
"Mami, kata om Jun pulangnya biar om Jun yang antar saja. Sekalian kita mampir di tempat jagung bakar." Kata Edewina membuat Mahira yang sementara membereskan mejanya terkejut. Jika pulang dengan Jun dan Edmond pasti tahu, maka itu berarti Mahira akan siapa menerima kemarahan suaminya itu.
"Sayang, kita pulang naik taxi saja ya?" Mahira membujuk Edewina.
"Nggak mau. Wina sudah bilang iya sama om Jun."
Jun masuk ke ruangan Mahira. "Aku hanya ingin mengajak Wina beli jagung bakar. Bolehkan?"
Mahira tak mungkin menolak lagi di depan Edewina. Ia pun mengangguk walaupun hatinya merasa tak tenang. Mahira pun mengirim pesan pada Edmond, memberitahukan kalau mereka pulang dengan Jun.
Edewina nampak senang saat ia menikmati jagung bakar.
"Enak...., terima ya om Jun." ujar gadis kecil itu.
Hari sudah menjelang malam. Mahira pun mengajak mereka untuk kembali. Namun saat dalam perjalanan pulang, Mahira terkejut ketika mobil yang dibawa oleh sopir Jun justru melewati jalan belakang yang Mahira tahu itu adalah jalan menuju ke luar kota.
"Kita mau kemana?" tanya Mahira.
Jun menggunakan bahasa Inggris. "Kalau kamu diam, maka kamu dan anakmu akan selamat, namun jika kamu berulah, jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu pada Edewina."
Mahira tiba-tiba merasakan kalau wajah Jun yang terlihat manis kini seperti seorang monster.
"Om Jun ngomong apa, sih? Kok Wina nggak tahu?" tanya Wina.
"Nggak sayang. Om Jun cuma bilang ingin mengajak kita jalan-jalan sebentar." Mahira berusaha untuk menenangkan anaknya.
"Jun, kita mau kemana?" tanya Mahira dalam bahasa Inggris juga.
"Kita akan ke luar kota. Kau dan Wina akan ikut aku ke Korea namun dengan baik kapal barang milikku."
"Kau gila, Jun!"
"Aku memang tergila-gila padamu." Jun menatap Mahira dengan tatapan penuh cinta membuat Mahira merasakan kalau bulu kuduknya berdiri. Edewina yang belum menyadari situasi yang terjadi masih terus menatap ke luar jendela sambil sesekali menanyakan pertanyaan pada maminya.
"Jun, tolong bebaskan kami." mohon Mahira.
"Kau akan hidup enak bersamaku, Mahira. Aku mencintaimu."
"Please, di luar sana masih banyak gadis cantik dan single. Aku ini sudah menikah, sebentar lagi anakku akan lahir. Aku bukan wanita yang cocok untukmu, Jun."
"Aku menginginkanmu dan aku ingin memdapatkanmu. Aku akan menyayangi Edewina dan anak dalam kandunganmu seperti anakku sendiri."
Mahira hampir putus asa. Ia melihat tak ada jalan keluar baginya. Ia tak mungkin akan melompat dari mobil ini sendiri dan membahayakan Edewina dan anak yang ada dalam kandungannya.
Akhirnya, mereka tiba di suatu tempat yang luas.
"Om Jun, kenapa kita ada di sini?" tanya Edewina saat pintu mobil di buka dan Jun menarik tangan Edewina untuk turun.
"Wina mau naik helikopter?" tanya Jun.
"Wah, tentu saja mau." ujar Edewina senang.
"Wina sayang, kita pulang saja ya?"ujar Mahira sambil meraba ponselnya yang ada dalam tas namun ia tak menemukannya.
"Ponselmu sudah dibuang oleh sopirku saat kita makan jagung bakar tadi." Ujar Jun membuat Mahira langsung naik darah.
__ADS_1
"Brengsek kau, Jun!" Mahira tanpa sadar mengeluarkan kata-kata kasar membuat Edewina menatapnya dengan bingung.
"Mami, Kok bicaranya gitu sih?"'
"Maaf sayang, mami.....!" Kalimat Mahira terhenti saat dari jauh ia mendengar suara helikopter.
"Lepaskan aku, Jun! Jangan bawa aku dan anakku. Kamu hanya terobsesi dengan ku. Kamu nggak cinta sama aku." Mahira langsung menarik Edewina dan memeluknya.
"Mami ada apa?" Edewina terlihat mulai ketakutan karena Mahira yang menangis.
Helikopter itu pun mendarat tak jauh dari mereka.
"Jun, aku mohon!" Mahira semakin erat memeluk anaknya.
Jun memegang tangan Edewina. "Wina sayang, mau naik helikopter kan?"
"Tapi mami kayaknya takut naik helikopter. Mami sudah menangis. Lain kali aja ya om Jun." ujar Wina sambil berusaha menarik tangannya namun Jun terus menahan tangannya itu.
"Om Jun, tangan Wina sakit."
"Lepaskan anakku!"
Bagaikan mendapatkan air segar di tengah padang pasir, Mahira hampir melompat gembira saat mendengar suara Edmond.
