
Sementara Mahira memasak, Edmond yang menemani Edewina menonton meminta satpam di kantornya untuk mengantar mobil ke tempat Mahira.Di mobil Edmond sudah ada pakaiannya.
"Om Ed, jangan pulang ya. Bobo di sini saja." ujar Wina.
"Iya."
"Besok pagi jangan pulang. Tunggu Wina bangun dan kita buat pancake sama-sama. Aduh, dimana ya Wina pernah buat pancake."
Edmond mengusap kepala Wina. "Suatu saat Wina pasti ingat."
"Om Edmond, sayang Wina?"
"Sayang sekali."
"Kalau sama mami, apakah om Edmond juga sayang?"
"Sayang sekali."
"Kenapa om Edmond sayang sama mami?"
"Karena om Edmond suka dengan mami."
Edewina tersenyum. Ia berdiri di atas sofa lalu mencium pipi Edmond. "Wina juga suka dengan om Edmond."
Edmond memeluk Wina dengan perasaan haru. Ya Tuhan, aku mohon, kembalikan ingatan Wina.
Tanpa mereka sadari, Mahira melihat dan mendengar percakapan itu. Hatinya ikut menjadi haru. Ada gejolak di dalam hatinya oleh rasa cinta yang masih ia simpan dalam hatinya. Dapatkah rasa trauma itu ia buang sepenuhnya dari ingatannya? Bisakah mereka bersama lagi dan bahagia?
Mahira menyiapkan semua masakan yang sudah dibuatnya di atas meja. Ia kemudian mengajak Edmond untuk makan malam bersama. Tentu saja Edmond senang. Ia sudah lama merindukan masakan buatan Mahira.
"Masakan mu selalu enak, Ra. Aku sangat suka. Tak apa-apakan kalau aku makan banyak hari ini?"
Hati Mahira menjadi tersentuh. Edmond memang terlihat kurus. Mungkin akhir-akhir ia jarang makan banyak. Pada hal setelah menikah, berat badan Edmond naik sampai 8 kg. Namun karena Edmond rajin berolahraga dan gym, bentuk badannya tetap terjaga. Kini, pipi Edmond nampak tirus.
"Ada apa?" tanya Edmond sambil menghentikan kegiatannya yang sementara makan. Keduanya saling berpandangan.
Mahira buru-buru menggeleng. "Makan yang banyak, Ed. Aku mau melihat Wina dulu." Mahira segera mencuci tangannya dan bergegas ke ruang tamu.
Edmond tersenyum melihat wajah Mahira yang merah karena Edmond memergokinya sedang memperhatikan Edmond.
"Aku tahu kalau kamu masih peduli dengan aku, Ra." guman Edmond lalu melanjutkan lagi makannya. Ia bahagia bisa menikmati masakan Mahira. Edmond yakin kalau Mahira memperhatikan dirinya yang semakin kurus.
Selesai makan, Edmond membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan yang digunakan.
Setelah itu ia ke ruang tamu namun Mahira dan Edewina sudah tak ada. Ia pun menuju ke kamar Mahira. Ternyata Mahira sementara menindurkan Wina.
__ADS_1
"Sudah tidur?" tanya Edmond dengan suara yang pelan.
"Iya. Dia mengeluh kalau kepalanya sakit. Aku mau membawa Wina ke dokter anak besok sore setelah selesai bekerja."
"Biar aku saja yang membawanya. Kamu masih ingat Rani kan?"
"Gadis fakultas kedokteran yang adalah saudaramu itu?"
"Iya. Dia sudah menjadi dokter ahli anak. Sekarang ia bertugas di salah satu rumah sakit swasta. Sebenarnya tadi aku mau membawa Wina ke sana namun karena dia masih berada di luar kota jadi nanti besok saja selesai Wina sekolah. Malam ini Rani sudah kembali."
"Kamu kan harus bekerja, Ed."
"Aku kan bos jadi bisa mengatur jadwalku sendiri." ujar Edmond dengan nada sedikit sombong membuat Mahira jadi terkekeh.
"Ra, tolong ambilkan handuk untukku." kata Edmond saat Mahira sudah selesai menyelimuti tubuh Edewina dengan selimut bermotif doraemon.
"Aku akan ambilkan." Mahira ke kamarnya dan mengambil sebuah handuk bersih untuk Edmond.
"Aku mandi di kamar mandimu ya?"
Mahira mengangguk. Namun saat Edmond melangkah ke kamar mandi, ia memanggil pria itu.
"Ed....!"
Edmond menoleh. "Kamu nggak pulang ke rumahmu?"
Batin Mahira kembali bergumul. Edmond memang keras kepala. Ia tahu kalau Edmond tak akan menyerah sekalipun mungkin waktu 2 Minggu itu akan berlalu.
