
Ciuman itu tak terasa indah seperti biasanya. Bahkan Mahira merasa jijik membayangkan bahwa bibir itu juga mencium Monalisa.
Mahira biasa saja. Tak membalas ciuman itu. Ia hanya memejamkan matanya dan kedua tangannya memegang pinggiran gaun yang dipakainya. Sampai akhirnya Edmond mengahiri ciuman yang hanya sepihak itu. Ia menatap Mahira yang sedang membuang tatapannya ke tempat lain.
"Jangan seperti ini, Ra. Aku bisa gila. Tatap aku!" Edmond memegang dagu Mahira dan memaksa agar istrinya itu menatap wajahnya. Mahira menatap mata Edmond lalu ia menyeka bekas ciuman Edmond di bibirnya dengan punggung tangannya.
Melihat itu, Edmond terlihat kembali emosi.
"Ikut aku ....!" Edmond langsung menarik tangan Mahira keluar kamar.
"Wina sendiri."
"Dia belum akan bangun."
"Edmond! Lepaskan!"
Edmond tak menghiraukan permintaan Mahira. Ia kemudian menuju kamar 5002, membunyikan bel pintu secara berulang-ulang sampai akhirnya Monalisa membuka pintu. Perempuan itu nampak sementara menelepon karena hp nya menempel di pipinya.
"Aku akan telepon kamu lagi ya, Lerry. Ini ada Edmond dan istrinya. Bye." Monalisa menatap pasangan suami istri itu. "Ada apa?" tanya Monalisa dengan tatapan dingin.
"Jelaskan pada istriku apa yang kamu lakukan di kamar ku kemarin pagi saat petugas kebersihan datang untuk membersihkan kamar." kata Edmond terlihat menahan emosi.
Monalisa tersenyum. "Istrimu cemburu karena laporan seorang petugas kebersihan? Memangnya kamu tak bisa menjelaskannya? Sungguh kasihan kalau istrimu lebih percaya pada cleaning service dari pada suaminya sendiri." ada nada mengejek di suara Monalisa membuat Mahira menatap Edmond dengan tajam.
"Jelaskan saja, Monalisa!" sentak Edmond semakin terlihat tak sabar.
"Aku hanya mengambil file yang kau bawa untuk mempelajarinya sedikit sebelum pertemuan dilaksanakan. Apa ada yang salah?" tanya Monalisa sambil bersedekap.
"Sayang, kau sudah dengar sendiri kan?" Edmond menatap Mahira. Perempuan itu menarik tangan nya yang dipegang oleh Edmond. Ia kemudian melangkah pergi untuk kembali ke kamar. Mahira merasa malu karena tatapan mengejek dari Monalisa.
Edmond langsung menyusul di belakang Mahira.
"Sayang.....!" Panggil Edmond.
"Tinggalkan aku sendiri!" kata Mahira pelan tanpa memandang Edmond. Ia tak mau membangunkan anaknya.
"Dengarkan aku, sayang."
"Aku ingin sendiri." Mahira langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu mengambil bantal untuk menutup wajahnya.
"Kamu sungguh kekanakan, Ra." kata Edmond lalu segera menuju ke balkon dan menutup pintu dengan wajah kesal.
2 jam kemudian.......
Baby Wina akhirnya bangun. Mahira melihat kalau Edmond masih duduk di balkon.
Mahira menggendong baby Wina dan segera tersenyum pada anaknya itu.
"Anak mami, enak tidurnya?" tanya Mahira berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Baby Wina mengeluarkan suara khas bayi sambil melompat-lompat dalam gendongan Mahira.
Tak lama kemudian Edmond pun masuk. Wina langsung tertawa melihat Edmond dan menggerakan tubuhnya ke depan ingin mencapai papinya. Edmond langsung mendekat dan memeluk Wina.
"Anak papi. Sudah bangun sayang? Duh, cantiknya." Edmond mencium pipi Wina membuat putrinya itu tertawa kegelian karena rahang Edmond yang sudah ditumbuhi rambut-rambut halus.
__ADS_1
Mahira pun membereskan tempat makan Wina yang tadi belum sempat dicucinya. Sampai akhirnya ia merasakan kalau maag nya sakit. Mahira baru sadar, ia belum makan siang pada hal ini sudah jam 3 sore.
