RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
extra Part (1)


__ADS_3

"Mami, di kantor papi ada sekretaris baru." ujar Edewina saat ia pulang sekolah.


Mahira yang kini sudah hamil 7 bulan menatap putrinya. "Wina ke kantor papi?"


"Nggak. Yang jemput Wina tadi bukan papi tapi om Surya (sang sopir) dan mba cantik yang berpakaian seksi, namanya Lusiana."


"Memangnya papi kemana?"


"Katanya papi ada tamu yang mendadak datang dan nggak bisa ditinggal."


"Oh gitu. Sekretaris papi yang bernama Tante Yuli, kemana memang?"


"Nggak tahu, mami."


"Oh....."


"Wina nggak suka sama si mba Lusiana. Rambutnya di cat pirang, roknya terlalu pendek, bicaranya sok pakai bahasa Inggris. Wina kan lebih suka bahasa Spanyol."


"Sekarang Wina ganti baju ya? Terus main sama Ade. Mami mau bantu bibi Juminten untuk menyiapkan makan siang."


"Opa kemana, mi?"


"Opa kan ikut papi ke kantor. Namun opa akan pulang saat makan siang."


Edewina mengangguk. Ia segera pergi ke kamarnya untuk ganti pakaian. Sedangkan Mahira pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang.


Ketika waktu telah menunjukan pukul setengah satu, Edriges kembali dari kantor.


"Dad, Edmond nggak ikut pulang makan siang?"


"Rapatnya tadi belum selesai. Daddy langsung pulang karena merasa lapar." kata Edriges sambil mencium Edgar yang ada dalam gendongannya.


"Edgar, ayo main sama Tante Lita. Biarkan opa makan dulu. Edewina, ayo makan bersama opa."


Mereka pun makan bersama dengan gembira. Selesai makan, Edriges menuju ke ruang kerja untuk berbicara dengan Eduardo mengenai bisnis yang ada di Madrid.


Mahira jadi ingat Edmond. Ia pun menelepon untuk mengingatkan suaminya agar makan siang.


"Hallo sayang....." Sapa Edmond dari seberang.


"Rapatnya sudah selesai?"


"Iya. Kira-kira 15 menit yang lalu."


"Kenapa nggak pulang untuk makan?"


"Rencananya mau pulang tapi sekretaris ku sudah menyiapkan makan siang di ruangan ku. Nih, aku sementara makan."


"Oh gitu ya. Selamat makan kalau begitu."


"Ok, sayang."


Mahira meletakan ponselnya di atas meja makan. Sempat terpikir dengan apa yang Edewina katakan tadi. Namun akhirnya Mahira membuang pikiran negatif nya itu. Ia percaya dengan Edmond.


*************


Edmond memejamkan matanya saat puncak kenikmatan itu dia dapatkan. Dengan penuh kasih sayang ia mencium punggung Mahira yang membelakanginya lalu mengahiri penyatuan mereka.


"Capek?" tanya Edmond pada Mahira saat istrinya itu duduk sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Lumayan!" Mahira tersenyum.


Tangan Edmond membelai perut Mahira dengan lembut. "Dedenya pasti senang di jenguk papinya."


"Dedenya atau papinya yang senang?"


Edmond terkekeh. "Dede, mami dan papinya. Sama-sama senang."


Mahira menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. "Sayang, kamu punya sekretaris baru ya?" tanya Mahira.


"Aku belum kasih tahu kamu ya? Namanya Lusiana. Ia sudah hampir 2 minggu menggantikan Yuli yang sedang cuti melahirkan."


"Lho, memangnya Lusi sudah melahirkan? Kan usia kandungan aku sama dia sama."

__ADS_1


"Bayi Yuli harus dikeluarkan lebih cepat karena ada pengapuran plasenta atau apa gitu istilahnya. Bayinya kecil. Beratnya hanya 2 kg. Makanya sampai sekarang masih di inkubator."


"Wah, kasihan ya....."


"Tapi syukurlah. Bayinya selamat."


"Lusiana orang mana?"


"Orang Manado tapi omanya orang Inggris. Dia baru lulus 5 bulan yang lalu. Aku sendiri yang melakukan tes untuk menentukan apakah ia layak menggantikan Yuli atau tidak."


"Oh. Edewina bilang dia cantik dan seksi."


"Benar."


