
"Nyonya, kenapa makanannya sedikit?" tanya Juminten saat melihat malam ini Mahira makan hanya sedikit.
"Nggak terlalu lapar, bi. Nanti sebentar kalau lapar lagi, aku akan makan." Mahira berdiri. Ia mengambil vitamin yang dokter berikan kepadanya dan diminumnya.
Entah mengapa Mahira menjadi tak berselera untuk makan malam ini. Apakah karena Edmond tak ada? Bukankah selama ini ia selalu makan bersama Edmond?
"Nyonya, kalau sebentar mau makan lagi, panggil bibi ya? Nanti bibi panaskan kembali makanannya."
Mahira mengangguk. "Aku ke kamar dulu ya, bi."
Edmond sudah berangkat ke Jakarta tadi siang. Lerry sendiri yang datang menjemputnya. Lerry bahkan sempat ikut makan siang bersama.
Setelah kepergian Edmond dan Lerry, Mahira merasa ada sesuatu yang hilang. Tidur siang pun rasanya tak nyenyak. Pada hal ia sudah terbiasa tidur siang sendiri kecuali di hari Sabtu dan minggu.
Mahira mengambil ponselnya. Ada pesan dari Edmond.
Selamat malam sayang...
aku telepon kok nggak diangkat?
sedang makan malam ya?
Makan yang banyak ya sayang?
love ******you****** and i Miss you.
Hati Mahira bergetar membaca pesan itu. Rupanya Edmond sampai 4 kali menghubunginya namun karena ia ada di ruang makan sehingga tak mendengar suara bunyi telepon. Mahira pun kembali menghubungi ponsel Edmond. Sayangnya ponsel Edmond tak aktif. Ia pun akhirnya mengirim pesan.
Maaf, aku tadi sementara makan dan hp nya
ada di kamar. Apakah semuanya berjalan
dengan lancar?
Setelah mengirim pesan tersebut, Mahira pun ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajahnya. Kemudian ia kembali ke kamar untuk segera tidur. Entah mengapa ia merasa mengantuk. Mungkin karena tadi siang, ia tak tidur.
********
Lerry menatap sahabatnya yang sedang asyik menikmati minuman yang ada di tangannya. Keduanya sedang berada di salah satu pub yang menjadi langganan mereka jika datang ke Jakarta.
Keduanya baru saja selesai bermain bowling untuk menghilangkan penat setelah tiba di Jakarta. Besok pagi mereka akan kembali berjuang untuk mendapatkan ijin terhadap lokasi tambang batu bara.
"Awas, jangan mabuk!"
Edmond tersenyum. "Sudah lama sekali aku tak mabuk."
"Terakhir kita mabuk saat kita berhasil membeli seluruh aset perusahaan itu kan?"
"Iya."
"Di mana Ica?"
"Aku nggak tahu. Tadi selesai makan malam, dia menghilang aja dari restoran."
Lerry tersenyum. "Mahira sudah tahu tentang Ica?"
"Belum. Aku juga nggak ingin dia tahu. Aku sudah meminta pada bibir Juminten untuk tidak menceritakan apapun tentang Ica."
"Bagaimana kalau Ica yang datang menemui Mahira? Kamu kan tahu dia orangnya kayak apa."
"Dia memang datang melihat rumah di mana kami tinggal. Itulah sebabnya mengapa hari Selasa yang lalu aku cepat pulang saat Mahira menelepon dan mengatakan kalau ada perempuan tinggi menggunakan mobil berwarna putih yang mengawasi rumah kontrakan kami itu."
"Oh ya? Terus kamu sudah konformasi ke Ica kalau itu dia?"
Edmond menyesap lagi minumannya. "Iya."
Lerry pun memesan minuman. "Mahira memang gadis yang cantik. Dia terlihat lembut dan baik hati. Sangat cocok dijadikan istri. Apalagi masakannya sangat enak. Sesekali, aku boleh lagi ya makan siang di rumahmu."
"Asal kau berhenti menatap Mahira dengan tatapan kagum seperti itu." Ancam Edmond yang sangat mengenal sifat playboy sahabatnya itu.
Tawa Lerry terdengar sedikit mengejek. "Kau cemburu? Memangnya kau sungguh mencintainya?"
"Sudah, ah. Aku mau kembali ke hotel."
"Ini baru jam 10, lho."
"Ingat, besok jam 8 kita sudah harus siap."
__ADS_1
"Kau telepon Ica untuk mengingatkan. Kamu tahu kan kalau anak itu sudah di diskotik, dia akan lupa waktu "
Edmond mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Ia menghubungi Monalisa namun gadis itu tak mengangkat teleponnya.
"Dia tak mengangkatnya."
Lerry mengangkat bahunya. "Dia mungkin sudah menunggumu di kamar."
