
Mahira menatap perutnya melalui cermin besar yang ada di depannya. Usia kandungannya kini memasuki bulan kelima dan perutnya kini mulai kelihatan membesar. Mahira bahkan sering merasakan ada sesuatu yang bergerak di dalam perutnya.
Baju-baju hamil yang Mahira miliki semuanya dibeli oleh Edmond. Ia bahkan sudah tak sabar membeli baju bayi. Namun Mahira mengatakan nanti saja kalau kandungannya sudah berusia 7 bulan.
Pintu kamar dibuka dari luar. Ternyata Edmond yang masuk. Ia langsung tersenyum melihat Mahira.
"Hallo Ed." Sapa Mahira sambil tersenyum. Edmond terlihat lelah.
"Hallo sayang." Edmond mendekat lalu segera memeluk Mahira dan mencium bibir istrinya. Setelah itu, Edmond agak membungkuk dan mencium perut Mahira. "Hallo anak papi. Apa kabarnya? Hari ini nggak membuat mami kesulitan kan?"
"Dia sudah mulai bergerak, Ed. Walaupun masih gerakan-gerakan kecil namun sangat membuat aku senang."
"Oh, ya? Senang mendengarnya. Apa aku bisa merasakan juga kalau ia bergerak?"
"Mungkin tak lama lagi. Saat ia bergerak, akan ada tandanya di perutku."
Edmond kembali memeluk Mahira. "Aku capek sekali. Hampir saja aku mengalah dan ingin tidur di mess saja. Namun aku nggak mau kalau kamu merasa kesepian."
"Lain kali kalau capek, tidur saja di sana. Kan aku di sini ada bibi Juminten yang menemani."
Edmond mengacak rambut Mahira. "Mana bisa aku tidur tanpa kamu? Aku mau bobo sebentar ya? Bangunkan aku satu jam lagi untuk makan malam. Besok pekerjaanku masih banyak. Aku mungkin akan pulang agak malam besok." kata Edmond sambil melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Ia membuka jas dan kemeja birunya. Ia bahkan membuka celana yang dipakainya dan hanya menggunakan boxer. Edmond melangkah ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan membasuh wajahnya. Setelah itu, hanya dengan mengenakan boxer, Edmond pun tertidur.
Mahira kasihan melihat Edmond yang setiap hari harus bolak balik dari rumah ke tempat kerjanya. Edmond juga harus menyetir sendiri dengan jarak 2 jam. Entah mengapa Ed tak mau menggunakan sopir.
Melihat Edmond yang nampaknya langsung terlelap, Mahira pun mengambil selimut dan langsung menyelimuti tubuh suaminya itu yang hampir tanpa busana itu.
Edmond memang sudah terbiasa tidur hanya dengan menggunakan boxer. Ia bahkan lebih suka tidur tanpa menggunakan apapun. Edmond pernah mengatakan pada Mahira, kulit juga butuh kebebasan setelah seharian ditutupi dengan pakaian yang tebal dan ketat. Dan Edmond memang terlihat sangat nyenyak jika ia tidur seperti ini.
Mahira segera ke dapur. Sebenarnya ia dan bibi Juminten sudah sejak tadi selesai menyiapkan makan malam.
"Apakah mejanya akan saya siapkan, nyonya?" tanya Juminten.
"Jangan dulu, bi. Edmond masih tidur. Ia kelihatan sangat capek."
"Tuan memang seorang warkaholic. Di awal-awal tuan membangun perusahaan itu, ia dan tuan Lerry hampir setiap hari tidur sudah subuh. Makan saja hampir selalu harus disuapi oleh nona Monalisa. Eh...." Juminten menutup mulutnya sendiri karena ia kelepasan bicara juga.
"Bi, nggak usah takut aku cemburu saat membicarakan tentang Monalisa. Aku sudah tahu kok tentang dia. Berarti dia sangat perhatian sama Ed, ya? Aku ingin tahu apa saja yang Monalisa biasa lakukan, yang membuat Ed jadi nyaman. Aku juga ingin tahu tentang pekerjaan Edmond sehingga bisa menjadi istri yang baik untuknya. Aku janji, tak akan pernah mengatakan pada Edmond kalau bibi yang menceritakan ini semua padaku." Mahira memegang tangan Juminten. Tatapan matanya penuh permohonan. Juminten yang selama ini sudah melihat kebaikan hati Mahira, akhirnya pun bicara.
