
Mata Edewina memandang Monalisa tanpa takut. Gadis kecil itu memang diajari Mahira untuk tidak takut pada orang asing.
"Tante bule kenapa Wina dikurung?" tanya Edewina. Mereka berada di sebuah rumah di pinggiran kota dan Edewina di kurung di kamar yang berada di lantai dua ini.
"Jangan panggil aku tante bule. Panggil aku mami. Karena sebentar lagi aku akan menjadi mami mu, sayang."
"Nggak. Mami Wina cuma satu. Mami Wina cantik dan baik hati."
"Diam.....!" bentak Monalisa. "Mami Mahira mu akan mati. Aku yang akan menggantikan dia. Kamu akan lihat, kalau aku akan lebih baik dari mami bodoh mu itu!"
"Jangan mengatakan mami ku bodoh!" Wina menjadi marah. Monalisa tertawa. Ia membelai rambut Wina.
"Wah, kamu ternyata galak juga ya? Sepertinya kau cocok untuk menjadi anak seorang mafia." Monalisa meninggalkan kamar dan segera menelepon para pengawalnya.
"Siapkan penerbangan besok malam. Aku harus segera membawa Edewina keluar dari pulau ini. Kalau bisa langsung ke luar negeri saja. Namun kita harus hati-hati, jangan sampai dicurigai oleh polisi."
Monalisa kemudian menemui pembantunya yang bernama Dela. Perempuan berusia sekitar 40an itu langsung membungkuk hormat kepada Monalisa.
"Jaga anak itu baik-baik. Beri dia makan tepat waktu. Jika dia menangis, pukul saja dia." ujar Monalisa lalu segera meninggalkan rumah itu. Saat ia menghidupkan kembali ponselnya, langsung masuk pesan dari Edmond dan tak berapa lama Edmond menghubunginya.
"Hallo, Ica. Aku mohon jangan kau apa-apakan Edewina."
Monalisa tertawa. "Kau begitu takut? Aku ingin sekali mengeluarkan ginjalnya dan menjual pada yang membutuhkannya. Pasti aku akan mendapatkan uang yang banyak.
"Edewina tak ada sangkut pautnya dengan masalah kita, Ica."
"Tak ada katamu? Bukankah demi mendapatkan anak ini kau meninggalkan aku? Kau bahkan tega berbohong padaku? Aku sudah memperingati mu berulang kali namun kau tak mendengarkan aku. Jadi, bersiaplah untuk kehilangan putri kesayanganmu ini. Kecuali, kau mau meninggalkan Mahira dan kembali padaku, maka aku akan melepaskan Edewina."
"Ica, dengar...."
Monalisa langsung memutuskan pembicaraan mereka. Ia bahkan menonaktifkan nomornya untuk sementara.
Aku suka saat kamu kebingungan dan akhirnya bermohon padaku, Ed. Batin Monalisa lalu segera meninggalkan tempat itu.
**************
"Di mana anakku?" Kalimat itu yang Mahira ucapkan ketika ia sadar.
"Tenang, Ra. Kami sedang berusaha mencarinya. Monalisa itu sangat licik! Jadi kita harus hati-hati." Ujar Edmond.
Mahira mendorong Edmond yang ada di depannya. "Ini semua terjadi karena kamu, Ed. Andai saja kamu tak pernah datang dalam kehidupanku, pasti aku dan Wina tak akan terjebak dalam kisah mafia ini. Kembalikan anakku, Ed. Kembalikan Edewina secara utuh padaku. Jangan sampai ia terluka sedikit saja. Aku akan membencimu seumur hidupku. Kau dengar itu?"
"Aku janji, Ra. Aku baru saja mengecek GPS ponsel Monalisa. Aku akan mendapatkan tempatnya." Kata Edmond sambil menunjuk ke arah laptopnya yang sedang menyala.
__ADS_1
Lalu Edmond kembali duduk di depan laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya.
Mahira ingat Teddy, ia langsung menelepon lelaki itu.
"Hallo, Ira!"
"Katakan di mana anakku?" teriak Mahira saat mendengar suara Teddy.
"Edewina? Memangnya ada apa dengan Edewina?"
"Kamu pasti tahu di mana anakku. Kamu dan Monalisa kan bekerja sama."
"Ya. Kami rekan bisnis."
"Jangan pura-pura, Ted. Monalisa menculik Edewina. Aku menjadi gila karena tak tahu dimana keberadaan anakku sekarang ini."
"Aku bersumpah padamu, Ira. Aku tak ada hubungannya dengan penculikan Edewina. Bagaimana mungkin aku mencelakai anakku sendiri."
"Dia bukan anakmu!"
