RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Akhirnya Pergi


__ADS_3

Saat mendengar suara pintu di tutup, Edewina membuka matanya. Ia melihat kalau kamar itu sudah kosong.


Sejak ia kecil, papi Edmond selalu membaca cerita detektif padanya. Mami juga selaku mengajari Wina agar jadi anak jangan takut dan cengeng.


Edewina yang kini berusia 5 tahun pun turun dari tempat tidur. Ia mencoba melihat ke luar rumah dari jendela kaca yang ada di sana. Edewina sebenarnya merasa jijik karena kamar ini tak begitu bersih.


Perlahan ia membuka pintu yang ternyata tak dikunci. Gadis kecil itu pun keluar dan melihat Kalau di lantai dua itu tak ada orang. Hanya ada dua orang pengawal di balkon. Gadis kecil itu pun menutup pintu kamar secara perlahan lalu segera menuruni tangga. Saat ia tiba di lantai satu, ia mendengar suara Monalisa. Ia pun mencari tempat bersembunyi dan akhirnya ia melihat ada pintu kecil diantara tangga yang ternyata ruang untuk menyimpan sapu dan alat bersih rumah lainnya. Pintu lemari itu ada celah yang membuat Edewina bisa melihat apa yang ada di ruang tamu itu.


Edewina terkejut melihat mami dan papi nya di dorong masuk ke dalam. Ia juga hampir menangis melihat maminya diikat di sebuah kursi. Hati Edewina menjadi sangat sedih saat melihat bagaimana maminya diancam oleh Monalisa.


"Mami....!" Air mata Edewina mengalir. Ia tak tahan melihat rambut maminya yang dipotong oleh Monalisa. Apalagi saat ia melihat Monalisa mengambil pistol, secara spontan anak kecil itu mendorong pintu lemari dan berlari ke arah maminya.


"Mommy........!"


Dor.....! Dor......! Dor.......!


Mahira yang masih diikat di sebuah kursi berteriak histeris saat tubuh Edewina jatuh berlumuran darah tepat di kakinya.


"Ah......ah ....lepaskan aku! Edewina.....!"


Edmond segera memukul kepala Monalisa sehingga perempuan itu jatuh pingsan.


Teddy dengan cepat langsung memeluk Edewina dan menekan luka di perut dan paha gadis kecil itu. Sedangkan Edmond membuka tali yang mengikat tangan Mahira.


"Edewina ......!" Mahira menangis histeris.


Edmond mengambil kemejanya dan memberikannya pada Teddy. "Tekan lukanya. Wina, bertahan sayang." Edmond meminta Ifan menyiapkan mobil sementara Lerry diperintahkan nya untuk mengamankan Monalisa dan beberapa anak buahnya.


Teddy memeluk Wina dan membawanya ke mobil.


30 menit kemudian, mobil itu sampai di sebuah rumah sakit.


Mahira langsung pingsan saat dokter menggelengkan kepalanya.


************


Monalisa terkejut mendengar penjelasan dokter. "Jadi, aku tak bisa hamil? Kenapa? Aku pernah hamil sebelumnya."


"Apakah anda melakukan aborsi?"


Monalisa mengangguk. Ia ingat, saat itu ia sangat membenci mantan suaminya dan tak ingin hamil anak dari lelaki itu. Akhirnya, ia meminta salah satu temannya untuk melakukan aborsi padanya.


"Apakah kau melakukan aborsi dengan prosedur yang benar?"


"Temanku yang melakukannya. Dia dokter ahli kandungan juga."

__ADS_1


"Rahimmu sudah rusak. Jadi selamanya kau tak akan bisa hamil."


Monalisa terkejut mendengarnya. Apa yang harus ia lakukan? Hanya dengan hamil anak Edmond, ia bisa menahan Edmond selamanya untuk ada di sisinya.


Monalisa pulang dengan perasaan hancur. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia akan mengatakan pada Edmond kalau ia tak bisa hamil?