"Sebenarnya perusahaan itu dibeli oleh tuan Edmond dan tuan Lerry saat hampir bangkrut. Setahu bibi, tuan Lerry, tuan Edmond, nona Monalisa adalah orang yang pertama kali membeli perusahaan itu. Kalau nona Sofia datangnya belakangan. Nanti setelah perusahaan itu bangkit barulah nona Sofia datang. Mereka berempat selalu berdiskusi di mess. Tuan Lerry adalah direkturnya, tuan Edmond wakil direkturnya. Nona Monalisa, nggak tahu juga apa kedudukannya namun terlihat sebagai orang penting juga. Soalnya setiap bibi mendengar mereka berbicara di mess, selalu meminta pendapat nona Monalisa. Nona Monalisa memang nggak terlalu pintar memasak namun dia sangat pintar membuat kue. Tuan Edmond sangat menyukai kue buatan nona Monalisa. Itu saja yang bibi tahu, nyonya."
Mahira tersenyum. Berusaha bersikap biasa namun hatinya bertanya. Bukankah Edmond tak suka dengan sesuatu yang manis? Jadi kue apa yang tak manis rasanya?
"Bi, kue apa yang biasa dibuat Monalisa?"
"Bibi nggak tahu namanya. Kue dari luar negeri kayaknya. Kan nona Monalisa adalah orang Spanyol. Bibi sering mendengar tuan Ed dan nona Monalisa berbicara dalam bahasa Spanyol."
"Oh iya. Saya juga tahu kalau Monalisa asalnya dari Spanyol. Makasi ya bi. Aku akan mencari di internet kue yang berasal dari luar negeri itu. Nanti aku dan bibi praktek untuk membuatnya bersama. Ini akan menjadi kejutan untuk Edmond."
__ADS_1
Juminten hanya tersenyum sambil mengangguk. Setiap hari, ia semakin kagum dengan sifat Mahira. Walaupun ia masih muda, namun Mahira selalu bersikap dewasa. Ia bukanlah jenis perempuan yang selalu menghabiskan uang suami untuk menyenangkan dirinya sendiri. Setiap kali ia mengajak Juminten keluar, Mahira hanya belanja untuk keperluan dapur. Ia bahkan lebih suka pergi ke pasar tradisional. Mahira bisa tertawa lepas bersamanya. Tak jarang, Mahira menggandeng tangan Juminten dan menganggapnya seperti sahabatnya sendiri. Juminten merasa bahwa Mahira tak seburuk seperti yang orang bicarakan selama ini.
"Bi, besok pagi kita bersiap untuk pergi ya? Kita akan ikut Edmond ke sana."
"Wah, benarkah? Bibi sudah rindu dengan cucu bibi."
"Bibi punya cucu?"
"Anak tertua bibi juga kerja di tempat produksi minyak kelapa. Kami tinggal bersama di mess karyawan yang ada di rumah susun itu."
"Oh, gitu ya?"
"Apa tuan Edmond sudah tahu kalau kita akan ikut?"
"Belum. Aku ingin membuat kejutan padanya. Bibi siapkan saja bahan-bahan makanan yang akan kita bawa ke sana."
"Baik, nyonya." bibi mengangguk walaupun ia agak takut dengan kepergian Mahira ke sana.
*************
Edmond yang baru selesai mandi, terkejut melihat Mahira yang juga sudah rapih.
"Sayang, kau mau keluar?" tanya Edmond sambil menggosok rambutnya yang masih basah. Semalam ia hanya bangun untuk makan setelah itu tidur lagi.
"Iya."
"Kenapa sih setiap melihat aku polos seperti ini kamu selalu saja memalingkan wajah. Pada hal kita sudah sering terlihat tanpa busana kan?" tanya Edmond dengan tatapan menggoda.
Mahira membalikan badannya dan menatap suaminya. Bentuk tubuh Edmond yang nyaris sempurna, membuat wanita mana yang tak ingin melihatnya. Namun perempuan itu tetap saja merasa malu untuk melihatnya walaupun sebenarnya ia sudah selalu melihat tubuh Ed saat mereka bercinta.
Dengan berani Mahira akhirnya maju. Ia mengambil kemeja dan memakaikannya pada Edmond. Setelah semua kancing terpasang pada tempatnya, ia mengambil celana kain itu dan memberikan pada Edmond. Setelah Edmond selesai memakai celananya, Mahira pun membantu Edmond memasang dasinya.
"Sudah selesai." Ujar Mahira.
