RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Extra Part 3


__ADS_3

Edewina duduk di samping papinya sementara Lusi ada di sebelahnya. Seperti biasa, dandanan perempuan itu selalu membuat Edewina nggak suka. Ia mengenakan celana jeans yang super ketat, dan kaos tang top yang dadanya rendah dilapisi dengan jaket berwarna putih.


"Papi, ini diminum. Mami buatkan teh herbal. Kata mami diminum di pesawat saja." Edewina membuka tak punggungnya dan mengeluarkan sebuah botol khusus.


"Terima kasih sayang." Edmond langsung membuka penutupnya dan menghabiskan minuman itu yang memang sudah biasa dia minum.


"Enak, Pi?" tanya Edewina.


"Buatan mami selalu yang terenak."


"Mami is the best ya?"


Edmond mengangguk sambil mengacak rambut putrinya.


Pramugari mengumumkan kalau pesawat akan segera berangkat. Edewina dibantu oleh papinya memasang seltbel. Tas punggungnya ia letakan di bawa kakinya.


Saat pesawat semakin tinggi, Edewina melihat kalau papinya beberapa kali menguap dan akhirnya sang papi tertidur. Edewina pun tersenyum manis. Kini saatnya bagi dia untuk mengerjai sekretaris papinya itu.


"Mba Lusi usianya berapa?" Edewina membuka obrolan.


"23 tahun." ujar Lusiana berusaha tersenyum manis walaupun hatinya kecewa karena sang bos sudah tertidur. Edmond memang tak tahu kalau teh herbal yang diminumnya itu mengandung obat tidur. Itu sengaja Mahira lakukan agar Edewina bisa lancar berbicara dengan Lusiana selama perjalanan mereka.


"Oh, kok wajahnya mirip Tante Melly ya?"


"Tante Melly?"


"Iya. Pengasuh ku waktu masih tinggal di rumah yang lama. Tante Melly itu usianya sudah 40 tahun."


Lusiana terbelalak. Apakah aku terlihat tua?


"Usia tante Melly mungkin tak setua itu."


" Seminggu yang lalu Tante Melly baru berulang tahun. Wina sama mami dan Ade pergi ke sana. Lilinnya ada angka 40."


"Masa sih?"


"Mba Lusi nggak percaya?" Edewina membuka sabuk pengamannya lalu mengambil ponselnya di sana. Ia membuka galeri dan menunjukan foto Melly. Lusiana terkejut saat melihat tante Melly yang Wina maksudkan. Ia memegang wajahnya sambil terus bertanya dalam hati, Apakah benar wajahku terlihat seperti usia tante Melly?


"Lipstik yang merah itu nggak cocok. Apalagi alis mba Lusi, jelek. Papi juga pernah bilang kalau papi nggak suka dengan parfum mba Lusi. Baunya menyengat."


Lusiana menatap Edewina dengan tak percaya.


"Tanya saja sama papi jika papi bangun nanti. Memangnya parfum apa yang mba Lusi pakai?" tanya Edewina sok perhatian.


"Parfum buatan luar negeri."


"Banyak kok parfum buatan Indonesia. Sama kayak parfum mami yang sangat disukai papi. Kalau papi sudah peluk mami, aku sama ade-ade pasti dicuekin."


"Oh ya? Parfum apa itu?"


"Kebetulan aku bawa soalnya aku juga suka." Edewina pun mengeluarkan sebuah botol parfum. Lusiana terkejut. Ia tahu merk parfum ini yang harganya tak begitu mahal. Apakah serendah itu selera istrinya pak Edmond?


"Apakah betul ini yang dipakai mamimu?"


"Iya. Papi sangat suka karena parfum ini papi yang belikan."

__ADS_1


Lusiana nampak masih tak percaya. Namun tak ada yang perlu diragukan dengan apa yang dikatakan oleh Edewina.


"Papi kemarin ngobrol sama mami


Katanya papi ingin cari sekretaris yang baru. Saat mami tanya kenapa, papi bilang karena mba Lusi nggak tahu jaga penampilan bahkan sedikit norak."


"Apa?"


"Maaf ya mba. Aku sebenarnya nggak suka buka mulut namun aku sedih juga kalau mba Lusi sampai dipecat karena dianggap norak sama papi."


"Kok pak Edmond nggak pernah bilang ya?"


"Karena papi orangnya gitu. Tak mau membuat orang sedih. Makanya semua persoalan papi curhat ke mami."


Lusiana terlihat sok mendengar semua penuturan Edewina tentang dirinya.


"Mba, aku mau ke toilet dulu ya." pamit Edewina.


Mereka memang duduk di kelas ekonomi karena tak ada lagi tiket di tempat kelas bisnis. Untungnya mereka mendapatkan tempat duduk paling depan sehingga kaki mereka agak luas untuk bergerak.


Karena toilet di belakang sedang digunakan, seorang pramugari menuntunnya untuk pergi ke toilet kelas bisnis.


"Memangnya bisa?" tanya Edewina.


