
Jantung Mahira berdetak dengan sangat cepat. Ia melangkah dan duduk di depan meja rias. Di ambilnya sisir dan pura-pura menyisir rambutnya lagi. Aku harus bagaimana? Apakah Edmond akan melakukannya sekarang? Dia akan meminta hak nya sebagai suami? Bagaimana aku bisa bercinta dengan seseorang yang tak ku cintai?
Bunyi pintu lemari yang dibuka membuat Mahira melihat dari pantulan kaca yang ada di depannya. Edmond sudah membuka jubah mandi yang dipakainya dan dia hanya menggunakan boxer. Wajah Mahira menjadi merah. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, menunggu sampai Edmond selesai berpakaian.
"Kenapa kamu belum mengenakan bajumu?" tanya Edmond sambil mendekat. Ia sudah menggunakan kaos oblong berwarna putih dan celana rumahan berbahan kain yang panjangnya hanya sebatas lutut.
Mahira berdiri. "Eh, aku....aku sudah menggunakan satu-satunya baju yang ada di lemari itu. Namun, aku..., aku malu!"' Mahira agak terbata-bata mengatakannya.
"Kenapa?"
"Jujur saja, aku..., aku belum pernah menggunakan lingre seumur hidupku."
Edmond tersenyum. Ia kini berdiri tepat di depan Mahira. "Bukankah sudah ku katakan padamu, aku ingin pernikahan ini berjalan sebagaimana layaknya pernikahan. Pernikahan ini bukan sekedar untuk menyelamatkan nama baikmu." Edmond menangkup kedua sisi pipi Mahira, mendongakkan wajah gadis itu agar mereka bisa saling bertatapan. Mata Edward yang berwarna coklat muda, menatap mata Mahira yang berwarna hitam. "Buka hatimu untukku. Terimalah cintaku. Aku akan membuatmu melupakan masa lalu mu, rasa sakit mu dan semua air mata yang telah kau keluarkan untuk pria itu. Kita akan saling memiliki mulai sekarang ini." Lalu Edmond menunduk. Mengecup bibir merah Mahira dengan sangat lembut. Mahira terkejut menerima serangan itu. Ia hanya diam terpaku, tanpa membalasnya. Sampai akhirnya Edmond melepaskan ciumannya dari bibir Mahira.
Tangannya yang masih ada di pipi Mahira, membelai lembut pipi mulus itu. Tatapannya masih sangat lekat di mata Mahira.
"Kau siap untuk melalui malam ini bersama ku?" tanya Edmond sangat lembut dengan tatapan mata yang begitu mendambakan Mahira.
"A...aku malu!" Kata Mahira sambil tertunduk.
"Kenapa harus malu?" tanya Edmond sambil mendongakkan kembali wajah Mahira ke arahnya.
Perasaan Mahira yang sudah campur aduk membuatnya tiba-tiba saja menangis. "Aku bukanlah perempuan yang sempurna. Aku...."
cup!
Edmond mengecup bibir Mahira, menghentikan kalimat gadis itu. "Kau sempurna. Kesempurnaan seorang perempuan bukan ditentukan oleh perawan atau tidak perawan lagi. Melainkan bagaimana hatinya akan ia serahkan pada pasangannya dengan tulus dan penuh kasih sayang. Hanya itu yang aku butuhkan darimu."
Hati Mahira mengembang dengan rasa haru. Bukankah ia sangat beruntung karena dicintai oleh pria seperti ini?
"Terima kasih, kak."
"Mulai malam ini, jangan panggil aku dengan sebutan kakak. Aku ingin kau memanggil aku dengan sebutan sayang, atau honey atau juga Edmond saja." Edmond menghapus air mata Mahira dengan ibu jarinya. Ia kemudian mencium dahi Mahira, lalu mencium kedua matanya secara bergantian, lalu turun ke hidung mancung gadis itu. Kemudian Edmond membiarkan wajah mereka sangat dekat dengan hidung yang saling bersentuhan.
"Mari kita jadikan malam ini sebagai malam yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup kita. Biarkan aku memiliki hati dan juga tubuhmu." kata Edmond tanpa menjauhkan jarak diantara mereka. Suaranya terdengar parau, menahan hasrat yang kini mulai membanjiri seluruh tubuhnya.
Mahira memejamkan matanya saat tangan Edmond menarik tali jubah mandinya. Ia masih memejamkan matanya saat ia merasakan jubah itu dilepas dari tubuhnya.
Kulit tubuhnya langsung terasa dingin karena pendingin ruangan yang ada. Edmond berdiri di belakang Mahira. Perlahan ia mencium bahu istrinya itu, sangat lembut dan seringan bulu, mengalirkan senyar di seluruh permukaan kulitnya.
