RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Liburan ke Pantai


__ADS_3

Bangun pagi, Mahira memilih untuk jalan-jalan di sekitar mess. Ada sekitar 10 mess yang letaknya di sekitar kantor perusahaan. Sedangkan rumah susun tempat para pekerja tinggal, tempatnya agak jauh dari mess ini. Setiap hari ada bis karyawan yang akan mengangkut para pekerja yang bekerja di pabrik pembuatan minyak kelapa, kebun kelapa sawit dan yang bekerja di kantor perusahaan. Menurut Edmond ada sekitar 400 orang yang menempati rumah susun itu sedangkan para pekerja yang lain tinggal di desa sekitar sehingga mereka memilih naik motor selama kurang lebih 30 menit untuk sampai ke lokasi ini.


Mess milik Edmond dan Lerry letaknya agak berjauhan dengan mess petinggi perusahaan yang lain. Mess tempat Edmond dan Lerry tinggal juga lebih besar.


Saat Mahira keliling kompleks, sudah ada beberapa ibu yang menyapu di depan Mess mereka. Mahira berusaha untuk menyapa mereka walaupun mereka masih menatapnya dengan aneh. Entah mengapa para ibu seolah tak menyukai Mahira.


Hampir satu jam Mahira berjalan mengelilingi kompleks perumahan ini. Akhirnya ia kembali ke rumah. Juminten memang tak tinggal di mess. Ia pulang ke rumah susun.


"Sayang, dari mana saja?" tanya Edmond yang ternyata sudah bangun dan mencari Mahira.


"Aku keliling kompleks. Area ini sangat luas ya?"


Edmond memegang tangan Mahira. "Kamu nggak apa-apa jalan keliling? Nanti kamu kelelahan. Bagaimana dengan anak kita?"


Mahira tersenyum. "Ibu hamil itu harus banyak bergerak supaya saat melahirkan lancar."


"Oh begitu ya? Besok kalau mau jalan-jalan lagi, tolong bangunkan aku ya? Aku mau juga menemani kamu keliling kompleks. Nanti mereka pikir kalau aku bukan laki-laki yang bertanggung jawab karena membiarkan istrinya pergi sendiri."


"Baik tuan Moreno." Mahira merasa bahagia dengan perhatian Edmond padanya.


Edmond langsung memeluk Mahira.


"Ed, aku bau keringat." Mahira berusaha mendorong tubuh Edmond namun suaminya itu semakin erat memeluknya.


"Aku kan sudah biasa mencium bau keringatmu. Apalagi saat kita bercinta." kata Edmond dengan nada sensual. Mahira malu sekaligus memasang tameng karena ia tahu apa maksud dibalik suara Edmond itu.


"Sayang, aku mau menyiapkan sarapan." Mahira memanggil Edmond dengan kata sayang agar suaminya itu mau melepaskan dia. Dan ternyata berhasil. Edmond melepaskan pelukannya.


"Aku bantu ya?" ujar Edmond.


"Kamu mandi saja. Ini kan sudah hampir jam 7."


"Terlambat sedikit kan nggak masalah." Edmond menggandengkan tangan Mahira dan segera menuju ke dapur. Keduanya bekerja sama saat menyiapkan sarapan. Edmond bahkan sesekali menganggu istrinya dengan memeluknya dari belakang, atau mencium pipinya. Membelai perut Mahira.


"Selamat pagi!" Juminten menyapa dengan wajah memerah karena ia sudah dari tadi sebenarnya sampai namun merasa enggan untuk ke dapur karena tak ingin menggangu kemesraan dari pasangan itu.


Mahira mendorong Edmond yang sedang memeluknya dari belakang. "Selamat pagi, bi."


"Maaf, saya terlambat nyonya. Soalnya lagi nggak enak perutnya." ujar Juminten.


"Seharusnya bibi nggak usah datang. Istirahat saja di rumah." ujar Mahira.


"Sekarang sudah agak baikan. Nanti bibi teruskan saja sarapannya."


Mahira menatap Edmond. "Kamu mandi dulu, Ed. Aku akan siapkan bajumu. Namun sebelumnya aku siapkan kopi mu dulu."


"Baiklah, sayang." Edmond segera menuju ke kamar sedangkan Mahira segera memanaskan air setelah menyerahkan spatula pada Juminten.