Mahira duduk di single sofa yang ada di kamarnya itu. Tak lama kemudian, Edmond keluar dari kamar mandi. Ia hanya menggunakan celana pendek tanpa atasan. Mahira pun terkejut karena memang Edmond terlihat jauh lebih kurus dari sebelumnya walaupun masih tetap terlihat atletis.
"Kenapa melihat aku seperti itu? Kangen membelai dadaku?" tanya Edmond membuat Mahira menjadi malu.
"Ed....!" Mahira pura-pura malu pada hal memang ia rindu berbaring di dada Edmond dan tertidur saat Edmond akan membelai punggungnya.
Edmond mendekat. Ia kemudian berlutut di hadapan Mahira, mengambil kedua tangan istrinya itu dan menciumnya secara bergantian kiri dan kanan.
"Kamu, Wina dan anak ini." sambil membelai perut Mahira. "Adalah nafas hidupku. Aku akan mati jika kalian tak ada. Karena itu, ijinkan aku ada di sini. Untuk membantu Wina mengingat kembali masa lalunya dan mendapatkan kepercayaanmu lagi."
"Ed aku takut masa lalu mu akan mengancam keselamatan Wina. Kadang dalam tidurku, aku selalu memimpikan peristiwa penembakan itu. Apalagi Wina yang masih kecil yang tak kuat mengingat hari itu sehingga ia berusaha melupakan nya. Kata dokter ahli saraf, kejadian itu sangat menyakitkan bagi Wina melihat aku yang hampir mati tertembak."
Edmond tersenyum. "Aku berani bersumpah padamu, sayang. Aku telah memutuskan semua ikatan antara diri ku dengan para mafia itu. Bahkan aku sudah menghapus tato naga yang ada di punggungku." Lalu Edmond membalikan tubuhnya agar Mahira dapat melihat tato itu sudah tak ada. "Aku hanya ingin hidup damai bersamamu, Wina dan anak yang masih kau kandung ini. Aku tak akan pernah membiarkan kalian terluka sedikit pun."
"Ed....!"
Edmond langsung meraih tengkuk Mahira dan mencium bibir wanita yang sangat dicintainya itu. Awalnya Mahira menolak namun Edmond tak mau melepaskan ciumannya. Lama kelamaan, Mahira akhirnya membalas ciuman lelaki yang masih menjadi suaminya itu.
__ADS_1
Edmond melepaskan ciumannya. "Kita pindah kamar saja?"
"Ed, kencan kan bukan berarti harus...."
"Mahira, apakah kau tega membuat aku sakit kepala lagi?" Edmond sedikit memelas.
Mahira jadi terkekeh. Hatinya telah luluh. "Baiklah."
Edmond hampir saja berteriak kegirangan. Ia langsung mengangkat tubuh Mahira untuk menuju ke kamar tamu.
Rasa rindu untuk saling memuaskan raga membuat Edmond dengan cepat melepaskan semua yang ada di tubuhnya dan Mahira. Mereka pun memulai pemanasan dengan hasrat yang sudah tak bisa dibendung lagi.
"Mami.....!"
Mahira terkejut. Ia mendorong tubuh Edmond. Pada hal penyatuan mereka baru saja akan dimulai.
"Itu suara Wina." ujar Mahira.
"Bukan sayang. Kamu salah dengar."
"Tidak. Itu suara Wina."
Edmond kembali mencumbu Mahira namun saat terdengar ketukan di pintu kamarnya, ia terpaksa bangun dan mengenakan celananya sambil menarik selimut dan menutupi tubuh Mahira yang polos.
"Ada apa Wina, sayang?" Edmond keluar dari kamar dan langsung menutup pintu nya.
"Mami kemana ya? Wina takut tidur sendiri. Ayo om temani, Wina!" Wina dengan cepat menarik Edmond untuk kembali ke kamarnya.
"Wina sayang, om Ed ada..."
"Pokoknya om temani Wina."
Saat keduanya sudah berbaring di tempat tidur, Wina memeluk tubuh Edmond. Setiap kali Edmond mencoba melepaskan diri, Wina dengan cepat juga menahan lengan Edmond yang akan turun dari ranjang.
"Jangan pergi, om." ujar Wina dengan mata terpejam.
2 jam berlalu.....
Kini Wina sudah melepaskan tangan Edmond dan perlahan Edmond pun kembali ke kamar tamu di mana Mahira sudah menunggunya. Namun alangkah terkejutnya Edmond saat melihat bahwa Mahira sudah tertidur sangat nyenyak walaupun tubuhnya di bawa selimut masih belum mengenakan apapun.
Ada rasa sayang yang membuat Edmond enggan membangunkan Mahira. Ia hanya duduk di tepi ranjang sambil sesekali membelai memijat pangkal hidunhya.
***********""
Selamat malam semuanya
__ADS_1
happy reading
jangan lupa dukung emak