RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Menjauh dariku


__ADS_3

Tawa Edewina terdengar saat ia berhasil meluncur di papan seluncuran yang ada di salah satu pusat permainan yang ada di mall ini. Di sini Mahira membawa anaknya. Kepalanya benar-benar pusing dan ia butuh udara segar yang jauh dari rumah untuk menenangkan hatinya. Apa yang dialaminya beberapa hari ini sungguh menguras tenaga dan pikirannya. Ingin rasanya Mahira pergi jauh dan menghilang sebentar. Namun mengingat ada mommy Rahel di rumah, Mahira tak mungkin membuat wanita itu bersedih.


"Mami.....!" Edewina memanggilnya. Ia kini melompat-lompat di atas trompolin.


"Hallo Wina! Hati-hati ya, nak?"


Edewina memberikan ciuman jarak jauh pada Mahira lalu kembali bermain dengan anak-anak yang lain.


Mahira merasakan kalau pandangannya menjadi kabur. Dan ia akhirnya jatuh pingsan.


**************


Sudah 3 jam Mahira pergi dan ponsel wanita itu tak juga aktif. Edmond gelisah. Ia sudah meminta Ifan untuk membawakan mobil perusahaan dan kini ia sedang menyusuri beberapa pusat perbelanjaan untuk mencari keberadaan Mahira. Ifan sendiri juga ikut mencari dengan mobil yang lain. Edmond takut jika Monalisa bertindak nekad yang melakukan sesuatu pada Mahira dan Edewina.


Untuk sekarang, Edmond belum punya pengawal pribadi lagi karena sudah lama Edmond menghentikan hubungannya dengan beberapa jaringan mafia. Apalagi dengan kematian dua orang kepercayaannya membuat Edmond harus hati-hati agar polisi tak mencurigainya.


Satu orang yang selamat itu pun belum berani Edmond kunjungi karena masih dijaga oleh polisi.


Kini, hanya Ifan yang Edmond andalkan. Ifan memang sudah menghubungi agen menyediakan bodyguard namun belum ada orang yang cocok.


"Tuan, mobil nyonya Mahira ada di halaman parkir mall xxx, namun aku sudah menyusuri semua bagian mall itu namun tak menemukan tanda-tanda adanya nyonya bersama nona kecil." Ifan melapor via telepon.


"Telusuri lagi mall itu, Ifan. Terutama tempat bermain anak-anak. Aku akan ke sana sekarang." Edmond mengahiri percakapannya dengan Ifan. Ia segera menjalankan mobilnya menuju ke mall tersebut.


Saat mereka tiba di sana, Edmond langsung meminta ijin pada petugas keamanan mall untuk melihat CCTV di sekitar tempat parkir dan tempat bermain anak-anak. Sebenarnya petugas keamanan awalnya tak mengijinkan karena harus memiliki surat khusus dari pihak kepolisian. Namun Edmond segera menunjukan foto keluarganya yang berada dalam dompetnya. "Istri dan anakku tidak ada di sini. Aku takut kalau sesuatu yang buruk terjadi pada mereka. Aku akan memberikan uang yang pantas untukmu." ujar Edmond.


Akhirnya, rekaman CCTV itu pun diputar. Edmond melihat dengan seksama dan akhirnya ia menemukan Mahira dan Edewina yang baru saja turun dari mobil. Selanjutnya, nampak Edewina yang bermain di tempat bermain anak-anak sementara Mahira sedang duduk tak jauh darinya. Sampai akhirnya, Edmond melihat Mahira yang tiba-tiba pingsan, ia dikerumuni banyak orang dan ada seorang lelaki yang mengangkat tubuhnya. Walaupun lelaki itu membelakangi kamera namun Edmond sangat yakin kalau itu adalah Teddy.


"Brengsek!" Edmond langsung naik darah melihat Teddy yang telah menggendong Mahira. Edewina pun nampak menangis dan mengikuti mereka dari belakang.


"Coba lihat lagi kemana Teddy membawa mereka." ujar Edmond.


Namun Teddy mengikuti jalan belakang. Secara kebetulan, CCTV di sana sedang rusak. Edmond menjadi sangat kesal. Ingin rasanya ia mengamuk karena tak bisa menemukan di mana istrinya berada.


***********


"Bagaimana keadaannya, dokter?" tanya Teddy setelah dokter selesai memeriksa Mahira.


"Dia sangat lemah. Tubuhnya kekurangan nutrisi. Ada sedikit masalah di lambungnya. Mungkin ia belum makan sepanjang hari ini Sebaiknya ia dirawat di klinik rumah sakit ini selama satu malam sambil menunggu hasil lab nya keluar. Aku akan memberikan cairan infus untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Dia mungkin akan tidur sampai pagi. Namun jika dia bangun, berikan dia bubur."


Teddy mengangguk. Ia menatap Mahira yang masih terbaring. Kemudian ia menatap Edewina yang sedang duduk dengan wajah yang takut.


"Wina sayang, jangan takut ya? Dokter bilang kalau mami hanya butuh tidur saja untuk bisa sehat. Wina jangan khawatir ya?" Teddy mendekati Edewina dan membawa gadis kecil itu ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Wina mau papi. Papa Teddy, telepon papi Ed."