Mahira tertunduk. Edmond sepertinya mengerti dengan apa yang dirasakan oleh istrinya. Ia langsung membelai wajah istrinya. "Di mataku, tak ada perempuan lain yang melebihi dirimu, sayang."


"Mungkin pengaruh hormon kehamilanku, aku kok jadi cemburu saat Edewina bilang kalau sekretaris mu itu cantik."


"Yuli juga kan cantik."


"Tapi Yuli sudah menikah. Beda sama Lusiana."


"Jangan meragukan aku ya?" Edmond mengecup pipi Mahira. Ia kemudian mengambil gaun tidur Mahira yang ada di lantai. "Pakailah bajumu kembali. Lalu kita akan tidur. Aku punya rapat penting besok."


Mahira mengangguk. Ia segera mengenakan lagi pakaiannya begitu juga Edmond. Mereka tak lagi tidur tanpa menggunakan apapun seperti waktu-waktu yang lalu setiap kali selesai bercinta. Karena baik Edewina maupun Edgar kadang suka masuk ke kamar mereka tanpa mengetuk pintu.


Edmond membuka kembali kamar mereka yang tadi dikuncinya. Ia kemudian mematikan lampu utama lalu bergabung dengan Mahira di atas ranjang.


************


Mahira melahirkan anak ke-3 nya secara sesar. Anak itu berjenis kelamin laki-laki dan Edmond menamakannya Edwin Ansalmo Moreno.


Anak ketiga Mahira lahir dengan bobot badan 4 kg.


Edriges nampak sangat senang karena memiliki 3 cucu laki-laki setelah adik Edmond juga si Eduardo, dikaruniakan anak laki-laki.


"Opa sekarang punya 3 jagoan." Ujar Edriges.


Edewina sedikit cemberut.


Edewina langsung memeluk Edmond. "Aku mencintaimu, opa."


"Kaulah kebahagiaan pertama yang Tuhan anugerah kan bagi opa dan Oma."


"Opa juga segalanya bagi Wina."


Mahira tersenyum bahagia melihat ayah mertuanya yang sangat dekat dengan semua anak-anaknya.


Kini, usia Edwin sudah 2 bulan. Anak kecil itu pun sangat lincah. Edmond menambahkan satu pengasuh untuk menolong istrinya mengurus anak-anak mereka karena usia Edgar pun belum dua tahun.


"Mami, Wina kesal." ujar Edewina saat sore ini ia pulang dari kantor Edmond.


"Ada apa, nak?" tanya Mahira yang baru selesai menyusui anaknya.


Edewina yang kini berusia hampir 9 tahun duduk di depan mamanya. " Wina nggak suka dengan sekretaris papi. Tadi kan Wina mau ngajak papi makan siang di restoran yang nggak jauh dari kantor papi, eh, si mba Lusiana bilang, makan siang aja di kantor soalnya Tante Lusiana sudah masak yang enak dan banyak. Papi juga setuju dan bilang kalau masakan mba itu enak. Wina kesal karena mba Lusi kayaknya dekat sama papi. Dia suka pakai rok yang kelewat pendek. Wina juga perhatikan kalau dia suka menatap papi kayak mami menatap papi. Wina nggak suka."


Hati Mahira jadi tak tenang melihat anaknya. "Mba Lusiana itu baik kan?"


"Tapi Wina nggak suka! Kalau papi nggak sempat menjemput Wina, kenapa juga harus dia yang jemput? Kan bisa sopir. Wina merasa mba Lusi kayaknya suka sama papi."


"Jangan berprasangka buruk ya?"


Wina mencium adiknya lalu segera ke kamarnya. Mahira menarik napas panjang. Berusaha untuk tak terpengaruh dengan kata-kata Wina. Namun Edmond memang sudah jarang pulang ke rumah untuk makan siang. Apalagi saat ini papa Edriges sedang ke Amerika untuk menghadiri wisuda Edina.


Mahira menceritakan hal itu kepada Putri.


"Sebaiknya memang diselidiki, Ra. Bukan karena kamu tak percaya Edmond namun bisa saja perempuan itu memang kegatelan. Ngapain juga ia harus masak makan siang untuk Edmond? Dia sekretaris dan bukan asisten pribadi." ujar Putri dengan berapi-api. Mungkin karena ia pernah punya pengalaman kalau suaminya selingkuh dengan sekretarisnya bahkan terus menjalin hubungan walaupun sekertaris itu sudah berhenti.


