
"Hallo Edewina cantik....!" Sapa Edmond sambil memberikan senyum termanis yang bisa ia berikan bagi putrinya itu.
Edewina menatap maminya lalu kemudian kembali menatap Edmond.
"Om Edmond akan segera pergi. Ayo ucapkan selamat tinggal." Ujar Mahira sambil memegang tangan Edewina.
Gadis kecil itu menggeleng. Ia langsung berlari masuk ke salah satu kamar diikuti oleh pengasuhnya.
"Pergilah, Ed. Kau membuat Edewina ketakutan."
"Namun aku akan kembali."
Mahira mengerutkan dahinya. "Kenapa harus kembali? Kita akan bertemu di pengadilan nanti."
"Aku tak ingin bercerai."
Mahira menjadi kesal. Ia menatap Edmond yang juga sedang menatapnya sangat dalam."Kali ini, Ed, tolong biarkan aku menentukan jalan hidupku."
Edmond menggeleng. "Sudah pernah kukatakan padamu, kalau aku dan kamu hanya bisa dipisahkan oleh maut. Kamu akan menjadi wanita bebas, jika aku mati, Mahira. Kamu ingatkan dengan sumpah pernikahan yang pernah kita buat?"
"Edmond!"
Senyum di wajah tampan Edmond kembali terlihat. "Sampaikan ciuman manis ku untuk putri kecil kita. Aku akan datang lagi besok." Lalu ia pergi meninggalkan rumah itu.
Mahira tertegun dalam keadaan berdiri. Ia bingung apa yang harus dilakukannya.
"Mami, apakah om itu sudah pergi?"
Mahira menoleh ke arah pintu kamar. "Sudah, sayang."
Edewina berlari dan kembali memeluk Mahira. "Memangnya siapa om itu? Teman mami?"
Mahira mengangguk.
"Apakah dia orang jahat?"
Mahira menggeleng.
"Tapi Wina takut padanya, mami."
Edewina memeluk putrinya. Ia mengecup pipi Wina yang tak montok lagi seperti dulu. Berat badan Wina pun ikut turun.
"Jangan takut ya, sayang. Ada mami."
Melly, pengasuh Edewina, perempuan berusia 30 tahun itu mendekati mereka sambil membawa handuk. "Wina sayang, ayo turun! Kan di perut mami ada ade. Wina nggak boleh digendong mami lagi."
Edewina pun turun. Ia kemudian membelai perut maminya. "Ade sayang, maafkan kakak ya? Sekarang kakak mau mandi dulu." Edewina pun pergi bersama Melly. Mahira duduk di ruang tamu sambil memegang perutnya. Bagaimana jika Edmond tahu aku sedang hamil?
************
Keesokan harinya, saat Mahira pulang kerja, ia melihat mobil Edmond sudah terparkir di depan rumahnya.
"Ed, kamu mau apa lagi sih?"
Edmond turun dari mobil. "Sudah ku katakan kalau aku akan datang untuk kalian berdua. Aku akan membuat Wina mengenali aku lagi. Karena aku adalah papinya."
__ADS_1
"Kau hanya akan menakutinya."
"Tidak! Kalau Wina boleh akrab dengan pengasuhnya, bagaimana mungkin ia tak bisa akrab dengan ku. Wina menyayangiku. Aku akan mendapatkan kepercayaannya dan mendapatkan cintanya lagi."
"Terserah!" Mahira segera masuk diikuti Edmond yang membawakan sebuah boneka untuk Edewina.
"Mana Wina?" tanya Edmond setelah mereka berada di dalam rumah.
"Masih di rumah pengasuhnya. Letaknya tak jauh dari sini. Sedikit lagi dia datang." Kata Mahira dengan sikap dingin. Ia langsung ke dapur. Meletakan belanjaan yang dibawahnya di atas meja pantry. Ia kemudian mengganti sepatunya dengan sandal rumah, lalu memakai celemek dan mulai mencuci sayur dan bahan-bahan untuk makan malam.
Edmond yang menyusul Mahira ke dapur, memperhatikan istrinya itu bekerja dan tak memperdulikan dirinya.
"Mengapa kau tak lagi menggunakan kartu yang kuberikan padamu?" tanya Edmond. Ia bersandar di pinggir meja sambil bersedekap
"Aku masih bisa membiayai kehidupanku sendiri bersama Wina."
"Namun kamu masih istriku. Wina adalah anakku. Aku berhak membiayai kehidupan kalian."
Mahira yang sudah selesai mencuci sayur tak menanggapi perkataan Edmond. Ia kini mengeluarkan daging ayam yang dibelinya dan mulai mencuci daging itu kemudian memotongnya.
"Mami......!" terdengar suara Edewina dari pintu depan. Gadis kecil itu muncul di dapur dan ia nampak terkejut melihat Edmond. Ia lun mendekati maminya.
"Mami, kenapa om itu ada di sini?" tanya Wina setengah berbisik.
"Hallo Edewina. Papi bawa boneka untuk Wina. Bonekanya ada di ruang tamu. Ayo!" ajak Edmond sambil mengulurkan tangannya.
Edewina mendongak dan menatap maminya. "Mengapa om itu bilang kalau dirinya papi?"
"Karena....." Mahira bingung harus menjelaskan apa.
"Nggak mau!" Edewina menolak.
"Dulu Wina sangat suka dengan boneka Barbie. Boneka Wina di rumah Samarinda sangat banyak."
"Wina mau mandi!" Edewina menarik tangan Melly dan segera meninggalkan dapur.
