RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Pertemuan yang Tak Terduga


__ADS_3

Tawa Edewina terdengar renyah membangunkan Mahira dari tidurnya. Pintu balkon terbuka dan Mahira melihat ada bayangan Edmond di sana.


Mahira bangun sambil melihat jam tangan Edmond yang ada di atas nakas. Baru jam setengah tujuh pagi. Ia pun mengambil pakaiannya yang berserakan di atas lantai dan mengenakannya kembali. Setelah itu ia merapikan tempat tidur. Dan mengikat rambut panjangnya secara asal dan melangkah ke arah balkon.


"Wina....!" panggil Mahira.


Bayi berusia 7 itu tertawa melihat maminya.


"Pa...pa....pa....!" itulah yang Baby Wina katakan.


"Dia lebih dulu mengucapkan kata papa." Ujar Edmond dengan bangganya.


"Dia memang lebih sayang pada papinya dari pada maminya."


"Eh, mami cemburu Win." Ujar Edmond sambil tertawa, Wina pun ikut tertawa.


"Jam berapa Wina bangun?" tanya Mahira.


"Jam setengah enam."


"Kenapa nggak bangunkan aku?"


Edmond tersenyum. "Kamu terlihat nyenyak, sayang. Aku nggak tega membangunkan mu. Lagi pula aku memang ingin bermain berdua saja dengan putri kecil kita ini."


"Aku buatkan sarapan untuk Wina ya? Ia belum minum susu kan?"


"Belum. Aku tahu kalau Wina biasa sarapan jam 7. Kita sarapan di bawa saja. Ada bubur dan telur. Rasanya enak. Juga ada sup."


"Bagus juga. Kalau begitu, aku akan mengganti popok Wina dan pakaiannya juga."


"Sudah mami. Papi sudah mengganti popok dan pakaian Wina. Memangnya mami nggak melihat?" tanya Edmond sambil mengangkat tubuh putrinya.


"Wah, benar juga. Anak mami sudah ganti baju. Kalau begitu mami mandi dulu dan turun bersama." pamit Mahira lalu segera ke kamar mandi.


1 jam kemudian, mereka sudah memasuki restoran hotel untuk menikmati sarapan.


"Tuan Moreno!" panggil seseorang.


Edmond yang sedang menggendong Wina menoleh ke arah sumber suara itu. Ternyata seorang pemilik perusahaan minyak juga.


"Hallo tuan Wendy."


"Anakmu?" tanya Wendy sambil menunjuk Wina.


"Iya. Ini putriku. Dan ini istriku Mahira. Sayang, ini tuan Wendy. Beliau salah satu pemilik perusahaan minyak goreng juga." Edmond memperkenalkan.


Wendy menatap Mahira dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Istrimu ini sangat cantik, Ed. Masih muda juga. Beruntung sekali kau mendapatkan istri yang rupawan seperti ini."


Satu persatu para pengusaha yang sedang menikmati makan pagi pun berkenalan dengan Mahira. Salah satu pengusaha yang terkenal sedikit genit bahkan menatap Mahira dengan tatapan memuja.


"Di mana kamu mendapatkan istri secantik ini, tuan Moreno? Siapa tahu ada saudaranya yang mirip dengan istrimu ini, aku mau dong. Asalkan wajahnya mirip."


Semua tertawa mendengar ungkapan pengusaha itu. Mahira menjadi pusat perhatian. Apalagi Edewina. Mereka sangat gemas karena bayi montok itu yang kadang ikut tertawa seolah mengerti kalau maminya sedang dikagumi.


Semua mengakui bahwa Edmond dan Mahira adalah pasangan yang cocok.

__ADS_1


Di bagian restoran yang lain, ada Monalisa yang terlihat dongkol saat mendengar para pria itu memuji Mahira.


Apa cantiknya perempuan? Dia tersenyum manis, merasa dicintai oleh Edmond tanpa ia sadari kalau Edmond tak mencintainya.


Monalisa tersenyum penuh arti. Ia yakin kalau Edmond akan kembali padanya. Hanya miliknya.


Selesai sarapan, Edmond dan Mahira kembali ke kamar mereka. Edmond langsung meletakan baby Wina yang sudah tertidur di atas ranjang.


"Kegiatannya jam berapa?" tanya Mahira sambil membantu Edmond memasang kancing kemejanya.


"Jam 9, sayang. Perusahaan kami akan membicarakan kontrak dengan perusahaan dari Australia. Mereka akan menginport minyak goreng dari perusahaan kami. Doakan agar kerja sama ini dapat berhasil ya?" ujar Edmond.


"Baik, sayang."


"Begitu dong."


"Begitu apanya?"


"Panggil aku, sayang."


Mahira tersenyum. Ia Merapikan dasi Edmond. "Kamu sudah siap."


Edmond mengecup dahi Mahira. "Semoga saat jam makan siang, kami sudah mencapai kata sepakat sehingga setelah itu aku punya waktu yang banyak untuk kamu dan Wina."


"Ku doakan, sayang."


Edmond segera melangkah namun di depan pintu, ia menoleh. "Aku tak bersama Monalisa hari ini karena ia punya janji sendiri dengan perusahaan lain."


Mahira hanya mengangguk. Edmond pun menutup pintu kamar.


Ada rasa rindu dengan teman-teman nya. Rindu Suasana kerja di bank yang sibuk. Rindu pada Putri yang belum juga menikah pada hal usianya sudah 25 tahun.