"Sial kau!" Edmond menonjok bahu sahabatnya. "Aku pergi ya? Kamu saja yang mengingatkan Ica." ujar Edmond lalu segera menuju pub itu. Hotel tempat mereka menginap memang sangat dekat dengan pun sehingga Edmond hanya berjalan kaki saja.
Sesampainya di hotel, ia segera ke kamar mandi untuk mandi dan tidur. Ia merasa lelah. Tadi saat turun dari pesawat, mereka langsung berdiskusi dengan pihak pengacara sampai jam makan malam.
Selesai mandi, Edmond mengambil ponselnya dan menghidupkan nya lagi. Ternyata ada panggilan dari Mahira dan juga ada pesan darinya.
Ia pun menghubungi Mahira lagi. Sampa dua kali ia menghubunginya barulah Mahira mengangkat teleponnya.
"Hallo....!" terdengar suara Mahira yang serak khas orang baru bangun tidur.
"Apakah aku membangunkan mu? Maaf ya sayang. Aku hanya rindu saja mendengarkan suaramu."
"Apakah kegiatannya baru selesai?"
"Selesainya saat jam makan malam tadi. Lalu aku pergi sebentar ke pub untuk menghilangkan kejenuhan."
"Kamu minum?"
"Sedikit."
"Aku nggak pernah melihat kamu minum di sini."
"Mana berani aku minum di dekat kamu. Aku ingat pernah membaca apa yang kau tulis di kertas pengenalan diri. Kau paling anti dengan cowok suka minum minuman keras."
"Kamu masih mengingatnya? Itu kan hampir 6 tahun yang lalu?"
"Apapun tentang kamu, mana pernah aku melupakannya?"
"Terima kasih, Ed."
"Aku alihkan ke panggilan Videocall ya?" Edmond menekan tanda kamera di ponselnya, tak lama kemudian nampak wajah Mahira yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Ia menggunakan gaun tidur berwarna putih dengan tali spageti.
"Hallo sayang?" sapa Edmond sambil melambaikan tangannya.
"Kamu kangen aku nggak?"
"Sedikit."
"Kok sedikit, sih. Pada hal aku sangat kangen dengan kamu. Rasanya ada yang kosong di sebelah ku. Biasanya juga aku bobo sambil meluk kamu."
"Gombal."
"Aku nggak gombal, sayang. Kok gaun tidur itu tak pernah kamu pakai saat aku di sana."
"Gaun tidur ini terlalu seksi dan tipis."
"Lho kenapa memangnya? Aku kan sudah selalu melihat apa yang ada di balik gaun itu."
"Ed ...!" Mahira melotot.
Edmond tertawa. "Rasanya ingin terbang ke Samarinda saat ini dan memelukmu."
Mahira tertawa. "Tidur saja, Ed. Besok pasti kegiatan kamu sangat padat."
"Iya. Jam 8 sudah harus siap. Kami akan antri dengan beberapa perusahaan. Nggak tahu jadwal kami masuk jam berapa. Doakan agar kami sukses ya?"
"Selalu didoakan."
"I love you my wife."
"Selamat malam, Ed."
Sambungan telepon pun terlepas. Edmond meletakan ponselnya kembali ke atas nakas. Mahira tak membalas ungkapan cinta yang Edmond katakan. Apakah memang Mahira belum jatuh cinta padanya? Apa yang harus ia lakukan agar kedudukan Teddy di hati Mahira akan hilang?
************
"Nyonya, masak apa kita hari ini?" tanya Juminten selesai Mahira menikmati sarapannya.
"Nggak usah masak, bi. Kita makan saja di luar. Aku bosan sejak kemarin di rumah saja. Kerjanya hanya makan, tidur, main hp, nonton TV. Aku sama bibi jalan-jalan saja sambil makan di luar."
__ADS_1
"Ah, nyonya. Nggak pantas bibi jalan sama nyonya. Bibi di rumah saja."
"Kata siapa nggak pantas. Pokoknya bibi mandi saja dan pakai pakaian yang rapi. Aku juga mau mandi. 30 menit kita akan berangkat."
Juminten terpaku di tempatnya berdiri sambil menatap Mahira yang sudah menghilang dari ruang makan. Selama ia bekerja di mess tempat tinggal Edmond di perusahaan, Edmond dan Monalisa memang baik padanya. Namun mereka tak pernah mengajak Juminten makan bersama. Juminten juga harus makan setelah mereka makan. Sangat berbeda dengan Mahira. Tadi sejak semalam ia meminta Juminten untuk ikut makan dengannya. Pagi ini juga saat sarapan demikian. Apakah Mahira tak seburuk seperti yang mereka katakan?
**********
1 jam kemudian, Juminten dan Mahira sudah berada di salah satu mall. Mahira sendiri yang membawa mobil. Berdasarkan petunjuk geogle map, mereka bisa sampai di tempat yang mereka inginkan. Maklumlah, Mahira belum begitu hafal dengan jalan-jalan yang ada di kota ini.
