RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Akhir Bahagia Kita


__ADS_3

Di depan kamar bersalin, Edmond nampak bolak balik tak tenang. Ia seharusnya ada di dalam untuk menemani Mahira.


Dokter sebenarnya sudah memberikan jadwal operasi 3 hari lagi. Namun entah kenapa tadi pagi Mahira justru mengalami kontraksi dan saat dibawa ke rumah sakit, justru ia sudah mengalami pembukaan ke-6.


"Ed, tenanglah!" Rahel memanggil anaknya itu namun Edmond terlihat sangat gugup.


"Bagaimana bisa tenang, mom. Mahira seharusnya dioperasi dan bukan melahirkan biasa. Aku takut terjadi sesuatu padanya."


"Dokter mengatakan kalau tindakan operasi tak diperlukan lagi. Lagi pula Edewina kan sudah berusia 6 tahun. Jadi jaraknya sudah lumayan jauh."


Edmond tetap saja merasa cemas. Tadi di saat dokter sudah mengijinkan agar Edmond menemaninya, Mahira justru tak mau.


Akhirnya, terdengarlah suara tangis bayi dari dalam kamar bersalin itu. Edmond dan Rahel langsung saling berpandangan dengan wajah gembira.


"Suaranya sangat keras." ujar Rahel.


Mata Edmond bahkan sampai berkaca-kaca. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan anaknya.


"Tuan Edmond, mari silahkan masuk!" ajak salah satu perawat. Edmond pun langsung masuk dengan sangat antusias.


Ia melihat Mahira yang sudah selesai dibersihkan dan bayi kecil mereka yang kini ada dalam pelukan Mahira.


"Selamat tuan. Kalian memiliki bayi laki-laki yang tampan."


Edmond mendekat. Air matanya langsung mengalir saat melihat wajah tampan yang nampak begitu tenang dalam gendongan Mahira.


"Dia sangat mirip denganmu waktu lahir, Ed!" ujar Rahel yang berdiri di belakang Edmond. Perempuan itu ikut juga menangis karena rasa bahagia.


"Selamat datang EDGAR ERALIO MORENO."Kata Edmond dengan sangat bangga.


**************


6 bulan telah berlalu, Mahira yang sudah berhenti bekerja, kini fokus mengurus anaknya yang semakin montok dan menggemaskan.


Rahel pun tak pernah pulang lagi ke Madrid. Ia memilih untuk tinggal bersama Edmond dan Mahira karena Edewina adalah kesayangannya.


Edmond mengurus bisnis keluarganya yang ada di Manado walaupun setiap akhir bulan, ia harus berangkat ke Samarinda untuk mengurus juga bisnisnya di sana.


Lerry pun sudah menikah dengan seorang gadis berasal dari Jepang dan seorang ahli marketing di perusahaan itu. Sehingga Edmond menjadi sedikit tenang saat harus meninggalkan perusahaan karena Lerry kini memiliki seorang yang ahli mengolah perusahaan dan juga mencintainya.


Edewina pun semakin aktif di sekolahnya. Ia dikenal sebagai anak yang pintar dan sangat manja pada Edmond.


Sifat Edewina sangat mirip dengan Edmond. Mulai dari kebiasaan tidur, makanan kesukaan bahkan kesukaan mereka yang senang menonton sepakbola.

__ADS_1


Sampai di suatu pagi, Edewina berteriak sambil menangis saat melihat omanya yang pingsan di dalam kamar mandi. Rahel pun langsung di bawa ke rumah sakit dan dokter menyatakan bahwa sel kangker yang ada dalam tubuhnya sudah menyebar sampai ke hatinya. Rahel tak mungkin lagi akan diselamatkan.


Edriges, nampak sangat terpukul melihat istri yang telah mendampinginya selama hampir 40 tahun itu, kini terbaring lemah. Rahel pun menolak saat mereka akan membawa nya keluar negeri untuk berobat.


Satu persatu, anak-anaknya di panggil untuk berbicara dengannya. Setelah itu ia meminta untuk berbicara khusus dengan Mahira dan Edmond.


"Ed, terima kasih telah membawa seorang menantu yang sangat baik seperti Mahira. Mommy sangat bahagia karena Mahira menantu ideal di mata mommy. Sebenarnya, sakit mommy sudah sangat parah sebelum pernikahan kalian. Namun, kelahiran Edewina seperti obat bagi mommy untuk terus bertahan hidup." Rahel menarik napas panjang. "Mommy menyayangi Edewina walaupun akhirnya mommy tahu kalau Edewina bukanlah darah daging mu, Ed."


Mahira dan Edmond saling berpandangan. Mereka terkejut.


"Dalam suratnya, Monalisa menceritakan tentang kebenaran identitas Edewina. Teddy adalah ayah biologisnya. Namun mommy tak marah karena kalian menyembunyikan ini dari mommy. Mommy justru bangga padamu, Ed. Kamu mau menerima Edewina seperti anakmu sendiri. Mommy sudah membakar semua surat yang Monalisa kirimkan pada mommy. Rahasia Edewina aman bersama mommy. Bagi mommy, Edewina adalah cucu pertama keluarga Moreno dan itu akan berlangsung selamanya. Jangan pernah sakiti hati Edewina dengan membongkar identitas dirinya."


Edmond dan Mahira pun berjanji akan menyimpan semuanya.