Edmond menahan sakit di hatinya. Namun ia berusaha kuat. Setidaknya ia sudah melihat Wina dan Mahira di hari ini. "Aku pulang dulu, Ra. Besok nanti aku kembali lagi. Sebenarnya aku rindu makan masakan mu. Namun aku tahu kau pasti tak akan mengijinkannya." Edmond tersenyum kecut. Ia kemudian meninggalkan dapur.
Saat Mahira mendengar suara mobil yang perlahan meninggalkan depan rumahnya, ia pun segera menelepon Putri dan menceritakan segalanya.
"Edmond mencintai mu, Ra. Aku dapat melihat itu di matanya. Kemarin, setelah ia menemui mu, dia juga datang ke rumahku." kata Putri dari seberang.
"Tapi aku nggak mau dekat dengannya lagi. Sulit rasanya percaya pada Edmond lagi. Dia sudah membohongiku sejak awal menikahiku. Aku hanya ingin hidup tentram bersama Edewina dan anakku yang akan lahir nanti."
"Kamu sudah mengatakan tentang kehamilanmu?"
"Tidak. Dikatakan saja percuma. Dia nggak akan percaya karena dia selalu mengatakan bahwa dirinya mandul."
"Ra, memangnya kau tak mencintai Edmond lagi?"
"Tidak! Semua rasa cintaku telah pergi seiring dengan terbongkarnya satu persatu rahasia Edmond."
"Aku tak akan memaksa kamu, Ra. Yang aku tahu, Edmond mencintaimu."
"Ya sudah. Aku mau masak dulu." Mahira mengahiri percakapan mereka. Ia menuju ke ruang tamu. Di atas meja, ada kantong plastik dengan merk sebuah toko mainan terkenal. Mahira mengeluarkan boneka itu dari sana..Ada dua buah boneka barbie..
__ADS_1
"Mami, apakah boneka ini mami yang belikan?" Edewina yang sudah selesai mandi langsung memegang boneka itu.
"Bukan sayang. Boneka ini dibawa oleh om Edmond."
Edewina meletakan boneka itu kembali ke atas meja. "Wina mau nonton TV." katanya sambil mengambil remote dan mulai mencari acara anak-anak kesukaannya. Mahirabpun kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Ra, Edmond itu papinya Wina kan?" tanya Melly. Melly adalah saudara sepupunya Putri. Rumah yang Mahira tempati ini adalah milik dari orang tua Melly. Orang tuanya sudah meninggal. Melly sendiri tinggal bersama kedua anaknya di sebuah rumah yang tak jauh dari rumah ini. Suami Melly sedang bekerja di luar kota dan pulang setiap 3 bulan sekali. Ketika Mahira mencari orang untuk mengasuh Edewina, Melly menyatakan keinginannya untuk menjaga Wina karena kedua anaknya sudah berusia 11 dan 9 tahun. Dan ternyata, Wina bisa suka pada Melly dan kedua anak lelakinya.
"Iya. Itu papinya Wina. Bagaimana kau tahu?"
"Aku pernah melihatnya di hp Putri. Foto pernikahan kalian. Sangat disayangkan jika semua ini harus berakhir. Maaf ya, bukannya aku sok ikut campur, namun lelaki itu terlihat sangat mencintaimu. Pancaran matanya terlihat begitu memujamu."
Mahira mengangguk. "Aku tahu. Namun dia mencintaiku dengan cara yang salah. Bagiku, kejujuran itu penting dan itu yang tak dilakukannya sejak awal." Jawab Mahira lalu mulai menggoreng ayam yang sudah disiapkannya.
Sementara di ruang tamu, Edewina yang sedang menonton TV sesekali melirik boneka yang ada di meja itu. Ia berusaha tak terpengaruh namun gadis kecil itu akhirnya berdiri dan memegang dua boneka itu. Tiba-tiba ia berlari ke dapur.
"Mami....!" panggilnya sambil memegang kedua boneka itu.
"Ya, sayang."
"Apakah Wina pernah memiliki boneka seperti ini sebelumnya? Kok Wina merasa pernah punya ya?"'
Mahira tersenyum. Apakah ingatan Wina mulai kembali?
"Iya sayang. Wina punya boneka seperti ini. Sangat banyak."
"Terus bonekanya ada di mana?"
"Di Samarinda, nak."
"Di mana itu?"
"Tempatnya jauh."
"Kita ke sana, yuk!"
Mahira memegang pipi anaknya. "Nanti, kalau mami sedang libur."
Edewina menatap kedua boneka yang ada di tangannya itu. "Mami, Wina boleh menyimpan boneka dari om Edmond?"
Mahira mengangguk. Edewina pun kembali berlari ke ruang tamu.
Melly menatap Mahira. "Kata orang, darah lebih kental dari air. Darah Moreno yang ada dalam tubuh Edewina membuatnya perlahan akan mengingat lagi papinya."
Mahira hanya tersenyum. Melly memang tak tahu tentang kisahnya bersama Teddy. Edewina memang anak biologis Teddy. Namun di tubuh Edewina bukan hanya ada darah Teddy tetapi juga sekarang ada darahnya Edmond.
Selesai makan malam, Melly kembali ke rumahnya. Mahira pun segera masuk ke.kamar bersama Edewina. Dan betapa terkejutnya Mahira, saat mereka sudah berada di atas ranjang, Edewina meletakan kedua boneka itu salam posisi duduk di atas kepalanya. Sama persis yang biasa ia lakukan sebelum kehilangan ingatannya.
*************
Selamat pagi......
Semoga hari ini menjadi berkat bagi kita semua
jangan lupa dukung emak ya guys
__ADS_1