RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Teddy Mencari Tahu


__ADS_3

Teddy memarkir mobil yang disewanya di depan rumah bercat putih itu. Ia sudah mendapatkan alamat Mahira dari Agus, yang adalah sepupu jauhnya yang bekerja di rumah sakit.


Teddy mendengar kalau Mahira mengalami keguguran. Teddy tak menyangka kalau apa yang dokter katakan itu benar. Mahira sedang hamil.


Saat ia akan membuka pintu mobil, dilihatnya dua orang perempuan keluar dari rumah itu sambil memegang seorang anak perempuan yang cantik. Teddy pernah melihat anak itu walaupun tak terlalu jelas beberapa bulan yang lalu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti mereka.


Dari jauh, Teddy memperhatikan bagaimana gadis kecil itu bermain dan tertawa. Teddy jadi ikut tersenyum melihat gadis kecil itu.


Perlahan ia mendekat dan pura-pura bertanya kepada Juminten dan Lita.


"Selamat sore, maaf menganggu. Apakah di sekitar sini ada rumah untuk disewa?" tanya Teddy ramah.


Juminten dan Lita saling berpandangan.


"Kami kurang tahu, tuan. Tapi yang kami lihat, di sekitar sini tak ada papan yang bertuliskan kalau rumah disewakan. Namun di ujung jalan sana ada sebuah tempat kost." ujar Lita.


"Tempat kost ya? Nanti saya cek ke sana. Boleh duduk sebentar di sini, saya sudah capek berputar-putar."


"Silahkan!" Juminten menunjuk sebuah bangku taman yang terbuat dari beton.


Teddy pun duduk lalu memandang Edewina yang sedang minta minum pada Lita.


"Cantik sekali gadis kecil ini. Siapa namanya?" tanya Teddy.


Edewina memandang Teddy. "Edewina."


Hati Teddy bergetar mendengar nama itu. Sesaat ia mengingat sosok perempuan yang pernah menjadi duri di tengah keluarganya. Mata anak ini juga sangat mirip dengan mata Mahira. Saat Edewina tersenyum, hati Edmond semakin bergetar karena gadis itu memiliki lesung Pipit. sama seperti dirinya.


"Namanya cantik. Seperti orangnya." puji Teddy. Ia kemudian mengulurkan tangannya. "Perkenalkan nama paman adalah Teddy."


Wina menyambut tangan Teddy dan menjabatnya dengan erat. "Salam jumpa paman."


"Sama-sama Wina. Usianya berapa?"


"Mau empat tahun. Iyakan bi?" tanya Wina sambil menatap Juminten.


"Iya. Tapi masih 7 bulan lagi." Jawab Juminten.


Terdengar bunyi lagu jualan es cream.


"Bibi, Wina mau makan es cream."


Juminten menatap Lita. "Bibi nggak bawa uang, sayang. Lita, kamu bawa uang?"


Lita menggeleng.


"Ya ...., gimana dong? Wina mau es cream." Wina jadi cemberut.


"Bang, ke sini!" Teddy memanggil bapak penjual es cream itu. Wina nampak senang.


"Paman mau beli es cream?" tanya Wina.


"Paman akan belikan untuk Edewina."


"Hore.....!"

__ADS_1


Juminten dan Lita saling berpandangan. Mereka harus ekstra hati-hati terhadap orang baru.


"Jangan takut. Aku bukan orang jahat. Anak ini mengingatkanku pada ponakanku."


"Maaf tuan. Nyonya selalu berpesan agar kami harus hati-hati pada orang yang baru." kata Juminten.


"Itu memang bagus. Sekarang sedang marak penculikan anak." Teddy mengerti dengan kedua pengasuh Edewina yang sangat hati-hati.


Edewina menikmati es cream nya sambil terus bercerita dengan Teddy. Ia dengan bangganya bercerita tentang Edmond.


"Papi ku bernama Edmond. Papi sangat menyayangiku. kalau aku tidur, papi pasti akan menyanyikan lagu berbahasa Spanyol. Papi juga mengajari aku berenang, membaca dan menulis. Pokoknya papi is the best."


Teddy merasa senang berbincang dengan Edewina. Gadis kecil itu bahkan menunjukan kebolehannya menyanyi lagu bahasa Spanyol.


Dari jauh, Mahira sangat terkejut melihat Teddy yang bersama Edwina. Jantungnya teras mau copot saat melihat Edewina yang tertawa. Entah apa yang mereka percakapan yang pasti Edewina terlihat Edewina tertawa.


"Edewina sayang.....!" Mahira mendekat. Ia menatap Teddy dengan tajam.


"Mahira?" Teddy pura-pura terkejut.


"Paman kenal mami aku?" tanya Wina. Juminten dan Lita pun nampak terkejut.


"Maminya Wina dan paman, dulu kuliah di tempat yang sama."


"Oh, orang Manado juga?" ujar Lita nampak lega karena orang yang bersama mereka adalah dikenal oleh Mahira.


Teddy mengangguk. "Ini anakmu? Pantas saja saat pertama aku melihatnya, aku seperti mengingat wajah seseorang. Ternyata itu wajah Wina mengingatkanku pada wajahmu."


