
Hari-hari pun berlalu dengan begitu cepatnya. Rahel sudah tinggal di Samarinda hampir 2 bulan lamanya.
Edriges sempat pulang ke Manado lalu kembali ke Spanyol untuk mengurus bisnisnya. Dan ia datang kembali ke Samarinda untuk menjemput istrinya karena harus melakukan pengobatannya lagi.
"Papi, mami belum mau pulang. Rasanya nggak mau meninggalkan Edewina." kata Rahel memohon.
Edriges menatap istrinya. "Ma, kita kan bisa datang lagi ke sini untuk melihat cucu kita. Mami harus kembali untuk melanjutkan pengobatan. Kata dokter jika terputus, maka harus diulang lagi dari pertama."
"Memangnya papi nggak melihat kalau di sini aku baik-baik saja? Berat badanku bahkan naik sampai 3 kg."
Edmond yang duduk di samping mamanya, memeluk lengan wanita parubaya itu yang nampak masih sangat cantik."Mom, apa yang dikatakan daddy benar. Mommy kan bisa datang lagi."
"Ed, bagaimana kalau Mahira dan Edewina ikut mommy ke Spanyol?" tanya Rahel.
"Mommy, nanti aku yang jadi kurus karena harus berpisah dengan istri dan anakku. Lagi pula Edewina masih terlalu kecil untuk naik pesawat. Usianya baru 2 bulan."
Rahel menatap Edewina yang ada dalam keranjang bayinya yang diletakan di samping tempat duduk Rahel. Dia sungguh sudah jatuh cinta pada cucunya itu. Apalagi Edewina memang mirip putri tertuanya.
"Mommy rasanya tak sanggup untuk berpisah dengannya, Ed. Lihatlah pipinya yang sudah mulai montok ini. Dia sangat rakus saat minum susu."
Edmond dan papanya saling berpandangan. Mereka tersenyum melihat tingkah Rahel yang tidak mau meninggalkan cucunya.
"Ed, kenapa kamu tak pindah saja ke Madrid? Bisnis Daddy di sana juga banyak. Tinggalkan saja perusahaan mu di sini." Rahel kembali menggerutu.
Akhirnya, setelah dibujuk, Rahel pun akhirnya mau pulang untuk melanjutkan pengobatannya. Mata Rahel sampai bengkak karena menangis.
"Kasihan mommy. Selama ini, ia sudah terbiasa tidur sama Edewina. Mana pernah mommy ijinkan aku bangun tengah malam untuk membuat susu anakku. Kalau tak mommy pasti Ed yang membuatnya." ujar Mahira. Satu jam yang lalu, Edmond baru saja mengantar orang tuanya ke bandara dan setelah itu ia langsung ke perusahaan.
"Nyonya Rahel sangat menyayangi nyonya Mahira." kata Lita, asisten rumah tangga yang baru satu bulan bekerja di sini. Kita adalah seorang gadis berusia 19 tahun. Namun ia sangat rajin dan cekatan. Juminten langsung menyukai rekan sekerja nya itu.
"Iya. Siapapun akan menyayangi nyonya Mahira." kata Juminten membuat Mahira hanya tersenyum.
"Aku mau memandikan Wina dulu ya?"
"Airnya sudah aku siapkan di kamar bayi." ujar Juminten..
"Terima kasih, bi."
Edmond memang telah mengubah salah satu kamar menjadi kamar bayi. Namun Edewina tak tidur di kamar itu. Kamar bayi itu hanya khusus tempat Edewina ganti pakaian. Karena untuk tidur, ia malah di kamar omanya atau di kamar Mahira.
************
Hari sudah malam. Jarum jam sudah menunjukan angka 8 malam. Edmond belum pulang karena pekerjaan tambahan di tambang batubara. Beberapa menit yang lalu, ia baru saja menelepon Mahira.
"Bi, tolong buatkan susu untuk Wina. Entah kenapa gadis kecil ini agak rewel." Ujar Mahira sambil menggendong putrinya.
"Baik nyonya." Juminten segera ke dapur sedangkan Lita baru selesai mandi.
"Nyonya biar aku saja memberikan baby Wina susu. Nyonya makan dulu. Dari tadi nyonya belum makan. Atau nyonya mau menunggu tuan?" tanya Lita.
"Tuan pulangnya agak larut. Baiklah. Aku makan saja." ujar Mahira lalu memberikan bayi kecilnya pada Lita dan segera ke ruang makan.