Saat melewati sebuah bank yang ada dalam mall, langkah Mahira terhenti.
"Ada apa, nyonya?"
Mahira terlihat sedih. "Aku sangat suka bekerja di bank. Itu adalah cita-citaku."
"Nyonya kan sudah menjadi istri tuan Moreno. Untuk apa lagi bekerja?"
"Seandainya aku tak pindah ke sini, aku masih bekerja di bank. Sayangnya Ed meminta aku untuk berhenti dan ikut dengannya."
"Oh, jadi nyonya susah bekerja di bank?"
Mahira mengangguk. Ia mengeluarkan hp nya dan menunjukan beberapa fotonya yang sedang menggunakan seragam salah satu bank swasta.
Juminten terkejut mendapati fakta bahwa Mahira ternyata pernah bekerja. Mengapa mereka mengatakan kalau ia perempuan matre yang hanya mengejar kekayaan tuan Edmond ya?
"Bibi, ayo kita jalan!" Mahira menggandeng tangan Juminten dan kembali berjalan mengelilingi mall itu.
Akhirnya sepanjang siang sampai malam, Mahira menggunakan waktunya untuk berjalan bersama Juminten. Ia juga membelikan beberapa baju untuk wanita itu dan mengajaknya makan siang dan juga makan malam di restoran yang ada di kompleks mall itu. Mahira bahkan sempat Videocall dengan Edmond tadi sore untuk menunjukan kebersamannya dengan Juminten.
"Terima kasih, nyonya." kata Juminten saat mereka sudah sampai di rumah.
"Sama-sama, bi. Aku mau mandi dan langsung tidur. Supaya besok boleh bangun pagi dan menyiapkan makanan untuk Edmond. Katanya ia datang dengan pesawat siang. Jadi sore sudah ada di sini."
"Nyonya tak minum susu?"
"Ah, tolong buatkan ya? Aku mau mandi. Rasanya sangat gerah."
Juminten mengangguk. Entah mengapa semua imej buruk yang pernah orang katakan tentang Mahira, perlahan-lahan mulai hilang. Mahira baik. Itu terpancar dari perilakunya setiap hari. Bahkan ketika Juminten dengan sengaja menjatuhkan salah satu peralatan makan yang mahal, Mahira tak memarahinya. Ia justru meminta Juminten untuk berhati-hati dalam berkerja.
***********
Dalam tidurnya, Mahira bermimpi dipeluk oleh Edmond. Ia merasakan hangat dalam pelukan lelaki itu. Apakah Mahira merindukan Edmond sampai memimpikannya?
Mahira membuka matanya Ia menatap jam walker yang ada di atas nakas yang menunjukan waktu jam 2 dini hari. Mahira merasa haus. Ia pun bangun untuk minum namun merasa tubuhnya di tahan oleh sebuah tangan yang kekar. Mahira menoleh dengan kaget.
"Ed?"
Edmond membuka matanya perlahan. Sepertinya ia belum lama tertidur. "Sayang?"
"Kapan kau datang? Bukankah tadi kamu bilang nanti besok?"
Edmond tersenyum. "Aku tak sanggup menunggu besok. Rindu ini berat jika ditahan sampai besok."
"Kamu ini..., memangnya pekerjaan di sana sudah selesai?"
Edmond mengangguk. "Ijinnya sudah kami dapatkan. Tadi selesainya jam 3 sore. Aku langsung mencari tiket untuk pulang. Dapat pesawat jam 8 malam. Aku mampir sebentar di sebuah butik khusus wanita hamil. Aku membelikan beberapa baju hamil untukmu lalu langsung ke sini."
"Ya ampun, Ed. Apa kamu nggak capek?"
Edmond memegang wajah Mahira. "Capek itu jika harus menunggu esok. Dua malam tidur tanpa kamu rasanya nggak nyenyak."
"Kamu ini...!" Mahira jadi malu.
Edmond mendekat dan memeluk istrinya erat. "Ah, rasanya tadi sangat menyenangkan saat masuk ke kamar ini dan bisa memelukmu lagi."
Hati Mahira kembali menjadi hangat. Sebegitu rindu kah Edmond padanya?
"Ada apa?" tanya Edmond.
Mahira menggeleng. "Aku senang karena kamu sudah ada di sini."
Edmond langsung menunduk dan mencium bibir Mahira dengan sangat keras. Apa yang baru saja dikatakan Mahira sungguh membangkitkan gairah dalam dirinya. Mahira pun menyambut ciuman itu dengan hati yang bahagia. Keduanya siap melewati malam ini dengan menunastakan rindu untuk saling memuaskan raga.
**********
Selamat pagi.....
__ADS_1
Ada yang manis lagi nih dari Edmond....
Sudah mulai tahu misteri apa yang ada balik pernikahan ini?