"Papa Teddy nggak tahu nomornya papi Edmond. Wina nggak usah takut, papa Teddy akan menjaga Wina."


"Nggak mau. Wina mau papi Edmond." Edewija turun dari pangkuan Teddy. Ia melihat tas maminya yang ada di atas meja. Ia mencari hp maminya.


"Wah....hp nya mati. Bagaimana ini?" Wina kembali menangis.


Teddy menggenggam kedua tangan Edewina. "Ada papa Teddy di sini. Wina nggak perlu takut."


Wina memandang Teddy. Walaupun Teddy baik padanya namun gadis kecil itu merindukan papi Edmond.


************


"Bagaimana Ifan?" tanya Edmond setelah ia hampir putus asa tak menemukan Mahira di beberapa rumah sakit terkenal di kota ini. Ia dan Ifan berpencar untuk mencari Mahira.


"Tak ada pasien dengan nama Mahira Moreno atau Mahira Hamarung yang masuk dalam jangka waktu 2 jam dari sekarang. Apakah mungkin dia dibawa ke rumah sakit kecil atau sebuah klinik?" Ujar Ifan yang menghubungi Edmond dari ponselnya.


"Coba kau cari klinik terdekat dari mall itu."


Ifan membuka lagi ponselnya. Ia kemudian menghubungi "Ada sebuah klinik yang letaknya hanya lima menit saja dari mall itu bos." ujarnya setelah mencari tak sampai 3 menit.


"Sebaiknya kita langsung ke sana." ujar Edmond lalu mengahiri percakapan diantara mereka.


Ada rasa bahagia dalam hati Teddy karena bisa mendekap Edewina. Teddy harus bersabar menunggu hasil tes DNA itu keluar. Namun hati kecilnya sudah yakin kalau Edewina adalah putrinya.


Pintu ruang perawatan itu dibuka dari luar. Teddy terkejut melihat Edmond yang masuk bersama seorang pria.


Saat pandangan mata keduanya bertemu, bara api di hati masing-masing jelas terlihat. Edmond merasakan dadanya sakit melihat Edewina yang dipeluk oleh Teddy.


"Lepaskan tanganku dari tubuh anakku !" kata Edmond berusaha menekan suaranya serendah mungkin karena ia tak ingin membangunkan Edewina.


"Dia akan menjadi anakku!" balas Teddy. Ia pun tak mau mengeraskan suaranya.


"Teddy!"


Teddy tersenyum. "Akan ku dapatkan kembali apa yang menjadi milikku."


"Jangan mimpi kamu! Mahira dan Edewina adalah milikku. Tak akan pernah menjadi milikmu!" Edmond maju dan akan merebut Edewina. Namun gadis kecil itu perlahan membuka matanya. Saat melihat Edmond, ia langsung turun dari dekapan Teddy dan berlari sambil menangis.


"Papi......!"


"Anak papi, sayang." Edmond langsung mendekapnya dan mencium Edewina dengan berulang-ulang.

__ADS_1


"Papi datang mau menjemput Wina?"


"Iya sayang."


"Tapi mami belum bangun."


"Kita tunggu sampai mami bangun. Sekarang ucapkan selamat tinggal pada om Teddy karena om Teddy akan pulang."


Wina menatap Teddy. "Papa Teddy, terima kasih sudah menemani Wina dan mami."


Teddy sebenarnya berat akan pergi karena Mahira belum juga sadar. Tapi ia tak mau bertengkar dengan Edmond di depan Wina. Ia pun berdiri.


"Papa Teddy pulang dulu ya, nak? Ingat ya, kalau papa Teddy selalu menyayangi Wina."


"Wina juga sayang sama papa Teddy."


Edmond tersenyum puas saat melihat lelaki itu pergi.


"Wina kok panggil om Teddy dengan sebutan papa Teddy?" tanya Edmond.


"Biar saja papi.Kasihan papa Teddy nggak punya anak. Makanya papa Teddy menganggap Wina sebagai anaknya. Papa Teddy baik."


Edmond tak ingin memberikan kesan yang tak baik tentang Teddy walaupun hatinya sakit mendengarkan Wina memanggil Teddy dengan ada embel-embel papa di depannya. Edmond harus memikirkan strategi untuk menjauhkan Wina dari Teddy dan juga Monalisa.


Edewina akhirnya tertidur kembali setelah Ifan membelikan susu untuknya.


Hati Edmond kembali menjadi sakit saat melihat kondisi Mahira. Ia membelai wajah istrinya itu dengan penuh kasih.


"Maafkan aku, sayang. Aku telah menyakitimu sedalam ini."


Tengah malam, Mahira akhirnya bangun. Ia merasakan perutnya keroncongan.


"Ra, kamu butuh sesuatu?" tanya Edmond sambil mendekat.


Mahira menatap Edmond. "Ya."


"Apa itu?"


"Menjauh dariku!"


Deg! ! !


Edmond merasakan hatinya semakin sakit saat Mahira mengucapkan kalimat itu dengan nada penuh kebencian.

__ADS_1


****************


__ADS_2