__ADS_1
Pukul 11 lewat ,10 menit.
Mahira sangat khawatir. Edewina hanya tidur sebentar dan kini menangis lagi. Sudah diberikan susunya namun Edewina tak mau.
"Jangan-jangan dia kangen sama omanya. Duh, kata orang-orang tua, kalau ada pakaian yang bekas dipakai oleh nyonya Rahel maka harus ditaruh di sisi sang bayi." ujar Juminten. Di sebelahnya Lita juga terlihat masih terjaga walaupun dengan mata yang agak berat.
Mahira sudah menelepon Edmond namun ponsel suaminya itu tak aktif. Ia sendiri menjadi bingung dengan keadaan Edewina malam ini. Pada hal anaknya ini termasuk anak yang tak rewel dan jarang menangis.
Tak lama kemudian, Mahira mendengar suara klakson mobil.
"Edmond pulang." Mahira jadi senang. Juminten langsung berlari keluar untuk membuka pintu pagar.
"Edewina rewel?" tanya Edmond saat masuk. Ia terlihat sangat lelah.
"Iya, Ed."
"Aku mandi dulu ya? Baju ku kotor dari tambang." Edmond bergegas ke kamar. Sedangkan baby Wina masih saja rewel. Ia tak mau di lepaskan di atas tempat tidurnya Susunya pun tak mau disentuhnya.
"Sayang, kamu kenapa?"'tanya Mahira sambil terus membelai pipi Edewina.
Tak sampai 15 menit, Edmond sudah selesai mandi dan ganti pakaian. Ia segera ke ruang tamu dan mengambil Edewina dari gendongan ibunya.
"Sayang, anak papi. Kamu kenapa? Kangen sama Oma ya?" Ujar Edmond sambil jari telunjuknya di letakan di antara pelipis Edewina dan membelai lembut di sana.
Ajaib! Edewina langsung diam. Mahira jadi ingat. Itu adalah kebiasaan yang dilakukan oleh ibu mertuanya setiap kali akan menindurkan Edewina.
Edmond bahkan bersenandung sebuah lagu berbahasa Spanyol yang juga sering dinyanyikan oleh Rahel.
"Akhirnya dia mau minum. Sudah 3 jam aku membujuknya untuk minum susu namun dia tak mau, Ed." Mahira jadi terharu. Ia sungguh tak menyangka kalau anaknya itu justru takluk dalam pelukan papinya.
Tak lama kemudian, Edewina pun tertidur bersamaan dengan habisnya susu dalam botol susunya. Edmond langsung membawa anaknya ke kamar mereka dan membaringkan Edewina di box bayinya. Ia menyelimuti Edwina lalu menutup kelambu yang ada di atas box bayi itu.
"Ed, dia ternyata merindukan kamu." ujar Mahira yang berdiri di samping Edmond. Keduanya masih ada di dekat box bayi Edewina.
"Maaf ya aku pulangnya malam. Pekerjaan di tambang agak menyita waktuku. Soalnya Lerry tadi baru saja pulang ke Australia. Adiknya mau menikah." Edmond merentangkan tangannya. Ia menggerakan sedikit badannya untuk merenggangkan ototnya yang sedikit kaku.
"Kamu capek tapi masih bisa mengurus Edewina. Terima kasih ya?"
"Kok berterima kasih, sih? Itu kan juga sudah merupakan tugasku sebagai papinya Wina." Edmond memegang pipi Mahira lalu ia mengecup pipi kanan Mahira dengan sangat lembut.
Hati Mahira bergetar oleh semua rasa sayang yang Edmond berikan. Hatinya juga bergetar karena perasaan cinta yang sudah tumbuh dalam hatinya.
"Edmond Moreno, aku mencintaimu." kata Mahira tanpa bisa menahan lagi perasannya..
Edmond menatap Mahira dengan tatapan terkejut. "Kamu bilang apa?"
"Aku mencintaimu, Ed. Sangat mencintaimu."
"Katakan sekali lagi."
"Yo te amo."
__ADS_1
Edmond langsung membawa Mahira ke dalam pelukannya. "Akhirnya......, akhirnya kamu menyatakan perasaanmu padaku. Terima kasih sayang. Terima kasih karena mau membalas cintaku."
Mahira terharu dalam pelukan suaminya. Ia juga merasa lega karena bisa mengungkapkan perasaannya.
