
Di saat sakit dan butuh perhatian, rasanya sangat menyakitkan ketika orang yang kita harapkan untuk memberi perhatian itu justru bersikap dingin pada kita.
Edmond memandang Mahira yang sedang mengganti perban luka di pelipisnya. Tak ada tatapan lembutnya, tak ada senyum di bibirnya bahkan kata-kata manis Mahira yang selalu menyejukkan hatinya tak ada.
"Sayang......!" Edmond menahan tangan Mahira yang akan pergi setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku mau melihat Wina." Mahira berusaha menarik tangannya namun Edmond menahannya.
"Jangan seperti ini. Jangan bersikap diam padaku."
Mahira menatap Edmond. Masih dengan sikap dinginnya. "Mau kamu apa? Aku kan tidak membiarkanmu. Aku mengurus luka-lukamu, memberikan kamu obat, menyuapi mu saat makan. Apa lagi?"
"Aku rindu kamu yang dulu, Ra."
"Maaf, Ed. Semua tak akan sama lagi seperti dulu. Aku di sini karena menjaga perasaan Wina." Mahira akan pergi namun Edmond memeluknya dari belakang. Masih sempat Mahira dengar bagaimana Edmond meringis karena menahan sakit di kakinya.
"Percayalah padaku, sayang. Aku sungguh mencintaimu dan juga Wina. Aku tak mau keluarga kita menjadi hancur. Aku kan sudah pernah resign dari perusahaan dan akan kembali ke Manado untuk membuktikan bahwa aku ingin menjauh dari Monalisa. Namun kamu sendiri yang melarangnya. Aku harus bagaimana lagi?"
Mahira terkejut saat merasakan kalau tubuh Edmond bergetar karena ia menangis. Hati perempuan itu hampir saja luluh. Namun, mengingat semua yang terjadi, Mahira berusaha menguatkan hatinya. Ia akan melepaskan tangan Edmond yang melingkar di perutnya namun ia membatalkannya saat melihat Edewina masuk sambil membawa hp.
"Mami sama papi pelukan. Wina suka....!" gadis kecil itu berlari dan memeluk kaki papi dan maminya.
"Wina sayang, kamu sudah sarapan, nak?" Mahira akhirnya melepaskan diri dari pelukan Edmond.
"Sudah, mami. Tadi saat sarapan, Wina Videocall sama sama Oma. Wina bilang kalau wajah, tangan dan kaki papi terluka. Dan Oma akan datang ke sini." ujar Wina.
"Oma ke sini?" Edmond jadi kaget. Ia tak mau mommy melihatnya dalam keadaan seperti ini.
"Iya. Tadi oma bilang ke opa bahwa oma akan segera datang. Hari ini. Nggak boleh ditunda. Kata oma, sore atau malam, oma sudah ada di Samarinda."
"Sayang, oma mungkin tibanya besok. Perjalanan dari Madrid ke sini kan jauh." ujar Mahira.
"Oma ada di Manado. Paman Eduardo juga."
Mahira dan Edmond saling berpandangan. Jika mommy Rahel datang, Mahira tak mungkin akan bersikap kasar pada Edmond.
************
Rahel dan Eduardo tiba di Samarinda jam 5 sore. Perempuan yang masih terlihat cantik itu langsung menangis melihat putranya.
__ADS_1
"Mengapa bisa kecelakaan, Ed? Bukankah kamu orangnya sangat hati-hati saat membawa kendaraan?" Rahel memeluk anaknya sambil menangis.
"Sudahlah, mom. Nanti Wina jadi takut. Aku baik-baik saja, kok." Edmond berusaha tersenyum.
"Kamu harus hati-hati, Ed. Ingat, kamu sudah punya anak dan istri."
"Iya, mom."
Rahel pun akhirnya tenang. Saat selesai makan malam, Wina langsung ikut omanya ke kamar, sedangkan Eduardo dan Edmond berbincang di ruang kerja Edmond. Saat Mahira akan mengantarkan kopi, ia mendengar percakapan kakak beradik itu.
"Kak, aku sudah tahu tentang penyakit mommy. Aku sangat sedih mendengarnya. Makanya aku memutuskan untuk menikah saja dengan pacarku." kata Eduardo.
"Jangan menikah hanya karena ingin membuat mommy senang. Pernikahan itu komitmen seumur hidup."
"Kak, apakah pernikahan kalian baik-baik saja? Aku melihat ada sesuatu antara kau dan Mahira."
Edmond menarik napas panjang. "Aku dan Mahira sedang ada masalah."
"Apakah ada hubungan dengan Monalisa?"