Malam itu, Rahel Moreno meninggal dalam dekap Edriges suaminya. Ia meninggal dalam kedamaian saat meminta Edewina menyayikan sebuah lagu yang sering mereka nyanyikan saat bermain bersama.


Edewina nampak sedih karena kehilangan omanya. Begitu juga dengan seluruh keluarga Moreno yang nampak sangat terpukul saat melihat orang yang mereka kasihi akhirnya harus dikebumikan.


Seminggu setelah kematian Rahel, Eduardo dan istrinya kembali ke Madrid, Edina kembali berkuliah di Amerika sedangkan Edriges memilih untuk tetap berada di Manado.


**************


Suara anak-anak yang menyayikan lagu selamat ulang tahun terdengar di halaman belakang rumah Moreno.


Edgar yang sudah bisa berjalan di usianya yang pertama nampak juga sangat bahagia. Edgar sangat dekat dengan opanya Edriges.


"Sayang, kenapa wajahmu agak pucat?" tanya Edmond sambil melingkarkan tangannya di bahu istrinya. Pesta sudah usai dan Edgar sudah pergi dengan opa dan kakaknya untuk bermain di dalam rumah.


"Nggak tahu, Ed. Rasanya badanku sakit semua."


"Kamu terlalu capek mungkin menyiapkan ulang tahun Edgar. Mau aku pijat?" tanya Edmond menggoda.


"Ed...., jangan macam-macam ya? Ini masih sore." Mahira mengerti apa arti tatapan Edmond itu.


"Sayang, aku beneran kok mau pijat kamu. Ayo ke kamar."


"Nanti aja sebentar kalau sudah mau tidur."


Edmond tertawa. Mahira sudah tahu strategi suaminya yang selalu modus ingin memijat tetapi ujung-ujungnya berakhir di tempat tidur dengan pergulatan panas.


"Kamu semakin cantik di mataku, sayang."


"Oh ya?"

__ADS_1


"Tentu saja. Aku bisa melewati semua rasa dukaku atas kepergian mommy karena dirimu. Daddy bahkan beta tinggal di sini karena katanya, kamu adalah menantu terbaik yang selalu membuat Daddy senang. Apalagi dengan adanya Edewina dan Edgar."


"Aku sejak kecil tak punya lagi orang tua. Jadi aku pun bahagia jika bisa membahagiakan Daddy."


Edmond mencium pipi istrinya. "Ayo ke dalam. Kita akan menyiapkan makan malam bersama dan setelah itu saling memijat."


"Dasar mesum!"


***********


Wajah Mahira langsung tersenyum saat melihat dua garis merah yang ada di alat tespack yang dipegangnya. Semalam saat bercinta dengan Edmond, ia merasakan lebih bergairah dari hari-hari sebelumnya dan itu membuatnya berpikir untuk melakukan tes di pagi ini. Ternyata apa yang dipikirkannya benar. Ia hamil lagi.


"Sayang.....!" panggil Mahira saat keluar dari kamar mandi. Edmond yang sementara mengenakan jas kerjanya menatap istrinya.


"Ada apa?"


"Aku punya kejutan untukmu."


Edmond tersenyum. "Aku suka kejutan."


Mahira menunjukan tespack yang ada di tangannya. Edmond langsung merampasnya dengan tak sabar dan terkejut saat melihat ada dua garis di sana.


"Kamu hamil?"


Mahira mengangguk.


Edmond langsung memeluk istrinya dengan perasaan sangat gembira. "Ah, sayang. Aku sangat senang. Wina dan Edgar akan memiliki adik lagi. Tapi sayang, bukankah kamu menggunakan pil pencegah kehamilan?"


"Saat menyusun rencana untuk ulang tahun Edgar sejak dua bulan yang lalu, aku merasa sangat sibuk dan sering lupa meminum pil nya. Sementara kamu hampir setiap malam selalu minta jatah padaku."


Edmond terkekeh. Ia membelai wajah istrinya. "Terima kasih karena mau hamil lagi. Tuhan sangat baik karena memberikan aku istri sepertimu."


"Terima kasih juga karena tak pernah menyerah memperjuangkan cintaku. Aku bahagia, karena sore itu membiarkan Putri menelepon mu. Aku bahagia karena kamu menerima diriku apa adanya dan tak pernah mengungkit masa laluku. Aku bahagia karena saat aku pergi, kau tak pernah berhenti mengejarku. Pertemuan kita di pintu gerbang kampus di hari ospek itu adalah sebuah anugerah. Karena ternyata aku sudah bertemu dengan pendamping hidupku. Sekuat apapun aku membangun hubungan dan hatiku untuk bersama Teddy, takdir terus mempertemukan aku kembali denganmu. Aku akan mencintai kamu, Ed. Kini dan selamanya. Sampai aku menutup mataku."


Edmond mencium bibir Mahira dengan sangat lembut. "Kau adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki. Aku tak akan pernah menggantikan mu dengan siapapun sampai aku menutup mata."


Lalu keduanya kembali berciuman dengan sangat mesra. Pagi ini terasa begitu indah bagi Edmond Moreno karena setelah sekian lama, inilah hari pertama Mahira mengutarakan isi hatinya dengan sangat panjang. Edmond akan melindungi Mahira, Edewina, Edgar dan anak mereka yang ketiga nanti dengan seluruh napasnya.


*************


Bagaimana menurut kalian?


Sudah bisa dibuat tamat kan???

__ADS_1


__ADS_2