
Mahira mengambil tissue dan membersihkan air matanya. Ia memperbaiki rambut dan bajunya yang agak kusut lalu turun dari mobil Teddy.
Teddy sendiri masih berdiri sambil menyandarkan punggungnya di pintu mobil.
"Ira, kamu mau kemana?" tanya Teddy.
"Jangan sekali-kali mengikuti aku, Teddy! Aku dan anakku tak ada hubungannya denganmu. Dulu, aku mencintaimu, namun setelah tahu kalau kamu menggunakan cara licik untuk merengut kesucian ku, aku menyesal pernah menjalin hubungan denganmu selama bertahun-tahun."
"Aku melakukan semua itu karena ingin kau terus bersama ku dan mengikuti aku ke Singapura. Lagi pula, apa yang dilakukan Edmond juga sangat licik. Ia menculik dan menyembunyikan aku karena ia tahu kalau aku akan membatalkan pernikahan kalian."
"Itu bukan alasan yang patut dibenarkan. Kalau kau sungguh mencintaiku, maka kau akan menjaga diriku. Dan jangan sangkut pautkan Edmond dengan kisah masa lalu kita. Aku benci kamu, Teddy! Sampai mati pun aku akan tetap membencimu." teriak Mahira lalu berlari meninggalkan Teddy.
Teddy merasakan sakit di hatinya. Sebenarnya ia tak mau menceritakan bagaimana ia bisa merengut kesucian Mahira malam itu. Namun Monalisa mengatakan bahwa itu harus diceritakannya karena reaksi Mahira pasti akan membuat mobil berguncang. Teddy tak tahu apakah Edmond akan percaya dengan video yang akan dilihatnya. Namun, yang ia tahu kalau Edmond adalah pria yang mudah terbakar cemburu. Semoga saja cara ini akan berhasil. Apapun jalan yang akan ditempuhnya, Teddy harus mendapatkan Mahira kembali dan mencari kebenaran siapa ayah Edewina yang sebenarnya.
Ia mengambil baju ganti dari bagasi mobil dan mengganti kemejanya dengan sebuah kaos santai. Teddy segera menuju ke sekolah Edewina. Dari pagar ia melihat Edewina yang sedang bermain dengan teman-temannya. Namun saat Edewina melihatnya, gadis kecil itu melambaikan tangannya.
"Paman...!" teriak Edewina sambil berlari mendekati pagar.
Satpam yang menjaga pintu menatap Teddy.
"Boleh aku masuk? Hanya 5 menit saja."
Satpam itu terlihat bingung. Namun melihat Edwina yang sangat mengenal pria itu, ia pun membuka pintu pagar. "Hanya 5 menit saja, ya?"
Teddy mengangguk lalu melangkah masuk. Edewina dengan cepat langsung berlari dan memeluk Teddy.
"Paman, kapan bermain ke rumah Wina? Nanti Wina kenalkan dengan papi Ed."
"Nanti ya? Sekarang paman masih sibuk. Tapi kita buat perjanjian dulu. Mulai sekarang, Wina jangan panggil paman. Tapi panggil papa Teddy."
"Kok gitu sih?"
"Karena Wina sudah papa anggap seperti anak papa sendiri."
Edewina mengangguk. Ia kembali memeluk Teddy. Hati Teddy menjadi hangat saat menerima pelukan itu. "Baiklah, papa Teddy."
Teddy mencium pipi Edewina dengan sangat lembut dan penuh kasih. "Papa punya hadiah untuk Wina." Teddy mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. "Wina suka?"
"Wah, cantiknya."
"Papa Teddy pakaikan ya?"
"Boleh."
Teddy memakaikan jepit rambut itu namun dengan sengaja ia mencabut beberapa helai rambut Edewina.
"Aow...."
__ADS_1
"Maaf sayang, papa nggak sengaja."
Wina tersenyum. "Nggak masalah."
Tangan Teddy dengan cepat memasukan rambut Wina itu ke dalam saku celananya. "Papa Teddy pergi dulu ya, sayang? Nanti kapan-kapan kita makan es cream bersama."
"Ok, papa Teddy."
Teddy pun dengan cepat meninggalkan sekolah Edewina sebelum Mahira akan kembali ke sekolah ini.