"Pelakor sekarang sangat berani. Jadi kita sebagai istri harus lebih pintar jangan sampai sudah kejadian baru mau bertindak."


"Iya juga. Semenjak aku hamil, aku memang tak pernah lagi ke kantor Edmond. Mungkin besok aku harus buat kejutan dengan datang ke sana." ujar Mahira.


Putri mengangguk setuju.

__ADS_1


**********


Keesokan harinya, Mahira datang ke kantor Edmond tanpa pemberitahuan. Mahira menggunakan dres putih yang membungkus tubuh sintal nya. Ia memang adalah emak-emak dengan 3 anak namun ia sama sekali tak kehilangan bentuk tubuhnya.


Gaun itu sengaja dibeli oleh Mahira tanpa Edmond ketahui. Mahira ingin melihat bagaimana reaksi suaminya itu saat melihat cara berpakaiannya.


Rambut panjang Mahira sengaja disanggulnya sehingga leher jenjangnya terlihat. Ia membawa makan siang untuk suaminya.


"Pak Edmond sementara rapat, bu. Mungkin 15 menit lagi selesai." kata Dina sang resepsionis.


Hari ini Mahira sengaja membawa makanan untuk semua karyawan. Tentu saja itu membuat mereka semua senang.


"Jangan kasih tahu suami aku ya. Aku ingin membuat kejutan untuknya."


Mahira menunggu di ruangan Edmond sambil melihat seluruh isi ruangan suaminya. Banyak ternyata yang berubah.


Foto pernikahan mereka memang masih ada di meja Edmond.


Pintu ruangan terbuka. Ternyata Dina yang masuk. Ia membawakan teh manis untuk Mahira.


"Dina, sejak kapan ruangan pak Edmond berubah?"


"Sejak sekertaris itu ada di sini, Bu. Semua keperluan pak Edmond selalu disiapkan oleh Lusi. Bahkan kopi pak Ed nggak pernah lagi disiapkan oleh office boy. Semuanya dikerjakan oleh perempuan itu. Kami semua nggak terlalu suka dengan Lusi."


"Kenapa?"


"Sepertinya dia sombong karena pak Ed baik padanya."


"Oh gitu ya?"


"Maaf ya, bukannya kami iri namun ia sangat berbeda dengan ibu Yuli."


"Bukankah ibu Yuli sudah selesai cutinya?"


"Iya. Tapi Bu Yuli sudah dipindahkan ke bagian keuangan."


Mahira terkejut karena Yuli ternyata sudah dipindahkan. Saat Dina keluar, Mahira mencoba mencari akal untuk bisa mengubah kembali ruangan suaminya ini.


Pintu ruangan Edmond kembali terbuka. Masuklah Edmond bersama dengan seorang gadis yang Mahira sangat yakin kalau itu adalah Lusiana.


"Sayang.....!" Edmond terkejut.


"Kejutan...!" Mahira dengan manisnya langsung memeluk suaminya lalu mencium bibir Edmond membuat suaminya itu kembali terkejut karena selama ini Mahira tak pernah menciumnya di depan umum.


"Kok nggak bilang akan datang." ujar Edmond.


"Namanya juga kejutan. Aku membawakan makan siang." Mahira menunjukan meja bulat yang ada di ruangan Edmond itu yang sudah tersaji makan siang. Mahira dapat melihat kalau wajah Lusi terlihat sedikit kesal.


"Wah, terima kasih sayang." Edmond merasa bahagia.


"Pak, aku keluar dulu." pamit Lusiana.


"Eh nona Lusiana, kalau ada telepon atau tamu yang datang, tolong jangan diganggu dulu ya? Karena saat makan siang, aku tak ingin diganggu." ujar Mahira.


"Baik, bu." Ujar Lusiana sebelum pergi.


Edmond menatap dandanan istrinya. "Sayang, kok gaunnya seperti ini?"


"Pendek maksudnya?"


"Iya."


"Mana yang lebih pendek, gaunku atau rok sekretaris mu?"


Edmond tercengang mendengarkan perkataan istrinya.


**********


Hallo semua....


salam sehat ya ...


nambah 2 episode lagi deh sesuai permintaan semua pembaca

__ADS_1


semoga suka ya


__ADS_2