


Edewina yang sudah selesai makan segera ke ruang tamu untuk menonton film kartun kesukaannya. Edmond pun mencuci piring yang tadi di pakai oleh Edewina. Ia kemudian mengeringkan tangannya dan berdiri di dekat Mahira.


"Mengapa tak menunggu aku?" tanya Edmond.


Mahira yang sementara menumis sayur melirik sekilas ke arah Edmond. "Ponselmu tak bisa dihubungi."


"Baterainya low. Aku lupa mengisi dayanya karena terlalu asyik bekerja. Seharusnya kamu tunggu aku. Kan kamu tahu, aku kalau janji akan datang pasti aku datang."


"Maaf."Mahira memilih mengalah dari pada harus berdebat dengan Edmond yang kalau cemburu, ajak sehatnya kadang tak jalan.


"Maafnya nggak tulus."


Mahira melirik kembali ke arah Edmond. Tangannya masih bekerja mengaduk-aduk sayur yang ada. "Jadi aku harus bagaimana, Ed?"


Edmond mendekat lalu memutar tuas kompor sehingga apinya mati.


"Ed....!" Mahira kaget saat tangan Edmond sudah melingkar di pinggangnya. "Ka...kamu, mau apa?"


"Kita kan sepakat akan kencan mulai malam hari ini. Dan aku ingin kencan seperti orang barat."


"Ma.... maksudnya?" Kalimat Mahira mulai tersendat-sendat karena Edmond semakin memangkas jarak diantara mereka.


"Kita akan mengahiri kencan di hari ini di kamar tamu. Setelah Edewina tidur." kata Edmond sedikit berbisik lalu tanpa di duga, ia mengecup bibir Mahira. Kemudian ia melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang istrinya, mengusap perut Mahira sebentar lalu berjalan menuju ke ruang tamu untuk menemani Wina menonton Tv.


"Dasar mesum!" umpat Mahira lalu menyalahkan lagi kompornya. Namun entah mengapa, hatinya jadi berbunga-bunga. Ada apa dengan diriku ini? Apakah aku merindukan juga sentuhannya?


***********


Selamat malam


maaf ya emak up nggak tentu jamnya


semuanya karena emak sibuk....

__ADS_1


Semoga suka. Jangan lupa dukung emak ya guys


__ADS_2