Bel pintu berbunyi. Edmond membukanya. Seorang pelayan restoran hotel mendorong sebuah meja bulat. Di atasnya ada beberapa tempat makanan yang terbuat dari keramik.
"Selamat menikmati, tuan."
"Terima kasih." Edmond merogoh kantong celananya dan memberikan selembar uang 50 ribu untuk tip sang pelayan sebelum ia keluar.
"Makanlah, Ra. Nanti maag mu sakit." kata Edmond. Suaranya sudah menjadi lembut.
Mahira tak bersuara namun ia makan juga karena perutnya sudah lapar. Selesai ia makan, Edmond memberikan Wina kepadanya lalu Edmond sendiri makan.
Hanya suara baby Wina yang memenuhi kamar itu. Kedua orang tuanya saling diam.
"Aku sudah memesan tiket untuk kita kembali ke Samarinda besok jam 10 pagi. Tadi aku sudah meminta pihak perusahaan dari Australia untuk penandatanganan kontrak di lakukan malam ini saja." kata Edmond selesai makan.
Mahira masih belum bicara. Ia masih bingung apakah harus mempercayai kata-kata Monalisa atau tidak. Hatinya masih ragu untuk percaya pada Edmond.
"Jangan pulang ke Manado, sayang. Kau akan membuat hatiku hancur." Kata Edmond lalu duduk di samping Mahira. Ada Edewina diantara mereka.
"Tak apa jika kau belum percaya padaku sekarang. Namun jangan menjauh dariku." Edmond melanjutkan lagi.
Mahira tetap tak bicara. Tak lama kemudian terdengar pesan masuk dari hp nya yang ia letakan di atas meja. Mahira mengambil hp nya dan membuka sebuah pesan dari nomor yang tak bernama.
Ira, maaf jika tadi aku bicara kasar tentangmu. Aku tak bermaksud menyakitimu dengan mengatakan bahwa akulah pemilik tubuhmu yang pertama. Aku hanya terpancing emosi dengan sikap Edmond. Menjauh darinya, Ra. Kau tak tahu siapa yang kau nikahi. Edmond tak sebaik yang kamu lihat. Aku mohon bertemulah denganku. Aku akan menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi sehingga selama satu bulan itu aku menghilang. Aku tak bermaksud meninggalkanmu, Ra. Aku sungguh mencintaimu. Jika kau punya waktu untuk bertemu denganku, balas pesanku ini. Aku akan datang kapan saja untuk menemui mu. Teddy
Mahira terkejut saat membaca pesan itu. Bagaimana Teddy bisa tahu nomornya?
"Dari siapa, Ra?" tanya Edmond terlihat penasaran saat melihat wajah terkejut Mahira.
"Terjadi sesuatu?"
"Biasa curhat antar wanita." Kalau kau bisa berbohong, maka aku pun bisa.
Edmond rasanya tak percaya. Ia dapat melihat ada sesuatu yang Mahira sembunyikan.
"Aku mau mandi." Mahira meletakan hp nya di atas meja lalu ia segera menuju ke kamar mandi.
Hati Edmond jadi tak tenang. Ia mengambil hp Mahira yang ada di atas meja dan membukanya. Edmond terkejut. Hp Mahira kini menggunakan kode untuk dibuka. Sejak kapan?
"Pa....pa...pa....!" suara Wina membuyarkan lamunan Edmon.
"Ya, sayang? Wina sudah lapar ya?"
Baby Wina melompat-lompat saat Edmond mendirikannya di atas sofa. Wina memang sangat aktif bergerak.
Tak lama kemudian, Mahira sudah selesai mandi. Rambutnya nampak basah. Mahira memang keramas untuk mendinginkan kepalanya yang masih panas. Ia masih menggunakan jubah mandi.
Mahira mengambil pakaiannya dari dalam koper lalu kembali ke kamar mandi. Ia tak mau membuka jubah mandinya di hadapan Edmond.
Di dalam kamar mandi, Mahira terus berpikir. Apakah ia harus bertemu Teddy untuk mengetahui bagian dari masa lalu Edmond yang tak diketahuinya? Tapi, bukankah selama ini Edmond sudah baik padanya? Edmond bahkan telah menunjukkan kasih yang tulus pada Wina pada hal itu bukan darah dagingnya. Namun bagaimana kalau selama ini Edmond selingkuh di belakangnya? Bagaimana kalau selama ini Edmond ternyata menikah dengannya hanya karena ingin mewujudkan keinginan mami Rahel yang ingin segera memiliki cucu?