"Hasil DNA nya aku terima pagi ini. 99% kami cocok sebagai ayah dan anak. Kamu tenang saja, Ra. Aku akan mencari tahu dimana Monalisa. Aku tahu kalau dia seorang mafia. Makanya kita harus hati-hati. Aku akan menghubungimu jika tahu di mana Monalisa berada. Katakan pada Edmond, jangan dulu hubungi polisi. Aku takut Monalisa menjadi gila."
Edmond yang melihat Mahira menelepon Teddy berusaha menekan rasa cemburunya. Ia menatap istrinya itu dengan wajah tegang. "Apakah Teddy ada hubungannya dengan penculikan ini?"
"Dia bersumpah kalau dia tidak tahu apa-apa."
"Sekalipun Teddy mungkin ada hubungannya dengan penculikan Edewina namun aku sangat yakin kalau Teddy tak akan menyakiti Edewina. Karena ia sudah memiliki hasil DNA yang membuktikan kalau dia adalah ayah biologisnya Wina."
Edmond sangat terkejut mendengar itu. Ia mengusap wajahnya kasar. Tak lama kemudian laptopnya berbunyi. Ia kembali duduk di sana.
"Titik GPS ponsel Monalisa ada di luar kota. Aku akan pergi ke sana dengan Ifan dan Lerry. Ada juga beberapa pengawal yang telah ku sewa untuk menjaga rumah ini. Kamu akan aman."
"Aku ikut!" Mahira meraih jaketnya yang ada di atas sofa.
"Tapi sayang, menghadapi Ica sangat berbahaya."
"Aku maminya Wina. Aku tak akan tinggal diam saat tahu anakku dalam bahaya." ujar Mahira bersikeras untuk ikut.
"Baiklah sayang. Tapi kamu harus selalu ada di belakangku, ya?" ujar Edmond akhirnya mengalah karena ia tahu kalau Mahira saat ini tak ingin dibantah."
Mereka pun meninggalkan rumah dan segera menuju ke tempat yang mereka curigai ada Monalisa di sana.
Lerry dan Ifan menggunakan mobil yang lain. para bodyguard yang baru, yang sudah didapatkan oleh Ifan, mengikuti mereka dalam jarak aman. 2 orang bodyguard baru dan 1 orang bodyguard yang selamat saat pembantaian terjadi beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Sepanjang jalan menuju ke sana, Mahira tak hentinya berdoa. Mami yakin kalau Wina anak yang kuat. Wina pasti tak akan ketakutan menghadapi mereka.
Ponselnya berbunyi. Ternyata itu dari Teddy.
"Hallo Teddy!"
"Ira, aku sudah menemukan tempat persembunyian Monalisa. Aku mengikuti salah satu anak buahnya. Aku kirim lokasinya sekarang padamu dan kau berikan pada Edmond. Namun kamu jangan ikut, Ra. Biarkan saja kami yang bekerja. Aku tak mau kalau kamu dalam bahaya."
"Iya."
Tak lama kemudian Teddy mengirimkan lokasi tempat Monalisa berada. Saat Mahira menunjukannya pada Edmond, lelaki itu nampak senang karena itu sama dengan tempat yang menunjukan titik GPS Monalisa berada.
*************"
Edewina menghabiskan makanan yang dibawa padanya. Ia juga menghabiskan susu yang disiapkan untuknya. Ia ingat dengan pesan Mahira, dalam keadaan apapun, perut tak boleh kosong agar tubuh kita tak menjadi lemah.
Dela, sang penjaga tersenyum senang karena Edewina taat padanya. " Good girl."
"Terima kasih, bibi. Kau bersikap baik padaku."
Dela tersentuh mendengar kata-kata Wina. "Anak manis, sayang sekali ya kau menjadi korban penculikan."
Edewina pura-pura membaringkan tubuhnya. "Wina mengantuk."
"Tidurlah sayang." Dela mengambil piring dan gelas yang sudah kosong itu. Lalu ia segera keluar dari kamar itu. Begitu cerobohnya ia sampai ia lupa mengunci pintu itu.
***************
Mereka pun tiba di dekat rumah yang ada di pinggiran kota itu. Rumah yang letaknya sangat jauh dari tetangga yang lain.
Edmond memantau dari jauh. Ia kemudian turun dan menemui Lerry dan Ifan.
"Bagaimana?" tanya dia pada Lerry dan Ifan yang sudah lebih dulu sampai.
"Anak buahnya banyak menjaga tempat itu. Jumlah mereka ada sekitar 10 orang." ujar Lerry. Edmond memang sengaja mengajak Lerry karena temannya itu sangat ahli menembak.
"Di belakang rumah itu ada Speedboat. Sepertinya mereka akan pergi tak lama lagi." Sambung Ifan.
"Kita harus cari cara melumpuhkan para penjaga. Sebentar, aku lihat Mahira dulu." Edmond kembali ke mobil. Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat kalau Mahira sudah tak ada di dalam mobil.
*************
Selamat pagi....
__ADS_1
Senyum manis di hari Kamis
jangan lupa dukung emak ya guys.