15 menit kemudian, Mahira pun datang. Ia tadi sempat singgah di sebuah mini market untuk membeli air mineral untuk menyegarkan tubuhnya. Setelah diam selama hampir setengah jam di sana, ia pun segera menuju ke sekolah Edewina karena jam berakhirnya kegiatan Edewina di PAUD itu akan selesai.
**********
"Papi, kita pergi beli es cream, yuk! Tapi ajak oma dulu." Kata Wina saat mereka sudah berada di dalam mobil
"Wina sama oma saja yang membelinya ya?"
"Nggak mau. Wina maunya pergi beli es cream di tempat yang kita biasa kita beli. Oma kan nggak tahu tempatnya."
"Baiklah sayang." Edmond mengalah. Ia melirik sebentar ke arah Mahira. Istrinya itu terlihat tenang. Sungguh pandai kau bersandiwara.
************
Saat Edmond, Edewina dan mommy Rahel kembali dari membeli es cream, Edmond langsung menghubungi anak buahnya. Namun tak satu pun diantara mereka yang ponselnya aktif. Edmond menjadi heran. Anak buahnya yang selama ini dimintanya untuk mengawasi rumah ada 3 orang.
"Nyonya sedang istirahat di kamar, tuan. Tadi saat nyonya membantu kami untuk masak, nyonya tiba-tiba saja merasa pusing. Aku bahkan mengantar nyonya ke kamar. Wajah nyonya pucat dan seluruh tubuhnya nampak berkeringat dingin. Aku membantu nyonya juga untuk ganti pakaian." ujar Juminten
"Mahira sakit?"
Edmond bergegas ke kamar. Di lihatnya Mahira sedang berbaring membelakangi nya. Saat ia mendekat dan melihat wajah istrinya itu, apa yang dikatakan bibi Juminten. Wajah Mahira terlihat pucat. Apakah karena akhir-akhir ini Mahira jarang tertidur nyenyak? Ataukah karena aktifitasnya bersama Teddy tadi?
Hati Edmond kembali merasa panas. Ia menuju ke keranjang tempat baju kotor berada. Gaun yang dipakai Mahira tadi ada di sana. Edmond mencium gaun itu. Tak ada bau lain selain bau parfum Mahira dan sedikit bau minyak minyak telon yang biasa dipakai Edewina.
Ya Tuhan, apakah mereka melakukannya tanpa menggunakan apapun? Ah, ingin rasanya aku membangunkan Mahira dan mengorek keterangan darinya. Hatiku ini sangat cemburu Rasanya tak tahan lagi.
Edmond memilih untuk keluar kamar. Ia harus mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan. Lerry sudah mengirimkan data file perusahaan padanya sejak kemarin dan ia sama sekali belum memeriksanya.
Saat Edmond melewati ruang keluarga, nampak mommy sedang menonton berita. Edmond sebenarnya tak tertarik untuk melihat berita itu. Namun, ketika ia melihat mobil itu, Edmond menghentikan langkahnya. Karena mobil itu biasa digunakan oleh anak buahnya.
"Pembunuhan sadis ini, telah menyebabkan dua orang meninggal di tempat, sementara yang satu masih koma. Ketiga korban ini adalah karyawan di salah satu perusahaan kelapa sawit. Dari keterangan yang disampaikan oleh polisi, mereka sedang beristirahat di sebuah taman dekat perumahan mewah saat diserang secara membabi-buta oleh 7 orang yang tak dikenal dengan senjata tajam."
Monalisa! Ini pasti pekerjaannya. Ia tahu kalau ketiga karyawan itu bukan pekerja di kebun kelapa sawit melainkan anak buah ku yang dengan sengaja ku samarkan identitasnya agar keberadaan mereka tak diketahui.
"Ed, kamu mengenal mereka?" tanya mommy Rahel
"Iya, mom. Mereka adalah pekerja di perusahaan kami. Mereka bukan orang sini."
__ADS_1
"Kasihan, ya? Semoga satu yang masih koma itu bisa selamat. Entah apa yang mereka lakukan sehingga diserang secara brutal. Apakah mungkin jaringan ******* atau mafia ya? Mommy berharap agar kau dan Eduardo tak akan pernah terlibat dengan kelompok seperti itu, Ed. Mommy bisa mati secara langsung saat tahu kebenarannya."
Edmond mencium pipi mommy. "Jangan khawatir, mom. Aku dan Eduardo akan selalu membuat mommy bangga."
