RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Kehilangan


__ADS_3

Malam telah lewat. Sebentar lagi pagi menjelang. Namun Mahira tak bisa memejamkan matanya. Ia masih duduk di samping anaknya yang masih terlelap.


Tadi saat pulang, Mahira memang sempat tertidur selama 2 jam lebih. Di bangun ketika Edmond dan Wina sudah tertidur di sampingnya. Edewina terlihat begitu lelap dalam dekapan Edmond.


Perlahan Mahira turun dari tempat tidur. Kepalanya terasa sakit. Mahira ingin membuat secangkir teh hangat. Siapa tahu perutnya akan terasa enak. Ia memang merasa mual.


"Nyonya, mau buat apa? Biar bibi saja yang buatkan." Juminten keluar dari kamarnya yang memang dekat dapur.


"Aku hanya ingin membuat teh, bi. Bibi tidur saja. Ini kan baru jam 4 pagi."


Juminten tersenyum. Ia memegang pundak Mahira dan mempersilahkan sang nyonya untuk duduk. "Biar bibi saja yang membuatnya, nyonya. Wajah nyonya terlihat pucat."


Mahira pun duduk karena ia memang merasa sangat lemah. Mungkin juga karena semalam ia tak makan.


Tak sampai 3 menit, teh manis buatan Juminten sudah tersaji di hadapan Mahira.


"Maaf jika bibi ikut campur. Masalah antara nyonya dan tuan Ed apakah tidak bisa diselesaikan secara baik-baik. Bibi mendengar teriakan Nyonya yang ingin minta cerai. Bibi kasihan dengan nona kecil. Dia sedang dalam masa pertumbuhan. Dia juga sangat menyayangi kalian berdua. Amat terlebih nona kecil sangat manja kepada tuan Ed. Jika bercerai, bukankah anak harus ikut ibunya? Nona kecil pasti akan sangat sedih jika harus berpisah dengan tuan. Itu akan mempengaruhi pertumbuhannya." Juminten mengusap air matanya yang terlanjur jatuh.


Mahira memegang tangan Juminten. Ia sudah menganggap Juminten seperti ibunya. Juminten sangat baik dan memperhatikan seluruh kebutuhannya.


"Bi, aku yatim piatu. Aku tak punya siapapun. Keluarga ku di Manado, hanya om Frans yang menyayangiku. Aku berharap dengan menikah, aku akan mendapatkan kedamaian bersama suamiku. Namun ternyata aku salah, bi. Edmond punya banyak rahasia yang tak ku ketahui. Aku istrinya namun aku tak tahu apa-apa tentang dirinya. Aku pernah melihat Edmond dan Monalisa masuk ke sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari minimarket. Sebuah rumah dengan cat berwarna biru muda. Bibi tahu itu rumah siapa?"


Juminten terlihat enggan untuk mengatakannya. Namun menyembunyikan ini dari Mahira tentu akan semakin melukai Mahira.


"Rumah itu dulunya merupakan tempat tinggal tuan Ed dan nona Ica sebelum adanya mess. Sekalipun mess itu sudah ada, mereka terkadang juga menginap di sana. Bibi beberapa kali membersihkan rumah itu."


"Tuh kan, bi? Ed pasti masih bersama Monalisa. Apakah bibi mau selamanya aku hidup dalam rumah tangga yang seperti ini? Bibi bilang kalau Ed menyayangiku. Namun lihat kenyataannya, dia selingkuh di belakang ku. Aku mencintai suamiku. Namun jika terus berada di bawa bayang-bayang Monalisa. Aku akan pergi, bi."


Juminten mengusap punggung tangan Mahira. "Nyonya, pikirkan perkembangan nona Wina sebelum mengambil keputusan."


Mahira hanya mengangguk. Ia pun meminum teh nya dan kembali ke kamar.


*********


Seminggu telah berlalu. Tak ada perubahan dalam hubungan Mahira dan Edmond. Saat Edmond mengajak mereka ke mess, Mahira tak mau.


Kabar yang Mahira dengar kalau Sofia resign dari perusahaan, Angel dan beberapa pegawai yang terlibat kasus penggelapan keuangan juga dipecat. Tak ada kabar tentang Monalisa.


Lerry sudah menelepon Mahira dan meminta agar ia kembali ke perusahaan. Namun Mahira belum memberikan jawabannya. Apalagi akhir-akhir ini Mahira merasakan kalau kesehatannya belumlah membaik.


"Mami, tadi Wina Videocall sama Oma. Oma bilang kangen dan mengajak kita untuk ke Madrid. Kita pergi ya?" bujuk Wina sambil menarik gaun Mahira yang sementara membereskan tempat tidur.

__ADS_1


"Nggak bisa, sayang. Papi banyak pekerjaan." Jawab Mahira sambil merapikan tempat tidur. Sudah seminggu ini Mahira membiarkan Wina tidur bersama mereka karena ia ingin menghindar dari Edmond.