Namun karena Mahira lengah, pegangannya di tubuh Edewina melemah dan Jun berhasil menariknya.
"Mami.....!" Teriak Edewina saat Jun berhasil memeluknya.
"Jangan sakiti anakku, Jun!" Edmond terlihat marah dan ia pun mengeluarkan pistol yang ada di balik punggungnya.
Edmond menahan tangan Mahira. "Jangan sayang!"
"Tapi Wina, Ed!"
"Mami...., Om Ed, tolong Wina!" Edewina ketakutan saat melihat ada pistol di tangan Jun.
"Aku memperingati kamu sekali lagi, Jun! Lepaskan anakku!" Edmond masih menahan tangan Mahira agar tak mendekat.
"Ed, kamu datang hanya dengan sopir dan satpam yang ada di peruahaanmu? Lihatlah anak buahku ada 10 orang. Mana sanggup kalian melawan aku?" Jun semakin mendekat ke arah helikopter yang terparkir.
"Ayo Mahira! Kalau tidak, aku akan membawa Edewina dan menjatuhkan dia ketika sudah berada di atas." ancam Jun.
"Mami......!" Edewina semakin ketakutan. Ia menangis sangat kuat membuat Mahira tak tahan dan segera berlari ke arah Jun. Namun dari segala arah, muncul para pria yang menggunakan baju hitam. Jumlah mereka ada dua puluh orang. Jun sedikit terkejut melihat kedatangan mereka.
"Mahira, ayo ke sini!"
Mahira yang ada di tengah-tengah menjadi bingung. Ia menatap Jun dan Wina, lalu kemudian menatap Edmond.
"Percaya padaku, sayang!" ujar Edmond sambil mengulurkan tangannya.
Jun sudah berada di depan pintu helikopter.
"Mahira, cepatlah." ujar Jun sambil menodongkan pistolnya di kepala Wina.
"Mami......, Wina takut!" tangis Edewina semakin kencang.
__ADS_1
"Jangan salahkan aku, Jun! Aku sudah memperingati mu untuk tak menganggu apa yang menjadi milikku." Edmond mengarahkan pistolnya kepada Jun membuat Mahira berteriak histeris.
"Jangan, Ed. Wina bisa terluka. Biar saja aku yang ikut!" Mahira akan melangkah mendekati Jun dan Wina namun tiba-tiba terdengar ledakan suara pistol, peluru itu tepat melukai pergelangan tangan Jun dan darah langsung memancar ke wajah Edewina sehingga gadis kecil itu langsung jatuh pingsan.
Suasana langsung kacau saat Jun berteriak kesakitan dan anak buah Edmond yang lain sudah melumpuhkan anak buah Jun.
Edmond langsung mendekat dan melumpuhkan Jun, bersamaan dengan suara bunyi mobil polisi yang mendekat.
**********
Setelah urusannya dengan polisi selesai, Edmond pun bergegas ke rumah sakit. Ia langsung berlari ke arah ruangan perawatan Edewina.
Saat ia membuka pintu, nampak Edewina masih terbaring.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Edmond.
"Kata dokter, Wina hanya sock saja."
"Baguslah. Lalu, kamu sendiri?"
"Aku baik-baik saja. Ed, bagaimana kamu bisa ada di sana tepat waktu?" tanya Mahira.
"Sebenarnya aku mau buat surprise pada mu dan Wina dengan pulang hari ini. Namun aku yang sudah curiga dengan Jun, menempatkan anak buahku untuk mengawasi nya dan akhirnya ia memberitahukan kalau kalian pulang dengan Jun. Tak lama kemudian kau mengirim SMS. Saat itu aku baru saja turun dari pesawat. Aku langsung mengarahkan anak buahku berkumpul dan sampailah kami di sana."
Mahira langsung memeluk Edmond. "Terima kasih, Ed. Kau datang menyelamatkan kami."
"Aku juga bersyukur karena hari ini bisa pulang. Kalau aku terlambat sedikit saja, Jun pasti sudah membawa kalian." Edmond mencium puncak kepala Mahira sambil membelai perut istrinya itu.
"Mami.....!" panggil Edewina.
"Wina sayang....!" Mahira senang melihat anaknya. Ia langsung memegang tangan Edewina yang perlahan bangun.
"Wina sayang...., ada yang sakit?" tanya Edmond.
Edewina menatap Edmond. "Papi.....! " ujarnya sambil mengulurkan tangannya meminta Edmond untuk memeluknya.
Edmond dan Mahira terkejut. "Wina sudah ingat, papi?"
"Papi peluk Wina."
Air mata Edmond jatuh tanpa bisa ditahannya. Ia memeluk Edewina dengan sangat erat.
"Papi, Wina rindu sama Oma Rahel. Kapan kita ke Madrid?":
Mahira pun tersenyum bahagia. Edewina sudah ingat kembali dengan semua orang yang menyayangi dia.
**********
Hallo semua, selamat sore guys
semoga suka dengan part ini ya?
Aku sudah buat novel baru yang akan rilis setelah cerita ini tamat.
__ADS_1