"Perempuan itu memang gila. Aku dari dulu nggak pernah suka padanya. Apakah Mahira sudah tahu bagaimana hubungan kalian dulu?"
"Tapi kan kau tak sengaja melakukannya, kak. Kau justru bertujuan untuk menolong Monalisa."
"Walaupun tujuanku untuk menolong, namun tetap saja aku sudah menghilangkan nyawa orang. Mahira orangnya lembut, polos dan penuh kasih. Ia pasti tak akan menerima saat tahu kalau aku pernah menghilangkan nyawa orang. Aku takut dia akan semakin meninggalkanku."
"Jangan sampai mommy melihat kalian yang nggak akur begini. Itu bisa menambah beban pikirannya. Dia selalu bercerita tentang Mahira dan Edewina. Dia sangat senang kalian menikah. Aku juga senang mendengar kau menikah dengan gadis yang sejak dulu sudah kau cintai. Kak, mommy sudah meminta Daddy untuk membagi harta kekayaan untuk kita bertiga. Aku pikir mommy sudah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum ajal menjemputnya. Daddy meminta kita untuk membahagiakan mommy di saat-saat terakhirnya. Daddy bahkan mengijinkan mommy untuk tinggal di Samarinda jika tidak ada jadwal pengobatannya. Edewina anakmu, adalah penyemangat hidup mommy."
Mahira memutuskan untuk kembali ke dapur sambil membawa baki yang berisi 2 cangkir kopi.
*Edmond pernah menghilangkan nyawa seseorang untuk menolong Monalisa? Apakah itu perbuatan yang tak disengaja? Ya Tuhan, Ed. Mengapa hidupmu penuh rahasia.
Bagaimana caranya kita akan berpisah? Mommy ada di sini. Dan aku bingung harus menentukan sikapku kepadamu. Apakah aku harus mempercayai mu? Sungguh kah kau mencintaiku? Lalu bagaimana hubunganmu dengan Monalisa*?
Mahira terus bergumul dengan perasaannya sendiri. Sampai akhirnya Edmond masuk ke kamar.
"Eduardo tidur di kamarnya Wina. Ia nggak mau menginap di hotel." Kata Edmond lalu mendekati Mahira yang sedang duduk di atas sofa.
"Sayang, kau belum tidur?" tanya Edmond dengan penuh kasih dan perhatian.
__ADS_1
"Aku belum mengantuk, Ed."
"Aku tidur dulu, ya? Mungkin pengaruh obat sampai aku merasa mengantuk." Edmond berdiri dan hendak menuju ke ranjang. Namun panggilan Mahira membuatnya menghentikan langkahnya.
"Ed.....!"
"Ada apa sayang?" Edmond membalikan badannya.
"Aku tadi tak sengaja mendengar percakapanmu dengan Eduardo. Apakah benar kau pernah membunuh orang?"
Edmond terkejut. "Ceritanya begini, sayang....."
Edmond pun menceritakan apa yang terjadi malam itu. Namun ia tak berani menceritakan tentang keterlibatan nya dengan kelompok mafia. Ia tak ingin Mahira menjadi ketakutan dan semakin menjauhinya.
"Monalisa sering mengalami serangan panik. Ia suka melukai dirinya. Hanya aku yang bisa menanganinya karena saat di Amerika, psikiater Ica telah mengajari ku bagaimana cara menangani Ica."
"Apakah benar kau tak pernah menyentuh Ica setelah melamarku?"
"Tidak sayang. Monalisa memang sering datang ke mess. Namun aku tak pernah lagi menyentuh nya."
Mahira menatap Edmond? Haruskah ia memberi satu kesempatan lagi bagi Edmond untuk membuktikan perasaannya?
"Ra, please percaya sama aku lagi!" Edmond mendekat lalu meraih tangan Mahira. Kali ini Mahira tak menepisnya.
"Aku mencintaimu, Ra. Sangat mencintaimu."
Mahira menarik napas panjang. "Buktikan bahwa kau memang mencintai aku dan Wina tanpa ada bayang-bayang Monalisa lagi."
Edmond langsung memeluk Mahira sambil menangis. "Iya sayang. Aku akan membuktikannya. Hanya kau dan Wina yang ada di hatiku." Edmond melepaskan pelukamnya. Ia kemudian menangkup wajah pipi Mahira dengan kedua tangannya. "Beri aku satu kesempatan lagi. Jika ternyata aku melanggarnya, aku rela melepaskan mu."
Hati Mahira bergetar. Ia membiarkan Edmond mengecup dahinya walaupun hatinya masih ragu.
************
Selamat malam guys
selamat menyambut Idul Fitri
Mohon maaf lahir dan bati
__ADS_1