
Jantung Edmond bagaikan ditarik dari tempatnya saat melihat keadaan Mahira. Dengan bantuan beberapa tetangga, Mahira dimasukan ke dalam mobil. Sopir perusahaan yang membawa mobil Edmond langsung menuju ke puskesmas terdekat.
Namun saat melihat keadaan Mahira, dari puskesmas ia langsung dirujuk ke rumah sakit kota. Tangan Edmond sampai gemetar saat menelepon dokter Nana dan memberitahukan keadaan Mahira.
Dengan ambulance dari puskesmas, Mahira yang masih belum sadarkan diri dibawa ke rumah sakit kota.
Edmond memilih untuk naik ke dalam ambulance sementara mobilnya tetap dibawa oleh sopir perusahaan. Sepanjang jalan, Edmond memegang tangan Mahira. "Sayang, ayo bangun. Jangan buat aku jadi takut seperti ini."
Tim medis telah memakaikan oksigen dan memasang infus di tangan Mahira. Wajah istrinya itu begitu pucat. Perjalanan ke kita terasa sangat lambat oleh Edmond pada hal ambulance sudah dilarikan dengan kecepatan tinggi.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Dokter Nana sendiri yang menjemput Mahira. Ia meminta persiapan ruang operasi.
"Dokter, bagaimana istri saya?" tanya Edmond.
"Detak jantung bayinya masih terdengar tapi agak lemah. Nyonya Moreno sepertinya terjatuh dengan sangat keras. Dokter ahli saraf dan ahli bedah sedang memeriksa kondisinya untuk melihat apakah yang harus mereka lakukan."
"Tolong lakukan yang terbaik, dok. Aku mohon." ujar Edmond dengan wajah yang tegang. Ia kemudian menelepon Juminten. Edmond juga menelepon mamanya.
2 jam kemudian.......
Edmond berjalan mondar mandir di depan ruang operasi. Ia terlihat sangat takut. Juminten yang baru saja datang langsung dimarahi Edmond karena meninggalkan Mahira sendiri.
Lerry yang baru datang, langsung ke rumah sakit saat mendengar kabar Mahira yang terjatuh. Ia tahu kalau Edmond jauh dari keluarganya dan pasti butuh teman. Lerry juga sudah menghubungi Angel agar segera ke rumah sakit.
"Bagaimana istrimu?"
Edmond menatap sahabatnya itu. "Mahira masih di operasi. Aku sangat takut, ***."
"Sabar. Kita doakan Tuhan menolong istrimu. Mahira adalah wanita yang baik. Aku sangat yakin kalau dia juga kuat. Ed, bajumu masih penuh darah. Apakah tidak sebaiknya kamu ganti baju dulu? Kamu masih pakai bajuku. Koperku ada di mobil." ujar Lerry saat melihat kemeja yang Edmond pakai masih berlumuran darah.
"Bibi Juminten sedang ke rumah. Untuk mengambil pakaianku, pakaian Mahira dan juga perlengkapan baby nya."
Angel datang bersama Sofia.
"Bagaimana kabar Mahira?" tanya Sofia.
"Masih di operasi." Jawab Lerry. Sedangkan Edmond masih berdiri di depan pintu ruang operasi. Ingin rasanya ia masuk ke dalam. Sayangnya dokter tak mengijinkannya karena proses operasi Mahira adalah operasi dengan kasus khusus.
Bibi Juminten akhirnya datang. "Tuan, apakah tidak sebaiknya tuan ganti baju dulu?"
"Ambilkan kaos untukku, bi."
Juminten menyerahkan sebuah kaos pada Edmond. Pria itu pun langsung membuka kemejanya dan kaos dalam yang dipakainya. Kaos itu juga terkena noda darah. Lalu ia memakai kaos yang diberikan Juminten padanya.
Angel nampak kagum saat melihat bos nya itu membuka kemejanya di depan mereka tanpa peduli dengan sekelilingnya. Badan Edmond angkat atletis dengan roti sobek yang ada di bagian perutnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara tangis bayi. Edmond memandang Lerry.
__ADS_1
"Anakku sudah lahir." katanya dengan mata berkaca-kaca.
"Selamat, Ed. Kamu sudah menjadi seorang Daddy." Lerry memeluk sahabatnya itu.
Angel mendekat ke arah Sofia. "Apakah benar tuan Moreno sangat menginginkan anak itu?"
"Entahlah. Mahira sepertinya sudah menyihirnya sehingga ia dengan cepat melupakan Monalisa. Pada hal jika dibandingkan dengan Monalisa, bukankah lebih cantik sahabatku itu? Badannya tinggi dan sangat serasi dengan Ed. Entah mengapa Edmond sangat menyukai perempuan mungil itu."
"Aku kasihan dengan nona Monalisa."
"Iya. Makanya dia lebih banyak berada di Jakarta sekarang ini."
"Tapi tadi aku melihat nona Monalisa ada. Sewaktu aku sedang membuat kopi di pantry, dia baru saja turun dari taxi."
"Oh ya? Kenapa dia nggak menemui aku ya?"
"Nggak tahu juga."
Pintu ruang operasi keluar. Dokter Nana muncul dengan dokter Bayu yang adalah seorang ahli bedah.