Mahira pun keluar dari kamar mandi. Di lihatnya Edmond dan Wina sudah ada di atas tempat tidur. Baby Wina nampak tertawa karena papinya menirukan berbagai macam suara binatang. Hati Mahira kembali menjadi ragu melihat bagaimana interaksi dua orang yang tak memiliki hubungan darah itu.
"Sayang, kamu mau pergi?" tanya Edmond melihat Mahira yang sedikit memoles make up tipis di wajahnya.
__ADS_1
"Aku mau pergi sebentar." kata Mahira lalu berdiri dari depan meja rias.
"Mau kemana?" tanya Edmond dengan wajah yang mulai khawatir.
"Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar untuk menenangkan pikiranku. Boleh kan?" tanya Mahira penuh penekanan.
"Boleh, sih. Tapi kamu mau kemana? Bagaimana kalau kita pergi bertiga?"
"Bolehkah kali ini aku sendiri? Namun kalau kamu tak mau menjaga Wina, biarkan aku pergi berdua dengan anakku."
"Anak kita, sayang. Kau menyakiti hatiku setiap kali menyebutkan Wina dengan kata anakku." Edmond terlihat sedih saat mengucapkan kata itu.
"Jadi, aku boleh pergi kan?"'
"Jangan terlalu jauh, ya? Aku takut kamu tersesat."
"Ini bukan kali pertama aku datang ke Jakarta." Ujar Mahira lalu segera mengambil hp nya di atas meja dan segera keluar kamar.
Begitu keluar dari hotel, Mahira mencoba melihat sekeliling. Dan matanya melihat sebuah warung kopi yang berada tak jauh dari situ. Ia pun segera menyeberang jalan untuk menuju ke sana.
Mahira memesan kopi dan memilih duduk di sudut ruangan. Ia melihat hp nya. Haruskah aku menelepon Teddy? Aku ingin tahu apa yang dia tahu tentang Edmond.
Aku ada di kedai kopi yang berada di depan hotel. Aku tunggu kamu sekarang Waktuku tak banyak hanya 30 menit saja.
Mahira akhirnya mengirim pesan itu. Walaupun ia sendiri merasa sangat takut.
Tak lama.kemudian, masuk balasan dari Teddy. Ok.
Tak sampai 5 menit, Teddy terlihat sudah memasuki kedai kopi itu. Ia celingukan mencari Mahira dan tersenyum saat melihat bahwa perempuan itu ada di sudut ruangan.
Teddy pun berjalan ke arah Mahira dan duduk di hadapannya. Ia memperhatikan pesanan Mahira yang sudah ada di hadapannya.
"Kau masih menyukai kopi hitam dengan roti berisi keju?" tanya Teddy membuat hati Mahira sedikit berdesir. Dulu, setiap kali Teddy menemuinya, Mahira selalu meminta dibawakan roti berisi keju. Mereka akan menikmati roti itu di teras samping rumah om nya sambil dengan secangkir kopi hitam. Mahira buru-buru membuang kenangan itu.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan! Setelah itu aku harus pergi karena sebentar lagi jam makan anakku."
Teddy menatap Mahira. Bukan seperti tatapan tadi yang menunjukan rasa rindu tetapi juga kemarahan. Melainkan tatapan mata teduh yang penuh cinta seperti yang ia tunjukan saat mereka masih bersama.
"Ira, kamu tahu kan kalau aku mencintaimu?"
"Jangan bicara cinta, Teddy. Kamu sendiri tak tahu apa arti kata itu. Kamu meninggalkan aku disaat aku......" Kalimat Mahira terhenti saat Teddy dengan cepat memegang tangannya.
"Lepaskan tanganku, Teddy!"
"Maaf. Aku hanya terlalu rindu padamu. Aku mencari mu sehari sebelum pernikahan mu dengan Ed. Namun Edmond menyuruh anak buahnya untuk menculik dan mengurung aku di sebuah gudang."
"Apa?"
************
Selamat pagi....
semangat terus yang masih puasa
Jangan lupa dukung emak ya guys
__ADS_1