Selesai membuat kopi, Mahira menuju ke kamar dan menyiapkan pakaian untuk Edmond. Tak lama kemudian, suaminya itu sudah selesai mandi. Seperti biasa, Mahira membantunya mengancingkan kemejanya dan memakaikan dasi.


"Terima kasih, sayang." Edmond mencium dahi istrinya setiap kali Mahira selesai memakaikan dasinya.


"Ed, liburannya kapan?"


"Besok."


"Pakaian ku hanya beberapa saja yang ku bawa. Apakah tidak sebaiknya kita pulang ke kota sore ini?"


"Pantainya lebih dekat kalau ikut dari sini. Tenang saja. Nanti aku pesankan beberapa pakaian untukmu. Besok siang pasti sudah ada."

__ADS_1


"Nggak perlu beli pakaian, Ed. Nanti pemborosan."


"Kamu kan istriku. Memangnya salah memanjakan istri sendiri?" tanya Edmond lalu mencium bibir Mahira.


Juminten yang sebenarnya sedang menyapu halaman samping rumah, secara tak sengaja mendengarkan percakapan suami istri itu karena jendela kamar yang terbuka. Dalam hatinya Juminten berkata. Nyonya memang bukan perempuan matre. Dia sangat sederhana dan apa adanya. Bagaimana bisa dikategorikan matre? Sungguh gosip yang harus aku luruskan agar nyonya tak dibenci oleh banyak orang karena dianggap pelakor yang mengejar harta.


***********


Suasana pantai yang indah langsung menyambut mereka ketika Mahira dan Edmond sampai di hotel. Lerry dan Sofia sudah menunggu mereka di lobby.


"Maaf ya, kami sedikit terlambat. Soalnya pas melewati sebuah kios pinggir jalan, bumil minta berhenti dan ingin makan jajanan yang ada. Dia nggak mau dibungkus. Katanya harus makan di sana." ujar Edmond yang datang sambil memeluk pinggang Mahira.


"Nggak masalah, Ed. Kami juga baru tiba lima belas menit yang lalu. Ini kunci kamar kalian. Setelah itu, kami tunggu di pantai ya? Nggak sabar aku untuk menyelam." Kata Lerry.


"Ok. Kami ke kamar dulu. Ayo sayang!" Ajak Edmond sambil menarik koper mereka.


Mahira yang tadinya menggunakan sebuah gaun santai berwarna putih, kini berganti baju yang lebih cocok untuk suasana pantai. Ia mengenakan celana pendek di atas lutut dan kaos santai yang agak ketat di tubuhnya sehingga perutnya yang mulai membesar itu sudah nampak.


"Sayang, kok pakai jeans? Nanti bayi kita terjepit."


Mahira terkekeh. "Ini Jeans khusus ibu hamil. Jadi aman."


Edmond membelai perut Mahira. "Anaknya papi, baik-baik saja kan di dalam?"


"Dia baik, Ed."


Edmond memakaikan sebuah topi lebar di kepala Mahira. "Supaya kamu nggak kepanasan, sayang."


"Terima kasih, sayang."


Edmond menatap istrinya. "Kita di kamar saja ya?"


"Habis, kamu sangat menggoda dengan dandanan seperti ini. Pingin peluk terus."


"Dasar mesum! Ayo pergi!" Mahira mencubit hidung Edmond lalu segera melangkah meninggalkan suaminya itu.


Di tepi pantai, Sofia sedang duduk di atas kursi pantai yang tersedia di sana. Lerry sedang berbicara dengan petugas pantai untuk membicarakan kegiatan divingnya dengan Edmond. Waktu sudah menunjukan pukul 3 sore dan pengunjung pantai semakin banyak.


Dari jauh, Sofia melihat Edmond dan Mahira yang sedang berjalan sambil bergandengan tangan. Edmond terlihat sangat tampan dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


Dulu, Sofia sempat naksir Edmond karena penampilannya yang memang sangat menarik banyak kaum hawa. Namun saat tahu kalau Monalisa adalah perempuan yang dicintai Edmond, Sofia mundur perlahan dan melabuhkan hatinya pada Lerry yang memang sudah lama naksir padanya.


Sofia memerhatikan Mahira yang berjalan di sebelah Edmond. Perempuan itu memiliki kulit yang putih pucat. Seperti gadis-gadis Korea pada umumnya. Ia memiliki rambut yang indah. Sebagai wanita, Sofia harus mengakui bahwa Mahira memang manis. Walaupun badannya kecil dan hanya sampai di bawa bahu nya Edmond namun mereka terlihat serasi.