Edmond yang berdiri di belakang Mahira, melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. Ia menarik tubuh Mahira agar menempel padanya. Dagu Edmond di letakkan di atas kepala Mahira. Tubuh Mahira yang mungil membuat Edmond dengan leluasa dapat memeluknya dengan erat. "Istriku, kau siap?"
Mahira diam. Ia bingung dengan apa yang harus ia katakan.
"Diam mu ku anggap setuju ya?" ujar Edmond dan secara perlahan ia mengangkat tubuh Mahira dan segera melangkah menuju ke ranjang pengantin mereka.
*************
Di malam ini, ketika hati Mahira masih memikirkan Teddy, tubuhnya justru pasrah dalam dekapan Edmond.
__ADS_1
Dengan segala cara, Edmond akhirnya mampu membuat Mahira terbuai dalam belaian dan sentuhannya yang membawa Mahira pada puncak kenikmatan yang baru pertama ia alami. Walaupun di awalnya ia masih merasa kesakitan, namun Edmond mampu membimbingnya sehingga ia bisa melewati semuanya. Memang Teddy sudah pernah menyentuhnya sekali. Namun pengalaman pertama itu dilalui Mahira dengan rasa sakit sampai pada akhirnya. Sangat berbeda dengan yang Edmond lakukan padanya. Edmond begitu lembut, tidak tergesa-gesa dan begitu memuja tubuh Mahira. Itulah sebabnya ketika akhirnya Edmond meledak di dalam Mahira, ia mencium tangan Mahira.
"Terima kasih, sayang. Aku sungguh bahagia malam ini." bisik Edmond lalu mendekap Mahira dengan penuh sayang.
"Kenapa bangun?" tanya Edmond saat ia merasakan kalau Mahira bergerak.
"Aku haus."
"Tunggu. Nanti aku ambilkan." Edmond bangun dan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Mahira langsung membuang muka. Ada rasa malu melihat tubuh Edmond pada hal mereka sudah melalui dua ronde di malam ini.
Edmond hanya menggunakan boxer nya lalu ia segera ke dapur untuk mengambil air minum bagi Mahira.
"Ini!" Edmond menyerahkan gelas berisi air putih itu. Mahira yang sudah duduk sambil bersandar di kepala ranjang menahan selimut yang menutupi tangannya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menerima gelas itu. Mahira menghabiskan isi gelas itu. Ia memang merasa sangat haus karena aktifitas mereka tadi.
Edmond meletakan gelas itu di atas nakas kemudian ia naik ke atas ranjang lalu membaringkan tubuhnya.
"Sayang, ayo ke sini!" Edmond merentangkan tangannya dan meminta Mahira untuk berbaring di lengannya.
"Aku....!" Mahira menjadi malu.
"Ayolah! Kita harus bangun cepat karena mereka menunggu kita jam 9 untuk sarapan bersama. Kau tak mau terlambat kan? Ini sudah jam setengah tiga pagi."
Mahira terkejut mendengar perkataan Edmond. Jam 3 pagi? Memangnya berapa lama aku dan Ed melakukan.....
"Ada apa?" tanya Edmond saat melihat Mahira diam saja.
Perlahan Mahira menggeser kan tubuhnya sambil menahan selimut agar tak melorot dari tubuhnya. Ia pun meletakan kepalanya di lengan Edmond. Satu kecupan manis Edmond hadiah di pipi Mahira sebelum ia membuka selimut dan ikut masuk ke dalamnya.
Tak menunggu lama, keduanya sama-sama tertidur.
************
"Selamat pagi!"
Mahira membuka matanya. Ia terkejut melihat Edmond yang sudah rapi dengan setelan celana jeans dan kemeja berwarna biru.
"Ini jam berapa?" tanya Mahira lalu perlahan bangun sambil mengucek matanya. Ia hampir saja melupakan dirinya yang masih dalam keadaan polos. Di tahannya selimut itu agar menutupi tubuhnya.
"Jam 8 lewat 10 menit. Mandilah dan kita akan turun untuk sarapan."
Mahira mengangguk. Ia celingukan mencari pakaiannya yang entah kemana.
"Ada apa?" tanya Edmond.
"Bajuku yang semalam."
Edmond tersenyum. "Memangnya kamu mau pakai itu untuk sarapan?"
"Bu......kan." Wajah Mahira menjadi merah. "Memangnya aku harus ke kamar mandi dengan selimut tebal ini?"
__ADS_1
"Ya nggak usah pakai selimut."
Mata Mahira terbelalak. "Edmond!"
Edmond tertawa. Ia berdiri lalu mengambil jubah handuk yang ada di atas kursi. Diberikannya pada Mahira. "Pakailah ini."
"Kamu keluar dulu."
"Kenapa sih aku harus keluar. Kan aku sudah lihat semuanya semalam."
"Edmond!" Mahira menjadi malu sekaligus kesal dengan pria tampan di depannya ini.
