
Setelah perempuan itu pergi dengan mobilnya, Mahira pun menjadi penasaran. Ingin tahu siapa perempuan itu.
Ia segera masuk ke dalam rumah. Hatinya merasa tak tenang. Ia pun menelepon Edmond dan ponsel suaminya itu aktif. Baru di dering pertama, Edmond sudah mengangkatnya.
"Hallo sayang, kau sudah bangun?" tanya Edmond.
"Sudah dari tadi. Aku bahkan sudah selesai sarapan dan mandi."
"Wah, pasti kami sekarang baunya harum kan? Andai saja aku ada di dekatmu, pasti sudah kupeluk."
"Ih, Ed." Mahira jadi malu walaupun Edmond tak ada di sampingnya.
"Jadi kangen saja."
"Tumben teleponnya nyambung."
"Aku ada di perkampungan. Mau melihat lokasi yang akan dijadikan perkebunan sawit. Sedikit lagi balik ke perusahaan."
"Ed, tadi saat aku sedang berada di halaman depan, ada seorang perempuan yang berdiri di seberang jalan dan sepertinya sedang memperhatikan rumah ini. Ia menggunakan sebuah mobil berwarna putih. Sayangnya, wajah wanita itu nggak terlalu jelas karena dia memakai kacamata hitam dan selendang untuk menutupi kepalanya. Namun dia tinggi, kulitnya putih dan...."
Klik!
Mahira terkejut. "Hallo....., halo..., Ed, kamu masih di sana?"
Sambungan teleponnya terputus. Mahira jadi kesal. Apakah Ed menganggap tak penting saat ada orang asing memperhatikan rumah ini?
Dengan hati yang masih kesal, Mahira memutuskan untuk tidur. Namun sebelumnya ia memeriksa pintu pagar, semua pintu dan jendela. Ada rasa sedikit khawatir dengan semua yang terjadi. Apalagi ia baru satu minggu ada di kota ini. Setelah merasa aman, Mahira pun segera masuk ke kamar. Ia masih merasa lelah.
************
Edmond turun dari mobilnya dengan tergesa. Ia membuka pagar, lalu membuka pintu depan. Edmond memang memiliki kuncinya sendiri
"Sayang......!"Panggil Edmond sambil melangkah masuk. Ia tak menemukan Mahira di ruang tamu maupun di dapur. Ia segera melangkah ke kamar. Saat membuka pintu kamar, pintu itu pun terkunci.
"Sayang...., Mahira.....!" Edmond mengetuk pintu kamar. Ia memang tak punya kunci kamar ini.
"Sayang....! Mahira......!" panggil Edmond kembali.
Pintu akhirnya terbuka. Mahira nampak mengucek matanya karena ia baru bangun.
"Kamu tidak apa-apa?" Edmond langsung memeluk Mahira sambil menarik nafas lega. Ia melepaskan pelukannya lalu menangkup pipi Mahira dengan kedua tangannya.
"Kamu sudah pulang?" tanya Mahira. "Memangnya ini jam berapa?" tanyanya lagi melihat Edmond masih bengong.
"Eh, ini...." Edmond menatap jam tangannya. "Baru jam 1 lewat 15 menit."
"Ada apa pulang cepat?"
"Tadi kamu telepon katanya ada seseorang yang mengintai rumah ini? Aku jadi khawatir dan langsung datang ke sini."
Mahira terbelalak. "Astaga, Ed. Itukah sebabnya kau memutuskan sambungan telepon tadi?"
Edmond membelai pipi Mahira dengan punggung tangannya. Ia mengangguk. Lalu tangannya yang satu memegang perut Mahira. "Aku mengkhawatirkan kalian."
"Seharusnya aku tak mengatakan tadi padamu. Seharusnya aku menunggu saja kamu pulang." Mahira nampak menyesal.
"Mengapa?"
"Kau akhirnya meninggalkan pekerjaan mu."
Edmond tersenyum. "Sudah ku katakan kalau dirimu dan anak kita adalah prioritas utama dalam hidupku." Edmond mengecup pipi Mahira.
__ADS_1
"Sudah makan?" tanya Edmond lembut.
"Belum. Tadi aku merasa kenyang karena menghabiskan semua nasi goreng yang kau buat. Juga susunya."
"Good girl!" ujar Edmond lalu kembali memeluk Mahira. "Aku senang kamu baik-baik saja. Sekarang ganti bajumu dan kita makan di luar saja."