"Tuan Moreno, putri anda sudah lahir dengan selamat. Tapi untuk sementara dia harus dirawat di dalam inkubator dulu karena ada sedikit gangguan dengan sistem pernapasannya. Saat nyonya Moreno jatuh, air ketubannya langsung pecah dan air ketuban itu sempat diminum oleh sang bayi. Berat badannya juga hanya 2 kg karena ia lahir prematur." kata Dokter Nana.
"Tapi anak saya akan baik-baik saja kan, dok?"
"Mudah-mudahan dengan doa kita semua, putri anda akan baik-baik saja." ujar dokter Nana.
"Nyonya Moreno juga tak ada masalah yang serius. Hasil CT-scan nya menunjukkan tak ada luka serius di kepalanya akibat terjatuh. Hanya sedikit lecet di tangan dan bagian pinggangnya." ujar dokter Bayu membuat Edmond langsung bernapas lega.
Seorang perawat membawa bayi kecil itu keluar. Edmond terlihat sangat bahagia. Ia mengikuti langkah perawat itu ke kamar bayi. Saat bayi kecil itu dimasukkan ke dalam inkubator, Edmond sungguh tak bisa menahan air matanya. Entah mengapa ia merasa sangat terharu sekaligus sedih. Bayi itu terlihat sangat kecil dan lemah.
"Hallo Edewina Carensia Moreno. Selamat datang ke dunia ini. Cepat pulih ya, nak? Papi tak sabar ingin memelukmu." Edmond mengusap kaca inkubator itu karena ia tak bisa menyentuhnya secara langsung.
"Ed, dokter mencari mu." Sofia memanggilnya dari depan pintu. Edmond pun segera meninggalkan kamar bayi dan menuju ke depan ruang operasi. Ternyata, Mahira akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Edmond meminta kamar terbaik di rumah sakit itu. Ia ingin istrinya merasa nyaman. Mahira masih belum sadar.
"Dokter, sampai kapan istriku akan seperti ini?" tanya Edmond setelah Mahira sudah dibaringkan di atas ranjangnya.
"Sedikit lagi nyonya Moreno akan sadar." ujar dokter Nana sambil mengatur kain yang menutupi tubuh Mahira. Ia sudah memakai baju rumah sakit berwarna biru dan ada selang infus dipasang ditangannya setelah selesai transfusi darah.
Mahira tadi sempat kekurangan darah sehingga diperlukan 1 kantong darah untuknya. Untung saja di rumah sakit tersedia.
Edmond membelai wajah istrinya dengan punggung tangannya. "Sayang, anak kita sudah lahir."
Lerry menatap Edmond. Ia tersenyum melihat kebahagiaan sahabatnya itu. Sedangkan Sofia dan Angel hanya duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Bibi Juminten sedang mengatur pakaian bayi untuk di bawa ke ruangan bayi.
"Haus.....!" suara Mahira terdengar pelan. Kepalanya mulai digerakkan ke kiri dan ke kanan.
Juminten yang masih mengatur pakaian, meninggalkan perkerjaannya itu. Ia mengambil sebotol air mineral dan sebuah sedotan lalu diberikannya kepada Edmond.
__ADS_1
"Sayang, ini airnya." Edmond mendekatkan botol itu ke bibir Mahira. Perlahan Mahira membuka matanya dan meminum air itu melalui sedotan.
"Ed, aku jatuh." kata Mahira tanpa bisa menahan air matanya.
Edmond membelai kepala Mahira. "Jangan menangis. Semuanya sudah terkendali. Anak kita sudah lahir dengan selamat."
"Benarkah? Apakah ia baik-baik saja? Aku ingin melihatnya." Mahira berusaha bangun namun Edmond menahan tubuhnya.
"Sayang, jangan bangun. Kamu baru saja di operasi."
Mahira memejamkan matanya sesaat karena merasa nyeri di sekitar perutnya.
"Ed, apakah anak kita baik-baik saja?"
"Edewina baik-baik saja. Ia ada di kamar bayi. Sekarang maminya istirahat dulu."
"Kamu nggak bohong kan Ed?"
"Nggak, sayang. Besok, jika kamu sudah kuat untuk bangun, kita akan ke kamar bayi untuk melihatnya." Edmond membelai wajah Mahira dengan penuh kasih.
Mahira memejamkan matanya kembali. Karena masih ada pengaruh obat bius, Mahira akhirnya tertidur lagi.
Saat Edmond akan duduk, ia memegang perutnya.
"Ada apa, Ed?" tanya Lerry.
"Aku belum makan siang."
"Ed ini sudah jam 7 malam. Kamu bisa sakit. Bagaimana bisa kuat untuk menjaga istrimu? Ayo ikut aku untuk makan."
"Tapi Mahira..."
"Tuan. Biar aku saja yang menjaga nyonya. Tuan pergi makan saja." Ujar Juminten.
Edmond masih enggan meninggalkan Mahira. Namun karena perutnya memang sudah keroncongan, ia akhirnya mengikuti langkah Lerry. Sofia dan Angel pun ikut pergi.
***********
Seorang perempuan cantik berdiri di depan kamar bayi. Dari balik dinding kaca, ia melihat beberapa bayi yang diletakan di box nya dan ada juga yang di dalam inkubator.
Perempuan itu mendekat ke kaca yang ada untuk membaca nama yang ada di kaca inkubator itu.
Jadi ini adakah anaknya? Sungguh kah ini anaknya? Anak Edmond Moreno? Aku harus cari tahu latar belakang kehidupan Mahira
*********
Hallo semua
__ADS_1
semangat puasa ya???