"Sayang.....!" Edmond langsung mencium Mahira dengan sangat lembut namun penuh hasrat yang tak bisa terbantahkan lagi. Semenjak Mahira hamil tua, mereka berdua memang sudah jarang berhubungan intim. Sampai akhirnya Mahira melahirkan. Edmond harus memendam semua rasa yang ingin ia berikan kepada istrinya itu.
"Apakah sudah boleh?" tanya Edmond dengan suara parau dibalut dengan gairah yang membara.
Mahira mengangguk agak tersipu-tersipu.
Tanpa ragu, Edmond pun membuka kaos dan celana rumahan yang dipakainya. Demikian juga Mahira membuka piyama yang sudah menempel di tubuhnya. Setelah mereka sama-sama polos, tanpa ada yang komando pun mereka langsung saling memeluk dan saling melepaskan dahaga akan indahnya penyatuan yang membawa pada kenikmatan dunia.
**********
Mahira bangun pagi, namun Edmond sudah tak ada di sampingnya. Saat ia melihat box bayi yang kosong, Mahira pun tersenyum. Edmond pasti sudah membawa putri kecil mereka ke luar rumah untuk menyambut matahari pagi. Karena memang itulah yang selalu dilakukan eh ibu mertuanya ketika dia ada di sini.
Badan Mahira rasanya sakit semua. Mungkin karena sudah lama ia dan Edmond tak melakukan hubungan intim dan semalam Edmond sampai 3 kali meminta jatahnya.
Sambil tersenyum mengingat apa yang telah mereka lalui semalam, Mahira pun turun dari tempat tidur. Ia mengenakan baju bekasnya semalam, lalu merapikan kembali ranjang yang acak-acakan karena pergulatan mereka semalam.
Selesai merapikan ranjang mereka, Mahira juga membereskan baju-baju Edmond yang hanya diletakkannya begitu saja di atas sofa. Edmond mungkin semalam agak tergesa-gesa mandi karena ingin membujuk baby Wina. Mahira sungguh bersyukur karena Edmond sangat menyayangi putri mereka. Tak ada lagi bayangan Teddy di sana. Mahira juga bersyukur karena wajah baby Wina lebih mirip dengannya. Memang ada satu hal yang Mahira simpan dalam hati. Kepada Edmond pun tak mau Mahira ceritakan. Lesung pipit Edewina seperti lesung pipit Teddy. Namun Rahel, mamanya Edmond memiliki juga lesung pipit jadi lesung pipit di wajah Edewina dikatakan mirip Rahel juga mirip kakaknya Edmond yang sudah meninggal.
Satu persatu baju kotor itu dimasukan Mahira ke dalam keranjang baju kotor. Namun saat akan memasukan kemeja yang Edmond pakai bekerja kemarin, sesuatu jatuh dari kantong kemeja itu. Mahira memungutnya dan melihat kertas yang jatuh itu. Sebuah struk pembayaran dari sebuah mini market. Mahira sebenarnya ingin membuang kertas itu namun matanya secara tak sengaja membaca daftar belanjaan yang ada di sana.
Pembalut siang
Pembalut malam
tissue
shampoo wanita
tissue basah
tissue pembersih wajah
sabun pembersih wajah untuk wanita
sabun mandi khusus wanita.
Jantung Mahira langsung berdetak sangat cepat. Mengapa Edmond belanja pembalut dan barang-barang milik wanita? Shampoo, tissue basah, sabun pembersih wajah, sabun mandi bukanlah merk yang biasa di pakai Mahira.
Mahira memeriksa struk belanja itu dan melihat jam belanjanya ada pukul 22.33 menit. Sebuah supermarket yang buka 24 jam. Mahira tahu supermarket ini. Ia pernah belanja di sana saat mereka pulang dari perusahaan. Mahira mencium kemeja itu. Jantungnya semakin kuat saja berdetak. Ada bau parfum Edmond yang bercampur dengan bau parfum yang lebih lembut. Seperti parfum wanita. Dan mata Mahira langsung menjadi panas, air matanya langsung menetes saat ia melihat ada bekas lipstick di bagian kerak kemeja Edmond. Lipstick yang bukan milik Mahira karena Mahira tak pernah memiliki lipstick warna merah menyala seperti itu.
*************
Nah....., apa yang dilakukan Edmond? Lipstick siapakah itu?
Semangat yang masih puasa ya?
Jangan lupa tinggalkan jejak di episode ini
__ADS_1