"Baiklah." Mahira senang. Perhatian Edmond rasanya mulai menghancurkan bongkahan es yang selama ini Mahira bangun di hatinya untuk Edmond.
30 menit kemudian, Edmond dan Mahira sudah berada di salah satu restoran seafood. Mahira memesan ikan bakar dan tumis kangkung. Erdana pun memilih makanan yang sama.
Sementara menunggu makanan, ponsel Edmond berbunyi. Edmond langsung mengangkatnya. "Hallo, bibi, maaf ya, aku tadi pulang cepat. Bibi naik taxi saja ya? Boleh kan? Ok."
"Bibi Juminten?" tebak Mahira.
"Iya. Aku lupa kalau hari ini mau datang bersama bibi. Tadi dari lokasi langsung datang ke sini."
"Lain kali jangan begitu. Pasti kamu membawa mobil dengan sangat cepat kan? Aku saja tidurnya baru satu jam lebih sedikit."
Edmond memegang tangan Mahira. "Apapun akan ku lakukan untukmu, sayang."
Mahira jadi terharu mendengarnya. "Ed, aku kan baru satu minggu lebih ada di kota ini. Memangnya siapa yang sudah memusuhiku?"
"Mungkin saja penghuni sebelumnya yang ingin diintai oleh orang itu. Rumah itu kan baru 2 minggu kosong. Jadi belum banyak yang tahu kalau sudah berganti penghuni."
"Atau mungkin perempuan itu mencari kamu, Ed?" tanya Mahira. Edmond justru mengerutkan dahinya. Pada hal Mahira ingin melihat Edmond terkejut.
"Mencari aku?" Edmond terkekeh.
"Sayang, jika ada yang mencari aku, mereka kan pasti akan menemui ku di perusahaan. Oh ya, Kamis nanti, aku ingin mengajak kamu ke perusahaan. Aku ingin memperkenalkan mu dengan semua pegawai dan karyawan perusahaan. Akan ada perayaan kecil di sana. Kamu mau kan?"
"Aku malu, Ed."
"Kenapa malu? Aku ingin semua orang tahu kalau kamu adalah istriku. Aku ingin kau memakai gaun berwarna putih."
"Ini kan perayaan resepsi pernikahan. Acaranya akan dilaksanakan jam 4 sore."
"Baiklah." Mahira kembali merasa lega. Tak seharusnya ia curiga dengan Edmond. Karena perhatian dan kasih sayang Edmond sungguh nyata untuknya.
Makan siang pun mereka lalui dengan manis. Edmond kadang menyuapi Mahira dengan sikap romantis. Mahira sungguh merasa sangat tersanjung. Mereka berdua terlihat seperti pasangan yang saling menyayangi tanpa mereka menyadari ada sepasang mata indah yang sedang menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian.
************
"Sayang, aku berangkat kerja ya? Bibi sedang di dapur untuk membuatkan sarapan." Edmond mencium dahi Mahira yang masih berbaring.
"Jam berapa sekarang?"
"Setengah tujuh. Bobo aja lagi. Masih capek kan?" tanya Edmond sambil tersenyum penuh arti.
Wajah Mahira menjadi merah. Ia ingat tadi malam Edmond kembali merayunya dan membawa ia kembali ke puncak kenikmatan. Mahira bahkan merasa kalau ia mulai candu bercinta dengan Edmond.
"Jangan malu. Kita sama-sama menginginkannya. Nanti kalau anak kita sudah lahir, kita akan lebih hot lagi melakukannya."
"Ed....!" Wajah Mahira menjadi semakin merah karena Edmond kesannya mengucapkan kalimat itu dengan biasa saja.
Edmond tertawa. Dia mengecup bibir Mahira. "Aku berangkat dulu ya..." ucap Edmond.
"Ed, tunggu. Aku antar sampai di depan pintu." Mahira membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Dengan cepat ia mengenakan gaun tidurnya dan menggunakan kimono nya. Edmond nampak senang melihat Mahira mau mengantarnya. Keduanya keluar kamar bersama. Tangan Ed memeluk pundak Mahira sementara tangan yang satu memegang tas kerjanya.
"Nggak sarapan dulu?" tanya Mahira.
"Aku sarapan di kantor saja."
__ADS_1
Keduanya sampai di teras depan. Mobil putih Pajero sport milik Edmond sudah terparkir di sana.