"Bisa. Di kelas bisnis penumpangnya hanya 10 orang. Pergilah."


Edewina yang memang sudah tak tahan untuk buang air kecil, sedikit berlari menuju ke ruang kelas bisnis. Namun ketika ia membuka layar pemisah antara kelas bisnis dan kelas ekonomi, Edewina justru bertabrakan dengan seseorang yang membuatnya terjatuh.


"Sorry!" ujar penumpang yang bertabrakan dengan Edewina itu.


"Hallo nona kecil, apakah aku menyakitimu?"


tanya pemuda itu.


"No." Kata Edewina lalu segera masuk ke dalam toilet.


Pemuda itu tersenyum. Gadis kecil yang cantik.


Entah apa yang pria itu pikirkan, ia justru menunggu Edewina di depan pintu toilet. Saat Edewina keluar, ia terkejut melihat Pria itu masih ada.


"What your name?" tanya pria itu.


"My name is Edewina." Edewina menjabat tangan pria itu lalu segera kembali ke bangkunya, pria itu tersenyum. Ia kembali ke tempat duduk nya pula.


"Ada apa tuan muda?" tanya asistennya.


"Cari tahu gadis kecil bernama Edewina yang duduk di kursi nomor 1B."


Asistennya terkejut. "Untuk apa?"


"Aku suka tatapan matanya."


(Siapakah pria itu? Tunggu novel selanjutnya tentang Edewina Moreno, tentang pencarian jati diri dan Edewina yang terjebak dalam pernikahan yang tak diinginkannya).


*************

__ADS_1


Pesawat akhirnya mendarat di bandara APT. Pranoto Samarinda.


Edewina menghubungi maminya melalui panggilan Videocall. Mereka mampir di sebuah restoran dekat bandara untuk makan siang.


"Mami, sepanjang perjalanan papi bobo terus." Edewina mengarahkan kamera ponselnya pada Edmond.


"Sayang, kamu capek ya?" tanya Mahira.


"Nggak. Namun entah kenapa tadi di dalam pesawat, akunya ingin bobo terus."


Mahira menahan tawa. Ia tentu saja tahu penyebab suaminya mengantuk.


"Kalian pesan makan siang saja. Aku mau menidurkan Edwin dulu ya? Edewina jangan nakal ya, nak?"


"Ok, mommy!"


Mereka pun memesan makan siang.


"Aku mau minum teh manis yang panas." ujar Edewina. Lusiana yang mencatat pesanan mereka.


Edewina sengaja memilih tempat duduk di dekat AC dinding yang besar itu supaya Lusiana tak membuka jaketnya.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Edewina sengaja menciptakan percakapan antara dia dan papinya dan tak memberikan kesempatan bagi Lusi untuk bicara.


Saat pesanan mereka datang, Edewina yang duduk di samping Lusi mendekatkan gelas teh manisnya itu ke arah Lusi.


"Aku mau pipis dulu, papi." Edewina tanpa sengaja menarik ujung taplak meja yang ada sehingga gelas tehnya itu terbalik dan jatuh di paha Lusiana.


"Aow panas.....panas sekali.....!" Lusiana spontan berdiri sambil menepuk paha sebelah kirinya.


"Aduh mba, maaf...Wina nggak sengaja!" Edewina terlihat sangat menyesal. Matanya saja sampai berkaca-kaca. "Papi, Edewina nggak sengaja."


Edmond langsung berdiri dan memeluk putrinya. "Iya, papi tahu Edewina nggak sengaja. Lusiana, coba ke toilet dan lihat apakah bekas tumpahan itu menyebabkan kulitmu melepuh atau tidak."


"Baik, pak." Lusiana langsung berjalan ke toilet dengan sedikit tertatih.


"Wina jangan menangis ya, sayang?" Edmond menghapus air mata putrinya lalu meminta seorang pelayan untuk membersihkan kekacauan yang disebabkan oleh persoalan teh manis Edewina.


Di sudut ruangan restoran itu. Ada sepasang mata biru yang sedang menatap ke arah Edewina dan papinya yang duduk. Ia memang sengaja mengikuti mereka.


Asistennya yang baru masuk menyerahkan sebuah tablet. "Semua data gadis kecil itu ada di dalam sini, tuan."


Pria tampan itu menatap ke arah Edewina lagi setelah membaca beberapa hal tentang gadis itu. "Dia bermain cantik sehingga semuanya nampak seperti kecelakaan yang tak disengaja. Ah, usianya baru 9 tahun namun sudah membuatku tertantang ingin mendapatkannya."


"Nanti tuan dikira pedofil."


Pemuda tampan itu tertawa. "Aku harus sabar menunggunya selama 10 tahun lagi. Agar aku tak dianggap pedofil."


************


Penasaran nggak siapa pria itu?


Terus apakah Edewina sengaja menumpahkan teh panas itu?


Bagaimana akhirnya Edewina berhasil menyingkirkan Lusiana dari kehidupan papinya?

__ADS_1


Saksikan terus novel ini ya guys


__ADS_2