"Baiklah." Edmond mengangguk. Ia membuka laci nakas dan mengeluarkan sesuatu dari sana. "Mahira. Ini testpack nya. Jangan lupa untuk melakukan tes."
Mahira diam sejenak. Begitu terbuai dirinya dengan sentuhan Edmond sampai ia lupa bahwa dengan dirinya yang mungkin hamil. Ia menerima testpack itu. Saat Edmond meninggalkan kamar, Mahira pun turun dari tempat tidur lalu memakai jubah mandi itu dan segera ke kamar mandi. Ia masih merasakan sedikit perih di inti tubuhnya.
Setelah mandi, Mahira memegang testpack itu. Sedikit ragu dirinya hendak melakukan tes tapi akhirnya ia melakukannya juga.
Pandangan matanya langsung menjadi kabur dengan air mata yang sudah siap meluncur saat melihat dua garis merah itu. Aku memang hamil. Hamil anaknya Teddy. Lalu bagaimana ini? Tubuh Mahira menjadi lemah. Ia langsung terduduk di atas lantai kamar mandi. Tangisnya pun pecah.
"Mahira.....! Mahira.....!" terdengar suara Edmond yang memanggilnya sambil mengetuk pintu kamar mandi. Namun Mahira tak menghiraukannya. Ia tetap menangis bahkan tangisnya menjadi semakin kuat.
"Mahira....! Aku masuk, ya?" ujar Edmond dan tak berapa lama, pintu kamar mandi dibuka dari luar. Edmond segera mengambil handuk dan membungkus tubuh polos Mahira lalu ia mengangkat. "Ayo berdiri!"
Mahira menurut. Testpack yang ada di tangannya jatuh tepat di kaki Edmond. Edmond memungut benda pipi itu dan memasukan ke dalam kantong celananya. Ia kemudian menuntun Mahira untuk keluar dari kamar mandi.
"Gantilah pakaian. Setelah itu kita akan bicara." Edmond menunjukan sebuah gaun yang ada di atas tempat tidur setelah itu ia meninggalkan kamar. Edmond harus membuang benda pipi itu jauh dari hotel ini makanya ia menyimpan di kantongnya karena ia tak mau para pekerja menemukannya dan mulai bergosip. Anak sang pemilik hotel baru saja menikah namun sudah ditemukan testpack dengan hasil positif di kamar mereka.
Setelah Edmond merasa bahwa Mahira sudah selesai ganti pakaian, ia pun kembali masuk ke kamar. Di lihatnya Mahira memang sudah mengenakan pakaiannya. Namun ia masih duduk di depan meja rias. Rambutnya belum disisir dan ia sama sekali belum berdandan.
"Mahira!" Edmond berlutut di depan Mahira. Ia mengambil kedua tangan istrinya itu dan disatukannya dalam genggamannya. Edmond mencondongkan badannya ke depan lalu mencium perut Mahira. "Hallo sayang. Tumbuh dengan sehat di dalam kandungan mami ya? Papi akan menunggu kelahiran mu dengan sabar. Apakah kamu cowok atau cewek, kamu adalah keturunan Moreno."
Tangis Mahira kembali pecah. Ia sangat tersentuh dengan perkataan Edmond.
"Jangan menangis, Ra. Nanti mereka pikir aku sudah menyakiti kamu di malam pengantin kita. Matamu sudah sedikit bengkak." Edmond menghapus air mata Mahira. '"Aku adalah ayah anak ini. Dia akan menyandang nama Moreno. Kita akan membesarkannya bersama. Tak ada yang tahu selain aku, kamu dan Putri. Itulah sebabnya aku meminta kamu untuk tes kehamilan disaat kita sudah menikah. Benihku ada di dalam rahimmu. Dan dia sedang tumbuh sebagai buah cinta kita."
Mahira menguatkan hatinya. Ia menatap Edmond dengan rasa syukur. "Terima kasih, Ed. Terima kasih karena mau menerima aku yang sudah ter...."
Edmond langsung menutup mulut Mahira dengan tangannya. "Cepatlah berdandan. Tunjukan bahwa kita bahagia. Nanti setelah satu bulan kita menikah, baru kita akan mengumumkan kehamilan mu ini."
"Tapi mereka akan tahu jika anak ini lahir."
"Kita dapat mengatakan bahwa anak ini lahir prematur. Pokoknya kamu jaga saja anak ini dengan baik. Sisanya, serahkan kepadaku."
Mahira mengangguk. Ia pun mengambil sisir dan mulai menyisir rambutnya. Ia menguatkan hatinya untuk menjalani pernikahan bersama pria baik yang sudah menerima dirinya tanpa melihat masa lalunya.
**************
Terima kasih sudah baca part ini
__ADS_1
dukung emak terus ya