Secara tak sengaja, Monalisa mendengar percakapan Edmond di telepon tentang keinginannya melakukan tes kesuburan. Monalisa harus mengeluarkan uang banyak, menyuap salah satu petugas labolatorium untuk memalsukan hasil pemeriksaan benih Edmond.


Walaupun hasil itu tak pernah Edmond ceritakan padanya, namun Monalisa cukup lega karena Edmond tak mungkin lagi akan mencari perempuan lain.


Namun kehamilan Mahira membuat Monalisa menjadi marah. Ia tak mungkin akan mengatakan pada Edmond kalau pria itu mandul karena memang Edmond menyimpan semua hasil pemeriksaan itu hanya untuk dirinya sendiri.


Monalisa membenci Mahira karena anak Mahira justru sangat dinantikan oleh keluarga Moreno. Kebencian Monalisa semakin bertambah saat Teddy mengatakan kalau Mahira adalah gadis yang sangat Edmond cintai semenjak dulu.


Lamunan Monalisa terhenti saat pintu ruangan tempat ia disekap terbuka. Nampak Edmond berdiri di sana dengan mata yang menyalah karena kemarahan yang tak terbendung lagi. Monalisa tahu kalau Edewina pasti telah mati.


"Dua wanita bernama Edewina dalam hidupmu, akhirnya mati di tangan ku." ujar Monalisa sambil tertawa. Lerry telah mengikat dia di sebuah kursi sama seperti saat ia meminta anak buahnya untuk mengikat Mahira.


"Apa maksudmu?" tanya Edmond.


"Edmond sayang, kakak tercintamu itu tidak meninggal karena ia memang ingin bunuh diri. Melainkan akulah yang meminta para mafia ku untuk menggantungnya."


"Apa?" Edmond terkejut. Masih jelas teringat di memorinya bagaimana wajah pucat kakaknya yang tergantung di pintu kamar mandi apartemennya.


Tawa Monalisa pecah. "Itu kesalahan mu sendiri. Kau yang meminta dia untuk tinggal bersama kita. Kau yang terlalu memberikan perhatian kepadanya di bandingkan aku. Aku akan menyingkirkan apa saja yang akan membuat aku kehilangan kasih sayang darimu."


Edmond mengepalkan kedua tangannya. "Kau sakit, Ica! Otakmu sungguh gila."


"Ya. Aku memang sakit. Obatku hanyalah dirimu. Sejak pertama aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta padamu. Sebenarnya, sebelum kau datang dan menyelamatkan aku, aku telah terlebih dahulu memberikan racun kepada mantan suamiku itu. Racun yang tak akan terdeteksi oleh apapun juga. Saat kau memukulnya, itu hanya mempercepat kematiannya saja."


Edmond semakin terkejut. Jadi, selama 5 tahun ini ia sudah terjebak dalam kebohongan Monalisa?


"Oh, ya, semua bukti keterlibatan mu dengan mafia, sudah ku kirimkan kepada orang tuamu. Ah, aku tak dapat membayangkan bagaimana wajah mommy Rahel yang akan pingsan saat tahu kebenaran tentang anaknya."


"Diam.....!" Edmond maju dan langsung mencengkeram dagu Monalisa dengan sangat kuat. Namun perempuan itu sama sekali tak menunjukan ekspresi takut.


"Aku memang akan mati di tangan mu, Ed. Namun aku pastikan kematian ku akan menjadi neraka dalam kehidupanmu. Kakakku akan terus menghantui kalian dengan balas dendamnya."


"Satu lagi, Ed. Akulah yang membayar petugas labolatorium itu untuk mengeluarkan hasil yang menunjukan bahwa kau mandul.. Sayangnya, kau ternyata menghamili Mahira."