Tiba-tiba saja Edmond menarik tubuh Mahira dan memeluknya erat. "Kau tahu, perasaanku saat ini sangat senang. Mengapa tak setiap pagi kau membantuku berpakaian? Rasanya aku sangat dimanja olehmu." Edmond menenggelamkan kepalanya diantara rambut hitam Mahira sambil tangannya mengusap punggung Mahira dengan sangat lembut.
"Ed, aku akan ikut denganmu ke tempat kerja. Kita akan menginap di sana. Kamu tak keberatan kan?"
Edmond melepaskan pelukannya secara perlahan. "Kamu akan tinggal di mess?"
"Iya. Katamu mess sudah selesai kau perbaiki. Kau juga sudah memesan tempat tidur yang baru. Apa lagi yang akan dikerjakan di sana?"
"Ya nggak ada sih. Semua sudah siap. Hanya saja jika tahu kamu ingin pergi pagi ini, aku akan menyiapkan semua yang kau butuhkan di sana. Soalnya pasar di sana agak jauh, sayang."
"Soal itu kamu jangan khawatir. Aku dan bibi sudah menyiapkannya. Sekarang kan hari rabu. Kita hanya akan menginap 2 hari di sana. Jumat sore kita sudah kembali ke sini."
"Baiklah."
__ADS_1
"Terima kasih." Mahira mencium pipi Edmond membuat Edmond terkejut sambil memegang pipinya. Wajahnya terlihat gembira.
"Aku tunggu di meja makan untuk sarapan." Mahira segera meninggalkan kamar dengan wajah yang sedikit merona.
************
Saat mereka tiba di depan Mess, nampak Lerry yang baru akan keluar dari mess yang ada di sebelah.
"Selamat pagi. Nyonya Moreno, kau datang ke sini?"
"Iya. Kami akan menginap di sini."
"Waw...., aku tak akan kesepian lagi dong. Tetanggaku sudah ada. Sesekali ajak aku makan di sini ya? Aku suka masakan mu. Sangat enak." kata Lerry dengan senyum menawannya.
Edmond melotot ke arah sahabatnya itu. Mahira jadi tertawa. "Siang ini, makanlah di sini jika kalian tak sibuk."
"Sayang, kami ada..."
"Dengan senang hati nyonya Moreno." Lerry memotong ucapan Edmond.
"Kau pergilah lebih dulu. Aku nanti menyusul." Edmond menatap jengkel pada Lerry lalu segera menggandeng tangan Mahira untuk masuk ke dalam rumah.
"Ini kamarnya. Aku merenovasi agar terlihat lebih besar. Aku juga mengganti semua perabotannya. Kau suka?" tanya Edmond.
"Ya. Aku suka."
Edmond mengecup dahi Mahira. "Aku berangkat kerja dulu, ya. Kami ada rapat pagi ini. Nggak perlu menyiapkan makan siang. Soalnya rapatnya kadang molor sampai ke jam makan siang. Pihak perusahaan akan menyiapkan itu."
"Memangnya kamu nggak punya waktu untuk pulang makan walau hanya sebentar saja? Jarak kantor ke mess ini kan dekat. Jalan kaki pun bisa. Kalau naik mobil tak sampai 5 menit sudah sampai."
Edmond tersenyum. "Aku hanya nggak ingin kamu capek, sayang." Ia memegang pipi Mahira. "Aku mencintaimu." Ia mengecup bibir Mahira kemudian mencium perutnya. "Papi berangkat kerja dulu sayang.."
Mahira mengantar Edmond sampai di depan pintu. Edmond naik kembali ke mobilnya dan segera pergi.
Saat Mahira masuk kembali ke rumah, dilihatnya Juminten sedang mengisi kulkas dengan bahan-bahan yang mereka bawa.
"Bi, apanya yang berubah di rumah ini?" tanya Mahira.
"Dapurnya lebih luas sekarang. Kamar utama juga. Kalau yang lalu kamar tuan Ed di sebelah kiri. Kini sudah di kamar yang sebelah kanan. Mungkin tuan ingin ganti suasana."
Mahira ingin bertanya tentang Monalisa namun ia menahan dirinya. Ia sudah di sini. Sesuatu tentang Monalisa pasti akan diketahuinya. Entah mengapa, Mahira merasa kalau ada rahasia yang dengan sengaja tak ingin Edmond ceritakan padanya.
*************
Selamat pagi.....
Selamat weekend dengan keluarga
__ADS_1
jangan lupa dukung emak terus ya guys