Rahel mengusap tangan anaknya. "Mommy tahu kalau kalian berdua adalah anak-anak mommy yang luar biasa. Apalagi kamu, Ed. Istrimu baik, kau pun sudah memiliki Edewina. Anak itu sangat cerdas. Mengingatkan mommy pada dirimu saat masih kecil. Itulah sebabnya mommy selalu berdoa, jika Tuhan boleh ijinkan mommy umur panjang, mommy ingin melihat anak-cucu mommy berhasil dalam hidup mereka. Mommy akan meninggal dengan damai saat melihat dirimu, Eduardo dan Edina bisa memiliki keluarga masing-masing yang kokoh ikatannya sampai maut memisahkan. Seperti cinta mommy dan daddy kalian."
Edmond merasakan hatinya perih. Namun ia tersenyum. "Kami pasti akan menjaga keluarga kami masing-masing, mom."
Setelah itu Edmond masuk ke ruang kerjanya. Ia menelepon sopir kepercayaannya yang bernama Ifan.
Ifan adalah sopir yang sangat baik dan loyal pada Edmond. Beberapa waktu yang lalu, saat istrinya melahirkan, Edmond membantunya untuk belanja tissue, pembalut dan beberapa keperluan perempuan lainnya. Namun saat keduanya keluar dari toko ada seorang ibu yang tiba-tiba saja pingsan. Edmond menolong ibu itu dan menimbulkan kecurigaan Mahira saat tak sengaja lipstick ibu itu mengenai kemejanya. (Nah kan, ada yang sudzon menuduh Edmond pintar bersandiwara waktu itu. Pada hal apa yang diceritakan Edmond pada Mahira adalah kejadian yang sebenarnya 😂😂😂).
"Tolong urus proses kepulangan jenasah mereka di daerah mereka masing-masing. Serahkan pesangon dari perusahaan untuk mereka dan aku akan mentransfer 200 juta ke rekening mu untuk kau berikan pada istri mereka secara langsung. Masing-masing seratus juta. Usahakan semuanya terlihat wajar agar polisi tak mencurigai apapun. Hati-hati Ifan. Monalisa sudah bertindak diluar batas sekarang ini."
"Baik, bos. Aku akan melakukannya dengan bersih tanpa ada celah sedikitpun."
Setelah berbincang dengan Ifan, Edmond pun berbicara dengan Lerry. keduanya kemudian terlibat percakapan khusus mengenai perusahaan.
Selama beberapa jam, Edmond berusaha tenggelam dengan pekerjaannya. Ia bahkan melewatkan waktu makan siang dan hanya meminta bibi Juminten membuatkan kopi dan membawakan kue untuknya.
Jam setengah empat sore, Edmond akhirnya selesai. Ia mendengar tawa Wina yang pasti baru bangun dari tidur siangnya. Wina sedang berenang bersama mommy Rahel ditemani oleh Tika yang juga ikut berenang bersama. Edmond keluar dari ruang kerjanya. Ia ingin melihat keadaan Mahira. Ia membuka pintu secara perlahan agar tak menimbulkan bunyi.
Mahira sedang berdiri di depan jendela kaca, membelakangi Edmond dan nampaknya sedang menelepon seseorang. Edmond belum jadi mendekati Mahira saat mendengar nama Teddy disebut.
"Tidak....! Aku tak bisa keluar malam ini, Teddy. Aku merasa tak enak badan."
"..........."
"Teddy, Edmond bisa curiga padaku. Lagi pula aku memang benar sedang tak enak badan. Sudah cukup apa yang kita lakukan tadi. Aku tak mau terulang lagi. Jangan menghubungi aku dulu, dan jangan mendekati Edewina di sekolahnya. Aku mohon!"
".............."
"Teddy, jangan seperti itu. Lupakan keinginanmu itu."
"Baiklah....! Aku akan menemui mu nanti. Bye....!" Mahira melepaskan ho nya di atas meja. Saat ia membalikan badannya, ia terkejut melihat Edmond yang berdiri di depan pintu kamar dengan mata yang menyala dan rahang yang sudah mengeras.
"Edmond?"
**************
Hallo semua.....
Menurut kalian apakah Teddy berhak tahu kalau Edewina adalah anaknya?
Tolong berikan alasannya ya?
love you all
__ADS_1