"Papi pasti bisa." ujar Wina lalu berlari keluar kamar untuk mencari Edmond yang sedang berada di ruang kerjanya.


Tak lama.kemudian, Wina datang kembali ke kamar dengan wajah senang. "Mami, kita akan ke Madrid minggu depan. Kata papi kita bisa pergi kapan saja dan papi akan menemani kita."


Mahira hanya tersenyum sambil mengangguk walaupun dalam hati ia menjadi semakin galau. Kedekatan Wina dengan Edmond membuat ia mengingat kembali percakapannya dengan Juminten. Wina akan sangat sedih jika Ed dan dirinya berpisah.


"Wina mau ke kolam." Wina membuka pintu yang menghubungkan kamar tidur dan kolam.


"Sayang, di luar sedang gerimis." Mahira mengejar putrinya. Namun gadis kecil itu berlari sangat kencang sehingga ia sudah berada di dekat kolam.


"Wina, sayang. Jangan mandi kolam dulu. Airnya dingin sayang. Ini masih pagi dan sedang hujan." Mahira sedikit berlari mengejar putrinya itu. Ia tak melihat ada selang air yang ada di sana. Kakinya terlilit selang itu dan Mahira terjatuh.


Edewina langsung menjerit keras sambil menangis saat melihat maminya terjatuh.


Edmond yang ada di ruang kerjanya juga segera berlari keluar saat mendengar jeritan Wina.


"Nggak, sayang. Mami nggak apa-apa. Wina jangan menangis ya?" Mahira berdiri sambil memasang wajah baik-baik saja pada hal ia sedang menahan sakit di bagian pinggangnya.


Edmond yang baru datang langsung memeluk Wina. "Ada apa sayang?"


"Mami jatuh."


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Ed lalu mendekati Mahira. Wina yang ada dalam gendongannya terlihat sedih.


"Aku baik-baik saja. " Jawab Mahira dengan sikap dingin.


"Ayo masuk. Kita nanti sakit kena hujan." Ujar Edmond lalu ia menarik tangan Mahira. Perempuan itu terkejut namun ia tak berani menarik tangannya karena ada Wina di sana.


Sesampai di kamar, Mahira segera membuka kalian Wina dan memandikannya. "Setelah ini, Wina belajar menulis ya nak? Wina kan sebentar lagi akan masuk TK." kata Mahira sambil mengeringkan tubuh anaknya dengan handuk. Edmond masih ada di kamar. Ia sedang membaca sesuatu dari ponselnya.


"Selesai ini, Wina sarapan ya?" Mahira menyisir rambut anaknya setelah itu ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Akhirnya mereka pun duduk bersama di meja makan untuk sarapan.


Sementara makan, Mahira merasakan kalau perutnya agak nyeri. Dan sakitnya makin bertambah sehingga menganggu konsentrasi Mahira untuk makan.


"Mami, sakit?" tanya Wina sambil menyentuh tangan Mahira yang duduk di sampingnya.


"Nggak sayang. Mami baik-baik saja." Mahira tersenyum.

__ADS_1


"Wina belajar dulu ya." Wina segera meninggalkan ruang makan dan berlari ke ruang tengah. Di sana ada Tika yang sudah menunggunya.


"Ra, kamu sedang menahan sakit?" tanya Edmond.


"Tidak." Mahira berdiri dan segera membawa piring kotor ke dapur.


"Nyonya sedang datang bulan?" tanya Juminten.


"Nggak. Kenapa bibi bertanya seperti itu?"


"Ada percikan darah di celana putih, nyonya."


Mahira terkejut. Ia tak merasa tak sedang datang bulan. Ia pun segera ke kamar untuk mengganti pakaiannya.


Menjelang siang, Mahira merasakan kalau perutnya semakin bertambah sakit dan darah yang keluar semakin banyak.


Edmond yang memang tak pergi bekerja karena sekarang hari Sabtu, ia masuk ke kamar sambil memperhatikan Mahira. "Sayang, ada apa?" tanya nya saat melihat Mahira yang keluar dari kamar mandi. Ia baru saja mengganti pembalutnya.


Mahira tak menjawab namun ia memegang perutnya. Keringat dingin mulai membasahi pipinya.


"Sayang.....!" Edmond mendekat sambil memegang tangan Mahira.


"Ra, kok ada darah di kakimu."


Mahira melihat ke bawa. Ia terkejut saat ada darah segar mengalir di sana. Dan sebelum ia mengatakan apapun, Mahira langsung pingsan.


**************


Rumah sakit 1 jam kemudian......


"Tuan Moreno, kami mohon untuk menandatangani persetujuan untuk melakukan aborsi terhadap istri anda." kata salah satu perawat.


"Melakukan aborsi? Tapi kenapa?"


"Istri anda hamil. Anda tidak tahu?"


Edmond terkejut. Dada nya sesak dan tangannya langsung terkepal. Ia terlihat sock namun pada saat yang sama ada bara api di matanya.


*************


Selamat pagi

__ADS_1


selamat beraktifitas


Jangan lupa dukung emak ya


__ADS_2