"Aku sudah bilang sama bibi untuk mengunci pintu pagar saat aku nggak ada. Kalau kamu mau jalan-jalan telepon Alika saja. Kalau dia off, dia janji menemani kamu."
"Aku di rumah saja. Kalau mau jalan, tunggu kamu saja."
Edmond memeluk Mahira. Ia mencium bibir istrinya lalu mencium perutnya. "Papi berangkat kerja dulu ya. Jangan nakal di perut mami."
"Hati-hati di jalan, Ed."
Edmond mengangguk. Ia menatap Mahira dengan tatapan penuh cinta. "Sayang, buka hatimu untuk menerima aku seutuhnya ya? Jangan ada lagi ruang di hatimu yang berisi nama Teddy."
"Aku selalu berusaha, Ed."
"Rasanya nggak mau ke kantor. Ingin di rumah saja dan memelukmu."
Mahira mencubit pinggang Edmond. "Yang semangat kerjanya."
"Aku selalu semangat setiap kali mengingat dirimu dan anak kita. Tak sabar ada yang panggil aku papi." Edmond mencium Mahira sekali lagi. Ia kemudian masuk ke dalam mobilnya. Melambaikan tangannya sebelum meninggalkan halaman rumah dengan mobilnya.
Mahira pun masuk ke dalam. Ia segera menuju ke dapur. Di lihatnya Juminten sedang membuat sarapan.
"Selamat pagi, bi!" sapa Mahira.
"Selamat pagi, nyonya!"
"Ada yang bisa saya bantu?"
Juminten tersenyum. "Nyonya duduk saja. Sarapannya hampir selesai. Tuan bilang kalau nyonya suka sesuatu yang pedas."
"Iya, bi." Mahira duduk di meja pantry. "Apakah di mess nya, bibi yang siapkan semua keperluan Ed?"
"Nggak juga. Bibi kadang hanya kebagian mencuci pakaian sama membersihkan rumah saja kalau pagi. Tuan jarang makan di rumah. Kalau mau makan barulah menelepon bibi."
"Bibi nggak tinggal di mess?"
"Nggak. Bibi tinggal di rumah susun tempat para pekerja tinggal. Suami bibi dulunya adalah karyawan di pabrik minyak. Namun dia meninggal karena sakit. Bibi nggak mau pulang ke Jawa lagi. Anak-anak bibi yang dua sudah menikah. Tinggal yang bungsu saja yang masih sekolah. Makanya bibi harus kerja."
"Oh gitu ya? Apakah di mess, Ed tinggal sendiri?"
"Eh...ya..." Wajah Juminten terlihat gugup. Mahira dapat melihatnya. Hati Mahira kembali meragu. Apakah ada seseorang di sana? Apakah ada yang disembunyikan Juminten? Ingin rasanya Mahira bertanya namun ia takut Juminten akan mengadu ke Edmond dan suaminya itu akan marah. Bagaimana caranya bertanya tanpa dicurigai oleh Juminten?
"Bi, bagaimana kabarnya Monalisa?"
Juminten menatap Mahira dengan kaget.
"Aku tahu Monalisa adalah mantan pacarnya Edmond. Apakah dia sudah pindah tempat kerja? Kok aku tak pernah mendengar kabarnya lagi." ujar Mahira berusaha terlihat biasa saja.
"Nona Monalisa kan adalah salah satu pemegang saham terbanyak di perusahaan. Ia juga adalah salah satu petinggi perusahaan. Bagaimana mungkin dia pindah?" Juminten kelihatan ragu namun dia akhirnya bicara juga.
"Benar juga ya." Mahira tersenyum sangat manis. Dia mendapat satu fakta lagi. Edmond dan Monalisa bukan hanya memiliki saham di hotel yang sama, mereka juga berkerja di perusahaan yang sama.
"Nyonya, jangan bilang sama tuan ya kalau aku bicara tentang nona Monalisa." Juminten terlihat sangat takut. Ia ingin memaki dirinya sendiri karena sudah keceplosan bicara.
"Jangan takut, bi. Apa yang bibi bilang tadi tak mempengaruhi apapun dalam hubungan kami. Edmond sudah mengatakan siapa Monalisa. Aku hanya iseng saja bertanya. Percakapan ini juga rahasia." Mahira memberikan senyum terbaiknya walaupun sebenarnya ia sangat penasaran ingin tahu sosok Monalisa.
************
Selamat pagi......
Semangat kerja semuanya
__ADS_1
Dukung emak terus ya guys ....