Apalagi cara Edmond memeluk Mahira, nampak sangat posesif. Edmond seolah ingin menunjukan pada siapa saja kalau Mahira adalah miliknya.


"Sayang, kamu duduk dengan Sofia ya, aku mau menyelam sebentar dengan Lerry." Ujar Edmond lalu segera menemui Lerry yang sudah mukai mengenakan baju penyelam.


"Mahira, kamu nggak ikut bersama mereka?" tanya Sofia mencoba akrab walaupun ia merasa seperti mengkhianati Monalisa.


"Aku agak mual kalau naik perahu. Mungkin bawaan hamil." Jawab Mahira sambil mengusap perutnya.


"Sudah berapa bulan?"


"4 bulan." Maafkan mami, nak. Seharusnya kamu sudah 5 bulan.


"Asyik ya, langsung hamil saat menikah. Yang lain harus menunggu berbulan-bulan. Bahkan ada yang harus menunggu bertahun-tahun."


"Iya."

__ADS_1


"Kenal sama Ed di mana?"


"Di kampus. Aku mahasiswa baru dan Ed mahasiswa tingkat akhir."


"Sudah lama kenal ternyata."


"Iya. Pas ketemu lagi, aku sudah putus dengan pacarku. Ed langsung melamar dan tak mau pacaran. Akhirnya jadilah kami menikah."


"Kalian menikah buru-buru tanpa mencari tahu dulu masa lalu masing-masing?"


"Ed bilang masa lalu harus ditinggalkan di belakang. Karena yang dia inginkan hanya masa depan. Dan itu bersama ku."


Sofia menarik napas panjang. "Masa lalu terkadang menjadi duri di masa depan."


Mahira tersenyum. Ia tahu kalau Sofia tak menyukainya. Makanya ia harus hati-hati menjawab pertanyaan gadis blesteran ini.


"Masa lalu tak akan menjadi duri di masa depan jika kita bisa move-on dari masa lalu. Aku percaya pada, Ed. Kalau pun ada seseorang di masa lalunya, itu tak berarti lagi sekarang."


Kamu tak tahu saja bagaimana masa lalunya Edmond. Seandainya kamu tahu, aku pikir kamu akan menjauh darinya. Batin Sofia.


Sambil menunggu Edmond dan Lerry selesai menyelam, Mahira memilih untuk memesan beberapa makanan ringan.


Sofia kembali memerhatikan Mahira. Perempuan itu terlihat begitu menikmati pemandangan yang ada. Tak ada wajah pura-pura di sana. Mahira nampak seperti istri sederhana yang sedang menikmati kehidupan pernikahannya yang baru beberapa bulan.


***********


"Monalisa, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Sofia saat ia ke toilet dan melihat sahabatnya di sana. Mereka sedang makan malam bersama dan Sofia kebelet mau buang air kecil


"Kamu jahat! Liburan tapi nggak mengajak aku." Monalisa nampak cemberut.


"Maaf. Lerry mengatakan kalau ini hanya untuk kami berempat."


"Bagaimana perempuan itu?"


"Mahira? Dia kelihatan biasa saja. Edmond menjadi suami yang siaga. Edmond terlihat sangat mencintainya."


Monalisa tersenyum kecut. "Mond tak mencintainya. Dia mencintaiku. Aku akan merebut kembali apa yang menjadi milikku."


"Ica, Mahira terlihat perempuan yang baik. Bibi Juminten bilang kalau Mahira sangat sederhana. Tak boros dan sangat baik pada semua orang."


"Dia belum menunjukan sifat aslinya."


Sofia memperbaiki rambutnya sebentar. "Aku kembali ya? Nanti mereka curiga kalau aku tak juga kembali."


Monalisa menahan tangan Sofia. "Awas kalau sampai kau terlibat dengan Mahira."


Sofia menarik tangannya dari genggaman Monalisa. "Aku pergi!" Sofia memegang tangannya yang terasa sakit.


"Ada apa sayang? Wajahmu terlihat kesal?" tanya Lerry saat kekasihnya itu kembali duduk di sampingnya.


"Conocí a Monalisa en el baño. (aku bertemu dengan Monalisa di toilet. " kata Sofia dalam bahasa Spanyol.


Edmond terkejut. Monalisa ada di sini?


**********


Apakah Monalisa akan menampakkan dirinya di hadapan Mahira?


Dukung emak terus ya guys

__ADS_1


__ADS_2