Tak lama kemudian, petugas room service datang untuk membersihkan kamar. Mahira pun membiarkannya bekerja sementara ia membuatkan susu Edewina yang sudah bangun.


"Wah, putrinya cantik sekali." puji petugas kebersihan itu. Seorang gadis yang kelihatan masih muda juga.


"Terima kasih."


Selesai membersihkan kamar, petugas kebersihan itu pun pamit.


"Saya permisi dulu ya, nyonya. Oh, ya saya menemukan beberapa barang dari tempat sampah. Jika nyonya memang tak menggunakannya lagi, bolehkah saya mengambilnya?"


"Apa itu?"'


Petugas kebersihan itu agak tersipu namun ia berbicara juga. "Ada sekotak ko***dom yang isinya baru masih ada beberapa. Juga lipstick yang masih utuh dengan segelnya dan pewarna kuku yang kayaknya baru sekali digunakan."


"Boleh aku lihat?"


Petugas kebersihan itu menunjukan barang yang dimaksud yang ia sudah simpan dalam kantong seragamnya. Lipstick berwarna merah menyala begitu juga dengan pewarna kukunya.


"Apakah setiap hari sampah yang ada dibuang oleh petugas kebersihan."


"Iya nyonya. Kemarin pagi, saya juga yang membersihkan kamar ini. Namun penghuninya adalah seorang pria bule dan wanita yang agak bule juga."


Deg!

__ADS_1


Jantung Mahira rasanya mau copot. Ia yakin kalau itu adalah Monalisa. Namun Mahira berusaha tenang. Apalagi ada baby Wina yang kini ada dalam gendongannya.


"Kamu ambil saja. Saya tak membutuhkannya lagi."


"Terima kasih nyonya! Selamat pagi."


Setelah petugas kebersihan itu pergi, Mahira menjadi gelisah. Ia terus berpikir kenapa barang-barang itu ada di kamar ini. Juga kebersamaan Edmond dengan Monalisa.


Apakah dia membohongiku? Bodohnya aku begitu mudahnya percaya dengan semua yang dikatakannya. Ah, Tuhan! Apa yang harus aku lakukan? Semua penjelasan Edmond semalam terdengar sangat masuk akal. Kenapa ada karet itu? Apakah Edmond menggunakannya saat berhubungan dengan Monalisa?


"Pa.....pa.....pa....!" Suara baby Wina kembali mengalihkan perhatian Mahira. Ia butuh menenangkan dirinya. Mahira pun mengambil anaknya yang duduk di atas ranjang dan segera keluar kamar. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Di lobby hotel, ia dan baby Wina duduk dan memperhatikan segala kesibukan yang terjadi di sana.


Tanpa Mahira sadari, ada seorang pria yang sedang memperhatikannya. Pria itu nampak menatap Mahira dengan tatapan penuh kemarahan namun juga ada kerinduan di sana. Mata pria itu tertuju pada bayi yang ada dalam gendongan Mahira. Tak tahan lagi, ia pun mendekati Mahira.


"Ira....!" panggilnya.


Jantung Mahira rasanya mau copot saat mendengar suara itu. Hanya satu laki-laki yang memanggilnya dengan sebutan Ira. Itu adalah Teddy.


Mahira menoleh ke arah sumber suara itu. Ia benar sangat terkejut. Hampir saja Wina lepas dari gendongannya. Mahira berusaha menyembunyikan wajah anaknya dengan membalikan Edewina ke arah belakang.


Teddy menatap Mahira dengan intens. Mahira dapat melihat lelaki itu menatapnya dengan penuh kerinduan.


"Aku mencari mu kemana-mana. Akhirnya kita bertemu di sini." kata Teddy. Berusaha tersenyum. Namun Mahira yang sudah lama mengenalnya tahu kalau dibalik senyum Teddy, ada bara api yang sedang berusaha ditahannya agar tak menyala.


"Aku, mau kembali ke kamar." Mahira akan melangkah namun Teddy menghalangi langkahnya. Mahira pun langsung mundur.


"Kenapa kau takut padaku?" tanya Teddy masih dengan senyumnya yang Mahira tahu itu adalah adalah senyum palsu.


"A...aku akan memberikan anakku makan siang." Mahira berusaha agar tak terlihat gugup. Tatapan mata yang mengintimidasinya membuat jantung Mahira ingin meledak rasanya.


"Ini juga baru pukul....." Teddy melihat jam tangannya. "Setengah dua belas."


"Biarkan aku pergi, Teddy!"


Senyum Teddy semakin lebar. "Aku merindukan kau menyebut namaku. Kau tahu bagaimana cintaku padamu, bukan?"


"Cukup, Teddy! Aku sudah menikah. Jangan bicarakan masa lalu lagi."


Teddy maju semakin mendekat namun Mahira pun mundur perlahan sampai akhirnya punggungnya menabrak sesuatu yang keras.


Mahira mendongak. Matanya langsung membulat sempurna.


"Honey!" Edmond langsung memegang kedua bahu Mahira.


Mahira kehilangan kata-kata saat kedua pria itu saling bertatapan dengan rasa ingin saling menghancurkan satu dengan yang lain. Tangan keduanya sama-sama terkepal dengan urat-urat yang muncul, menandakan emosi yang hampir tak tertahankan.


************


Bagaimana pertemuan tiga orang itu akan berakhir?


Tunggu episode berikutnya ya?


Selamat berpuasa semuanya


jangan lupa dukung emak ya?

__ADS_1


__ADS_2