Dua tamparan keras Edmond berikan pada Monalisa. Ia hampir saja mencekik perempuan itu namun Lerry langsung masuk dan menariknya. "Jangan, Ed! Kau jangan membunuhnya. Kematiannya harus nampak alami. Buat dia mendapatkan serangan panik." bisik Lerry.


Lalu Lerry membuka tali yang melilit tubuh Monalisa. Ia kemudian meninggalkan Edmond bersamanya.


"Aku tak akan membunuhmu, Ica. Walaupun aku sakit saat tahu kalau kau melakukan banyak kejahatan di belakangku. Aku mencintaimu, sayangnya kau tak percaya itu. Aku sangat mencintaimu!" Edmond membelai wajah Monalisa. Ia bahkan mencium dahi perempuan itu.

__ADS_1


"Jangan bohongi aku, Ed."


Edmond tersenyum. "Kau saja yang tak sabar menungguku. Kau sudah membunuh Wina kakakku dan kau membunuh Wina anakku. Aku akan melaporkan kau ke polisi. Kau akan dihukum gantung."


"Tidak, Ed." Monalisa langsung di serang oleh rasa panik. "Maafkan aku, Ed. Peluk aku, Ed!"


Edmond mendorong tubuh Monalisa. Ia menangis dengan penuh kesedihan.


"Jangan laporkan aku ke polisi, Ed." mohon Monalisa.


"Aku akan tetap melaporkanmu ke polisi! Kau akan mati tergantung di atas tiang seperti yang kau lakukan pada kakakku." Edmond yang sudah mengenal karakter Monalisa, terus memprovokasi perempuan itu. Edmond dengan sengaja meninggalkan pistol yang dipegangnya.


"Aku tak bisa membiarkan kau terus melakukan kejahatan, Ica." lalu Edmond keluar dan menutup pintu.


"Edmond.....! Jangan laporkan aku ke polisi! Jangan Edmond....!" Monalisa merasa bodoh karena sudah menceritakan segalanya. Ia tak mau dirinya di gantung.


Tentu saja Monalisa tak tahu kalau hukum di Indonesia tak seperti hukum negara lain. Indonesia mengenal hukum mati namun dengan ditembak dan bukan digantung.


"Tidak.....! Tidak.....!" teriak Monalisa. Ia mulai meremas rambutnya sendiri. Ia berjalan mondar mandir mengelilingi ruangan itu, sampai matanya melihat pistol yang dengan sengaja di tinggalkan oleh Edmond.


Tangan Monalisa bergetar memegang pistol itu. Lalu dengan cepat ia menembak kepalanya sendiri.


Edmond yang melihatnya dari kamera pemantau memejamkan matanya. Sebenarnya ia tega melihat Monalisa harus mati dengan cara seperti itu. Namun, melaporkan Monalisa ke pihak berwajib, sama saja dengan membebaskan dia. Karena kakaknya, punya seribu macam cara untuk membebaskan Monalisa. Bahkan ia sanggup meledakan penjara demi menyelamatkan adiknya.


Lerry menepuk bahu sahabatnya. "Itu lebih baik, Ed. Dari pada akan semakin banyak nyawa orang tak bersalah yang akan mati ditangan Monalisa. Dendam mu sudah terbalas."


Edmond mengangguk.


"Cepatlah pergi! Mahira membutuhkan dirimu untuk menghiburnya."


Edmond memeluk sahabatnya. "Terima kasih, Lerry!"


"Biar aku dan Ifan yang akan membereskan semuanya ini."


Edmond mengangguk dan segera meninggalkan rumah itu. Rumah yang disewa oleh Edmond dan Monalisa yang letaknya ada di pinggiran perkebunan sawit.


Ifan juga sudah membereskan semua anak buah Monalisa agar tak ada jejak yang tertinggal. Polisi akan menemukan sosok perempuan yang bunuh diri di kamarnya.


**************


Good morning


semangat Weekend


jangan lupa dukung emak ya guys

__ADS_1


__ADS_2