Mahira berusaha menahan emosinya. Ia tersenyum. "Wina, papi mencari Wina. Ayo pulang."


"Eh, paman Teddy...."


"Lain kali saja paman datang ke rumah Wina. Paman masih ada pekerjaan." Teddy memotong ucapan Mahira.


"Baiklah. Lain kali paman harus datang ya?" ujar Wina.


"Pasti, Wina."


"Kami pergi dulu, Ted." pamit Mahira berusaha bersikap biasa. Namun saat mereka baru beberapa langkah, Teddy memanggil Mahira.


"Ada apa?" tanya Mahira saat mendekat.


"Wajah Wina tak mirip Edmond. Biasa kan anak perempuan akan mirip wajah papanya."


"Maksud kamu apa, Teddy?" Mahira bertanya dengan nada yang dibuatnya biasa walaupun detak jantungnya sudah sangat cepat. Ia sengaja membiarkan Edewina bersama Juminten dan Lita.


"Wina bisa saja bukan anak Edmond."


"Kamu pikir aku perempuan murahan yang menyerahkan diriku begitu saja pada lelaki lain?"


"Tapi jika dihitung dari usianya."


"Wina lahir prematur. Makanya ia harus dirawat di inkubator selama 2 minggu. Kalau kamu tak percaya, silahkan mendatangani rumah sakit tempat aku melahirkan." Mahira membalikan badannya. Namun baru satu langkah ia berbalik lagi. "Jangan ganggu kehidupan, Ted. Duku kamu yang memilih pergi. Kamu yang memilih meninggalkan aku. Apapun alasannya dibalik sikapmu itu, aku tak akan pernah membiarkanmu kembali padaku. Karena kau sendiri yang telah membuang semua rasa cinta yang aku miliki untukmu." Mahira segera melangkah. Ia mendekati anaknya dengan wajah tersenyum. Ia tahu apa yang dilakukannya adalah dosa. Teddy berhak tahu siapa Wina. Namun Mahira tak mau menghancurkan cinta Wina untuk Edmond. Karena sekalipun Edmond telah mengkhianatinya namun Edmond adalah papa yang luar biasa bagi Edewina.


**********

__ADS_1


Edmond melihat foto yang dikirimkan anak buahnya kepadanya. Darahnya langsung mendidih melihat Mahira ada di taman bersama Teddy.


Belum sempat Edmond melihat foto yang lain tiba-tiba pintu kamar di buka.


"Papi......!" Wina langsung berlari dan menghamburkan diri nya ke dalam pelukan Edmond.


"Anak papi. Dari mana saja?" Edmond memeluk putrinya dan menempatkan Wina di pangkuannya. Matanya sempat melirik ke arah Mahira yang sedang membuka lemari pakaian. Sepertinya Mahira akan mandi.


"Dari taman. Tadi ketemu dengan teman mami. Namanya paman Teddy. Orangnya baik. Wina dibelikan es cream."


"Oh, ya?" Edmond menahan rasa sakit di hatinya. "Kok papi nggak dibawakan es cream?"


"Papi kan sudah besar. Beli saja sendiri."


Edmond mencium puncak kepala Wina. "Sekarang Wina mandi dulu. Ayo minta bibi Juminten untuk memandikan Wina."


"Baik. Tapi Wina mau kalau makan malam disuapi oleh papi."


"Siap bos!"


Wina mencium pipi Edmond lalu ia turun dari pangkuan papinya dan berlari ke luar kamar. Ketika Edmond melihat kalau Wina telah pergi, ia bergegas menyusul langkah Mahira yang baru akan masuk ke kamar mandi.


"Apa maksud kamu bertemu dengan Teddy di taman?"


Mahira menarik tangannya dari genggaman Edmond. "Saat aku tiba di sana, Teddy sudah bermain bersama Wina. Aku tak tahu bagaimana ia bisa bersama mereka. Silahkan kamu tanyakan pada bibi Juminten dan Lita."


"Mahira, jangan membuatku gila dengan terus berada di sekitar Teddy."


"Kamu saja boleh bersama Monalisa. Lalu kenapa aku tak bisa bersahabat dengan lelaki lain?"


"Mahira, aku tak mengkhianati mu!"


Mahira tersenyum sinis. "Sudahlah, Ed. Jika kamu mau terus berselingkuh dengan Ica, silahkan! I don't care. Aku bertahan untuk Wina."


"Ra, bagaimana caranya agar kamu percaya kalau aku tak bersama Ica?"


"Memangnya kamu bersama siapa tadi pagi?"


"Bersama Lerry."


"Lalu kenapa Lerry bisa makan siang di sini?"


"Apa?"


"Aku tak akan pernah percaya sama kamu lagi, Ed!" Mahira segera masuk ke dalam kamar mandi. Edmond terkejut. Lerry ada di sini?


***********


Selamat malam


maaf hari ini terlambat up


Maklumlah pekerjaan ku menumpuk


semoga suka ya

__ADS_1


__ADS_2